Bagian 1
Pagi itu, gedung megah Digantara Corporation berdiri anggun seperti biasa, menyimpan banyak cerita di balik dinding kacanya. Para karyawan sibuk hilir mudik, beberapa membawa dokumen, sebagian lain menghadap layar laptop dengan wajah tegang. Di lantai paling atas, sebuah ruang kerja luas dengan jendela yang langsung menghadap ke kota menjadi pusat perhatian semua orang—ruang CEO, tempat Arsen Digantara mengendalikan seluruh jalannya perusahaan.
Arsen berdiri di depan jendela, mengenakan setelan hitam yang sempurna. Tatapannya menembus kaca, menatap gemerlap kota di bawah sana. Tapi bukan gedung-gedung pencakar langit atau mobil-mobil yang melintas yang benar-benar ia lihat, melainkan pertarungan batin dalam dirinya sendiri.
Ketika pintu diketuk, Seno masuk dengan membawa setumpuk berkas. “Rapat dengan dewan direksi dimulai satu jam lagi. Kau yakin ingin menanganinya sendiri tanpa Rafael?”
Arsen mengangguk tipis. “Aku sudah terlalu lama bersembunyi di balik nama pamanku. Saatnya mereka menatapku… bukan hanya sebagai pewaris, tapi sebagai pemimpin.”
Seno menaruh berkas di meja. Ia tahu Arsen sedang tidak main-main. Namun ia juga tahu di balik tatapan dingin CEO muda itu, ada luka yang belum sembuh, terutama yang berkaitan dengan Alena.
---
Di tempat lain, Alena berdiri di depan cermin kamarnya, merapikan kemeja putih sederhana yang baru saja ia kenakan. Pagi ini ia diminta datang langsung ke kantor pusat Digantara. Awalnya ia ragu, tapi akhirnya ia menerima undangan itu—lebih karena dorongan hati, bukan logika.
“Lena,” suara Dinda terdengar dari ambang pintu. “Kau yakin dengan keputusanmu? Masuk ke dunia Arsen berarti siap menanggung resikonya.”
Alena menoleh, menatap kakaknya dengan senyum samar. “Aku tidak takut, Kak. Jika aku ingin memahami Arsen, aku harus melihat siapa dia sebenarnya. Bukan hanya lelaki yang melindungiku, tapi juga CEO yang semua orang segani.”
Dinda menarik napas panjang, lalu mendekat dan memeluk adiknya. “Jangan biarkan tatapannya yang dingin menelanmu. Aku tahu di balik itu ada dia yang rapuh, tapi kau juga harus siap jika ternyata ada hal-hal yang lebih gelap.”
---
Ketika Alena tiba di kantor, banyak mata karyawan yang memperhatikannya. Ada bisikan-bisikan yang tidak bisa ia abaikan. Beberapa melihatnya dengan rasa ingin tahu, yang lain dengan tatapan penuh gosip. Ia bisa merasakan atmosfer aneh di dalam gedung itu.
Seno yang menjemputnya di lobi langsung membawa Alena naik ke lantai atas. Di dalam lift, keheningan terasa menyesakkan. Seno akhirnya berkata pelan, “Jangan kaget kalau kau melihat sisi Arsen yang berbeda di ruang kerjanya. Dia bukan hanya lelaki yang kau kenal di luar. Dia bisa sangat dingin… dan menakutkan.”
Alena menelan ludah. “Aku tidak datang untuk menilainya, Seno. Aku hanya ingin tahu siapa dia sebenarnya.”
---
Pintu ruang CEO terbuka, dan di sanalah ia melihat Arsen dalam sosok paling berbeda. Rambutnya rapi, wajahnya tegas, matanya tajam. Ia duduk di balik meja besar, dikelilingi berkas-berkas penting. Sejenak, Alena nyaris tidak mengenalinya.
Arsen menoleh begitu melihatnya, tatapan dinginnya melembut hanya sepersekian detik, sebelum kembali ke wajah tanpa ekspresi. “Kau datang.”
Alena melangkah masuk dengan hati-hati. “Kau yang memintaku datang, bukan?”
Arsen berdiri, berjalan pelan menghampirinya. Ada jarak aneh dalam tatapannya—perpaduan antara kehangatan yang ia coba sembunyikan dan kekerasan yang ia tunjukkan pada dunia.
“Alena,” suaranya rendah, berat. “Di balik semua yang kau lihat, ada diriku yang berbeda. Jika kau ingin tetap berada di sisiku, kau harus siap menatap sisi itu.”
Alena menatapnya dalam, tak bergeming. “Aku tidak butuh Arsen sang CEO. Aku hanya butuh Arsen yang nyata. Dengan semua luka, semua rahasia, semua yang kau sembunyikan.”
Arsen terdiam. Kata-kata itu menembus pertahanannya, menyalakan api di balik tatapan dingin yang selama ini ia bangun. Tapi sebelum ia sempat menjawab, Seno masuk kembali dengan wajah serius.
“Rafael baru saja tiba. Dewan ingin pertemuan dipercepat. Dan… Nadine juga ada di sana.”
Arsen mendecak pelan. “Nadine lagi?”
Alena menegang mendengar nama itu, tapi ia berusaha tetap tenang. Arsen menoleh padanya sekali lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih dalam. “Tetaplah di sini. Aku tidak ingin kau melihat bagian kotor dari permainan ini.”
Namun Alena menggenggam lengannya sebelum ia melangkah pergi. “Kalau kau ingin aku ada di sisimu, jangan pernah menyingkirkanku dari apa pun.”
Arsen menatapnya lama, lalu akhirnya menghela napas. “Baiklah. Kau akan melihat… apa artinya menatap sang CEO.”
Dan dengan itu, pintu ruang rapat terbuka. Permainan kekuasaan yang berbahaya baru saja dimulai.
---
Bagian 2
Ruang rapat utama Digantara Corporation dipenuhi atmosfer tegang. Meja panjang dari kayu mahoni tampak berkilau di bawah lampu kristal yang menggantung. Para dewan direksi duduk rapi dengan wajah serius, sebagian besar pria tua dengan jas mewah yang sudah kenyang pengalaman bisnis. Di ujung meja, kursi utama kosong, menunggu seseorang yang akan menduduki posisi paling diperhitungkan itu—Arsen Digantara.
Alena duduk di kursi samping belakang ruangan, jauh dari pusat perhatian, namun cukup untuk menyaksikan semuanya. Seno duduk tak jauh darinya, selalu siaga. Ketika pintu terbuka, Arsen melangkah masuk dengan langkah mantap, Rafael menyusul di belakangnya. Aura keduanya begitu kontras: Rafael hangat, tenang, bijaksana; sementara Arsen dingin, tegas, dan penuh tekanan.
Tatapan semua orang tertuju pada Arsen. Beberapa dewan tampak meremehkan, sebagian lagi penasaran. Nadine duduk di sisi kanan meja, gaunnya elegan namun matanya penuh ambisi. Senyum tipisnya muncul ketika ia menyadari Alena juga ada di ruangan itu.
“Baiklah,” salah satu dewan, pria beruban bernama Surya, membuka suara. “Mari kita mulai. Kita ingin mendengar presentasi dari Arsen Digantara sebagai CEO baru. Mampukah ia melanjutkan kejayaan perusahaan ini?”
Alena merasakan jantungnya berdegup kencang. Semua mata, semua penilaian, semua harapan tertuju pada satu orang—Arsen.
---
Arsen berdiri di depan layar besar. Suaranya tenang, dalam, dan penuh kuasa. “Digantara Corporation dibangun bukan hanya dari modal, melainkan dari visi. Visi itulah yang akan terus hidup, karena aku tidak hanya melanjutkan warisan pamanku. Aku akan menciptakan jalanku sendiri.”
Ia menjelaskan strategi ekspansi baru, langkah-langkah inovatif untuk mengatasi krisis pasar, dan rencana besar untuk meraih d******i global. Setiap kata keluar dengan penuh keyakinan, setiap kalimat seolah dipikirkan matang.
Alena terpaku. Sosok yang berdiri di sana sangat berbeda dari Arsen yang ia kenal sehari-hari. Begitu kuat, begitu dingin, tapi juga mempesona. Ia melihat sisi Arsen yang tidak pernah ia bayangkan: pemimpin yang bisa menggerakkan dunia hanya dengan tatapannya.
Nadine, di sisi lain, menyandarkan dagunya di tangan, tatapannya tak lepas dari Arsen. Senyum samar muncul di bibirnya, seolah berkata: lihatlah, ini pria yang hanya pantas untukku. Sesekali ia melirik ke arah Alena, seakan menantang.
---
Ketika presentasi selesai, ruang rapat hening sesaat, lalu terdengar tepukan tangan dari Rafael. “Luar biasa,” katanya. “Arsen bukan hanya pewaris, ia adalah pemimpin masa depan.”
Namun, Surya tidak terlihat terkesan. “Kau bicara dengan baik, Arsen. Tapi kata-kata tidak cukup. Apa jaminanmu bahwa strategi ini akan berhasil? Apa yang membuatmu berbeda dari sekadar anak muda yang terlalu percaya diri?”
Tatapan dewan lain mengikuti, sebagian meragukan, sebagian menunggu jawaban.
Arsen menatap Surya langsung, tanpa gentar. “Karena aku tidak sekadar pewaris. Aku adalah seseorang yang hidup di medan persaingan sejak lahir. Aku tahu apa itu kehilangan, pengkhianatan, bahkan kematian. Dan aku tidak akan membiarkan Digantara jatuh, bahkan jika harus mempertaruhkan nyawaku.”
Alena terhenyak. Kata-kata itu keluar begitu berat, seolah membawa luka masa lalu yang belum ia pahami.
---
Rafael akhirnya menengahi. “Mari kita beri Arsen kesempatan. Ia pantas membuktikan dirinya.”
Surya menghela napas, lalu mengangguk setengah hati. “Baiklah. Tapi ingat, satu kesalahan saja bisa meruntuhkan semua yang kau bangun.”
Arsen hanya menatapnya dingin, tanpa berkata apa-apa lagi.
---
Rapat selesai, namun ketegangan belum mereda. Nadine bangkit dari kursinya, melangkah mendekati Arsen. Ia menyentuh lengannya dengan lembut, meski tatapannya tajam.
“Kau luar biasa di sana,” katanya manis. “Tapi ingat, tidak semua orang di ruangan ini berpihak padamu. Kau butuh sekutu yang kuat… dan aku bisa jadi salah satunya.”
Alena yang mendengar itu merasa hatinya mencelos, meski ia berusaha tetap tenang.
Arsen menepis halus sentuhan Nadine. “Aku tidak butuh sekutu yang punya agenda pribadi. Aku hanya butuh orang yang jujur.”
Nadine tertawa kecil, namun matanya menyala penuh tantangan. “Jujur? Kau terlalu polos, Arsen. Dalam dunia ini, yang bertahan bukan orang jujur, melainkan yang paling pandai berbohong.”
Kalimat itu bergema di kepala Alena, membuatnya bertanya-tanya: apakah Arsen juga bersembunyi di balik kebohongan yang ia belum ketahui?
---
Ketika akhirnya mereka keluar dari ruang rapat, Arsen langsung berjalan cepat ke arah lift. Alena mengejarnya, berusaha menyamakan langkah.
“Arsen,” panggilnya.
Pria itu berhenti, menoleh dengan tatapan yang melembut. “Kau tidak seharusnya ada di sana.”
“Tapi aku sudah melihatnya,” jawab Alena pelan. “Kau luar biasa, Arsen. Tapi juga menakutkan. Seolah… ada sisi dirimu yang aku belum kenal sama sekali.”
Arsen menunduk, mendekat, hingga jarak mereka hanya sejengkal. “Alena, ada banyak hal yang tidak bisa kau pahami tentang dunia ini. Tentangku. Aku tidak ingin menyeretmu lebih jauh.”
Alena menatapnya dengan keberanian yang ia kumpulkan. “Kau tidak bisa meminta aku mencintaimu, lalu menyingkirkanku dari kegelapanmu. Jika aku harus jatuh, biarlah aku jatuh bersamamu.”
Tatapan Arsen bergetar. Untuk pertama kalinya, dingin itu retak. Namun sebelum ia sempat menjawab, pintu lift terbuka, dan Seno masuk dengan wajah waspada.
“Kau harus hati-hati, Arsen. Rapat tadi hanya permulaan. Permainan sesungguhnya baru dimulai.”
---
Bagian 3
Langkah-langkah cepat Arsen bergema di koridor panjang yang dikelilingi kaca. Dari luar, pemandangan kota malam terbentang; lampu-lampu gedung berkelap-kelip bagaikan bintang buatan manusia. Alena berusaha mengikuti, namun tatapannya masih tertinggal di balik bayangan rapat yang baru saja usai.
Seno berjalan di sisi Arsen, nada suaranya datar tapi tegas. “Rapat itu membuka banyak mata. Kau tampil kuat, tapi kau juga mengundang lebih banyak musuh. Surya tidak akan berhenti sampai ia menemukan celahmu.”
Arsen tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah kata-kata Seno sudah ia ketahui sejak awal.
“Aku tahu,” gumamnya akhirnya. “Itu sebabnya kita tidak boleh lengah.”
---
Alena mempercepat langkahnya. “Arsen,” panggilnya lagi, kali ini dengan suara lebih keras.
Pria itu berhenti, menoleh dengan tatapan penuh campuran emosi: dingin, lelah, sekaligus… rapuh. “Apa yang kau lakukan di sini, Alena? Dunia ini… bukan tempatmu.”
Alena menggenggam tangannya erat, meski ia bisa merasakan jarak yang begitu tebal di antara mereka. “Aku tidak peduli apakah ini tempatku atau bukan. Aku hanya tahu, aku ingin berada di sisimu.”
Rafael yang baru menyusul dari belakang menghela napas, lalu menepuk bahu Arsen. “Kau tidak bisa terus-menerus menyingkirkan orang yang benar-benar peduli padamu, Arsen. Cepat atau lambat, kau akan butuh sandaran.”
Arsen menatap pamannya, lalu pada Alena, dan akhirnya menarik napas dalam. “Sandaran bisa berubah jadi beban jika tidak kuat.”
---
Nadine muncul di ujung koridor, langkahnya pelan tapi penuh percaya diri. “Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Arsen,” ujarnya. “Dan terlalu mudah percaya bahwa cinta akan menyelamatkanmu.”
Alena langsung menegakkan tubuhnya. “Kau tidak perlu ikut campur, Nadine.”
Wanita itu tersenyum miring. “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau pikir kau bisa melindungi Arsen? Dunia ini akan menghancurkanmu sebelum kau sempat menyentuh tangannya.”
Tatapan mereka bertemu, panas dan menusuk. Seno menatap tajam Nadine, bersiap menengahi bila keadaan semakin memanas.
Namun Arsen angkat tangan, menghentikan mereka. “Cukup. Pertarungan kalian tidak akan mengubah kenyataan bahwa musuh kita ada di luar sana. Bukan di antara kita.”
Nadine menatap Arsen dalam-dalam, seolah mencari celah untuk masuk ke hatinya. Tapi akhirnya ia tersenyum tipis, lalu berbalik pergi, meninggalkan jejak aroma parfum yang tajam.
---
Di ruang kerjanya, Arsen duduk di balik meja besar dengan jendela luas yang memperlihatkan gemerlap kota. Alena duduk di sofa, sementara Seno berdiri tegak di dekat pintu.
“Kau tahu,” kata Arsen pelan, “sebenarnya aku bisa memilih jalan yang lebih mudah. Menyerahkan perusahaan ini pada Surya, hidup tenang, jauh dari intrik. Tapi aku tidak bisa.”
Alena menatapnya. “Karena kau ingin membuktikan sesuatu?”
Arsen tersenyum tipis. “Bukan hanya itu. Aku ingin melindungi. Perusahaan ini, orang-orang yang bergantung padanya… dan dirimu.”
Alena terdiam, hatinya hangat sekaligus nyeri. Ia tahu Arsen mengatakannya dengan tulus, tapi juga menyadari bahwa beban di pundaknya semakin berat.
---
Rafael duduk di kursi seberang meja. “Arsen, aku sudah lama di dunia ini. Dan satu hal yang harus kau ingat: kekuatan tidak datang dari seberapa keras kau bertahan, tapi dari siapa yang kau izinkan untuk berada di sisimu.”
Kalimat itu membuat Arsen terdiam lama. Ia menatap jendela, menatap bayangan dirinya yang terpantul. Mata itu dingin, tegas, tapi jauh di dalamnya, ada kelelahan yang tak bisa ia sembunyikan.
Alena bangkit, mendekat, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Arsen. “Kalau kau izinkan aku, aku akan jadi kekuatan itu untukmu.”
Arsen menunduk, menatap jemari Alena yang menggenggamnya. Untuk sesaat, ia tidak menolak. Ia hanya terdiam, membiarkan kehangatan itu menyelinap ke dalam dirinya.
Namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia meraihnya, membaca pesan singkat yang masuk. Wajahnya seketika berubah tegang.
Seno langsung sigap. “Ada apa?”
Arsen berdiri. “Ada kebocoran data. Seseorang mencoba meretas sistem kita.”
Alena terkejut. “Apa maksudmu?”
Arsen menatap tajam pada mereka semua. “Permainan ini baru saja berubah. Dan musuh kita tidak hanya ada di ruang rapat.”
---
Bagian 4
Suasana ruang kerja seketika berubah menegangkan. Seno langsung menyalakan laptop dan mulai menelusuri jalur masuk peretasan itu. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard, wajahnya dipenuhi konsentrasi.
“Ini bukan peretas amatiran,” gumamnya. “Mereka tahu jalur pintu belakang sistem kita, sesuatu yang hanya bisa diketahui orang dalam.”
Arsen mengepalkan tangannya. “Berarti ada pengkhianat di dalam.”
Rafael mencondongkan tubuhnya, tatapannya tajam. “Kau harus hati-hati, Arsen. Jika benar ada orang dalam, maka permainan ini jauh lebih berbahaya dari yang kita bayangkan.”
---
Alena melangkah mendekat, meski jantungnya berdegup kencang. “Apa yang bisa kulakukan untuk membantu?”
Arsen menoleh padanya, matanya dalam dan penuh konflik. “Tetaplah di sisiku. Itu saja sudah cukup.”
Kalimat itu sederhana, namun membuat d**a Alena bergetar hangat. Ia tahu betapa beratnya bagi Arsen untuk mengatakan sesuatu yang begitu rentan.
---
Seno mengetik lebih cepat, hingga akhirnya ia mendesis pelan. “Aku menemukannya. Serangan ini datang dari sebuah server yang terlacak di luar negeri, tapi ada pola kode yang hanya digunakan di departemen internal keuangan kita.”
Arsen berjalan mendekat. “Siapa yang terakhir memiliki akses penuh?”
Seno menatap layar, lalu menoleh dengan wajah muram. “Salah satu direktur yang tadi duduk di ruang rapat. Bastian.”
Rafael mengetukkan jarinya di meja. “Aku sudah lama curiga padanya. Ia terlalu dekat dengan Surya.”
Arsen terdiam sejenak, pikirannya berputar cepat. Lalu ia menoleh ke Seno. “Kunci semua akses Bastian. Mulai sekarang, aku ingin setiap gerakannya diawasi.”
---
Alena memandang wajah Arsen yang begitu tegang. “Apakah ini berarti rapat tadi hanyalah awal?”
Arsen mengangguk. “Ya. Mereka sudah menyiapkan serangan dari dua arah: rapat untuk menjatuhkanku secara formal, dan peretasan untuk menghancurkanku dari dalam.”
Rafael menyilangkan tangan. “Ini permainan kotor yang biasa dilakukan Surya. Dia tahu kau kuat di depan, jadi dia mencoba menyerang dari belakang.”
Arsen menatap paman dan sahabatnya, lalu tatapannya beralih ke Alena. “Tapi mereka lupa satu hal. Aku tidak pernah bertarung sendirian lagi.”
Alena menelan ludah, menyadari bahwa tatapan itu mengandung sesuatu lebih dari sekadar strategi bisnis. Ada pengakuan diam-diam bahwa dirinya kini bagian dari kekuatan Arsen.
---
Di tengah keheningan yang penuh ketegangan itu, pintu diketuk. Seorang staf masuk, membawa map tebal berisi laporan mendesak. “Pak Arsen, ini laporan terbaru dari proyek ekspansi yang sempat Anda hentikan sementara.”
Arsen meraih map itu, membukanya cepat, lalu terhenti. Matanya menyipit, rahangnya mengeras. “Ini…”
Alena mendekat, mencoba mengintip. “Ada apa?”
Arsen menutup map itu keras-keras. “Seseorang sudah menandatangani persetujuan atas namaku. Padahal aku tidak pernah memberikan izin.”
Seno berdiri. “Palsu?”
Arsen mengangguk. “Ya. Tanda tanganku dipalsukan.”
---
Nadine tiba-tiba masuk ke ruangan dengan langkah anggun, seolah sudah tahu apa yang terjadi. “Kabar buruk menyebar cepat. Aku dengar ada masalah di dalam sistemmu, Arsen?”
Tatapan tajam semua orang mengarah padanya.
“Jangan lihat aku seperti itu,” Nadine mengangkat alisnya, tersenyum tipis. “Aku tidak sebodoh itu untuk meninggalkan jejak. Tapi aku tahu, permainan ini akan semakin sulit jika kau terus percaya pada orang yang salah.”
Alena bangkit berdiri, berhadapan langsung dengan Nadine. “Kalau maksudmu adalah aku, lebih baik kau berhenti. Aku tidak akan mundur.”
Nadine mendekat, jaraknya hanya beberapa sentimeter dari Alena. “Aku hanya ingin tahu, seberapa lama kau bisa bertahan. Karena dunia Arsen penuh dengan darah, bukan bunga.”
Seno menahan diri untuk tidak melangkah, sementara Rafael mengamati dengan tatapan waspada. Arsen, yang sejak tadi menahan amarahnya, akhirnya bangkit.
“Cukup, Nadine,” suaranya berat dan dingin. “Aku tidak peduli siapa yang mencoba menguji kesetiaanku. Tapi satu hal yang harus kau tahu: aku sudah memilih jalanku.”
Tatapan Arsen bergeser sekilas ke arah Alena. Dan tanpa perlu kata-kata, semua orang di ruangan itu tahu siapa yang ia maksud.
---
Malam itu semakin larut, tapi ketegangan tidak juga mereda. Seno terus memantau sistem, Rafael menyusun strategi, sementara Arsen berdiri di depan jendela, menatap kota dengan tatapan penuh beban.
Alena mendekat perlahan, berdiri di sampingnya. “Apakah kau tidak lelah, Arsen?”
Arsen menoleh, menatap matanya dalam. “Aku lelah. Tapi aku tidak boleh berhenti. Karena jika aku berhenti, semuanya runtuh.”
Alena menggenggam tangannya. “Kalau begitu, biarkan aku yang menjaga agar kau tidak runtuh.”
Tatapan mereka bertemu. Kali ini, Arsen tidak menghindar. Dalam keheningan itu, ada pengakuan tak terucap yang perlahan mulai menyatukan mereka.
Namun sebelum momen itu bisa bertahan lebih lama, suara alarm dari komputer Seno berbunyi nyaring.
“Arsen!” seru Seno. “Mereka baru saja membuka serangan baru. Kali ini langsung ke rekening perusahaan utama.”
Arsen melepaskan genggaman Alena, wajahnya berubah serius kembali. “Permainan ini baru saja mencapai level berikutnya.”
---
Bagian 5
Suara alarm itu membuat seluruh ruangan dipenuhi ketegangan. Seno langsung menunduk ke layar, jari-jarinya bergerak liar di atas keyboard. Wajahnya memucat, keringat dingin mulai membasahi pelipis.
“Mereka mencoba menguras dana utama perusahaan,” katanya dengan nada tegas. “Jumlahnya bukan main—jika berhasil, kita bisa kehilangan separuh modal operasional dalam hitungan menit.”
Arsen melangkah mendekat, berdiri di belakang Seno. “Blokir segera.”
“Aku sedang berusaha,” Seno mendesis, matanya terpaku pada deretan kode yang berlari di layar. “Tapi mereka bergerak cepat. Lebih cepat dari yang kubayangkan.”
---
Alena berdiri di samping Arsen, menatap layar yang penuh dengan kode rumit meski ia tak mengerti sepenuhnya. Namun hatinya berdegup kencang, seolah ikut merasakan ancaman yang sedang berlangsung. “Apa tidak ada cara lain?” tanyanya dengan suara cemas.
Seno menggertakkan giginya. “Ada, tapi itu berisiko. Aku harus masuk ke dalam sistem mereka untuk menghentikan serangan dari sumbernya. Kalau gagal, alamat IP kita bisa terbuka, dan mereka bisa melacak lokasi kita.”
Rafael yang sejak tadi diam, kini angkat bicara. “Lakukan. Kita tidak punya pilihan lain. Lebih baik berisiko daripada hanya diam dan menunggu kehancuran.”
Arsen menatap Seno, lalu mengangguk mantap. “Lakukan. Aku akan menanggung semua risikonya.”
---
Seno mulai mengetik lebih cepat lagi. Waktu terasa berjalan lambat. Setiap detik begitu menegangkan. Hingga akhirnya, ia berseru. “Aku menemukan pintu masuk mereka!”
Jantung semua orang di ruangan itu ikut berdegup.
“Bagus,” Arsen mendekat, suaranya tenang tapi penuh ketegangan. “Masuk dan hancurkan dari dalam.”
Seno mengetik kode terakhir, lalu layar berubah. “Aku berhasil masuk. Sekarang aku akan—”
Tiba-tiba layar berkedip, muncul sebuah pesan yang membuat semua orang terpaku.
“Kami tahu siapa yang kau lindungi. Ini baru permulaan.”
Alena tertegun. “Apa… maksudnya?”
Arsen meraih mouse, matanya menyipit. “Mereka bukan hanya mengincar perusahaan. Mereka mengincar orang-orang di sekelilingku.”
Tatapannya sejenak beralih ke arah Alena, begitu dalam hingga membuat gadis itu terdiam.
---
Rafael mendekat, suaranya berat. “Ini peringatan. Mereka ingin kau lengah. Mereka tahu kelemahanmu, Arsen.”
Arsen tidak menjawab. Matanya tetap terpaku pada layar, rahangnya mengeras. Namun dalam hati, ia tahu Rafael benar. Alena, Dinda, bahkan Seno dan Rafael sendiri—mereka semua kini menjadi target.
Seno kembali fokus, mengetik cepat. “Aku sudah pasang firewall baru. Untuk sementara, serangan berhasil dihentikan. Tapi pesan itu jelas, Arsen. Mereka akan datang lagi.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Hanya terdengar bunyi detik jam yang terus berjalan, seakan menghitung mundur menuju sesuatu yang lebih besar.
---
Alena melangkah pelan mendekati Arsen. “Kau tidak perlu menanggung semua ini sendirian. Aku… di sini.”
Arsen menoleh, menatap matanya lama sekali, seolah mencoba mencari jawaban yang selama ini ia hindari. Bibirnya bergerak, nyaris mengucapkan sesuatu, tapi terhenti.
Rafael memecah keheningan. “Kita harus siapkan strategi baru. Bastian, Surya, dan siapa pun yang berada di belakang ini tidak akan berhenti. Kalau perlu, kita balik menyerang.”
Arsen akhirnya bersuara. “Ya. Aku tidak akan menunggu mereka datang. Aku yang akan mencari mereka.”
---
Ketegangan mulai mereda sedikit, tapi hati Alena justru semakin resah. Ia tahu, langkah yang akan diambil Arsen penuh risiko. Namun ia juga tahu, tatapan Arsen barusan—tatapan yang dalam, panas, dan tak terucapkan—telah mengikatnya lebih jauh ke dalam dunia yang penuh bahaya ini.
Saat semua orang bersiap dengan rencana baru, Alena menyadari satu hal: bukan hanya perusahaan yang sedang dipertaruhkan, tapi juga hatinya.
Dan tatapan sang CEO itu—tatapan yang membingungkan sekaligus menawan—telah mengubah segalanya.
---