Wijaya pulang lebih cepat hari ini.
"Sayang?" Wijaya mengecek seluruh ruangan, memperhatikan tiap sudut mencari kehadiran Tamara, "Sudah selesai selingkuhmu? Aku tidak bisa kamu bodohi dengan satu dessertbox ini mas," ujar Tamara mengamuk. Membawa-bawa dessert box.
Wijaya menarik nafas pelan, jangan sampai gegabah.
"Selingkuh apa? Tadi pagi kan kamu lihat aku gak sempet mandi sayang, hanphoneku aku titipin ke sekretarisku," tutur Wijaya menjelaskan.
"Lagi pula, kenapa aku harus rela-rela berselingkuh. Istriku ini sudah cukup," tambah Wijaya lagi, mengeluarkan racun Gombalan. Meraih tangan Tamara agar padam emosinya. Tamara paling mudah lulus jika sudah Wijaya bernada lembut dan halus.
"Cukup tapi tidak sempurna, aku kan tidak punya anak sampe sekarang mas," rajuk Tamara.
"Pernikahan itu tentang kita yang bahagia, anak bonus karena kekuasaan tuhan," jawab Wijaya.
"Kamu kan sedang promil, sama-sama kita tunggu ya," ujar Wijaya sabar melembut. Meminta Tamara duduk bersebelahan.
"Aku kirim dessert box, karena aku tahu kemarin kamu sempat melihat di instgram," ujarnya lagi nerocos.
"Dimakan ya, mas mau mandi gerah!" Wijaya membuka jas. Tamara mengangguk luluh. Bagaimanapun Wijaya sampai saat ini selalu memberikan yang terbaik pada Tamara.
"Makasih perhatianya mas." Kecup Tamara sayang, membantu membawa tas Wijaya.
"Aku siapin air hangatnya ya ," tawar Tamara lagi.
Wijaya menolak. "Tidak, aku hendak bersantai di kolam renang terlebih dahulu. Siapkan es kopi saja," pinta Wijaya.
Tamara mengacungkan jempol setuju. Kemudian segera bergegas pergi.
Wijaya : Halo madu? Saya sedang rindu ini.
Aku berdecak malas, setelah wijaya pergi aku baru saja berjanjian dengan Akasara, pacarku.
Ara: Mbak Tamara gimana mas? (Aku bertanya dengan khawatir, takut hubungan kami ketahuan,)
Wijaya: Aman sayang, besok aku akan mengunjungimu, sudah dulu ya.
Ara: aku tunggu sayang! Lobeyou.
Aksara melihat dengan tatapan tajam padaku, aku balik menatap.
"Kenapa? Ini ibunda," jawabku sudah bisa menebak tatapan dari mata Aksara.
"Yakin?" Cecar aksara belum percaya. Kini matanya menelisik layar hanphone milikkku.
"Nih," serahku pada Aksara, nama Wijaya sengaja aku beri nama bunda dengan emoticon lope berwarna biru.
"Yudah," jawab Aksara kecewa.
"Makasih ay," jawabku tersenyum puas.
"Aku mau makan nasi goreng cumi," saranku. Sudah tiga hari yang lalu aku ingin makan nasi goreng cumi belum terturuti. Sudah aku bicaran pada Wijaya tapi belum dituruti.
"Meluncur," jawab Aksara cuek. Lagi-lagi setiap yang aku inginkan berakhir dengan Aksara yang menuruti.
"Aksara," panggilku pada Aksara ketika kami sama-sama sudah selesai makan.
Aksara memanggutkan dagu, memberikan kode seperti bertanya balik apa?
"Kamu kapan mau nikahi aku?" tanyaku blak-blakan pada Aksara.
Aksara masih mengunyah ayam dengan tenang, menyuap suapan terakhir.
"Aku serius Aksara!" Aku sedikit jengkel, dikira sedang bermain-main? Sedari tadi pertanyaan milikku tidak kunjung mendapatkan jawaban.
Ini hubungan kami yang ke setahun. Aksara tidak pernah berbicara serius tentang hubungan ini mau dibawa kemana.
"Besok," jawab Aksara, sembari mencuci tangan dengan air jeruk.
"Ah! Mantafp," tambah Aksara, memberikan kesan lezat dan kenyang dalam satu rasa.
"Hm," jawabku malas, Aksara kadang bersifat buruk seperti orang yang tidak tahu sopan santun saja. Hidupnya terlalu santai.
"Besok Ara, takut banget ga gua nikahin?" Ledek Aksara lagi. Aku diam saja. Bukan takut tidak dinikahi, aku lebih takut hanya sebagai pelampian dan pejajakan masa remaja.
"Besak besok teros!" sahutku kesal, tidak suka pada jawaban Aksara yang tidak konkrit.
"Kurang apa sih? Gak ada modal?" Aku bertanya makin ngelunjak. Aku ingin jawaban Aksara yang jelas, hingga kapan tengang waktu menanti Aksara.
"Batin!" Jawab Aksara, menunjuk pada d**a, seperti ada beban berat dalam batinnya
"Batin? Batin gimana si Aksara?" tanya memberondong? Memangnya aku ini banyak mau, atau aku terlalu galak dan menekan hingga menyiksa batin.
"Bukan, maksud aku, kamu tahu kan mamaku belum setuju, kamu si coba pake pakaian tertutup Ra," balas Aksara jadi menuntut.
Aku memberengut tidak suka, jawaban itu lagi, dari awal seharusnya Aksara tahu aku tidak pernah menggunakan baju yang sholehah, aku hanya sekedar wanita solehot.
"Oh begitu? Yudah kenapa gak kita bubar. Kamu cari sana yang ukthi bercadar!" bentakku terpancing emosi, bukan jawaban itu yang ingi aku dengarkan. Jauh di lubuk hati, setiap wanita pasti ingin menjadi muslimah yang baik, adaptasiny yang lama.
"Gila ya? Ada orang suruh baik tapi ngajak putus," tuding Aksara berbisik tegas. Kemudian menarik tanganku lebih kencang. Aku diseret keluar tempat makan. Membuat aku menyeret sendalku berat, kakiku hampir tergores kaki meja.
Aku menghempas tangan Aksara kencang. "Lu lebih Gila Ak!" bentakku kencang. Darahku memuncak dan sakit.
"Dari dulu, mamamu itu tidak pernah setuju dengan pakaianku yang begini, kita udah ketemu? Blum kan? Lu emang gak serius Sa," tuturkan panjang lebar.
Aku menarik nafas menahan sesak di d**a. Hubungan ini sudah terlanjur jauh.
Aksara sama menarik nafasnya, menimang hendak menjawab dengan apalagi sekarang.
"Duduk deh, kapan si gua main-main Ra?" tanya Aksara, menatap mata Ara tajam, mempertajam setiap perkataan dan penglihatan, menyampaikan banyak rasa pada Ara bahwa Aksara manusia tulus.
"Pernah gua tolak keinginan aneh lu? Pernah gua ingkar perjanjian kita?" Brondong Aksara dengan banyak pertanyaan panjang. Aku meneliti dengan benar, selama ini Aksara selalu memberikan terbaik, dia tidak pernah memegang hanphoneku, tidak juga menelpon jika aku yang butuh dan juga tidak mengajakku keluar atau bermain jika bukan aku yang mengajak.
"Berbanding terbalik? Sekarang gua yang harusnya tanya. Lu yang main-main sama gua ya Ra?" Tandas Aksara bertanya padaku. Aku mulai ketar-ketir. Aku takut. Bayangan Wijaya sugar daddyku melayang seperti mengolok-olok atas tingkah bejatku.
"Apa? Jawab Ra?" Bentak Aksara. Sekarang aku terpojok dengan kalimat-kalimat aksara yang terasa langsung menusuk jantung.
Aku sudah banjir air mata, dosaku begitu bertumpuk. Pelupuk mataku sudah basah dan bibirku sudah bergetar bersalah.
"Maaf Sa," pintaku melirih, aku sudah tidak punya pertahanan dalam diri, aku begitu murah menggadaikan cinta baik Aksara. Aku melakukan hal yang tidak aku sukai tapi terus aku lakukan.
"Aku tidak butuh sekedar maaf yang tidak ada kejahatan."
"Aku mau ini ra," tunjuk Aksara pada d**a.
"Kejujuran," tambah Aksara lirih.
Nafasku makin sesak, kejujuran adalah aku sekarang, aku betapa senang menimbun kebohongan.
Sekarang kebohongan itu tersimpan, pasti akan terbongkar. Dadaku terasa ngilu mengingat sugar daddy yang terus mengatakan cinta tapi perlakuanya tetap kembali ke Tamara.
Aku memeluk diri dengan kecewa.
"sudah, putus saja, sesuai permintaanmu," tambah Aksara lagi.
Tubuhku berhenti bergerak dan jantungku berhenti berfungsi.
"Tugasku dan tugasmu selesai Ra, sesuai ilusi kita berhenti pada nyata yang tak sesuai harap."