Merger Mahendra–Wirya tidak runtuh oleh satu pukulan. Ia runtuh seperti gedung yang fondasinya sudah dimakan rayap: semua pukulan datang bersamaan, dan tidak ada yang tahu mana yang terakhir.
Pukulan pertama datang dari dalam. Dua komisaris independen perusahaan gabungan menerima salinan dokumen yang sama: foto-foto hotel itu, rencana perceraian Arga yang bocor dari kantor pengacara, dan catatan bahwa 'persatuan keluarga' yang menjadi fondasi merger sudah tidak ada. Klausul moral dalam perjanjian merger — pasal yang dulu ditulis untuk melindungi nama baik dua keluarga — kini berbalik menjadi pisau: pelanggaran reputasi oleh salah satu pihak membuka jalan pembubaran sepihak.
Pukulan kedua datang dari pasar. Berita perceraian CEO dengan istri yang baru dinikahinya setahun tidak bisa disimpan rapat. Media bisnis menciumnya duluan, lalu media gosip, lalu semua orang. *Pernikahan Terbesar Tahun Lalu Kandas* — headline yang sama media yang dulu memuji pernikahan itu sekarang menjual kehancurannya.
Pukulan ketiga — dan yang paling mematikan — datang dari Kirana dan Galang, di saat yang paling tepat.
'Dewan Mahendra–Wirya akan melepas aset distribusi timur untuk menambal arus kas,' kata Galang di ruang rapat Samudra. 'Mereka butuh uang cepat, dan mereka akan menjual murah apa pun yang tidak bergerak.'
'Jaringan gudang di Surabaya, Makassar, dan Balikpapan,' Kirana menambahkan, membuka petanya. 'Plus kontrak sewa armada. Kalau itu jatuh ke kita, Samudra menguasai koridor timur sepenuhnya — dan Sastro Logistik bisa menjadi operator lapangannya.'
Galang menatapnya. 'Perusahaan ayahmu.'
'Perusahaan ayah saya yang mereka coba bunuh tahun lalu.' Kirana tidak menyembunyikan apa pun. 'Dia masih punya sopir-sopir terbaik di timur dan nama yang dipercaya klien lama. Ini bukan nepotisme, Pak. Ini pembalasan yang menghasilkan uang.'
Galang tertawa kecil dan menandatangani persetujuan. 'Aku mulai takut padamu, tahu.'
'Bagus. Itu artinya saya bekerja dengan benar.'
Penawaran Samudra masuk tepat ketika Mahendra–Wirya paling membutuhkan uang — dan harganya, tentu saja, harga kebakaran. Tiga gudang strategis, dua kontrak armada, dan separuh rute timur berpindah tangan dalam satu bulan. Empat puluh sopir dan karyawan gudang yang akan di-PHK oleh manajemen lama justru diserap oleh Sastro Logistik yang bangkit kembali. Pak Sastro, dengan jantung yang kini terjaga, berdiri di depan gudang barunya di Surabaya dan menangis di depan anaknya.
'Empat puluh keluarga makan dari gudang ini, Nak,' katanya. 'Kamu balas dendam kok jadinya ngasih orang kerjaan.'
'Balas dendam terbaik memang harus menghasilkan sesuatu, Yah.' Kirana merangkul bahu ayahnya. 'Kalau cuma menghancurkan, itu namanya buang-buang tenaga.'
Di sisi lain kota, keruntuhan itu mencapai lantai-lantai teratas. Wiryawan kehilangan segalanya dalam dua minggu: merger bubar, saham jaminannya disita bank, dan namanya — nama yang dulu dipakai untuk merendahkan keluarga Sastro — kini berkibar di berita sebagai contoh ekspansi bodoh berbasis pernikahan. Salsa memilih pintu keluar yang sopan yang ditawarkan Arga: perceraian cepat, tanpa saling tuntut, dan tiket satu arah ke kehidupan yang tidak lagi diliput kamera.
Dan di kantornya yang kini sepi, Arga Mahendra menandatangani dokumen pembubaran merger dengan tangan yang mantap.
Jajaran direksinya menunggu amarah. Yang mereka dapatkan justru kalimat yang tidak seorang pun sangka:
'Kita akan membangun ulang. Lebih kecil, lebih jujur, tanpa pernikahan sebagai jaminan kontrak.' Ia menatap mereka satu per satu. 'Dan satu hal lagi. Perempuan yang membongkar kita — dia tidak pernah mencuri, tidak pernah menyuap, tidak pernah berbohong. Dia mengalahkan kita dengan aturan yang kita buat sendiri. Kalau kalian mau belajar satu hal dari kejatuhan ini, pelajari itu.'
Malam itu, Bu Ratna menelepon Kirana untuk kedua kalinya. Bukan untuk menawar. Suaranya di seberang sana terdengar tua dalam semalam.
'Kamu menang, Nak. Ibu cuma mau tanya satu hal. Kapan kamu berhenti?'
Kirana berdiri di teras rumahnya, menatap halaman kecil tempat ayahnya menyiram tanaman dengan bahu yang sudah tegak lagi.
'Saya berhenti ketika tidak ada lagi yang harus dibuktikan, Bu Ratna,' jawabnya pelan. 'Dan menurut hitungan saya... tinggal satu percakapan lagi.'
'Percakapan dengan siapa?'
'Dengan Arga.'