Arga datang bukan ke kantornya, bukan dengan sopir, bukan dengan jas CEO-nya. Ia datang ke rumah kontrakan itu pada sore hari, memakai kemeja biasa, dan mengetuk pintu pagar seperti orang biasa.
Pak Sastro yang membukakan. Dua lelaki itu berhadapan di ambang pagar — mantan calon mertua dan mantan calon menantu — dan untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.
'Saya tahu saya tidak punya hak datang ke sini, Pak,' kata Arga akhirnya. 'Saya cuma minta lima menit dengan Kirana. Setelah itu saya pergi.'
Pak Sastro menatapnya lama. Lelaki tua itu membuka pagar, bukan karena lupa, tetapi karena hatinya memang tidak pernah diajari menyimpan dendam. 'Di teras. Aku mau ke dalam. Anakku yang akan memutuskan.'
Kirana sudah berdiri di teras. Ia melihat lelaki itu berjalan masuk — lebih kurus, lebih tenang, tanpa aura yang dulu memenuhi setiap ruangan — dan ia merasa siap. Sudah setahun lebih ia mempersiapkan percakapan ini.
'Duduk,' katanya. 'Teh?'
'Tidak usah. Terima kasih.' Arga duduk di kursi teras yang sederhana, di rumah yang sederhana, di depan perempuan yang dulu ia kira tidak cukup pantas untuk rumah besarnya. Ironi itu tidak hilang dari wajahnya; ia merasakannya sendiri. 'Aku tidak akan panjang-panjang. Tiga hal.'
Kirana menunggu.
'Pertama: aku minta maaf. Bukan maaf yang diplomatis — maaf yang telanjang. Malam pembatalan itu, aku tahu itu salah. Ibuku tidak memaksaku dengan pistol, Kirana. Dia cuma memberiku pilihan, dan aku yang memilih merger. Aku pengecut yang menyebut dirinya rasional. Tidak ada klausul bisnis yang mewajibkan seorang lelaki membuang perempuannya seminggu sebelum pernikahan. Itu aku. Pilihanku.'
Kirana tidak mengalihkan pandang. 'Lanjutkan.'
'Kedua: terima kasih. Untuk amplop itu.' Arga tertawa kecil, pahit. 'Aku tahu itu kamu. Tidak ada orang lain yang cukup pintar sekaligus cukup... bermartabat untuk mengirim bukti tanpa sekalian menghancurkanku di media. Kamu bisa saja mengirimnya ke wartawan dan menamatkanku dalam sehari. Kamu kirim ke aku. Kamu memberiku kesempatan membereskan rumahku sendiri — sesuatu yang tidak pernah kuberikan kepadamu.'
'Aku tidak mengirimnya untuk menolongmu,' jawab Kirana. 'Aku mengirimnya karena pernikahan itu memang pantas dibongkar. Tapi ya — aku sengaja tidak mengirimnya ke media. Kebusukan kalian bukan tontonan. Urusan publik cukup sampai merger.'
'Dan itu yang ketiga.' Arga menarik napas. 'Aku tidak datang untuk memintamu kembali.'
Kalimat itu membuat Kirana mengangkat alis.
'Aku tahu aku sudah kehilangan hak itu. Aku cuma...' Ia mencari kata-kata, dan untuk pertama kalinya Kirana melihat lelaki ini kesulitan bicara. 'Aku cuma mau kamu tahu: menceraikan Salsa, membubarkan merger, membangun ulang perusahaan — semua itu tidak terasa seperti kehilangan. Rasanya seperti sembuh. Dan orang yang mengajariku bahwa sakit itu bukan akhir... adalah perempuan yang paling kusakiti. Kamu. Jadi aku datang bukan untuk meminta. Aku datang untuk mengembalikan sesuatu.'
Ia mengeluarkan amplop tipis dari saku kemejanya — bukan cek. Selembar saham: pengalihan tiga persen saham pribadinya di perusahaan barunya kepada Sastro Logistik, tanpa syarat.
'Bukan kompensasi,' katanya cepat, sebelum Kirana menolak. 'Kompensasi itu untuk menutup mulut. Ini pengakuan. Ayahmu pengusaha jujur yang pernah kubantu hancur. Kalau dia mau, dia sekarang punya kursi kecil di masa depan yang kubangun ulang dengan cara yang benar. Kalau tidak mau — robek saja. Kamu pernah mengajariku itu juga bisa dilakukan dengan elegan.'
Kirana menatap amplop itu, lalu menatap lelaki di depannya. Setahun lalu, di teras lain, di hujan lain, ia berdiri dengan cincin yang harus ia lepas. Sekarang keadaan berbalik sepenuhnya, dan yang ia rasakan bukan kemenangan — melainkan sesuatu yang lebih tenang: percakapan terakhir yang akhirnya selesai.
'Ampun sudah kuberikan sejak lama, Arga,' katanya pelan. 'Bukan karena kamu pantas. Karena aku tidak mau menggendongmu seumur hidup. Tapi dengarkan baik-baik: memaafkan bukan berarti membuka pintu. Pintu itu sudah kututup, dan kuncinya sudah kubuang ke laut. Kamu membangun hidupmu, aku membangun hidupku. Kalau suatu hari kita bertemu di rapat bisnis, kita bersalaman sebagai orang asing yang saling menghormati. Itu yang paling bisa kuberikan.'
Arga mengangguk. Lama. 'Itu jauh lebih banyak daripada yang layak kudapat.'
Ia berdiri, menunduk sedikit — hormat yang tulus — dan berjalan ke pagar. Di ambang, ia berhenti, tidak menoleh.
'Untuk apa pun yang sedang kamu bangun sekarang, Kirana... dia lelaki yang beruntung.'
'Belum ada "dia",' jawab Kirana, dan kali ini ada senyum kecil di suaranya. 'Tapi kamu benar. Dia akan beruntung — karena aku tidak lagi murah.'
Pagar tertutup. Kirana berdiri di teras sampai suara mobil itu hilang, lalu masuk dan menemui ayahnya.
'Selesai?' tanya Pak Sastro.
'Selesai, Yah.' Ia mencium puncak kepala ayahnya. 'Semuanya. Sekarang kita tinggal hidup.'