Bukti itu datang tanpa diminta, di sebuah hotel bintang lima, di siang yang seharusnya biasa saja.
Kirana sedang menghadiri konferensi rantai pasok nasional di Hotel Arunika — Samudra Group menjadi pembicara utama, dan ia yang mewakili. Sesi istirahat siang, ia berjalan ke arah kafe melewati koridor lift tamu ketika dua sosok di depannya membuat langkahnya berhenti otomatis.
Salsa Wirya Mahendra. Dan seorang lelaki muda berkemeja putih yang jelas bukan Arga.
Mereka tidak melihatnya — terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Lelaki itu melingkarkan tangannya di pinggang Salsa, dan Salsa tertawa dengan cara yang tidak pernah Kirana lihat di acara keluarga mana pun: lepas, muda, jatuh cinta. Lift terbuka. Mereka masuk. Dan tepat sebelum pintu tertutup, lelaki itu menunduk dan mencium Salsa — bukan ciuman sepupu, bukan ciuman teman.
Pintu lift menutup. Angka di atasnya berjalan ke lantai dua puluh satu — lantai kamar.
Kirana berdiri di koridor itu selama tiga detik penuh. Otaknya — otak strategi pengadaan yang dibayar untuk berpikir dingin — bergerak lebih cepat dari jantungnya.
Ia tidak mengikuti lift itu. Ia berjalan ke lobi, duduk di sofa yang menghadap pintu keluar valet, memesan kopi, dan menunggu seperti orang yang memang sedang menunggu teman. Empat puluh menit kemudian, Salsa dan lelaki itu turun. Di depan pintu valet, di bawah kanopi, lelaki itu menggenggam tangan Salsa, dan mereka berciuman sekali lagi — kali ini di ruang terbuka, di siang bolong, seolah Jakarta tidak punya mata.
Kirana mengangkat ponselnya setinggi meja, seolah sedang membaca berita. Kameranya merekam dalam mode video: empat puluh tujuh detik, wajah keduanya jelas, stempel waktu terekam.
Lelaki itu pergi dengan mobilnya sendiri. Salsa masuk ke sedan dengan plat yang Kirana kenal — mobil dari garasi rumah yang seharusnya menjadi rumahnya.
Malam itu, di rumah kontrakannya, Kirana memindahkan video itu ke hard drive eksternal, membuat dua salinan, dan menaruh semuanya dalam folder baru di samping folder *Saksi*. Folder baru itu ia beri nama: *Peluru*.
Lalu ia duduk diam lama, dan menunggu apa yang akan ia rasakan.
Ia menyangka akan merasa senang. Kemenangan. Kepuasan pemburu yang menemukan jejak. Yang ia rasakan justru sesuatu yang lebih rumit: jijik, kasihan yang samar untuk Arga — dan kesadaran dingin bahwa pernikahan yang dicuri darinya ternyata bukan hadiah. Itu hukuman yang sedang berjalan dengan sendirinya.
'Ayah,' katanya saat makan malam, pelan-pelan. 'Kalau orang yang pernah nyakitin kita ternyata sekarang lagi disakiti orang lain, kita harus senang atau kasihan?'
Pak Sastro menatap anaknya di atas mangkuk sup. 'Kita tidak harus merasakan apa-apa, Nak. Kita cuma harus ingat: urusan mereka bukan urusan kita lagi. Kamu nemu sesuatu?'
'Mungkin.'
'Simpan baik-baik.' Ayahnya menyeruput tehnya. 'Dan jangan dipakai sebelum waktunya. Racun yang diminum kecepatan cuma bikin mual. Diminum pas waktunya baru mematikan.'
Kirana menatap ayahnya — lelaki pengemudi truk yang bicara seperti jenderal tua — dan tertawa untuk pertama kalinya sejak konferensi itu. 'Ayah dari mana belajar begitu?'
'Dari hidup, Nak. Hidup itu mahal sekolahnya.'
Di belahan kota lain, di kantor Grup Mahendra yang masih terang jam sembilan malam, Arga menandatangani laporan kuartalan dengan tangan berat. Angkanya tidak bohong: pangsa ritel timur turun sembilan persen. Dewan meminta penjelasan tertulis. Dan di lampiran analisis kompetitor, nama itu muncul lagi, sekarang tanpa inisial: *Kirana Sastrosudarmo, Kepala Strategi Pengadaan, Samudra Group.*
Ia membuka laci mejanya. Di dalam, tersimpan satu-satunya foto yang tidak pernah ia hapus: Kirana tertawa di depan ballroom itu, dua bulan sebelum pernikahan yang tidak pernah terjadi.
'Jadi ini caramu membalas, Kirana?' bisiknya pada foto itu.
Dan di kantornya sendiri, di gedung yang menghadap pelabuhan, Kirana baru saja mematikan komputernya setelah menyelesaikan draf proposal akuisisi — proposal yang belum ia serahkan ke Galang, proposal yang ia simpan untuk momen yang tepat.
Di layar yang menggelap, bayangan wajahnya sendiri menatap balik.
'Belum,' katanya pelan. 'Ini baru retak pertama.'