"Kamu mau kerja sepagi ini mas?"
Laki itu tersenyum mengusap kening perempuan yang wajahnya sedang frustasi.
"Mas kerja dulu," jawab lakinya singkat, kemudian mencium dan memeluk dengan erat seperti takut kehilangan, menyalurkan energi hangat.
"Aku sepi mas, tiap kamu kerja," jawabnya melirih, tercambuk karena sepi.
Laki itu makin mencium dengan tulus, tidak mau mendengar alasan apapun. "Sabar, ini baru tahun kelima kita menikah, besok pasti kita punya anak," ujar laki itu menenangkan.
"Aku mau dimasakin Rendang, dan soup buah yang penuh," pintanya berpesan setelah pulang kerja.
Perempuan itu jadi tersenyum, kemudian menyerahkan tas.
"Hati-hati ya Mas Wijaya, kabari kalo sudah sampai."
Mas wijaya hanya melambaikan tangan, dan mengangguk.
Baru berjalan beberapa meter Wijaya seperti kembali lagi, "Ada apa mas?" tanya Tamara, ikutan panik.
Wijaya datang dan memeluk. "Aku lupa meletakan buket bunga di meja makan, hari ini kamu ada jadwal keluar?"
Tamara tertawa geli, Wijaya masih begitu romantis, sabar dan begitu sayang pada Tamara. "Makasih ya mas," tatap Tamara.
Wijaya tersenyum, mengecup tangan Tamara sekali lagi. Tamara melambai tangan. Mengikuti laju mobil Wijaya yang mulai menjauh dari pekarangan rumah.
Wijaya: Halo madu?Aku ke rumah ya sekarang.
Aku menoleh jam, baru jam 6, apa dia laki-laki yang gila berpamitan dengan istrinya keluar rumah jam segini.
Aku mengucek mata, hari ini ada jadwal seminar, tapi mataku terasa berat, sedari tadi menguap meminta dilampiaskan untuk segera tidur kembali.
"Buka Madu!"
Aku bangkit dengan menyeret badan malas-malasan. "Tua tidak berguna! Kenapa sepagi ini sudah sampai sini?" Gerutuku dalam hati masih belum ingin diganggu.
"Mas wijaya? Kok sepagi ini, mba Tamara ga curiga?"
Wijaya tersenyum dengan brondongan pertanyaanku, memeluk dan kemudian mencium seluruh wajahku.
"Aman, memangnya kamu tidak rindu saya?" ujarnya balik bertanya.
Aku tersenyum, kemudian memeluk kecil, mengikuti arah kakinya berjalan. "Saya selalu rindu dengan seduhan kopimu," goda wijaya.
Aku tersenyum puas. "Mau aku sajikan?"bisikku balas menggoda.
Wijaya tertawa kemudian mengangguk.
Selama berjalan ke dapur aku terus menggerutu hobi sekali merepotkan, aku jadi mengantuk begini. Memang siapa yang rindu? Aku lebih tenang hidup sendiri.
Sabar Ara, setelah hartanya habis kita tinggalkan.
"Kopi aja mas?" Aku menawari yang lain.
Wijaya hanya mengangguk setuju.
"Kamu itu gak mau nikah sama saya? Saya ingin punya keturunan," tuturnya lembut.
Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal, diam saja. Menikah? Tidak dulu!
"Kita tunggu mbak Tamara ya mas, kan dia lagi program," ucapku menolak dengan halus, bagaimanapun aku harus bijak pada diri sendiri.
"Program dari dulu tidak hamil-hamil. Mungkin saja mandul!" Gerutu wijaya, malas.
"Sabar mas," ujarku.
Wijaya mendekat, menatap wajahku lebih dekat, membelai dengan gemas.
Kemudian dia urungkan lagi.
"Saya tidak mau menodai kamu, jika kamu mau menjadi madu itu akan mempermudah urusan kita," ujarnya tegas.
Aku menggeleng kuat. "Mas Wijaya, aku takut jika harus bersatu dengan mbak Tamara," sahutku, panik setiap Wijaya mengajakku menikah.
"Apa? Kamu tidak takut kita begini-begini saja?" Kamu main-main ya Ara?" Wijaya bertanya lebih memuncak dari nada tadi. Aku terlihat menghindar dari tadi.
Aku mendekat, membelai d**a Wijaya dengan halus. "Aku gak mau viral jadi pelakor mas," sahutku lemah, itu yang tidak ingin aku sebutkan pada khalayak ramai.
Wijaya membanting kecil kepalanya pada sofa.
"Sabar ya mas, kita tunggu mbak Tamara, jika benar selama setahun ini tidak hamil, kita bisa bicarkan," tambahku, sudah kehabisan akal. Aku tidak tau kenapa kata ini lolos dengan cepat dan mudah.
"Apa dibicarakan? Saya mau kamu menikah dan jadi madu saya!" Wijaya memberikan ultimatum, nadanya naik. Aku kembali membelai dadanya dengan tenang dan memeluk hangat.
Baru saja aku menunggu, hanphone Wijaya berbunyi sejak tadi membuat aku penasaran.
“Maaf ya Ara,” ujar Wijaya melembut, balas memelukku dengan hangat. “tidak ada wanita yang tidak khawatir menjadi simpanan mas, tapi mbak Tamara juga sedang terus berusaha,” tuturku menenangkan Wijaya.
Wijaya mengendurkan pelukan,seperti mulai mencerna dengan baik setiap perkatanku tadi, membelai telapak tanganku dengan pandangan lurus kedepan. Aku sudah mulai tenang. Sudah tidak terlalu terbebani menjadi madu.
“Mas mandi dulu ya,” ujarku menawari, supaya tubuhnya itu terasa segar, dan emosinya perlahan menurun, tidak juga beradu argument.
Wijaya mengangguk setuju dan berlenggang menarik diriku, membawa satu potong apel yang baru terkupas dan belum sempat termakan. “Mas,” tolakku risih. Wijaya diam saja, memainkan mata dengan tanda.
Aku mengikuti langkah Wijaya dengan takut-takut. Jalanya semakin lambat hingga kami berjarak sedikit lagi. Tidak diduga apel yang dibawa Wijaya dipotong dan dibagi dua denganku, “Tunggu Mas mandi, ini apelnya untukmu separu.”menarik sebuah kursi makan tempat aku duduk.
Aku bernafas lega, selama menjadi simpanan Wijaya, belum pernah Wijaya hal begitu, tapi transferan uang yang kencang membuat aku takut, pasti kapanpun dia akan berani saja menerkamku. Dia sudah investasi uang.
“Handuk Madu, Handuk saya,” pintanya
Aku sudah berkuda-kuda takut-takut terseret ke dalam kamar mandi, aku tidak mau terseret air kamar mandi sepagi ini.
Ku lihat nomor baru yang menghubungi, sudah tiga kali menelpon dengan berturut-turut aku kira itu penting.
"Halo? Selamat pagi? Mas Wijayanya sedang ada mandi." Jawabkku.
"Halo?" Sekali lagi aku menyapa masih belum ada suara apapun itu.
"Ya." suaranya terasa jauh dan parau.
"Oke, dokumen mas Wijaya ada yang tertinggal di indosenin, toko obat dan apotek "
Aku mengangguk saja. Tidak mencerna. Meletakan hanphone mas Wijaya ke atas meja, masih menunggu mas wijaya keluar kamar mandi.
"Mas," panggilku pada wijaya, yang masih mengibaskan rambut.
Aku menatap.
"Kenapa madu?" tanya Wijaya melembut padaku.
"Dokumen mas tertinggal di indosenin, Mas mampir indosenin?" tanyaku runtut.
Mas wijaya berhenti mengibaskan rambut, mencerna dengan baik kalimatku barusan.
"Indosenin depan gang?" Wijaya balik bertanya, seperti kebingungan. Tidak merasa berhenti disitu tadi pagi.
"Mana nomernya?" tanya Wijaya.
Mas Wijaya menepuk jidat cemas, sesuai dugaan. Pesan dari Tamara sudah membrondong banyak sekali.
Tamaraswife:
Sejak kapan kamu selingkuh? Tadi ada wanita yg menganggkat telpon dan blg kamu sdang mandi.
Wijaya seperti sudah tidak bisa mengirim pesan nomornya sudah diblokir oleh Tamara.
"Bagaimana mas?"tanyaku setelah melihat raut wajah mas Wijaya yang tidak baik-baik.
"Tamara," ujarnya.
Aku melemas mendengar ungkapan mas Wijaya, mukaku sudah merah malu. Menggingit jari kuku, aku kebingungan harus bagaimana.
"Madu, pesankan dessert box yang paling best seller. Ke alamat rumah, segera!" Perintah Wijaya padaku.
Aku membuka aplikasi, memesan sesuai perintah. Coklat digambar itu terasa mengiurkan, aku jadi ingin.
"Satu saja mas?" tanyaku memastikan.
"Ya satu saja hanya untuk istriku!"
Deg, jantungku sudah tidak bergerak, rasanya baru kali kurasa jatuh. Aku merasa menjadi tidak punya prioritas.
Aku menahan tangis akibat begini, kulihat Mas Wijaya sibuk menghubungi Tamara. Hatiku cemburu mendengar mas Wijaya mengatakan begitu.
"Biar saja ketahuan kalo kamu itu memang punya selingkuhan mas"