Enam bulan menjadi kepala strategi pengadaan Samudra Group, Kirana tidak pernah sekalipun menyebut nama Mahendra di ruang rapat. Ia tidak perlu. Angka-angka yang menyebutkannya untuk dia.
Klien pertama yang ia rebut: jaringan minimarket SerbaTiga, seratus dua puluh gerai di Jawa Timur, pelanggan distribusi Mahendra selama satu dekade. Kirana menang bukan dengan harga murah — ia tahu Mahendra bisa membalas harga berapa pun — melainkan dengan sesuatu yang tidak bisa ditiru mereka: skema pengisian stok dua hari sekali untuk gerai kecil, memangkas barang mati di gudang klien. Ia tahu persis kelemahan model Mahendra, karena dulu ia pernah mendengar Arga memuji model itu di meja makan sebagai 'mesin uang yang tidak bisa diganggu'.
Mesin itu sekarang bocor. Tiga kontrak regional menyusul dalam empat bulan.
'Kamu seperti punya peta markas mereka,' kata Galang di akhir kuartal, menatap grafik yang menanjak. 'Mahendra kehilangan tujuh persen pangsa pasar ritel timur. Dewan mereka pasti sedang ribut.'
Dewan Mahendra memang ribut — dan di rumah besar keluarga itu, keributan lain sedang berlangsung.
Arga Mahendra pulang pukul sepuluh malam ke rumah yang gelap. Bukan gelap karena tidur — gelap karena kosong. Di meja makan, tagihan kartu kredit Salsa bulan itu tergeletak terbuka: tiga ratus juta untuk tas, jam, dan satu paket liburan 'dengan teman-teman' ke Eropa yang tidak pernah dibicarakan dengannya.
Di kamar, Salsa sedang video call dengan suara yang langsung mengecil begitu pintu terbuka. 'Udah dulu ya, nanti kuhubungi lagi.'
'Siapa?' tanya Arga.
'Teman.' Salsa tidak menoleh dari cermin. 'Kamu pulang jam segini terus, aku cari teman bicara, wajar kan?'
'Tiga ratus juta sebulan untuk teman bicara?'
Salsa berbalik, dan wajahnya yang manis berubah tajam dalam sekejap. 'Jangan mulai, Arga. Aku istri sah yang kamu butuhkan untuk merger itu. Bukan Kirana. Jadi jangan perlakukan aku seperti beban.'
Nama itu jatuh di kamar seperti gelas pecah. Enam bulan menikah, dan ini pertama kalinya salah satu dari mereka mengucapkannya.
'Jangan bawa-bawa nama itu,' kata Arga pelan.
'Kenapa? Masih kepikiran?' Salsa tertawa kecil. 'Kubilang juga apa. Kamu menikahiku sambil menatap pintu, berharap dia datang menggagalkan semuanya seperti di sinetron. Dia tidak datang, Arga. Dia perempuan pintar. Dia tahu kapan kalah.'
Arga tidak menjawab. Ia melepas jas, masuk ke kamar kerja, dan mengunci pintu. Di mejanya, laporan analisis pasar terbaru terbuka pada satu halaman: *Samudra Group — penetrasi ritel timur. Penanggung jawab strategi: K. Sastrosudarmo.*
Ia menatap inisial itu lama sekali.
Kirana. Kamu yang melakukan ini?
Anehnya, di antara rasa cemas seorang CEO, ada sesuatu yang lain yang menyelinap — sesuatu yang sangat tidak ia akui: kebanggaan. Perempuan yang dulu ia lepaskan dengan kalimat 'keputusan terbaik untuk semua pihak' ternyata tidak hancur. Perempuan itu sedang mengalahkannya, secara sah, di medan yang paling ia banggakan.
Malam berikutnya, makan malam keluarga besar di rumah Bu Ratna berjalan tegang. Sang ibu menuntut kabar cucu yang tidak kunjung ada. Salsa menjawab dengan alasan sibuk. Arga menjawab dengan diam. Di seberang meja, Om Wiryawan membahas laporan keuangan gabungan dengan suara yang makin tinggi: 'Tujuh persen, Arga! Apa susahnya menahan satu minimarket?'
'SerbaTiga bukan satu minimarket, Om. Seratus dua puluh gerai.' Arga meletakkan sendoknya. 'Dan kita tidak kalah karena harga. Kita kalah karena model kita sudah tua.'
'Kalau begitu ganti modelnya! Kamu CEO atau bukan?'
Malam itu, di mobil, Salsa tertidur mabuk anggur mahal sementara Arga menyetir sendiri pulang. Di lampu merah Sudirman, ia melirik ponselnya — berita bisnis: *Samudra Group raih kontrak distribusi eksklusif jaringan apotek FarmaPlus.* Nama Kirana disebut di paragraf keempat sebagai arsitek kesepakatan itu.
Arga menatap lampu merah yang menyala lama, dan untuk pertama kalinya sejak malam pembatalan itu, ia mengakui satu hal pada dirinya sendiri.
Ia telah menukar berlian dengan batu akik — dan batu akik itu bahkan tidak tinggal di rumah.