Proposal itu sudah dua bulan tersimpan di komputer Kirana, menunggu seperti pisau yang diasah perlahan. Senin pagi itu, ia meletakkannya di meja Galang Nusantara.
'Akuisisi PT Sinar Distribusi Utama.'
Galang membaca halaman pertama, lalu kedua, lalu menatap Kirana dengan alis terangkat. 'SDU itu tulang punggung distribusi Mahendra di timur. Enam puluh persen barang mereka lewat gudang dan armada SDU.'
'Dan kontrak mereka dengan Mahendra bukan kontrak eksklusif jangka panjang,' jawab Kirana. 'Mahendra tidak pernah mau repot-repot mengikat SDU — mereka anggap pemasok akan selalu antre. Klausul pengakhirannya sembilan puluh hari, dua arah, tanpa penalti. Saya tahu karena model kontrak itu yang dulu dibanggakan Arga sebagai efisiensi.'
'SDU mau dijual?'
'Pak Hartono, pemiliknya, sudah dua kali mengeluh kepada saya — bukan sebagai lawan bisnis, tapi sebagai sesama pelaku usaha. Mahendra telat bayar tiga bulan, terus menekan harga tiap kontrak ulang. Dia lelah. Dia cuma butuh alasan yang sopan untuk pindah induk.' Kirana menunjuk angka di halaman tiga. 'Harga akuisisi masuk akal. Dan begitu SDU jadi milik Samudra, kita beri Mahendra pemberitahuan pengakhiran sesuai kontrak. Sah. Bersih. Tidak ada yang bisa digugat.'
Galang mempelajarinya lama. 'Sembilan puluh hari untuk Mahendra mencari pengganti rantai pasok separuh wilayah timur. Tidak mungkin. Mereka akan berdarah setahun.'
'Mereka akan berdarah persis seperti yang mereka lakukan ke perusahaan-perusahaan kecil selama ini,' kata Kirana datar. 'Termasuk ke perusahaan ayah saya.'
Galang menatapnya, lalu menandatangani halaman persetujuan. 'Jalankan. Dan Kirana — setelah ini, tidak ada jalan mundur. Keluarga itu akan tahu siapa yang membidik.'
'Mereka sudah tahu sejak babak pertama, Pak. Sekarang saya cuma mengumumkan skornya.'
Akuisisi itu selesai dalam enam minggu — senyap, rapi, tanpa satu pun wartawan bisnis menciumnya. Dan pada hari Senin di minggu ketujuh, manajemen Grup Mahendra menerima surat resmi dari PT Sinar Distribusi Utama: pemberitahuan pengakhiran kerja sama, efektif sembilan puluh hari, sesuai klausul 14 ayat 2 kontrak mereka sendiri.
Efeknya seperti mencabut fondasi rumah.
Gudang-gudang timur Mahendra mulai kehabisan alur barang dalam dua minggu. Gerai-gerai yang telanjur direbut kembali dari Samudra kini kosong raknya. Harga saham perusahaan gabungan hasil merger — Mahendra-Wirya — turun empat hari berturut-turut.
Di rumah besar keluarga Wirya, kepanikan meledak jadi kemarahan.
'Pengakhiran sepihak?!' Wiryawan membanting surat itu di meja makan Bu Ratna. 'Merger kalian itu membawa sial! Sebelum menikah dengan anakmu, bisnis Mahendra baik-baik saja. Sekarang rantai pasok timur putus, dan siapa di balik Samudra? Siapa?! Kirana! Anak yang kalian buang seperti sampah!'
'Jaga mulutmu, Wirya.' Suara Bu Ratna dingin, tetapi tangannya yang memegang cangkir teh tidak sepenuhnya stabil. 'Kalau merger ini gagal, perusahaanmu yang paling dulu tenggelam. Sahammu diagunkan ke mana-mana untuk masuk ke merger ini, jangan lupa.'
Wiryawan terdiam — karena itu benar. Wirya Group masuk ke merger dengan utang bertumpuk; pernikahan Salsa adalah tiketnya. Kalau merger runtuh, tiket itu berubah jadi batu di lehernya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Bu Ratna menelepon Kirana langsung.
'Nak,' katanya — dan panggilan itu terdengar sangat basi di telinga Kirana. 'Kita bicara baik-baik. Apa maumu? Uang? Jabatan? Ibu bisa atur.'
Kirana sedang menemani ayahnya minum obat saat telepon itu masuk. Ia menatap ayahnya yang sudah bisa tertawa lagi, di rumah kontrakan yang hangat, dan merasa sangat tenang.
'Dulu saya pernah diberi cek, Bu Ratna. Inget? Saya robek di depan kurir Ibu.' Ia berhenti sejenak. 'Jawaban saya masih sama. Simpan uangnya. Ibu akan lebih membutuhkannya daripada saya.'
Ia memutus sambungan, dan tidak mengangkat lagi ketika nomor itu menelepon tiga kali berturut-turut.
'Mahendra?' tanya Pak Sastro.
'Mahendra,' jawab Kirana, tersenyum kecil. 'Mereka mulai merasakan dinginnya, Yah.'
'Dan kamu masih merasa ini benar?'
Kirana menatap ayahnya. 'Aku tidak merusak apa pun yang tidak mereka rusak duluan, Yah. Aku cuma berhenti menjadi karpet mereka.'
Di luar, angin malam bergerak pelan. Di kota itu, sebuah kerajaan bisnis mulai retak fondasinya — dan retakan kali ini datang dari arah yang tidak bisa mereka beli.