Minggu pagi yang seharusnya cerah terasa muram bagi Ratna. Dia masih bergelung di balik selimutnya, enggan beranjak dari tempat tidur. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan Gali dan Laras yang tertawa bersama di hari Sabtu kemarin. Cemburu itu masih membakarnya, meski dia tahu, tidak punya hak. Hubungan dirinya dengan Gali hanyalah sebatas teman, itupun sudah retak selama sebulan terakhir akibat gosip.
Di luar kamar, ibunya, Lisa, mulai merasakan ada yang tidak beres dengan putrinya. Sejak beberapa minggu terakhir, Ratna seringkali terlihat melamun, kurang bersemangat, dan lebih sering mengurung diri di kamar.
Setelah menyiapkan sarapan dan melihat Ratna belum juga keluar kamar, Lisa memutuskan untuk menghampirinya. Mengetuk pelan pintu kamar Ratna yang tertutup.
"Ratna! Kamu nggak sarapan?" panggil Lisa lembut.
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar helaan napas pelan dari dalam. Lisa mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras.
"Ratna, kamu baik-baik saja?"
Terdengar suara seretan kaki dari dalam, lalu pintu terbuka perlahan. Ratna berdiri di ambang pintu, matanya terlihat sedikit bengkak, rambutnya berantakan. Hanya mengenakan piyama, terlihat begitu lesu.
Lisa menatap putrinya dengan prihatin, "Ya ampun, Nak. Kamu kenapa? Dari tadi nggak keluar kamar. Sakit?"
Ratna menggeleng pelan, matanya menunduk. "Nggak, Bu. Cuma... nggak enak badan aja."
Lisa mengamati wajah putrinya, "tidak enak badan" yang dimaksud Ratna bukanlah penyakit fisik, melainkan kegundahan di hati. Sebagai seorang ibu, bisa merasakan ketika ada sesuatu yang mengganggu pikiran anaknya.
"Ratna," ujar Lisa lembut, lalu menarik Ratna masuk ke dalam kamar.
Duduk di tepi tempat tidur, sementara Ratna duduk di sebelahnya, masih dengan pandangan tertunduk.
"Cerita sama Ibu. Ada apa sebenarnya? Ibu lihat kamu akhir-akhir ini sering melamun. Kamu ada masalah di sekolah?"
Ratna terdiam sejenak, bibirnya sedikit bergetar. Dirinya ragu untuk menceritakan segalanya. Bagaimana dia merasa cemburu pada teman dekat Gali, sementara mereka bahkan bukan siapa-siapa. Merindukan kedekatan Gali yang dulu sempat dia rasakan, namun kini semakin menjauh.
Lisa sabar menunggu. Dia tahu putrinya bukan tipe yang mudah bercerita, tapi yakin, Ratna butuh didengarkan. Lalu membelai lembut rambut Ratna.
"Nggak apa-apa kalau kamu belum siap cerita. Tapi ingat, Ibu ada di sini buat kamu. Apapun masalahnya, kita bisa cari solusinya sama-sama."
Ratna akhirnya keluar dari kamarnya, ditemani ibunya, Lisa. Raut wajahnya masih terlihat sedikit muram, namun dia sudah berusaha bangkit dari keterpurukannya. Mereka menuju ruang makan, di mana aroma sarapan yang lezat sudah tercium.
Aris melihat putrinya, dan sekilas menangkap raut wajah Ratna yang sedikit berbeda dari biasanya. Dia sempat ingin bertanya, namun Lisa memberinya kode halus dengan tatapan mata. Aris paham, istrinya pasti sudah mengamati putrinya dan mengerti bahwa ini bukan saat yang tepat untuk mendesak.
"Sayang," ujar Aris kepada Lisa, memulai percakapan bisnisnya. "Pesanan dari Filipina sudah mulai masuk lagi ya? Kata asistenku, mereka minta dikirim minggu depan."
Lisa mengangguk, senyum tipis terukir di bibirnya. "Iya, Yah. Kemarin aku sudah konfirmasi ke bagian produksi. Kalau Singapura dan Thailand, juga sudah ada penambahan order. Sepertinya tren industri garmen kita lagi bagus banget sekarang."
"Syukurlah kalau begitu," kata Aris lega. "Semoga terus lancar. Kita harus manfaatkan momentum ini dengan baik. Jangan sampai kita kewalahan nanti."
Mereka pun larut dalam percakapan mengenai detail pesanan, jadwal produksi, dan rencana ekspansi bisnis perusahaan garmen mereka. Topik yang begitu jauh dari kegelisahan Ratna, namun terasa pas untuk menciptakan suasana yang lebih ringan dan mengalihkan perhatian dari ketegangan yang mungkin dirasakan Ratna.
Di tengah obrolan bisnis yang cukup intens antara Aris sama Lisa mengenai pesanan dari luar negeri, sebuah suara lembut terdengar dari arah dapur. Bik Surti, asisten rumah tangga mereka yang sudah lama bekerja, muncul dengan membawa kabar tak terduga.
"Permisi, Bapak, Ibu," ucap Bik Surti sopan, sedikit ragu. "Di luar pagar, ada anak laki-laki yang nunggu. Katanya namanya Gali. Dia bilang ada buku yang ketinggalan di ruang ekskul."
Ratna, yang sedari tadi duduk dengan tatapan sedikit menerawang, langsung tersentak mendengar nama itu. Matanya seketika melebar, sebuah kejutan yang bercampur dengan kelegaan dan kebahagiaan yang tak terduga. Dia langsung berdiri dari kursinya, hampir saja menumpahkan gelas minumnya.
Lisa sama Aris saling pandang. Mereka melihat ekspresi wajah putrinya yang berubah drastis. Dari muram menjadi berbinar seketika hanya mendengar nama Gali. Senyum tipis terukir di wajah mereka. Ternyata ini sumber kegalauan Ratna selama ini.
"Oh, Gali? Ya sudah, Ratna temui saja dia, Nak," kata Lisa dengan nada lembut, memberikan izin tanpa perlu banyak bertanya.
Tanpa menunggu aba-aba kedua, Ratna segera melangkah keluar rumah, menuju pagar. Jantungnya berdebar kencang. Mempercepat langkahnya, dan benar saja, di luar pagar, berdiri sosok Gali yang sedang memegang sebuah buku panduan fotografi.
"Gali!" panggil Ratna, suaranya terdengar lega dan sedikit terengah-engah.
Gali menoleh, sedikit terkejut melihat Ratna keluar dengan begitu antusias. Dia tersenyum tipis, "Hai, Ratna. Ini buku panduan fotografi kamu yang ketinggalan di ruang ekskul kemarin. Tadi aku mau simpan, tapi ingat kamu pasti butuh."
Ratna menerima buku itu, jemarinya sedikit bersentuhan dengan jemari Gali saat terima buku. Sebuah sentuhan singkat yang terasa begitu berarti.
"Wah, makasih banyak ya, Gal. Aku kira hilang," ucap Ratna tulus. Dirinya sebenarnya ingin mengajak Gali masuk, tapi dia tahu Gali pasti sibuk.
"Sama-sama. Aku nggak bisa mampir nih, Ratna. Hari Minggu aku kerja full time di kafe," jelas Gali. "Jadi harus segera berangkat."
Ratna mengerti. Dia sudah tahu betapa kerasnya Gali bekerja, "Oh, gitu ya. Oke deh. Makasih banyak ya, Gali. Kamu udah nyempetin mampir."
Gali mengangguk. "Sama-sama. Sampai ketemu di sekolah." Dia segera memakai helmnya dan melaju meninggalkan pekarangan rumah Ratna.
Ratna memandang punggung Gali yang menjauh, senyum bahagia masih terukir di wajahnya. Dia memeluk buku panduan fotografi itu erat-erat. Lalu, dengan langkah ringan dan hati yang kembali ceria, ia masuk ke dalam rumah.
"Wah, tumben temenmu mampir ke sini," ujar Aris dengan nada geli. "Kayaknya putrimu ini seneng banget lihat dia."
Lisa tertawa kecil, "Biarin aja, Yah. Yang penting dia ceria lagi. Itu lebih penting daripada bisnis."
"Ratna," panggil Lisa lembut, setelah Ratna duduk kembali di meja makan. "Tadi itu teman kamu, Gali ya?"
Ratna mengangguk, senyumnya masih tersisa. "Iya, Bu. Dia ketua anggota ekskul Fotografer di sekolah."
Aris menyesap kopinya, lalu menatap putrinya. "Kamu dekat sama dia?" tanyanya langsung, namun dengan nada yang tidak menghakimi.
Ratna sedikit ragu. Bagaimana dirinya harus menjawab pertanyaan ini? Hubungannya dengan Gali memang tidak sedekat dulu. Gosip itu telah menciptakan jarak yang cukup lebar. Dia memutuskan untuk menjawab dengan jujur.
"Kita temenan, Yah. Dulu lumayan dekat pas sebelum awal ekskul fotografi dibentuk," jawab Ratna.
Dia menarik napas sebentar, lalu melanjutkan, "Tapi sekarang... nggak terlalu baik lagi. Gara-gara ada gosip foto kita makan bareng di perpustakaan. Teman-teman aku yang lain, terutama Sarah dan Maya, mereka jadi marah sama Gali. Mereka bilang Gali itu nggak pantas temenan sama aku, anak orang kaya, sementara Gali cuma anak miskin yang dapat beasiswa."
"Apa? Cuma gara-gara foto makan bareng?" tanya Aris, nada suaranya menunjukkan ketidakpercayaan sekaligus kekecewaan.
"Dan mereka menghujat Gali hanya karena statusnya?"
Lisa menghela napas panjang. "Ya ampun, Ratna. Ibu tidak menyangka di sekolah sebaik itu masih ada perundungan seperti ini. Cuma karena dia dari keluarga biasa, dia jadi sasaran?"
Ratna menunduk, "Iya, Bu. Sarah dan Maya jadi nggak mau temenan sama aku lagi gara-gara aku masih mau temenan sama Gali. Mereka bilang aku nggak peduli sama nama baik mereka."
Aris menatap putrinya dengan iba, "Jadi kamu sekarang sendirian di sekolah?"
Ratna mengangguk pelan, "Nggak sendirian banget sih, Yah. Masih ada temen lain. Tapi Sarah dan Maya itu sahabatku dari SMP. Rasanya sedih banget mereka jadi begitu."
Lisa mengusap punggung Ratna, "Ibu mengerti kamu pasti sedih. Tapi jangan khawatir, Nak. Kamu punya Ibu dan Ayah. Dan kamu punya Gali, yang ternyata orangnya baik, mau membela kamu."
Lisa kemudian menoleh pada Aris. "Ayah, Ibu rasa kita perlu lebih mengenal Gali. Setidaknya, dia sudah menunjukkan bahwa dia adalah anak yang baik dan bertanggung jawab, terlepas dari latar belakangnya."
"Benar kata Ibu," ujar Aris kepada Ratna. "Jangan pernah merasa malu berteman dengan orang baik, Nak, jangan lihat latar belakangnya. Yang penting adalah hatinya."
Kemudian menatap Ratna lagi. "Kalau kamu memang berteman baik dengannya, dan dia anak yang baik, jangan biarkan omongan orang lain merusak pertemananmu."
Ratna mendengarkan perkataan ayah dan ibunya. Dia merasa lega bisa menceritakan segalanya. Mendapatkan dukungan dari orang tuanya, membuat beban di hatinya sedikit terangkat.
*****