Sore itu, saat lonceng tanda pulang sekolah berbunyi, Ratna bergegas mengemasi barang-barangnya. Dia harus menunggu taksi online atau karena hari ini ayahnya tidak bisa jemput.
Namun, hari ini, saat keluar dari gedung kelas, dia melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam terparkir tak jauh dari gerbang sekolah. Lampu hazard mobil itu berkedip pelan.
Ratna sedikit terkejut. Dirinya tidak sedang menunggu jemputan. Biasanya, jika ayahnya menjemput, akan datang dengan mobil yang berbeda, atau akan memberi kabar terlebih dahulu. Penasaran, Ratna berjalan mendekat. Kaca jendela mobil itu diturunkan, dan melihat ibunya, Lisa, duduk di kursi kemudi, tersenyum ke arahnya.
"Ratna! Sini, Nak!" panggil Lisa ramah.
Ratna semakin terheran. Ibunya jarang sekali menjemputnya langsung ke sekolah, apalagi di hari biasa seperti ini.
"Ibu ngapain di sini?" tanyanya sambil membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang.
Lisa tertawa kecil sambil mengendarai mobilnya keluar dari area parkir sekolah.
"Tadi Ibu habis dari supermarket, belanja buat keperluan dapur. Sekalian aja Ibu mampir jemput kamu di sini."
"Ohh," Ratna mengangguk paham. Merasa sedikit lega, karena setidaknya nggak perlu repot-repot memesan taksi online.
Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda. Biasanya, jika dijemput ayahnya, mereka akan mengobrol tentang sekolah, tentang teman-temannya, atau tentang kegiatan di rumah. Kali ini, bersama ibunya, suasana terasa lebih santai, namun juga lebih intim.
"Gimana sekolah hari ini?" tanya Lisa, tangannya memegang kemudi dengan mantap.
Ratna mengangkat bahu. "Ya gitu-gitu aja, Bu. Biasa aja."
Lisa tersenyum. Dia tahu putrinya sedang tidak dalam suasana hati terbaik, terutama setelah kejadian gosip itu. "Kamu baik-baik saja kan, Nak? Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu agak murung."
Ratna menatap ibunya. Kehangatan tatapan Lisa membuatnya merasa nyaman untuk berbagi. "Aku nggak apa-apa, Bu. Cuma... kadang mikir aja."
"Mikirin apa?" desak Lisa lembut.
"Tentang Gali, Bu," jawab Ratna jujur. "Gara-gara gosip itu, kita jadi jaga jarak. Terus sekarang dia kelihatan dekat sama Laras. Aku jadi... ya gitu deh."
Lisa mendengarkan dengan sabar. Tidak menyela, membiarkan putrinya mengungkapkan perasaannya.
"Ibu tahu kamu merasa cemburu, Nak. Tapi ingat, yang terpenting sekarang adalah kamu dan Gali baik-baik aja, dan kalian sama-sama punya minat di fotografi. Jangan biarkan omongan orang lain merusak pertemanan kalian."
"Tapi Bu, gimana kalau Gali nggak mau temenan lagi sama aku?" tanya Ratna lirih. "Soalnya aku bikin dia dimarahin sama Sarah dan Maya."
Lisa tersenyum menenangkan, "Gali itu anak yang baik, Nak. Dan dia juga punya kesadaran diri. Ibu yakin, dirinya mengerti situasinya. Kalau memang kalian berdua punya niat baik untuk berteman, pasti akan ada jalan."
Perkataan ibunya sedikit melegakan hati Ratna. Lalu menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota Surabaya yang melintas. Bersyukur memiliki ibu seperti Lisa, yang selalu memahami dan mendukungnya.
Perjalanan pulang yang tak terduga ini menjadi momen berharga baginya untuk berbagi kegundahan, dan mendapatkan sedikit pencerahan dari ibunya.
Mobil sedan hitam yang dikemudikan Lisa melaju perlahan menyusuri jalanan sore yang mulai ramai. Ratna masih larut dalam pikirannya, mencoba mencerna kata-kata ibunya.
Tiba-tiba, melihat sesosok pemuda yang familiar di pinggir jalan, tak jauh dari mereka. Motor lawasnya terparkir di sampingnya, dan pemuda itu terlihat sedang menatap ke arah jalanan dengan ekspresi sedikit bingung.
"Bu! Berhenti, Bu! Itu Gali!" seru Ratna tiba-tiba, menunjuk ke arah Gali.
Lisa sedikit terkejut, namun segera menepikan mobilnya sesuai permintaan Ratna, berhenti tepat di samping Gali. Jantung Ratna berdebar lebih kencang. Ini adalah kesempatan.
Kaca jendela mobil diturunkan, dan Gali, yang tadinya sedang memandang jalanan dengan pasrah, menoleh ke arah suara. Betapa terkejutnya melihat Ratna duduk di kursi penumpang, tersenyum ke arahnya.
"Gali! Kamu kenapa di sini?" tanya Ratna, nada suaranya penuh rasa ingin tahu bercampur sedikit kekhawatiran.
Gali menatap Ratna, lalu melirik ke arah Lisa yang duduk di belakang kemudi. Dia sedikit canggung, namun mencoba bersikap biasa saja.
"Eh, Ratna. Nggak apa-apa kok," jawabnya, mencoba menyembunyikan rasa kagetnya. "Motornya kehabisan bensin. Istirahat dulu, capek dorong nyari bensin eceran."
Lisa yang tadinya diam, kini ikut menoleh ke arah Gali. Ia tersenyum ramah. "Oh, begitu. Kasihan sekali. Kamu mau diantar pulang, Nak?"
"Makasih Bu, saya cari bensin aja!"
Ratna tak mau melewatkan kesempatan ini. Dia menatap ibunya dengan penuh harap.
"Bu, aku... aku pulang sama Gali aja ya?"
"Terus..."
"Ibu pulang dulu aja. Ratna sama Gali mau beli bensin eceran."
"Ya, ibu ngerti, hati-hati nanti pulangnya!"
"Iya, Bu." Jawab Ratna, lalu melirik ke arah Gali, "gimana Gali?"
Gali sedikit ragu. Dirinya tidak ingin merepotkan. Tapi melihat tulusnya tawaran Ratna, dan tatapan penuh pengertian dari ibunya Ratna, akhirnya mengangguk.
"Boleh, Ratna. Asal ibu kamu ngijini."
Lisa tersenyum lega. Beliau melihat kesempatan emas ini. "Tentu saja boleh. Ayo, Gali, Ratna, ibu pulang duluan!"
"Iya."
Setelah mobil ibunya melaju meninggalkannya, Ratna menoleh pada Gali yang kini sedang bersiap mendorong motornya. Tawa kecil masih tersisa di bibirnya membayangkan betapa canggungnya situasi tadi. Namun, kelegaan karena bisa kembali berinteraksi dengan Gali mengalahkan rasa canggung itu.
"Jadi, kita cari bensin di mana, Gal?" tanya Ratna, siap ikut membantu.
Gali menatap sekeliling. "Kayaknya harus lumayan jauh nih, Ratna. Nggak ada warung bensin eceran di dekat sini."
"Nggak apa-apa, aku temenin. Lumayan buat ngobrol," ujar Ratna sambil tersenyum. Tidak keberatan sama sekali. Justru, merasa senang bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Gali.
Mereka pun mulai mendorong motor Gali menyusuri pinggir jalan. Langkah mereka perlahan, diselingi obrolan ringan. Awalnya sedikit canggung, namun seiring berjalannya waktu, obrolan mereka mulai mengalir begitu saja.
Gali bercerita tentang kesulitannya saat harus bekerja paruh waktu sambil bersekolah, tentang ambisinya untuk bisa membeli motor yang lebih layak suatu hari nanti. Ratna mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menimpali dengan pertanyaan.
"Nah, itu dia!" seru Gali tiba-tiba, menunjuk sebuah warung kecil di kejauhan yang terlihat menjual bensin eceran.
Mereka berdua mempercepat langkah, akhirnya sampai di warung itu. Gali membeli dua botol bensin, lalu mereka mengisi tangki motor dengan hati-hati. Setelah selesai, Gali memasang kembali tutup tangki.
"Makasih banyak ya, Ratna. Maaf udah ngerepotin," kata Gali, kali ini nada suaranya terdengar tulus dan sedikit lega.
Ratna menggeleng, "Nggak ngerepotin kok. Aku malah seneng bisa nemenin kamu."
"Jadi, kamu mau pulang sekarang? Aku anterin kamu pulang dulu ya, tapi nggak bisa mampir ke rumahmu."
"Oke, anterin aku pulang."
Akhirnya, Gali menyalakan mesin motornya yang kini sudah terisi bensin. Dia segera mengundang Ratna untuk naik ke boncengan. Kali ini, pelukan Ratna di pinggang Gali terasa berbeda. Tidak lagi ada kecanggungan, tidak ada rasa ragu. Hanya ada kehangatan persahabatan yang kembali tumbuh, ditambah sedikit rasa geli karena situasi yang baru saja mereka lalui.
Sepanjang perjalanan pulang, tawa mereka tak henti-hentinya terdengar. Gali bercerita tentang kelucuan pelanggan di kafe tempatnya bekerja, tentang pengalaman uniknya saat belajar fotografi.
Ratna menanggapi dengan cerita-cerita lucu dari teman-temannya di sekolah, atau tentang kesannya melihat hasil foto-foto Gali yang keren. Motor lawas itu berderu di bawah langit senja, membawa mereka berdua menjauh dari masalah dan kedekatan yang kembali terjalin.
Jalanan yang tadinya terasa begitu jauh saat mendorong motor, kini terasa begitu dekat saat mereka berboncengan, dipenuhi oleh gelak tawa dan percakapan yang mengalir tanpa henti. Persahabatan mereka, yang sempat retak, kini mulai kembali terajut, lebih kuat dari sebelumnya.
Perjalanan yang padat hingga ke gerbang megah Mayar Hill terasa begitu cepat. Sepeda motor lawas Gali kini melaju di jalanan yang tertata rapi, diapit oleh rumah-rumah mewah yang menjulang tinggi.
Tawa Ratna yang tadi membahana di sepanjang jalan kini mulai mereda, digantikan oleh keheningan yang sedikit berbeda. Gali bisa merasakan aura rumah yang familiar bagi Ratna, sebuah tempat yang jelas sangat kontras dengan dunianya.
Mereka berhenti tepat di depan gerbang rumah Ratna yang besar dan megah. Gali mematikan mesin motornya, dan keheningan senja pun menyambut mereka. Lampu-lampu taman mulai menyala, memberikan nuansa hangat di sekitar halaman yang luas.
Ratna turun dari boncengan motor, senyumnya masih tersisa di wajahnya, namun kali ini ada sedikit nada kelegaan sekaligus kehati-hatian di sana.
"Makasih ya, Gali. Udah dianterin sampai sini," ucapnya, kali ini nadanya lebih tenang. Dia memegang buku panduan fotografi yang tadi sempat diberikan pada Gali.
Gali tersenyum singkat. "Sama-sama, Ratna. Aku juga makasih banget." Dia kemudian menoleh ke arah jam di tangannya. "Aku harus segera pergi nih. Mau siap-siap buat kerja di kafe."
Ratna mengangguk paham. Dia tahu Gali harus segera kembali ke rutinitasnya. "Oke deh, Gal. Hati-hati di jalan ya. Makasih sekali lagi buat hari ini."
"Oke. Sampai ketemu di sekolah," balas Gali, lalu segera memakai helmnya.
Dia memberikan senyum kecil pada Ratna, senyum yang terasa lebih hangat dari sebelumnya, sebelum akhirnya memutar motornya dan melaju meninggalkan Mayar Hill, kembali ke arah jalanan yang lebih ramai, menuju tempat kerjanya.
Ratna memandang punggung Gali yang menjauh hingga menghilang di tikungan jalan. Senyum masih terukir di bibirnya. Hari yang dimulai dengan kegalauan kini berakhir dengan rasa lega dan kehangatan. Dia berbalik, berjalan menuju pintu rumahnya yang megah, membawa serta kenangan yang mendorong motor yang penuh tawa.
*****