Pagi itu, matahari Surabaya bersinar lebih cerah dari biasanya. Gali sudah selesai sarapan nasi goreng buatan ibunya. Ia menyalami Kusno dan Sundari, berpamitan untuk berangkat sekolah. Hari ini sedikit berbeda, dirinya harus menjemput Ratna di kawasan elit Mayar Hill.
"Hati-hati di jalan ya, Gal," pesan ayahnya, Kusno, yang sedang membaca koran pagi.
"Iya, Yah. Bu, aku berangkat dulu," pamit Gali pada ibunya, yang sedang membereskan sisa sarapan.
Dengan langkah sigap, Gali menuju motor lawasnya yang terparkir di depan rumah kontrakan. Helm terpasang, mesin dinyalakan, dan ia pun melaju. Kali ini, tidak menuju SMA Harapan Bangsa langsung.
Tujuannya adalah Mayar Hill, sebuah perumahan yang terkenal dengan kemewahan dan keamanannya yang ketat. Jalanan yang dilaluinya perlahan berubah, dari gang-gang padat menjadi jalan-jalan yang lebih lebar dan tertata rapi, diapit oleh pepohonan rindang dan rumah-rumah megah.
Tak butuh waktu lama, Gali tiba di depan gerbang megah rumah Ratna. Sebuah pagar tinggi menjulang, dijaga oleh satpam yang sigap. Gali sedikit menurunkan kaca helmnya, dan dari balik pagar, melihat Ratna sudah berdiri di sana, menunggunya. Gadis itu mengenakan seragam sekolahnya, rambutnya tergerai indah, dan senyumnya yang cerah menyambut Gali.
Gali memarkir motornya di depan gerbang. Ratna segera menghampiri. Tanpa ragu atau canggung, langsung naik ke boncengan motor. Jemarinya yang lentik melingkari pinggang Gali. Pelukan itu terasa begitu pas, hangat, dan memberikan sensasi yang berbeda pada Gali. Dadanya terasa berdesir.
"Sudah siap?" tanya Gali, suaranya sedikit tercekat. Dia bisa merasakan detak jantung Ratna yang berirama dengan detak jantungnya sendiri.
"Siap!" jawab Ratna riang. "Ayo, kita berangkat!"
Gali perlahan menggas motornya. Perjalanan mereka kali ini terasa berbeda. Setiap kali motor sedikit berguncang atau mengerem mendadak, Gali bisa merasakan tubuh Ratna menekan punggungnya. Aroma parfum Ratna yang lembut bercampur dengan aroma pagi yang segar, menciptakan sebuah perpaduan yang begitu manis.
Dirinya bisa merasakan napas Ratna yang hangat di lehernya, dan sesekali, jari-jari Ratna meremas pinggangnya, seolah mencari keseimbangan sekaligus menyampaikan kenyamanan.
Di jalan yang agak lengang, Gali sedikit memperlambat laju motornya. Dia merasakan Ratna sedikit mengerat pelukannya.
"Ngomong-ngomong, kamu baik-baik saja kan? Tadi malam kelihatannya kamu agak khawatir," ujar Gali, berusaha memecah keheningan yang mulai terasa intim.
Ratna tersenyum di punggung Gali. "Aku baik-baik saja sekarang. Makasih ya, Gali. Kamu beneran penyelamatku." Suaranya terdengar sedikit malu-malu. "Aku cuma nggak biasa naik motor sendirian. Apalagi di jalanan yang ramai begini."
Gali tersenyum. Dirinya bisa merasakan pipinya sedikit memanas. "Nggak masalah. Selama aku bisa membantumu."
Di sudut matanya, Gali melihat pantulan langit Surabaya yang biru cerah di kaca helmnya. Tapi entah mengapa, ia merasa rona merah muda yang lebih indah kini menghiasi hari-harinya. Pelukan Ratna di pinggangnya bukan hanya sekadar mencari pegangan, tapi seperti sebuah janji tak terucap, sebuah kehangatan yang mulai merasuk ke dalam hatinya. Merasa, perjalanan pulang sekolah kali ini akan menjadi perjalanan yang tak terlupakan.
Begitu Gali memarkir motornya di area parkir sekolah, pemandangan itu langsung jadi pusat perhatian. Rombongan siswa yang tadinya asyik nongkrong di dekat kelas langsung pada ngedeketin. Mata mereka melirik dari motor butut yang baru aja dimatiin mesinnya, ke Gali yang lagi buka helm, terus ke Ratna yang masih duduk manis di jok belakang.
"Wih, gila sih! Ratna dibonceng sama si Gali?" bisik salah satu anak geng populer di antara teman-temannya.
"Motornya aja udah kayak barang antik, woi." Olok yang lain.
"Iya, aneh banget. Padahal orang tuanya kan punya pabrik garmen gede. Kok mau sih sama anak dari kampung yang dapet beasiswa doang?" sahut temannya, nadanya penuh heran campur geli.
Tapi Ratna? Dia santai aja. Begitu Gali selesai melepas helmnya, Ratna langsung turun dari motor, senyumnya masih sama cerahnya. Dia nggak kelihatan risih sama tatapan orang-orang, apalagi sama motornya Gali yang jelas nggak sekelas sama mobil-mobil mewah yang biasa antar jemput dia.
"Yuk, Gal, keburu bel masuk," ajak Ratna sambil merangkul lengan Gali, jalan beriringan menuju gedung kelas.
Lengan yang dirangkul itu otomatis bikin Gali sedikit kaku. Dia bisa ngerasain tatapan-tatapan yang makin menusuk. Tapi Ratna nggak peduli. Dia malah nyengir, sesekali ngobrol ringan sama Gali, ngomentarin guru killer yang baru aja lewat atau nanyain PR yang belum dia kerjain.
Di depan kelas X IPA, geng sahabatnya Ratna udah nungguin. Ada Sarah, si paling gaul dengan gaya rambut selalu update, dan Maya, yang kalau ngomong pedesnya minta ampun.
"Ratna! Lo gila ya? Ngapain sih lo jalan sama dia? Masih aja mau dibonceng motor butut begitu!" serocos Sarah begitu Ratna mendekat.
Maya nggak mau kalah. "Iya, Na. Kita kan udah sering ngomong. Pacaran sama cowok kaya tuh enak, bisa diajak ke mana aja. Kalau sama si Gali, mau ke mana? Ke Tambaksari, naik angkot?" katanya dengan nada sinis yang khas.
Ratna cuma bisa geleng-geleng kepala. Dia udah kebal sama omongan teman-temannya ini. "Kalian tuh kenapa sih? Aku nyaman aja kok sama Gali. Dia baik," jawab Ratna, suaranya tegas tapi tetap tenang.
"Baik apanya? Baik di dompet kali lo nggak punya, wkwkwk!" timpal Sarah sambil tertawa.
"Udah ah, kalian ini. Nggak usah urusin hidupku!" kata Ratna sambil berlalu masuk kelas, meninggalkan Sarah dan Maya yang masih saling pandang dengan kesal.
Gali hanya bisa diam mendengar obrolan mereka. Perasaan campur aduk antara bangga karena Ratna membela dirinya, dan sedikit minder melihat bagaimana orang lain memandang mereka.
Tapi melihat senyum Ratna yang begitu tulus, semua perasaan negatif itu perlahan sirna. Dia sadar, di antara kilauan harta dan gengsi, ada sesuatu yang lebih berharga yang sedang tumbuh di antara dirinya dan Ratna. Dan dirinya bertekad untuk menjaganya.
Bel istirahat berbunyi, mengundang serbuan siswa ke kantin sekolah yang ramai. Tapi Gali, dengan alasan yang sangat mendasar, yaitu tanpa uang sepeser pun di saku celananya memilih untuk menghindar. Ditambah lagi, pagi tadi lupa tidak membekali diri dengan makanan apa pun.
Semua karena harus buru-buru berangkat lebih pagi untuk menjemput Ratna. Akhirnya, perpustakaan menjadi pelabuhannya.
Berencana menghabiskan waktu istirahat dengan membaca buku, setidaknya itu bisa mengalihkan rasa lapar yang mulai menyerang perutnya.
Sementara itu, Ratna baru saja keluar dari kantin dengan sebuah kotak nasi ayam goreng kremes di tangannya. Senyumnya merekah, membayangkan rasa gurih ayam goreng yang dibelinya di kantin. Dia berencana membaginya dengan Gali seperti biasa, kalau saja Gali tidak mendadak menghilang.
"Gali! Gali mana ya?" gumam Ratna sambil celingukan mencari sosok Gali di antara kerumunan siswa yang menuju kantin.
Dia sudah berkeliling di sekitar kelas, bahkan di lorong-lorong dekat kantin, tapi Gali tidak terlihat.
Raut wajahnya mulai menunjukkan kekhawatiran. Dia tahu Gali terkadang memilih untuk menghindari kantin jika tidak punya uang. Tiba-tiba teringat. Mungkin Gali ada di perpustakaan.
Dengan langkah cepat, Ratna menuju gedung perpustakaan. Di dalam, suasananya jauh lebih tenang dan sejuk dibandingkan hiruk-pikuk kantin. Lampu-lampu neon menerangi rak-rak buku yang menjulang tinggi. Ratna mendekati meja pustakawan, seorang wanita paruh baya yang ramah.
"Permisi, Bu," sapa Ratna sopan. "Apa Ibu lihat Gali? Siswa kelas X IPA, yang biasa sering di perpus."
Penjaga perpustakaan itu tersenyum. "Oh, Gali ya? Tadi dia ke sini. Dia lagi baca buku di pojok sana," katanya sambil menunjuk ke arah sudut perpustakaan yang agak tersembunyi. "Kayaknya lagi fokus banget."
"Oh, baik Bu. Makasih banyak ya," ucap Ratna lega. Ia segera melangkah menuju sudut yang ditunjuk, membawa kotak nasi ayam goreng kremes di tangannya.
Dan benar saja, di sana Gali duduk bersila di lantai, punggungnya bersandar pada rak buku yang tinggi. Matanya tertuju pada sebuah buku yang sedang ia baca, terlihat sangat tenggelam dalam ceritanya.
"Hei," sapa Ratna lembut, berusaha tidak mengagetinya.
Gali sedikit tersentak, lalu menoleh. Matanya sedikit melebar melihat Ratna berdiri di depannya dengan sebuah kotak nasi.
"Loh, kamu ngapain di sini? Nggak ke kantin?" tanya Gali.
Ratna tersenyum, lalu meletakkan kotak nasi itu di lantai di samping Gali. "Aku nyariin kamu. Tadi di kantin nggak ada. Kamu pasti belum makan kan?"
Gali hanya bisa tertawa kecil, merasa sedikit malu. "Iya, lupa nggak bawa bekal pagi ini. Tadi buru-buru jemput kamu."
Ratna menyodorkan kotak nasi itu pada Gali. "Nih, makan. Aku beli ayam kremes kesukaanmu."
Gali memandang nasi kotak itu, lalu menatap Ratna. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, lebih hangat dari ayam goreng kremes itu sendiri.
"Makasih, Ratna. Kamu baik banget."
"Sama-sama. Aku kan udah bilang, kita teman," jawab Ratna sambil tersenyum manis. "Sini, kita makan bareng di sini aja. Lebih tenang."
Gali mengangguk setuju. Ia membuka kotak nasinya, dan aroma ayam goreng kremes langsung tercium menggugah selera. Di dalam keheningan perpustakaan, di antara deretan buku-buku cerita, dua anak manusia dari dunia yang berbeda itu berbagi makanan, berbagi kehangatan, dan berbagi sebuah persahabatan yang mulai tumbuh semakin kuat.
Mereka berdua tidak tahu kalau ada sepasang mata dibalik kamera handphone, dengan senyum sinis menekan kamera foto.
*****