Mas Wijaya
Halo madu, aku begitu rindu, aku mau pulang ke rumahmu sekarang.
Aku dan Aksara baru duduk di bangku, kami sama-sama melerai untuk tidak membawa apapun ke ⁴dalam emosi terbaik kisah dan cinta kami.
Aksara menyeruput kopi, menemani aku yang diam saja sejak tadi. "Masih belum tenang?" Aksara memulai percakapan, dia kelihatan lebih tenang dan enjoy sekarang.
Aku mengangguk ragu. Membuka pesan dari Wijaya membuat aku berpikir keras. Harus melanjutkan hubungan yang mana? Keduanya sama-sama tidak punya kepastian yang jelas.
"Mau pulang saja?" tawar Aksara.
Aku menarik nafas. Kemudian menyandarkan kepala ke bangku, menghadap langit-langit merapal banyak kata, mengatakan bahwa langit, aku tidak punya kehidupan yang baik.
"Tidak!" Jawabku singkat. Aksara menyingkirkan rokoknya, memindahkan gelas kopi ke sebelah kanan tempat duduk, dan ikutan menyandarkan tubuhnya pada bangku kayu.
Aku menoleh sebentar, kemudian kembali fokus ke depan. Wijaya sedang ke rumah sekarang.
Menyerahkan diri dengan cuma-cuma jika aku pulang sekarang, aku belum mau.
"Kamu pergi dulu saja," ucapku.
Aksara terkekeh gemas. Kemudian terdiam.
"Kenapa? Kamu masih marah?" ledek Aksara.
Aku tidak minat, otakku sudah penuh. Aku tidak minat dengan begituan.
"Mau aku belikan es krim coklat dengan lelehan keju diatasnya yang luber-luber?" Tawar Aksara.
Sekali lagi tidak! Aku tidak minat itu, sebanyak apapun Aksara menawari, aku tidak minat.
"Pulang deh," ujarku.
"Ya ayok," ajak Aksara langsung membalasku.
Bukan itu jawabannya, aku menatap Aksara tajam, aku jadi tidak mood. Menatap Aksara sekali lagi dengan malas.
"Kenapa lagi Ara?" tanya Aksara sabar.
"Yudah gua pulang,"ujarku, tidak akan jadi jika dari keduanya tidak ada yang segera mengalah.
"Siap antar hingga tujuan bunda," sahut Aksara mengejek, mengangkat tangan hormat.
Aku memutar bola mata malas, semua yang Aksara lakukan terasa begitu hambar.
"Sudah pesan taxi online," jawabku santai. Berjalan menjauh menuju pinggir jalan.
"Lu emang gak ada otak apa gimana si Ra?" bentar Aksara meninggi, menarik tanganku keras. Menatap dengan penuh amarah, aku tau dia menarik nafas menahan amarah.
"Apa?" tanyaku melemah.
"Lu gak harus pulang sama yang solehot begini," jawabku menohok. Entah kenapa ucapan Aksara tentang pakaianku membuat aku jengkel.
Aksara menahan nafas. "Gak gitu caranya Ra," tahan Aksara.
Aku melepas tangan dengan hempas. Tidak! Aku harus segera pergi.
"Ini cara gua Aksa!" Tekanku tidak mau diganggu gugat. Sekali lagi aku begitu merindu pipi Aksara. Membelai halus, dan sekejab kemudian menurunkan dengan segera.
"Tapi kita ga putus ya Ra?"
Aku mengangguk, entah sekuat apapun kita saling bertengkar hebat pada akhirnya pasti akan kembali bersatu.
Aku memeluk Aksara sekali lagi.
"Gak usah selingkuh Ra, lu tetep solehot yang gua perjuangkan." Aksara berbisik, mengatakan dengan tulus. Kurasakan degup jantung Aksara yang berada di dekat jantungku. Aku merasa Aksara sedang tidak main-main.
Hatiku terasa teriris, aku sudah lebih dulu selingkuh sejak dua bulan lalu.
"Maaf ya Aksa," batinku. Lagi-lagi air mataku lolos begitu, aku begitu pilu.
aku mengendurkan pelukan, mencium kening Aksara. Melambai tangan dan pergi.
Wijaya sudah berkali-kali menelponku hingga marah-marah.
Wijaya:
Tidak usah main-main Ara, saya tidak akan segan membunuh laki yang kamu ajak berselingkuh.
Wijaya berubah menjadi posesif. Aku jadi bimbang pada hati jika sudah begini bagaimanapun berselingkuh dengan Wijaya menjadikan candu, tapi Aksara manusia tulus yang tidak bisa disia-sia begitu saja.
Sungguh hatiku bimbang. Aku akui aku jahat! Menawan dua hati sekaligus.
Ara: Ya mas, aku pulang (jawabku menyeka air mata, rasa bersalah pada keduanya muncul sekarang)
Ara: Ada rapat mendadak tadi mas (ketikku pada roomchat mas Wijaya, lagi-lagi aku urungkan aku hapus saja. Rasanya tidak perlu detail begitu)
Aku sampai depan rumah, mobil mas Wijaya sudah masuk garasi. Lampu kamar juga sudah dihidupkan, aku berjalan dengan langkah yang gemetar.
"Mas," panggilku. Mencoba memanggil Wijaya, menenangkan diri supaya tidak kentara sekali.
Aku masuk dengan perlahan, menarik nafas dan tersenyum manis, "Aman-aman!"
"Selingkuh dengan siapa? Aksara Wahastra, baru saja dinobatkan jadi Mahasiswa terbaik," ucap Wijaya panjang yang baru saja muncul dari dapur. Aku mulai berdebar kencang.
Mencoba tersenyum walaupun getir.
"Mas, kamu salah paham," jawabku mencoba mengelak.
"Oh, salah paham!" Senyum Wijaya mengejek.
"Saya itu sudah hidup lebih dulu sepuluh tahun darimu Ra, tidak mungkin perkara dan gerak-gerik selingkuh saja saya salah paham," tambah Wijaya.
Aku sudah bergetar, menggingit bibir, sudah terasa gerah. Sejak kapan aku terlihat dan ketahuan selingkuh? Aku mulai memulai pelan, aku tidak boleh mudah terpancing emosi.
Aku menyerahakan satu kotak es kopi kesukaan mas Wijaya, otaknya sedang mendidih, aku mulai memijat punggung mas Wijaya, walaupun situasinya tidak sehat, aku harus tetap berjaga.
"Jelaskan! Tidak usah merayu begitu," perintah mas Wijaya. Aku menghembus nafas lelah, ikutan duduk bersama mas Wijaya.
"Dia teman saat SMP mas, kebetulan meminta aku untuk reuni dan makan," jawabku, mencoba senatural mungkin, tersenyum lembut, menandakan bahwa aku tidak berbohong.
Wijaya menatap makin mendekat, menyala manik matanya.
"Sudah 2 kali reuni dalam sebulan ini? Reuni pertama di cafe siang dan hari ini kamu makan nasi goreng seafood," ujar Wijaya detail.
Aku mengingit bibir khawatir, Wijaya intel perusahaan, aku melupakan hal tersebut, dataku bagaimanapun pasti akan mudah terbaca olehnya.
Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Yasudah," jawabku polos.
"Selingkuhan kamu?" Wijaya bertanya, menaikan satu oktaf nada bicara, hingga terasa sudah tidak santai.
"Aku yang selingkuhan kamu mas," godaku gemas, aku tidak mau gegabah membuka perihal Aksara.
"Aku yang bodoh ya mau jadi selingkuhan kamu mas, Kamu mau tidak berselingkuh denganku mas?" Aku kembali meledek mas Wijaya yang mulai merasa gerah denganku. Dia terlihat sudah mulai tidak baik-baik saja, terlihat dari cara duduknya yang berdeham.
Aku membelai tangan mas Wijaya dekat, merasakan getaran nadi mas Wijaya, menatap dengan hangat, kembali menumbuhkan rasa percaya.
"Mas Wijaya mau? Mbak Tamara tau kita selingkuh?" ujarku lagi.
"Kamu mau menikah dan jadi madu saya?" Tantang mas Wijaya balik, membuat ketar-ketir.
Aku melambai tangan mengejek. "Aku jadi Madu? Haha tidak ah," tiruku dengan nada salah satu iklan shampo.
"Mas Wijaya, pelakor sepertiku ini anti untuk menjadi madu," ujarku lagi, memainkan mata berkedip-kedip gemas.
"Ara? Tidak usah menggodaku begitu," tahan mas Wijaya gemas, wajahnya sudah melentur, kerut marahnya sudah habis tidak bersisa.
Mas Wijaya memang pintar jurusan intel, tapi tidak dengan merayu terbukti sekarang aku yang menang.
Aku makin tersenyum menggoda. "Mas Wijaya," panggilku dengan senyam-senyum.
"Ra," jawab mas Wijaya panjang.
"Aku takut dilabrak mba Tamara, tadi aku tidak sengaja salah mengirim pesan"