Di sudut perpustakaan yang sunyi, Gali dan Ratna larut dalam obrolan ringan sambil menyantap nasi ayam kremes. Tawa Ratna sesekali terdengar pelan, merespons cerita Gali tentang kesulitannya di kelas tadi, atau tentang pekerjaan paruh waktunya di kafe. Gali pun merasa nyaman, rasa laparnya sedikit terobati oleh makanan dan lebih banyak lagi oleh kehadiran Ratna yang tulus.
Namun, di balik rak buku yang menjulang, sepasang mata mengawasi mereka dengan pandangan penuh perhitungan. Kelvin, salah satu siswa dari kalangan kaya di kelas mereka. Kelvin memiliki reputasi sebagai tukang gosip nomor satu di sekolah.
Dengan senyum licik terukir di wajahnya, Kelvin mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya lincah mengoperasikan kamera, membidikkan lensa ke arah Gali dan Ratna yang masih asyik menikmati santapan mereka. Jepret! Jepret! Beberapa foto berhasil ia ambil, menangkap momen Gali dan Ratna yang begitu dekat, seolah tak ada sekat di antara mereka.
Tak sampai satu menit, Kelvin sudah sibuk mengetik pesan di grup w******p sekolah. Dia menambahkan foto-foto yang baru saja diambil, disertai caption yang menggoda.
Foto-foto itu menyebar seperti api. Grup w******p sekolah, yang tadinya tenang, mendadak riuh rendah. Pesan-pesan singkat bertebaran, emoji tertawa dan tanda tanya memenuhi layar. Bisikan-bisikan yang tadinya hanya beredar di antara teman-teman dekat, kini mengalir deras ke seluruh penjuru sekolah.
"Astaga, beneran mereka pacaran?"
"Gali sama Ratna? Nggak mungkin lah!"
"Itu tadi foto di perpus kan? Kelihatan banget deketnya."
"Pasti si Gali naksir Ratna, tapi Ratna cuma kasihan aja."
"Duh, drama apalagi ini di sekolah kita..."
Di tengah gelombang gosip yang mulai terbentuk, Gali dan Ratna masih belum menyadari badai yang baru saja mereka ciptakan. Mereka masih menikmati sisa ayam kremes mereka, tertawa, dan bercerita, tanpa tahu bahwa sebuah foto sederhana telah mengubah persepsi banyak orang tentang mereka.
Kembali dari perpustakaan, Gali dan Ratna berjalan beriringan menuju kelas mereka.
Sesampainya di kelas, Ratna langsung disambut oleh Sarah dan Maya. Ekspresi wajah mereka menunjukkan kekesalan yang jelas.
"Ratna! Apa-apaan sih ini?!" seru Sarah begitu Ratna duduk di bangkunya. "Lihat nih!" Ia menyodorkan ponselnya yang menampilkan grup w******p sekolah, penuh dengan pesan-pesan mengenai foto Gali dan Ratna.
Maya ikut menimpali, "Gila ya lo, Na? Udah dibilangin jangan deket-deket sama si 'anak beasiswa' itu. Sekarang malah jadi bahan gosip seantero sekolah!" Nadanya penuh tuduhan.
Ratna terkejut. Dia mengambil ponsel Sarah dan melihat foto serta pesan-pesan yang beredar. Matanya membulat. Memang benar, itu adalah foto mereka berdua di perpustakaan. Wajahnya sedikit memerah, bukan karena marah, tapi lebih karena rasa malu dan tak nyaman.
"Ini... ini kan cuma foto biasa aja," kata Ratna mencoba menenangkan situasi. "Kita cuma makan bareng."
"Biasa aja gimana?! Kelihatan banget lo lagi mesra sama dia!" desis Maya. "Lagian, gimana sih lo bisa ngizinin dia deket-deket kayak gitu? Nggak sadar apa statusnya sama status lo?"
"Aku nggak ngasih izin, dia kan temanku!" balas Ratna, nadanya mulai sedikit meninggi.
Sarah menyikut Maya, lalu menatap Gali yang duduk di bangku pojok belakang, berusaha terlihat tenang namun jelas-jelas merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian.
"Lagian kamu ya, Gali! Ngapain sih lo manfaatin Ratna kayak gini? Ngerti dong posisi lo!" hardik Sarah, menatap Gali dengan tatapan tajam.
"Aku nggak manfaatin Ratna!" Gali akhirnya tidak bisa menahan diri. Suara Sarah yang menyalahkan Gali membuatnya merasa geram. "Ratna yang mau makan bareng sama aku, nggak pernah ngapa-ngapain dia!"
Maya terkekeh sinis, "Oh, jadi sekarang kamu mau belain dia? Sok pahlawan banget sih lo! Ngaca dong, lo itu siapa?!"
"Aku memang bukan siapa-siapa, tapi aku nggak suka lihat temanku dimarahi gara-gara hal sepele kayak gini!" balas Gali, suaranya sedikit bergetar karena emosi.
Ratna, yang tadinya mencoba menengahi, kini terdiam melihat Gali membela dirinya. Ada rasa haru yang menyelinap di hatinya. Di tengah cercaan teman-temannya, Gali justru pasang badan untuknya. Dirinya tidak menyangka Gali akan begitu protektif.
"Sudah, Sar, May. Jangan begitu," kata Ratna akhirnya, mencoba menghentikan pertengkaran yang mulai memanas. "Ini salah paham. Aku nggak apa-apa."
Namun, Sarah dan Maya masih menatap Gali dengan tatapan kesal. Gosip yang tadinya hanya sekadar foto kini telah memicu perdebatan dan bentrokan emosi di antara mereka. Gali dan Ratna, yang awalnya hanya berbagi makan siang, kini harus menghadapi badai gosip yang lebih besar dari yang mereka bayangkan.
"Jadi, lo lebih bela si Gali daripada kita, Na?" kata Sarah, suaranya penuh nada kecewa bercampur amarah. "Kita sahabat lo dari kapan tau, tapi cuma gara-gara cowok yang baru aja lo kenal, lo ngelakuin ini ke kita?"
Maya menimpali dengan pedas, "Iya, Ratna. Kita ini sahabatmu! Gosip ini bikin kita malu, bikin nama kita jelek! Tapi kamu malah belain dia, seolah-olah kita yang salah! Nggak nyangka ya, kita dianggap nggak penting sama kamu."
Ratna mencoba menjelaskan, "Bukan gitu, Sar, May. Aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku cuma nggak suka kalian marahin Gali. Dia nggak salah apa-apa."
"Nggak salah apa-apa gimana? Kalau dia nggak bikin masalah, nggak bakal ada gosip kayak gini!" sergah Sarah. "Ini semua gara-gara dia!"
"Dan kamu, Ratna, malah membela dia. Berarti kamu juga nggak peduli sama perasaan kita kan?" tambah Maya, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Namun, Sarah dan Maya sudah terlanjur sakit hati. Bagi mereka, Gali adalah sumber masalah, dan Ratna yang membela Gali dianggap sebagai pengkhianatan terhadap persahabatan mereka.
"Sudahlah, Ratna," kata Sarah, suaranya dingin. "Kayaknya kita memang nggak sepemikiran lagi. Kita nggak bisa jadi sahabat lagi."
Maya mengangguk setuju, air matanya mulai mengalir. "Iya, Ratna. Mulai sekarang, kita bukan sahabat lagi."
"Apa? Kalian serius?" tanya Ratna, suaranya bergetar.
Sarah dan Maya hanya menatapnya datar, tanpa sedikit pun keraguan di mata mereka. Lalu, tanpa sepatah kata pun lagi, mereka berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Ratna berdiri sendiri di tengah kelas yang mulai ramai kembali.
Hubungan Ratna dengan Sarah sama Maya kini renggang. Pertemanan yang dulunya erat, kini terkoyak oleh kesalahpahaman dan ego. Ratna merasa sendirian, sementara Gali merasa semakin bersalah. Di tengah hiruk pikuk kehidupan SMA yang penuh dengan dinamika sosial, persahabatan yang rapuh itu telah hancur, meninggalkan luka yang dalam bagi mereka yang terlibat.
Gali merasa dadanya sesak. Dia melihat Ratna berjalan menuju gerbang sekolah, Ratna memesan taksi online. Gali hanya bisa mematung, memandang mobil yang menjemput Ratna menjauh dari pandangannya.
Sepanjang perjalanan pulang, motor lawas Gali melaju dalam kesunyian yang menyakitkan. Jalanan yang biasanya ia lalui dengan santai kini terasa begitu berat. Pikiran Gali dipenuhi rasa bersalah.
"Ini semua salahku," gumam Gali pada dirinya sendiri, suaranya tertelan oleh deru mesin motor. Dia bukan galau karena putus cinta, karena tahu Ratna bahkan belum sampai pada tahap itu.
Ketika sampai di rumah kontrakan dengan perasaan hampa. Ayah dan ibunya menyambutnya seperti biasa, namun Gali hanya bisa menjawab seadanya. Lalu masuk ke kamarnya, bukan untuk belajar, tapi untuk merenung. Memikirkan tatapan dingin Sarah dan Maya, dan juga wajah Ratna yang terlihat terpukul.
Dirinya bertanya-tanya, apakah keputusannya untuk berteman dengan Ratna adalah sebuah kesalahan? Apakah seharusnya tetap menjaga jarak, tetap menjadi siswa asing yang tak terlihat, demi melindungi orang lain dari apa yang disebut "masalah"?
Malam ini, Gali tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya terus berputar, dibebani oleh rasa bersalah dan ketidakpastian. Dia merasa terjebak di antara dua dunia, dunianya yang sederhana dan dunia Ratna yang penuh kilau, dunia di mana perbedaan mereka seolah menjadi sumber masalah yang tak terhindarkan.
*****