Tiga bulan pertama setelah hari yang dicuri itu, Kirana belajar bahwa kehancuran punya administrasi: tagihan rumah sakit, kontrak Sastro Logistik yang diputus sepihak oleh distributor pro-Mahendra, dan nama keluarganya yang berbisik-bisik di setiap acara keluarga.
Ayahnya keluar dari rumah sakit dengan jantung yang harus dijaga dan semangat yang remuk. Perusahaan kecilnya tinggal separuh truk. Kirana menutup lubang keuangan dengan menjual satu-satunya barang berharga yang tersisa: cincin pertunangan itu — yang ternyata masih tersimpan di laci, sisa amarah yang lupa ia buang.
'Laku dua ratus juta,' kata pemilik toko perhiasan. 'Berkasnya lengkap?'
'Lengkap.' Kirana tidak menoleh saat cincin itu ditimbang. Tiga tahun seharga dua ratus juta. Baiklah. Setidaknya sekarang ia tahu kurs-nya.
Lalu ia melakukan hal yang seharusnya tidak pernah ia tinggalkan: bekerja. Sebelum bertunangan, Kirana adalah manajer pengadaan dengan rekam jejak bersih — dialah yang menekan biaya rantai pasok perusahaan lamanya sampai delapan belas persen. Pertunangannya dengan Arga dulu membuatnya diminta 'fokus jadi calon istri'. Sekarang, permintaan itu ikut batal bersama pernikahannya.
Masalahnya, pintu-pintu mulai tertutup begitu namanya disebut.
'CV Ibu bagus sekali, tapi...' Manajer HR ketiga itu menatapnya dengan iba yang basi. 'Ibu kan... dulu hampir menikah dengan Pak Arga Mahendra. Perusahaan kami banyak berhubungan dengan Grup Mahendra. Risikonya terlalu... Ibu mengertilah.'
Kirana mengerti. Wirya dan Mahendra tidak perlu memblokirnya secara resmi; cukup dengan bisikan, dan seluruh ekosistem akan menutup diri seperti pintu lift.
Tinggal satu nama di daftarnya. Satu perusahaan yang tidak masuk ekosistem itu karena terlalu besar untuk takut: Samudra Group.
Ia tidak lolos ke meja HR. Ia justru dipanggil langsung ke lantai paling atas.
Galang Nusantara, CEO Samudra Group, menerimanya di ruang kerja yang menghadap pelabuhan. Lelaki itu seumuran Arga, tetapi dengan cara memandang yang berbeda — Arga menatap orang seperti menilai laporan keuangan; Galang menatap seperti sedang membaca.
'Kirana Sastrosudarmo.' Galang menyebut namanya sambil membuka map kosong — tidak ada CV di mejanya. 'Saya sudah tahu siapa kamu. Berita tahun lalu sulit dilewatkan.'
'Kalau Bapak memanggil saya untuk membahas itu, saya bisa hemat waktu kita berdua.'
'Aku memanggilmu justru karena itu.' Galang menyandarkan punggung. 'Delapan tahun aku perang dagang dengan Mahendra. Delapan tahun mereka selalu setengah langkah di depan. Lalu empat bulan lalu, rantai pasok mereka mulai goyah di sektor ritel timur — dan orang yang membongkar celah itu, kata analisku, adalah perempuan yang dua tahun lalu menulis makalah efisiensi distribusi terbaik yang pernah kubaca. Makalah itu kamu yang tulis.'
Kirana tidak menyangkal. 'Makalah itu yang membuat saya ditarik jadi konsultan lepas dulu. Sebelum... semuanya.'
'Aku tidak merekrutmu karena kasihan, Kirana.' Galang berdiri, berjalan ke jendela. 'Aku merekrutmu karena kamu tahu bagaimana Mahendra berpikir, kamu terbukti bisa mengeksekusi, dan kamu punya sesuatu yang tidak bisa kuberikan ke karyawan mana pun.'
'Apa itu?'
'Alasan untuk menang.' Ia menoleh. 'Posisi: kepala strategi pengadaan, langsung di bawahku. Targetmu sederhana dan tidak simpatik: ambil pasar ritel timur dari Mahendra dalam setahun. Gajimu cukup untuk merawat ayahmu dengan baik. Sisanya — balas dendammu — itu bonus yang kamu bayar sendiri dengan keringat. Sepakat?'
Kirana menatap tangan yang diulurkan itu. Satu tahun lalu ia menangis di lorong rumah sakit karena seluruh pintu tertutup. Sekarang satu pintu terbuka — dan pintu ini menghadap langsung ke medan perang.
'Sepakat,' katanya, menjabat tangan itu. 'Tapi saya mau satu klausul, Pak. Kalau suatu hari langkah saya menyentuh keluarga Wirya dan Mahendra secara langsung — selama itu legal — Bapak tidak menarik rem.'
Galang tersenyum kecil. 'Selama itu legal, aku malah akan menyuruhmu menambah gas.'
Malam itu, Kirana pulang ke rumah kontrakan kecil yang kini ia tinggali bersama ayahnya — rumah besar lama sudah dijual untuk menutup utang. Pak Sastro sedang menyiram tanaman, gerakannya masih pelan pascaoperasi.
'Ayah,' kata Kirana, meletakkan kontrak kerja di meja teras. 'Mulai Senin, anakmu ini karyawan Samudra Group.'
Pak Sastro membaca kop surat itu lama. 'Samudra... itu saingannya mereka, Nak.'
'Iya, Yah.'
Lelaki tua itu mengangkat wajah. Ada air yang menggenang di matanya, tetapi kali ini bukan kesedihan. 'Ibu kamu dulu selalu bilang, jangan pernah sakiti perempuan yang diam. Perempuan yang diam itu sedang mengukur jarak.' Ia menggenggam tangan Kirana. 'Ayah tidak akan melarang lagi. Tapi janji satu: jangan sampai kamu berubah jadi seperti mereka.'
'Aku janji, Yah.'
Janji yang tulus — dan ia berdoa bisa menepatinya. Karena mulai Senin, Kirana Sastrosudarmo tidak lagi menjadi korban yang dipermalukan.
Mulai Senin, ia menjadi badai yang tidak mereka lihat datang.