Bagian 1
Malam masih menyisakan dingin dari hujan semalam, meninggalkan udara lembap yang menusuk hingga ke tulang. Alena duduk di tepi ranjangnya, menatap kosong jendela yang berembun. Kata-kata Rafael terus bergema di kepalanya: “Kalian tidak boleh bersama. Karena kalian membawa darah yang sama.”
Ia memeluk dirinya sendiri, mencoba mencari kehangatan yang tak ia temukan. Hatinya bergejolak, antara percaya dan menolak. Bagaimana mungkin dirinya dan Arsen terikat oleh sesuatu yang justru membuat cinta mereka mustahil?
Pintu kamarnya berderit pelan. Arsen masuk, langkahnya hati-hati seolah takut suara kakinya saja akan membuat Alena semakin retak. Ia membawa secangkir cokelat panas, uapnya mengepul, menyebarkan aroma manis di udara.
“Aku tahu kau tidak bisa tidur,” ucap Arsen lirih, menaruh cangkir itu di meja kecil di samping ranjang.
Alena menoleh, matanya masih basah. “Apa yang sebenarnya terjadi pada kita, Arsen? Aku tidak tahu harus percaya pada siapa lagi. Hatiku… hanya semakin bingung.”
Arsen duduk di sisi ranjang, jaraknya hanya sejengkal dari Alena. Ia ingin memeluknya, melindunginya dari semua rasa sakit, tapi ia menahan diri. “Aku pun bingung, Lena. Aku tidak tahu harus berdiri di mana. Tapi satu hal yang pasti… aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Kalimat itu seharusnya menenangkan, namun justru menambah kerumitan di d**a Alena. Kehangatan dari tatapan Arsen menyalakan percikan yang berlawanan dengan kebingungan yang menjeratnya.
---
Di sisi lain, Rafael menatap gelapnya halaman rumah dari balik jendela ruang kerjanya. Asap rokok tipis melingkari wajahnya yang lelah. Ia tahu kata-kata semalam mungkin terlalu jauh, tapi kebohongan yang ia bangun selama ini sudah rapuh.
“Arsen sudah mulai tahu terlalu banyak…” gumamnya. “Dan Alena… akan hancur kalau semuanya terbongkar.”
Dalam hati kecilnya, Rafael sebenarnya ingin memberikan kebahagiaan bagi keponakan dan gadis itu. Namun masa lalu tak pernah memberi ruang untuk keinginan sederhana. Ada terlalu banyak janji, darah, dan bahaya yang mengikat.
---
Sementara itu, Nadine yang baru saja pulang dari luar kota, menyusun rencana. Ia menerima pesan suara dari seseorang yang tak dikenal, isinya samar tapi cukup jelas.
“Kalau kau ingin memisahkan mereka, gunakan rahasia yang ada pada Rafael. Itu akan lebih menyakitkan daripada apa pun.”
Nadine tersenyum miring. “Sepertinya panggung akan semakin menarik. Kehangatan itu… biar aku yang mengubahnya jadi bara.”
---
Keesokan paginya, Alena duduk di balkon rumah, mencoba menikmati udara segar. Namun pikirannya masih kusut. Ia menatap ke arah kebun kecil, tempat Arsen berdiri bersama Seno, membicarakan sesuatu yang tampak serius.
Entah kenapa, setiap kali melihat Arsen, dadanya berdegup tak terkendali. Rasa hangat itu nyata, tak bisa ia pungkiri. Tapi justru rasa itu yang membuatnya semakin bingung.
“Kalau benar kami tak boleh bersama… kenapa hatiku menolak berhenti mencintainya?” bisiknya lirih.
Arsen yang menyadari tatapan Alena, mendongak. Sesaat, mata mereka bertemu. Kehangatan itu kembali menyergap, membuat keduanya lupa sejenak pada luka dan larangan yang menghantui.
Namun kehangatan itu bukan jawaban, melainkan teka-teki yang makin dalam.
---
Bagian 2
Langkah kaki Alena terdengar samar di koridor rumah besar itu. Ia berjalan perlahan, seolah takut keberadaannya didengar. Malam itu terlalu sunyi, hanya suara jam dinding yang berdetak pelan. Alena menuju ruang kerja Rafael. Sejak percakapan semalam, hatinya belum bisa tenang. Ada jawaban yang harus ia temukan.
Ruang itu gelap, hanya diterangi lampu meja. Rafael duduk bersandar, matanya lelah, namun sorotnya tetap tajam. “Kau tidak bisa tidur?” tanyanya, tanpa menoleh.
Alena menggenggam tangannya sendiri. “Aku butuh penjelasan, Om. Jangan biarkan aku terjebak di antara rahasia yang kau sembunyikan.”
Rafael akhirnya menatap keponakan dari kakaknya itu. Ada keraguan di matanya, tapi juga rasa sayang yang tulus. “Jika aku jujur, Lena, kau mungkin akan membenci kami semua. Termasuk Arsen.”
Alena menahan napas. Setiap kata terasa bagai belati yang mendekat. “Aku lebih memilih kebenaran yang menyakitkan daripada kebohongan yang membuatku terus tersiksa.”
Rafael terdiam, lama sekali, sebelum akhirnya berdiri dan berjalan ke arah jendela. “Kau harus tahu, masa lalu keluarga ini tidak sesederhana yang kau kira. Ada pengkhianatan, ada cinta yang dikhianati, ada janji yang diingkari. Dan kau… kau ada di tengah semua itu.”
---
Di waktu yang sama, Arsen berada di ruang tamu bersama Seno. Ia tak bisa duduk tenang. “Aku bisa merasakan ada sesuatu yang Rafael sembunyikan. Kau juga merasakannya, kan?”
Seno mengangguk. “Aku sudah lama curiga, Sen. Rafael selalu bertindak seolah dia melindungimu, tapi sekaligus menyembunyikan sesuatu darimu. Dan itu jelas berhubungan dengan Alena.”
Arsen mengepalkan tangan. “Aku tidak peduli siapa pun yang berusaha memisahkan kami. Aku mencintainya, Seno. Apa pun yang mereka katakan, aku tidak akan mundur.”
Namun kalimat itu bergetar, seakan dirinya sendiri tak sepenuhnya yakin. Ada ketakutan yang bersemayam, bahwa cinta mereka memang ditakdirkan mustahil.
---
Di kamar lain, Nadine menatap foto Arsen dan Alena yang tersimpan di ponselnya. Ia mendapatkan itu dari seseorang yang sengaja mengirimkan bukti kebersamaan mereka. Nadine tersenyum tipis.
“Lihatlah kalian… semakin dekat, semakin manis. Tapi semakin mudah untuk kuhancurkan.”
Ia mengetik pesan cepat, lalu menghapusnya kembali. Nadine ingin momen yang lebih tepat, lebih menyakitkan. Ia tahu, jika kebenaran yang Rafael simpan terbongkar, itu akan menjadi pukulan telak. Yang ia butuhkan hanyalah waktu.
---
Pagi berikutnya, Alena menemui Dinda di ruang makan. Wajah kakaknya tampak pucat, mungkin karena begadang atau mungkin karena terlalu banyak memikirkan sesuatu.
“Dinda, aku merasa ada sesuatu yang kalian semua sembunyikan dariku,” ujar Alena lirih.
Dinda terdiam, menatap adiknya lama sekali. “Ada hal-hal yang lebih baik tidak kau ketahui, Lena. Demi kebaikanmu.”
Alena menggenggam tangan kakaknya. “Tapi kalau kebaikan itu berarti aku harus kehilangan Arsen… apakah aku benar-benar ingin kebaikan semacam itu?”
Pertanyaan itu membuat Dinda tak mampu menjawab. Matanya berkaca-kaca, tapi ia memilih diam, karena jawabannya hanya akan membuat luka semakin dalam.
---
Malam harinya, hujan turun deras. Arsen berdiri di halaman, membiarkan air mengguyur tubuhnya. Alena menyusul, memanggil namanya berkali-kali.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Alena berlari ke arahnya, tubuhnya ikut basah kuyup.
Arsen menatapnya, mata tajamnya dipenuhi rasa sakit. “Aku ingin melupakan semuanya, Lena. Semua kebohongan, semua larangan. Tapi aku tidak bisa. Karena setiap kali aku melihatmu… aku hanya ingin memelukmu.”
Dan tanpa pikir panjang, Arsen menarik Alena ke dalam dekapannya. Hujan menutupi wajah mereka, tapi kehangatan yang mengalir di antara tubuh mereka justru membuat segalanya semakin membingungkan.
Alena menutup matanya, membiarkan pelukan itu menyalakan api yang ia coba padamkan. Di hatinya, ia tahu mereka sudah terlalu jauh untuk kembali.
Namun, di balik hujan deras itu, Rafael berdiri di beranda, menyaksikan mereka dengan tatapan berat. “Kalian akan hancur kalau terus seperti ini…” bisiknya.
---
Bagian 3
Hujan malam itu menyisakan aroma tanah basah yang menusuk ke dalam setiap napas. Alena terjaga hingga larut, pikirannya kacau. Pelukan Arsen tadi seolah masih membekas, membakar kulit dan menyalakan bara yang ia berusaha padamkan.
Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, lalu akhirnya duduk di depan meja rias. Wajahnya terlihat bingung saat bercermin. “Kenapa aku membiarkan diriku larut sejauh itu?” bisiknya lirih.
Ketukan lembut di pintu mengejutkannya. Ia buru-buru membuka, dan ternyata Dinda berdiri dengan wajah lelah. “Aku melihatmu tadi di halaman… bersama Arsen.”
Jantung Alena berhenti berdetak sejenak. “Kak… aku—”
“Tidak perlu menjelaskan.” Dinda masuk, duduk di tepi ranjang, matanya menerawang kosong. “Aku hanya takut, Lena. Bukan takut pada Arsen, tapi pada kebenaran yang akan menghantui kalian.”
Alena duduk di sampingnya. “Kalau cinta ini salah, kenapa aku tak bisa berhenti merasakannya?”
Dinda memandang adiknya dengan air mata yang nyaris jatuh. “Karena hati tidak mengenal logika. Tapi kau harus bersiap, Lena. Cinta ini mungkin akan lebih banyak menyakitimu daripada membahagiakanmu.”
---
Di sisi lain rumah, Arsen berdiam di ruang kerjanya. Seno menemukannya duduk dengan segelas kopi dingin yang tak disentuh. “Kau terlihat seolah baru kalah perang,” kata Seno sambil menarik kursi.
Arsen menatap sahabatnya. “Aku tak tahu lagi, Seno. Semakin aku dekat dengan Alena, semakin aku merasa semua orang di sekitarku berusaha memisahkan kami. Dan itu membuatku semakin ingin melawannya.”
Seno menghela napas panjang. “Kau tahu, Sen… aku sahabatmu, akan selalu mendukungmu. Tapi aku harus jujur, ada sesuatu yang Rafael sembunyikan. Aku bisa merasakannya sejak lama. Dan aku takut, kalau itu benar-benar keluar, kau dan Alena tidak akan sanggup menerimanya.”
Arsen memejamkan mata. “Apa pun itu, aku tidak peduli. Aku hanya tahu, aku mencintainya.”
Seno menatapnya lama. “Kalau begitu, bersiaplah untuk terbakar. Karena cinta semacam itu tidak akan pernah berhenti di tengah jalan. Ia akan berakhir dengan luka dalam… atau kebahagiaan yang terlarang.”
---
Pagi berikutnya, Rafael duduk di ruang makan dengan koran di tangannya. Namun matanya kosong, jelas pikirannya melayang. Ia mengingat hujan semalam, bagaimana ia melihat Arsen dan Alena berpelukan. Ada sesuatu di dalam dirinya yang berontak, antara ingin menghentikan dan ingin membiarkan mereka memilih jalannya sendiri.
“Om.” Suara Nadine memecah lamunannya. Gadis itu duduk di hadapannya dengan senyum samar. “Aku dengar hujan tadi malam… cukup deras. Menyenangkan ya, kalau ada yang menemani di bawah derasnya hujan?”
Rafael menatapnya, wajahnya mengeras. “Apa maksudmu?”
Nadine menyeringai kecil. “Tidak ada. Hanya sekadar bertanya. Tapi rasanya aku tidak salah kalau mengira Arsen dan Alena semakin dekat, bukan?”
Rafael meletakkan korannya dengan kasar. “Jangan main-main dengan api, Nadine. Kau tidak tahu seberapa besar kobaran yang bisa ia ciptakan.”
Tapi Nadine tidak bergeming, malah tersenyum puas. “Aku tahu lebih banyak daripada yang Om kira. Dan aku tidak pernah takut terbakar, kalau itu berarti aku bisa menghancurkan mereka.”
---
Sore itu, Alena memilih menyendiri di taman belakang. Hatinya terasa penuh, seperti balon yang siap pecah. Ia memetik satu kelopak bunga dan menggenggamnya erat. “Kenapa semua orang seperti menyembunyikan sesuatu dariku?”
Suara langkah mendekat. Arsen muncul, wajahnya juga penuh kegelisahan. “Aku mencarimu.”
Alena menoleh, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. “Kenapa kita tidak bisa mencintai dengan tenang, Arsen? Kenapa harus selalu ada rahasia dan ketakutan di antara kita?”
Arsen mendekat, menggenggam tangannya. “Kalau dunia melarang, biarkan kita melawannya bersama. Aku tidak akan melepaskanmu, Lena.”
Alena menatapnya dengan mata berair. “Tapi bagaimana kalau cinta kita memang salah sejak awal?”
Arsen menariknya ke dalam pelukan. “Kalau salah, maka biarkan aku salah bersamamu. Karena aku tidak sanggup menjalani hidup yang benar tanpa ada dirimu.”
---
Dari kejauhan, Rafael kembali melihat mereka. Namun kali ini, air mata tipis jatuh di pipinya. Ia berbisik pada dirinya sendiri. “Kalian tidak tahu… kebohongan ini tidak bisa selamanya menutupi luka. Dan saat terungkap, cinta kalian akan jadi korban pertama.”
Langit sore memerah, seakan menyatu dengan kepedihan yang mereka semua sembunyikan. Kehangatan pelukan, tatapan penuh cinta, justru membuat luka itu semakin dalam. Karena mereka tahu, cepat atau lambat, kebenaran akan datang—dan mungkin akan menghancurkan segalanya.
---
Bagian 4
Hari-hari berikutnya berjalan seperti pusaran badai. Arsen dan Alena semakin sering mencuri waktu bersama, meski bayang-bayang larangan dan rahasia masih menghantui. Setiap tatapan, setiap sentuhan, seolah menjadi obat bagi jiwa yang rapuh—namun sekaligus racun yang bisa membunuh perlahan.
Pagi itu, Alena sedang membaca di beranda ketika suara Nadine muncul, penuh sarkasme. “Ah, indah sekali pagi ini. Membaca buku sambil menunggu seseorang, ya? Mungkin Arsen?”
Alena menutup bukunya, menahan emosi. “Kau ingin apa, Nadine?”
Nadine tersenyum tipis, mendekat lalu berbisik. “Aku hanya ingin mengingatkanmu… cinta itu tidak selalu berakhir manis. Apalagi kalau kau salah memilih lawan main. Dan kau tahu betul, Lena, aku tidak akan diam saja membiarkanmu menang.”
Alena menggenggam buku erat, jantungnya berdegup kencang. “Kau tidak bisa menghentikan apa yang sudah terjadi.”
“Tapi aku bisa menghancurkan apa yang sedang kau bangun,” jawab Nadine dingin, sebelum melangkah pergi dengan langkah anggun penuh kesombongan.
---
Sementara itu, di ruang kerjanya, Rafael menatap foto lama yang ia simpan di laci. Foto itu sudah mulai pudar: dirinya, Arsen kecil, dan seorang wanita yang wajahnya mirip sekali dengan Alena. Bibir Rafael bergetar. “Jika kebenaran ini terbuka, semuanya akan hancur… tapi sampai kapan aku bisa menyembunyikannya?”
Ketika Seno masuk tanpa mengetuk, Rafael cepat-cepat menyimpan foto itu. “Apa yang kau sembunyikan dari kami, Paman?” tanya Seno langsung, tanpa basa-basi.
Rafael terdiam sejenak, lalu berkata dingin, “Kau tidak akan mengerti.”
Seno menatap tajam. “Aku sahabat Arsen. Aku harus tahu apa yang bisa menghancurkannya. Kau kira aku akan diam saja melihatnya tenggelam dalam sesuatu yang mungkin berbahaya?”
Rafael bangkit, menatap Seno lurus-lurus. “Berbahaya? Ya. Tapi bukan hanya untuk Arsen… juga untuk Alena, untuk semua orang. Jadi jika kau benar-benar peduli, Seno, berhentilah menggali.”
Seno mengepalkan tangan. “Kalau begitu, aku akan menemukan jawabannya sendiri.”
---
Malam itu, Alena tidak bisa tidur. Ia berdiri di depan jendela, memandangi bulan yang tertutup awan. Suara pelan di pintu mengejutkannya. Arsen masuk tanpa menunggu jawaban.
“Apa kau tidak bisa tidur juga?” tanya Alena lirih.
Arsen mendekat, tatapannya penuh kegelisahan. “Aku takut kehilanganmu. Nadine… pamanku… bahkan dunia ini, seakan semuanya bersekongkol untuk menjauhkanmu dariku.”
Alena menunduk, air matanya jatuh. “Aku juga takut, Arsen. Tapi aku lebih takut jika kita menyerah.”
Arsen menggenggam wajahnya dengan lembut. “Kalau begitu jangan menyerah. Sekalipun dunia runtuh, tetaplah bersamaku.”
Hening menyelimuti kamar, hanya detak jantung mereka yang terdengar. Lalu, seolah waktu berhenti, Arsen menunduk dan mengecup keningnya. Bukan ciuman penuh gairah, melainkan sebuah janji sunyi. Kehangatan itu membingungkan, namun menenangkan.
Alena memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh, karena dalam hatinya, ia tahu janji itu mungkin akan membawa mereka ke jurang terdalam.
---
Di lorong gelap, Dinda berdiri tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Hatinya remuk, dilema semakin dalam. Ia berbisik pada dirinya sendiri. “Kalau aku membiarkan ini terus, mereka berdua akan semakin terluka. Tapi kalau aku menghentikannya… aku juga akan jadi orang yang paling menyakitkan bagi mereka.”
Langkah Dinda terasa berat meninggalkan lorong itu. Sementara, di dalam kamar, dua hati masih berpegang erat pada cinta yang mungkin tidak akan pernah direstui.
---
Keesokan paginya, ketegangan semakin terasa. Rafael berusaha menjaga sikap, Nadine semakin berani menyindir, dan Dinda semakin murung. Namun Arsen dan Alena, meski tahu semua mata memperhatikan, tetap memilih berada dekat satu sama lain.
Saat duduk bersama di taman, Alena berkata pelan, “Kehangatan ini… membuatku bingung, Arsen. Aku tidak tahu apakah aku harus terus bertahan, atau berhenti sebelum semuanya terlambat.”
Arsen meraih tangannya. “Aku tidak butuh jawaban sekarang. Yang aku tahu, selama kau masih di sini, aku akan terus bertahan.”
Langit cerah, tapi hati mereka tetap diselimuti awan ketidakpastian. Kehangatan itu nyata, namun rasa takut yang menyertainya jauh lebih besar. Dan di balik senyum mereka, masing-masing menyimpan luka yang tak terucapkan.
---
Bagian 5
Hari itu, suasana rumah besar keluarga Digantara dipenuhi udara yang aneh. Seolah setiap dinding menyimpan rahasia, dan setiap tatapan menyimpan tuduhan. Arsen duduk di ruang tamu, memandangi secangkir kopi yang sudah dingin. Ia tahu sesuatu sedang mendidih di sekitarnya, tapi tidak ada yang berani mengatakannya.
Alena datang pelan, duduk di sampingnya. “Kau tidak minum?” tanyanya lembut.
Arsen menoleh, matanya lelah. “Bahkan kopi pun terasa pahit, Lena. Lebih pahit dari kenyataan.”
Alena terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Tapi saat jemarinya mencoba meraih tangan Arsen, tiba-tiba suara Nadine memotong dari arah tangga.
“Aku hampir kasihan melihat kalian.” Nadine turun dengan langkah anggun, senyum tipis penuh kemenangan di bibirnya. “Kau pikir semua orang akan buta melihat kebersamaan kalian? Dunia ini tidak sebodoh itu, Alena.”
Alena menatapnya tajam. “Dan kau pikir aku peduli pada ocehanmu?”
Nadine terkekeh. “Oh, kau sebaiknya peduli. Karena sebentar lagi… kebenaran akan datang, dan saat itu kau tidak akan punya tempat untuk bersembunyi.”
Arsen berdiri, menatap Nadine dingin. “Cukup, Nadine. Kalau kau datang hanya untuk meracuni suasana, pergilah.”
Nadine menegakkan tubuhnya, tidak gentar. “Aku hanya mengingatkan. Kadang cinta tidak cukup untuk menyelamatkanmu dari kehancuran.”
---
Seno, yang sejak tadi mengamati dari jauh, mengepalkan tangannya. Ia tahu Nadine benar dalam satu hal: ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar persaingan cinta. Ia harus segera menemukan jawabannya, sebelum semua ini berubah menjadi bencana.
Malamnya, Seno mendatangi Rafael yang sedang di ruang kerja. “Aku tidak tahan lagi, Paman. Katakan padaku apa yang kau sembunyikan.”
Rafael menghela napas panjang, lalu menatap Seno dalam-dalam. “Jika kau tahu, Seno, kau tidak akan bisa melindungi Arsen seperti sekarang. Rahasia ini… bisa menghancurkan hidupnya.”
Seno berdiri, suaranya tegas. “Kalau aku sahabat sejatinya, maka aku berhak tahu. Bahkan jika itu berarti aku harus ikut menanggung bebannya.”
Rafael menutup mata, kemudian berkata pelan. “Ada hal-hal yang seharusnya tidak pernah diungkap. Tapi aku tahu, cepat atau lambat, kebenaran akan menyeruak sendiri.”
---
Di sisi lain, Alena tengah duduk bersama Dinda. Suasana di antara mereka penuh ketegangan. Dinda sudah lama ingin bicara, tapi lidahnya kelu.
“Alena…” akhirnya Dinda membuka suara. “Kau yakin dengan perasaanmu pada Arsen?”
Alena tertegun. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”
Dinda menunduk, matanya berkaca-kaca. “Karena aku takut, Lena. Takut kau terluka. Aku tahu kau kuat, tapi cinta kadang bisa jadi pedang bermata dua.”
Alena menggenggam tangan kakaknya. “Aku tidak bisa memilih, Kak. Aku hanya bisa merasa. Dan perasaanku pada Arsen… terlalu kuat untuk kuingkari.”
Air mata jatuh di pipi Dinda. Ia memeluk adiknya erat, seolah itu bisa melindunginya dari badai yang akan datang. Namun di hatinya, ia sadar, pelukan itu tidak akan cukup.
---
Beberapa hari kemudian, terjadi pertemuan tak terduga. Arsen, Alena, Rafael, Dinda, Seno, dan Nadine berada di ruang besar yang sama. Ketegangan hampir bisa disentuh. Semua menyembunyikan sesuatu, dan semua menunggu siapa yang akan membuka mulut lebih dulu.
Rafael yang akhirnya bicara. “Ada hal yang harus kalian tahu… tapi waktunya belum tepat. Aku hanya ingin kalian berhati-hati. Jangan terlalu larut dalam sesuatu yang bisa menghancurkan.”
Arsen menatap pamannya dengan frustrasi. “Kenapa semua orang berbicara dengan teka-teki? Jika ada sesuatu, katakan saja!”
Namun Rafael hanya menghela napas, menatap Arsen dengan pandangan yang penuh iba. “Karena ada kebenaran yang lebih kejam dari kebohongan, Nak.”
Alena merasakan tubuhnya gemetar. Kehangatan yang selama ini ia temukan di sisi Arsen kini bercampur dengan ketakutan yang mencekik. Ia menatap Arsen, mencoba mencari jawaban dalam sorot matanya. Tapi yang ia temukan hanyalah kebingungan yang sama.
---
Malam itu, mereka berdua kembali bertemu diam-diam. Alena bersandar di bahu Arsen, berusaha mencari ketenangan.
“Arsen,” bisiknya lirih. “Kehangatanmu adalah rumahku. Tapi kenapa rumah ini terasa rapuh, seakan bisa runtuh kapan saja?”
Arsen merangkulnya erat. “Kalau rumah itu runtuh, aku akan membangunnya lagi. Sekalipun dengan darahku sendiri.”
Air mata Alena jatuh. “Tapi bagaimana jika yang menghancurkannya adalah kenyataan itu sendiri?”
Arsen menatap langit malam yang gelap. Ia tidak punya jawaban. Hanya ada janji di bibirnya, janji yang ia tahu bisa jadi mustahil ditepati. “Selama aku masih bernafas, aku tidak akan melepaskanmu.”
Dan dalam kehangatan yang membingungkan itu, mereka memilih untuk bertahan. Meski di kejauhan, badai sudah menunggu, siap menghancurkan segalanya.
---