Kirana mengirim 'peluru' itu bukan lewat media, bukan lewat pengacara, dan bukan dengan namanya tercetak di mana pun. Ia mengirimnya dengan cara yang paling sederhana dan paling kejam: sebuah amplop cokelat polos ke meja kerja Arga Mahendra, berisi empat cetakan foto dari video hotel itu, dan secarik kertas bertuliskan satu baris: *'Hotel Arunika, 14 Maret, lantai 21. Tanyakan pada istrimu di mana dia empat puluh menit itu.'*
Tidak ada yang bisa dilacak. Printer umum, amplop umum, kurir online acak. Satu-satunya tanda tangan adalah kebenaran itu sendiri — dan kebenaran tidak butuh tanda tangan.
Arga membuka amplop itu di tengah hari yang sudah buruk. Ia menatap foto-foto itu lama sekali: Salsa di bawah kanopi hotel, di pelukan lelaki berkemeja putih, tanggal dan jam tercetak di sudut — bertepatan dengan akhir pekan saat Salsa bilang ia 'retreat bersama teman-teman kantor' ke Bogor.
Anehnya, yang pertama ia rasakan bukan marah. Melainkan lega.
Lega karena kecurigaan yang berbulan-bulan menggerogotinya akhirnya punya wajah. Lega karena pernikahan yang sejak awal terasa seperti sel ini ternyata memang sel — bukan kegagalannya berusaha. Dan di bawah keduanya, jauh di dasar, ada rasa malu yang telanjang: beginilah rasanya. Beginilah rasanya diberi amplop berisi pengkhianatan. Kirana dulu menerimanya langsung di depan mata, di ruang keluarga, di depan orang-orang yang harusnya melindunginya.
Malam itu Arga pulang lebih awal dari biasanya. Salsa ada di rumah — sedang mencoba gaun baru di depan cermin kamar, tagihan belanjaan berserakan di ranjang.
'Kamu pulang cepat,' katanya tanpa menoleh.
'Hotel Arunika, empat belas Maret.' Arga meletakkan foto-foto itu di meja rias, satu per satu, seperti memasang kartu. 'Lantai dua puluh satu. Empat puluh menit.'
Tangan Salsa berhenti di resleting gaun. Di cermin, wajahnya berubah — bukan takut, melainkan menghitung. Perempuan itu bahkan dalam keadaan seperti ini masih menghitung dulu sebelum bicara.
'Siapa yang mengirim ini?' tanyanya akhirnya. 'Kirana?'
'Menarik sekali kamu tidak membantah dulu.'
'Oh, jangan pura-pura jadi suami yang tersakiti, Arga.' Salsa berbalik, dan topengnya lepas seluruhnya. 'Kamu menikahiku karena kontrak, aku menikahimu karena kontrak. Bedanya, aku tidak pura-pura jatuh cinta seperti kamu di bulan-bulan pertama. Kamu tahu apa yang melelahkan? Menjadi istri pengganti dari perempuan yang fotonya masih kamu simpan di laci kantormu.'
Arga membeku. 'Kamu membuka laci kantorku.'
'Kamu meninggalkan kuncinya di jas. Suami yang menitipkan hatinya di laci sebaiknya lebih rajin.' Salsa duduk di tepi ranjang. 'Baik. Kartu terbuka kalau begitu. Ya, ada Raka. Dari sebelum kita menikah, dan setelahnya. Ayahku tahu dan tidak peduli, selama merger jalan. Dan satu hal lagi yang sebaiknya kamu dengar dariku daripada dari orang lain—' ia menatap Arga lurus, '—aku hamil dua bulan. Dan kamu bisa menghitung sendiri kapan terakhir kali kita serumah sebagai suami istri.'
Kalimat itu menyelesaikan apa yang dimulai foto-foto itu.
Arga berdiri di tengah kamarnya sendiri dan merasa seperti tamu. Dua tahun — pembatalan, pernikahan kilat, rapat-rapat, senyum di depan kamera — dan inilah rumah tangganya: tagihan di ranjang, anak orang lain di kandungan istrinya, dan foto mantan tunangan di lacinya yang bahkan sudah dibongkar orang.
'Pengacaraku akan menghubungimu,' katanya akhirnya, suaranya sangat lelah. 'Aku tidak akan mempermalukanmu di depan publik. Tapi pernikahan ini selesai.'
'Kamu tidak bisa menceraikanku sekarang!' Salsa berdiri, nada bicaranya naik untuk pertama kali. 'Merger itu—'
'Merger itu sedang tenggelam, Salsa. Kamu mau tenggelam bersamanya, atau kamu mau pintu keluar yang sopan? Itu satu-satunya pilihan yang masih bisa kuberikan.'
Arga keluar dari kamar itu, dari rumah itu, dan mengemudi tanpa tujuan sampai tengah malam. Di sebuah bahu jalan yang sepi, ia mematikan mesin, menyandarkan dahi ke setir, dan untuk pertama kalinya sejak dewasa, Arga Mahendra menangis — bukan untuk Salsa, bukan untuk merger, melainkan untuk perempuan yang ia lepaskan dengan kalimat *keputusan terbaik untuk semua pihak*, yang sekarang sedang membuktikan kepadanya, babak demi babak, betapa mahalnya harga sebuah keputusan.
Di rumah kontrakannya, pada jam yang sama, Kirana membaca pesan dari nomor tak dikenal — ia tahu dari siapa, karena isinya hanya satu baris:
*'Amplopnya sampai. Terima kasih sudah membuka mataku. — A'*
Kirana menatap pesan itu, lalu menghapusnya. Pertunjukan belum selesai. Panggung terbesar masih menunggu: ruang rapat dewan, tempat merger itu akan diadili.