Keputusan Pak Surya menunjuk Gali sebagai ketua ekskul Fotografer disambut baik oleh seluruh anggota OSIS. Setelah sedikit keterkejutan awal, aura positif menyelimuti ruangan. Mereka tahu Gali adalah sosok yang bertanggung jawab dan memiliki bakat tersembunyi yang kini terungkap.
"Oke, teman-teman, kita dukung Gali sepenuhnya!" seru Ketua OSIS dengan semangat. "Kita akan berikan semua fasilitas yang ada untuk menunjang ekskul fotografi ini. Kamera-kamera lama yang masih layak pakai, ruangan khusus untuk pengolahan foto jika memungkinkan, pokoknya kita maksimalkan!"
Semua anggota OSIS mengangguk setuju. Mereka melihat ini sebagai kesempatan besar untuk mengembangkan salah satu bidang seni di sekolah, dan mereka siap bekerja sama untuk mewujudkannya.
Di tengah semangat kolaborasi itu, Ketua OSIS menoleh pada Laras yang duduk tak jauh dari Gali. "Ras," panggilnya. "Bagaimana kalau kamu jadi wakil ketua ekskul Fotografer? Aku lihat kamu juga punya ketertarikan dan kemampuan di bidang fotografi. Apalagi kamu kan lumayan paham soal editing foto, kan?"
Laras tersenyum lebar. Dia memang suka memotret dengan ponselnya, dan seringkali mengedit hasilnya agar terlihat lebih menarik. Dirinya senang bisa terlibat lebih jauh dalam ekskul yang digagas ini.
"Wah, serius nih? Boleh banget! Aku siap bantu Gali sebisa mungkin."
Gali menoleh pada Laras, merasakan kelegaan. Dia tahu membutuhkan partner yang bisa dipercaya dan memiliki kemampuan melengkapi dirinya. Laras, dengan keceriaannya dan keahliannya di bidang teknis fotografi, adalah pilihan yang tepat.
"Wah, pas banget, Laras!" ujar Gali sambil tersenyum. "Aku memang butuh wakil yang bisa bantuin ngatur dan punya ide-ide kreatif. Aku tahu kamu jago soal editing."
Laras tertawa, "Tenang aja, Gal. Kita bakal bikin ekskul ini keren banget!"
Keputusan ini disambut baik oleh semua anggota OSIS. Gali dan Laras, dua siswa yang beda kelas dan Gali yang terpuruk oleh gosip dan kesalahpahaman, kini bersatu dalam sebuah tim yang solid. Gali akan memimpin dari sisi visi dan kepemimpinan, sementara Laras akan menjadi tangan kanannya dalam hal teknis dan kreativitas.
Peran baru ini memberikan Gali semangat baru. Dirinya merasa lebih dihargai dan memiliki tujuan yang jelas. Tantangan akan ada, terutama dalam memajukan ekskul baru ini. Lensa fotografi kini menjadi alat baginya untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda, siap untuk menangkap setiap momen berharga yang terbentang di depannya.
Pengumuman pembentukan ekskul Fotografer disambut antusias oleh seluruh siswa. Ruang pendaftaran yang dibuka di sekretariat OSIS tak henti-hentinya didatangi oleh para siswa yang penasaran. Mereka yang punya minat di bidang fotografi, baik yang sudah mahir maupun yang baru ingin belajar, semua berbondong-bondong mendaftar.
Gali sama Laras, sebagai ketua dan wakil ketua, kewalahan mengatur pendaftar yang membludak. Laras sibuk mengurus administrasi, sementara Gali sesekali ikut menyapa calon anggota baru, menjelaskan visi dan misi ekskul yang baru ini. Di tengah kesibukan itu, matanya menangkap sebuah nama di daftar pendaftar yang membuatnya sedikit terdiam.
Gali menatap nama itu lagi, memastikan tidak salah baca. Ya, Ratna, gadis yang beberapa waktu lalu sempat menjadi sumber gosip dan membuat hubungan mereka menjadi canggung, ternyata ikut mendaftar. Gali merasakan sedikit debaran di dadanya. Teringat tatapan dingin Ratna saat pulang sekolah tempo hari, dan bagaimana Ratna menjaga jarak di kelas.
Sebuah pertanyaan muncul di benak Gali. Mengapa Ratna mendaftar ekskul ini? Apakah benar-benar tertarik pada fotografi, atau ada alasan lain di baliknya? Gali menduga, mungkin Ratna ingin memperbaiki kembali hubungan mereka yang sempat renggang akibat gosip itu. Keinginan untuk kembali dekat, untuk memperbaiki kesalahpahaman yang ada.
Namun, Gali berusaha untuk tidak menunjukkan reaksinya. Dirinya sadar, situasi mereka memang masih sedikit canggung. Jika menunjukkan terlalu banyak perhatian, bisa menimbulkan salah paham baru.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba bersikap profesional. Ia bertekad untuk memperlakukan semua anggota ekskul, termasuk Ratna, dengan adil dan setara.
Saat Ratna datang untuk menyerahkan formulir pendaftarannya, Gali hanya menyapanya dengan sopan, seperti menyapa anggota baru lainnya.
"Halo, Ratna. Selamat datang di ekskul Fotografer," ujarnya dengan nada yang datar, profesional, namun tanpa sedikit pun nada dingin.
Ratna sedikit terkejut dengan sikap Gali yang terkesan biasa saja. Dirinya sebenarnya berharap Gali akan menunjukkan sedikit reaksi, mungkin sedikit pertanyaan, atau setidaknya tatapan yang berbeda.
Namun, Gali tetap fokus pada tugasnya, menanyakan kelengkapan formulir dan memberikan arahan awal.
"Terima kasih, Gali," jawab Ratna, mencoba menyembunyikan sedikit kekecewaan.
Gali sengaja bersikap seperti ini. Mungkin untuk menghindari gosip yang lebih parah, atau mungkin memang Gali sudah tidak terlalu memikirkannya. Apapun alasannya, Ratna harus memulainya dari awal.
Di balik sikap Gali yang pura-pura biasa, tersembunyi sebuah kompleksitas perasaan. Dia merasa lega karena Ratna hadir, namun juga waspada. Ia tahu, perjalanan untuk memperbaiki hubungan mereka tidak akan mudah. Namun, di tengah-tengah semangat baru ekskul Fotografer ini, Gali membuka diri untuk kemungkinan yang ada.
Sabtu pagi itu terasa istimewa. Matahari bersinar cerah, seolah ikut merayakan dimulainya berbagai kegiatan ekstrakurikuler di SMA Harapan Bangsa. Di lapangan utama, berbagai kelompok siswa terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing, seni tari berlatih dengan irama musik, seni teater merangkai dialog di sudut taman, dan seni beladiri memamerkan gerakan-gerakan sigap.
Di sisi lain, ekskul Fotografer baru saja memulai sesi praktik di luar ruangan. Gali, dengan semangat yang membara, memberikan arahan kepada para anggota baru. Dia menjelaskan teknik-teknik dasar pengambilan gambar, komposisi, hingga cara menggunakan kamera dengan optimal.
Laras, sebagai wakil ketua, selalu berada di sampingnya. Tangannya sibuk mencatat poin-poin penting, sesekali berdiskusi dengan Gali mengenai strategi latihan atau peralatan yang dibutuhkan.
"Jadi, teman-teman, kalau kita memotret objek yang bergerak, pastikan shutter speed-nya cukup cepat ya. Biar gambarnya tidak blur," terang Gali, sambil mendemonstrasikan dengan kameranya.
Laras menyahut, "Dan kalau mau dapetin efek background blur yang bagus, coba gunakan aperture yang lebar. Tapi hati-hati, fokusnya harus pas ke objek utama."
Mereka berdua terlihat begitu serasi.
Gali memimpin dengan teori dan visi, Laras melengkapi dengan detail teknis dan ide-ide praktis. Sesekali, mereka saling bertukar pandang, tersenyum, tertawa ringan saat ada anggota yang kesulitan.
Dari kejauhan, Ratna mengamati pemandangan itu. Dia berdiri agak terpisah dari kelompok lainnya, memegang kameranya sendiri, namun pandangannya lebih sering tertuju pada Gali dan Laras. Hatinya terasa sedikit sesak. Melihat Gali yang begitu bersemangat, begitu percaya diri saat menjelaskan sesuatu kepada para anggota. Laras yang selalu berada di dekat Gali, mendengarkan dengan saksama, dan sesekali berbisik kepadanya.
Ada sebuah kecemburuan yang diam-diam merayapi hati Ratna. Bukan kecemburuan cinta yang membara, karena tahu Gali dan Laras hanyalah sahabat. Tapi kecemburuan yang timbul dari rasa kehilangan. Kehilangan kedekatan yang sempat dirasakan, kehilangan momen-momen kebersamaan yang kini seolah menjadi milik Laras.
Ratna melihat Gali tersenyum saat Laras menunjukkan sebuah hasil foto di layar kameranya. Senyum Gali terlihat begitu tulus, berbeda dengan senyumnya saat berinteraksi dengannya. Laras menepuk pundak Gali pelan, sebuah gestur persahabatan yang alami, namun di mata Ratna, gestur itu terasa begitu intim.
Ratna menghela napas panjang. Dirinya sadar, memperbaiki hubungannya dengan Gali tidak akan semudah yang dibayangkan. Kehadiran Laras yang begitu dekat dengan Gali, meskipun hanya sebatas persahabatan, membuat jarak di antara mereka terasa semakin jauh.
Dia kembali memfokuskan pandangannya pada kameranya, mencoba menangkap keindahan bunga di sekelilingnya, namun bayangan Gali dan Laras masih terlintas di sudut matanya. Momen-momen kebersamaan itu kini terasa seperti sebuah impian yang sulit digapai.
*****