Bagian 1
Malam itu kota seakan menelan semua cahaya. Hanya lampu-lampu jalan yang berdiri berjajar, menebarkan sinar kuning pucat, seolah menyaksikan pertarungan yang tak terlihat oleh mata biasa.
Arsen Digantara berdiri di depan jendela ruang kerjanya di lantai paling atas. Matanya menatap ke bawah, pada lalu lintas yang terus bergerak. Namun pikirannya melayang jauh, penuh dengan amarah yang ia tekan rapat di dadanya. Pesan ancaman yang muncul di sistem perusahaan masih melekat jelas di benaknya: Kami tahu siapa yang kau lindungi. Ini baru permulaan.
Ia menggenggam segelas bourbon, tapi tak sekalipun meneguknya. Cairan berwarna amber itu hanya bergetar, mengikuti detak tangannya yang penuh tekanan.
“Arsen.” Suara Rafael memecah kesunyian. Pria itu baru saja masuk, wajahnya serius namun penuh ketegasan. “Kau tidak bisa terus begini. Diam hanya akan membuat mereka semakin berani.”
Arsen menoleh perlahan, menatap pamannya dengan mata tajam. “Aku tahu. Tapi kali ini, semuanya berbeda. Mereka menyerang bukan hanya bisnisku, tapi orang-orang di sekelilingku.”
“Alena.” Rafael menyebut nama itu tanpa ragu, membuat Arsen terdiam sejenak.
Tatapan Arsen mengeras. “Ya. Mereka tahu tentang dia. Dan itu yang paling berbahaya.”
---
Sementara itu, di sisi lain kota, Alena duduk di ruang tamu apartemennya bersama Dinda. Kakaknya itu sibuk menyiapkan teh hangat, mencoba menenangkan adiknya yang sejak beberapa hari terakhir terlihat gelisah.
“Lena, kau tidak bisa terus seperti ini,” ujar Dinda lembut, meletakkan cangkir teh di meja. “Kalau ada yang mengganggu, kau harus bicara. Jangan memendam sendiri.”
Alena menghela napas panjang. “Aku… tidak tahu harus mulai dari mana. Semuanya begitu cepat. Kehidupan yang aku jalani sekarang terasa seperti pusaran badai.”
“Kau bicara tentang Arsen?”
Pertanyaan Dinda membuat Alena terdiam. Matanya menunduk, lalu dengan pelan ia mengangguk. “Ya. Tentangnya… dan juga tentang semua masalah yang mengikutinya.”
Dinda duduk di samping adiknya, menggenggam tangannya. “Kalau dia benar-benar mencintaimu, dia akan melindungimu. Tapi kau juga harus tahu, berada di samping pria seperti Arsen pasti penuh risiko. Kau siap?”
Alena menatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak bisa menjawab, karena hatinya sendiri masih diliputi kebingungan.
---
Di saat yang sama, Nadine Sasmita berdiri di balkon penthouse miliknya. Angin malam meniup rambut panjangnya, sementara bibirnya melengkung dengan senyum licik. Di tangannya ada sebuah ponsel, dengan pesan terenkripsi yang baru saja ia terima.
“Tahap pertama berhasil. Target sudah gelisah. Lanjutkan ke rencana berikutnya.”
Nadine tertawa pelan. “Arsen, kau terlalu percaya diri. Kau pikir aku hanya akan diam melihatmu bersama perempuan itu? Tidak. Kau akan menyesal telah menolak aku.”
---
Keesokan harinya, Seno Wijaya berdiri di ruang rapat bersama Arsen dan Rafael. Layar besar menampilkan data serangan cyber yang baru saja mereka hadapi.
“Ini bukan serangan amatiran,” jelas Seno. “Mereka menggunakan sistem berlapis, seolah tahu titik lemah kita. Ini kerja orang dalam.”
Arsen menyipitkan mata. “Orang dalam? Siapa yang berani mengkhianatiku?”
Rafael melipat tangan di d**a. “Pertanyaan yang tepat adalah: siapa yang paling diuntungkan dari kehancuranmu?”
Keheningan menyelimuti ruangan.
Seno menambahkan, “Aku mendeteksi pola serangan ini mirip dengan gaya Bastian. Tapi ada sesuatu yang lebih… personal. Seperti ada orang yang benar-benar ingin kau jatuh, Arsen.”
Arsen menegakkan tubuhnya. “Kalau begitu, aku akan membiarkan mereka datang. Dan ketika mereka datang, aku pastikan mereka tak akan pernah bisa kembali.”
---
Namun di balik kata-katanya yang penuh keyakinan, hati Arsen justru diliputi pergulatan yang lebih besar: antara dendam yang membara dan cinta yang mulai tumbuh pada Alena. Dua hal yang saling bertentangan, tapi sama-sama membakar jiwanya.
Dan pertarungan itu, ia tahu, bukan hanya akan terjadi di medan bisnis atau konspirasi. Pertarungan itu juga ada di dalam hatinya sendiri.
---
Bagian 2
Hari itu, suasana kantor pusat Digantara Corp terasa lebih tegang dari biasanya. Para karyawan bekerja dengan wajah menegang, seolah mereka pun bisa merasakan badai yang sedang mengintai di balik pintu kaca besar ruang CEO.
Arsen berjalan cepat menuju ruangannya, diikuti Seno yang membawa setumpuk berkas laporan. Tubuh Arsen tegak, matanya tajam, dan auranya membuat semua orang menundukkan kepala saat ia lewat. Namun di balik ketegasan itu, ada api yang semakin membakar.
“Data ini sudah aku kumpulkan semalaman,” ucap Seno ketika mereka masuk ke ruangan. Ia meletakkan berkas di meja, lalu menyalakan laptopnya. “Kau benar, ada kebocoran dari dalam. Dan orang itu bukan sembarangan staf.”
Arsen duduk di kursi kerjanya, menyilangkan tangan di depan d**a. “Siapa?”
Seno menelan ludah sebelum menjawab. “Rina Kusuma. Kepala Divisi Keuangan.”
Arsen mengetukkan jarinya di meja, matanya menyipit. “Rina? Dia sudah bekerja denganku lebih dari lima tahun. Mengapa tiba-tiba berkhianat?”
“Aku belum tahu motivasinya. Tapi transaksi mencurigakan atas namanya jelas tertangkap. Ada aliran dana ke rekening luar negeri yang terhubung dengan perusahaan bayangan. Semua bukti menunjuk padanya.”
Arsen menunduk sejenak, lalu bangkit berdiri dengan gerakan mendadak. Ia berjalan ke arah jendela besar, menatap langit Jakarta yang mendung. “Kalau memang dia berkhianat, dia harus menanggung akibatnya. Tidak ada tempat untuk pengkhianat di sisiku.”
---
Sementara itu, di apartemen Alena, suasana justru sangat berbeda. Alena baru saja selesai membantu Dinda menyiapkan makan siang. Aroma masakan memenuhi ruangan, menghadirkan kehangatan yang sederhana.
Namun, hati Alena tetap gelisah. Ponselnya bergetar berkali-kali, pesan dari nomor tak dikenal terus masuk.
“Kau pikir dia benar-benar mencintaimu? Dia hanya mempermainkanmu.”
“Arsen Digantara bukan pria yang bisa kau percayai. Hati-hati, Alena.”
“Pergilah sebelum semuanya terlambat.”
Alena menggenggam ponselnya erat, wajahnya pucat. Ia tidak tahu siapa yang mengirimkan pesan itu. Tapi ia yakin, seseorang sedang mencoba merusak hubungannya dengan Arsen.
Dinda memperhatikan ekspresi adiknya. “Ada apa, Lena?”
Alena buru-buru menyembunyikan ponsel di balik piring. “Tidak… tidak ada.”
“Jangan bohong,” Dinda menatapnya tajam. “Aku kakakmu. Aku tahu kau sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.”
Alena terdiam. Matanya basah. “Aku takut, Kak. Aku benar-benar takut. Seolah ada seseorang yang mengintai, yang ingin aku menjauh dari Arsen.”
Dinda menarik napas panjang, lalu memeluk adiknya. “Kau tidak sendirian, Lena. Jika Arsen benar-benar pria yang pantas, dia akan berdiri melawan semua ini. Tapi kau harus kuat.”
---
Di tempat lain, Nadine Sasmita sedang duduk di sebuah restoran mewah. Ia mengenakan gaun merah menyala, menarik perhatian banyak orang. Namun sorot matanya hanya tertuju pada satu sosok yang baru saja datang: seorang pria berjas abu-abu, dengan senyum penuh rahasia.
“Bastian.” Nadine menyapanya dengan suara rendah.
Pria itu duduk, menyalakan sebatang rokok, dan menghembuskan asap dengan santai. “Nadine. Aku dengar rencanamu berjalan lancar. Arsen mulai goyah, bukan?”
Nadine tersenyum licik. “Ya. Dia mungkin terlihat kuat di luar, tapi aku tahu di dalam hatinya dia sedang berperang. Aku hanya perlu menambahkan sedikit racun untuk membuatnya hancur.”
Bastian tertawa pendek. “Dan kau pikir setelah dia hancur, dia akan berlari padamu?”
“Ya. Karena dia tidak akan punya siapa pun selain aku.” Nadine meneguk anggurnya, tatapannya penuh keyakinan.
---
Kembali ke kantor Digantara Corp, Rafael masuk ke ruangan Arsen. Wajahnya serius, membawa kabar penting.
“Kita perlu bicara,” katanya sambil menutup pintu. “Aku mendapat laporan ada yang mengikuti Alena.”
Arsen langsung berdiri tegak. “Apa?”
“Ya. Seorang pria tak dikenal terlihat beberapa kali berada di sekitar apartemennya. Aku sudah menugaskan orang untuk berjaga, tapi ini tanda jelas bahwa musuh kita mulai bergerak ke arah personal.”
Arsen mengepalkan tangannya. “Itu berarti mereka sudah melampaui batas. Menyentuh Alena sama saja dengan menyalakan api dendamku. Aku tidak akan tinggal diam.”
Rafael menatap keponakannya dalam-dalam. “Ingat, Arsen. Kau harus hati-hati. Dendam bisa membutakan. Jangan sampai mereka memancingmu ke dalam perangkap.”
Arsen menoleh, matanya dingin. “Kalau ini perang, maka aku akan pastikan aku yang memegang kendali. Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti orang yang aku cintai.”
---
Di malam harinya, Arsen diam-diam datang ke apartemen Alena. Ia tidak memberi tahu siapa pun, bahkan Seno sekalipun.
Ketika Alena membuka pintu, wajahnya terkejut. “Arsen?”
Arsen masuk dengan langkah cepat, menutup pintu di belakangnya. “Aku dengar ada yang mengikutimu. Kau baik-baik saja?”
Alena menggigit bibir, lalu menunjukkan ponselnya. “Aku juga menerima pesan aneh. Seseorang ingin aku menjauh darimu.”
Arsen meraih ponsel itu, membaca pesan-pesan yang membuat nadinya berdenyut cepat. Matanya menyala penuh amarah. “Mereka pikir bisa menakut-nakutimu? Tidak akan aku biarkan.”
Alena menatapnya, matanya berkaca-kaca. “Arsen… aku takut. Aku tidak tahu harus bagaimana.”
Pria itu mendekat, memegang kedua bahunya dengan mantap. “Lena, dengar aku. Aku akan melindungimu. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu terluka.”
Air mata Alena jatuh, namun hatinya merasakan kehangatan dari kata-kata itu. Meski di luar sana ada badai yang siap menghancurkan, ia tahu ada satu pelindung yang selalu berdiri untuknya.
Namun, di balik pelukan itu, keduanya tidak sadar bahwa seseorang sedang mengamati mereka dari kejauhan. Sebuah kamera tersembunyi kecil menyorot dari gedung seberang, merekam setiap detik kedekatan mereka.
Dan di balik layar monitor, Nadine tersenyum puas. “Ya… teruslah jatuh, Alena. Karena semakin tinggi kau terbang bersamanya, semakin keras aku akan menjatuhkanmu.”
---
Bagian 3
Malam itu, langit Jakarta diguyur hujan deras. Jalanan tampak berkilauan oleh lampu kota yang terpantul dari aspal basah. Suasana yang muram itu seakan selaras dengan hati Arsen Digantara.
Ia duduk di ruang kerjanya, hanya ditemani suara tetesan hujan di kaca jendela. Di hadapannya, tumpukan berkas terbuka, penuh bukti transaksi mencurigakan yang dilakukan Rina Kusuma. Namun pikirannya tidak fokus pada angka-angka itu. Bayangan Alena yang ketakutan akibat pesan ancaman terus menghantui benaknya.
Seno mengetuk pintu lalu masuk dengan wajah serius. “Aku sudah mengusut lebih jauh. Ada koneksi antara transaksi Rina dengan perusahaan yang dipimpin oleh Bastian.”
Arsen mengangkat wajahnya, matanya langsung menyipit. “Bastian Wijaya?”
“Ya,” jawab Seno mantap. “Dia bukan hanya kompetitor bisnis. Dia ada di balik semua ini. Dan aku yakin, dia bekerja sama dengan seseorang yang punya dendam pribadi padamu.”
Arsen berdiri, rahangnya mengeras. “Nadine.”
Seno terdiam, lalu mengangguk pelan. “Semua petunjuk mengarah ke sana. Nadine terlalu aktif bergerak di luar jalur, terlalu sering muncul di lingkaran yang seharusnya bukan urusannya.”
Arsen berjalan ke jendela, menatap derasnya hujan. “Kalau benar mereka berdua bersatu… maka ini lebih berbahaya dari yang aku duga. Nadine tidak hanya ingin menjatuhkan Alena, tapi juga menginjak harga diriku.”
---
Di sisi lain, Alena sedang duduk di ruang tamu apartemennya. Dinda menatapnya khawatir.
“Lena, aku tahu kau sedang bingung. Tapi jangan biarkan ketakutan menguasaimu.”
Alena menghela napas panjang. “Aku hanya tidak mengerti, Kak. Kenapa semua orang seakan menentang hubunganku dengan Arsen? Kenapa selalu ada yang mencoba memisahkan kami?”
Dinda menyentuh tangan adiknya. “Karena Arsen bukan pria biasa. Dia CEO, dia punya musuh, dia punya bayangan masa lalu. Dan ketika kau memilih untuk ada di sisinya, kau otomatis masuk ke dunia itu. Dunia yang keras.”
Alena menunduk, matanya berkaca-kaca. “Aku mencintainya, Kak. Tapi aku takut. Aku takut kehilangan segalanya.”
Dinda tersenyum pahit. “Cinta itu memang pertaruhan, Lena. Kau harus siap terluka. Tapi kalau kau menyerah sekarang, kau mungkin akan menyesal seumur hidup.”
---
Keesokan harinya, Rafael mengajak Arsen bertemu di sebuah villa tua di pinggiran kota. Udara dingin bercampur dengan aroma tanah basah selepas hujan.
“Kenapa di sini?” tanya Arsen begitu turun dari mobil.
Rafael menepuk bahu keponakannya. “Tempat ini lebih aman untuk bicara. Kita tidak tahu sejauh mana lawan kita bisa menyusup.”
Mereka duduk di ruang tamu villa itu. Rafael menyalakan rokok, lalu berkata, “Arsen, dengarkan aku baik-baik. Kau terlalu emosional akhir-akhir ini. Itu berbahaya.”
“Aku hanya ingin melindungi Alena,” jawab Arsen tegas.
“Aku tahu.” Rafael menatapnya dalam. “Tapi musuhmu tahu kelemahanmu. Mereka tahu kau akan melakukan apa saja demi Alena. Dan mereka akan menggunakan itu untuk menghancurkanmu.”
Arsen mengepalkan tinjunya. “Aku tidak bisa membiarkan mereka mendekatinya.”
Rafael tersenyum tipis. “Itulah masalahnya. Kau terlalu terpaku pada perlindungan, tapi lupa bahwa kau juga harus menyerang. Kau harus lebih cerdas dari mereka.”
---
Di tempat lain, Nadine sedang menatap layar laptopnya. Video rekaman kedekatan Arsen dan Alena di apartemen semalam terputar berulang kali. Senyum puas terukir di bibirnya.
“Lihatlah,” gumamnya pelan. “Semakin mereka terlihat mesra, semakin mudah bagiku untuk menjatuhkan mereka.”
Bastian yang duduk di seberangnya hanya terkekeh. “Kau benar-benar terobsesi, Nadine. Apa kau yakin Arsen akan memilihmu setelah semua ini?”
Nadine menatap Bastian dengan mata membara. “Arsen adalah milikku. Dia hanya tersesat untuk sementara. Aku akan pastikan Alena hancur, dan saat itu tiba, Arsen tidak akan punya pilihan selain kembali padaku.”
Bastian mengangkat gelasnya. “Baiklah. Kalau begitu, mari kita buat permainan ini semakin menarik.”
---
Sementara itu, Arsen kembali ke kantornya dengan wajah muram. Seno menghampirinya membawa kabar baru.
“Ada pertemuan investor malam ini. Mereka ingin memastikan posisimu tetap kuat setelah rumor kebocoran keuangan.”
Arsen menarik napas panjang. “Baik. Siapkan semuanya.”
Namun, di balik pikirannya yang sibuk dengan bisnis, bayangan Alena tetap menghantui. Ia tahu musuh-musuhnya tidak hanya menyerang perusahaan, tapi juga hatinya.
Malam itu, saat pertemuan berlangsung, Arsen berdiri dengan penuh wibawa di hadapan para investor. Kata-katanya tegas, penuh keyakinan. Ia meyakinkan mereka bahwa Digantara Corp tetap kokoh, bahwa dirinya masih pemimpin yang bisa dipercaya.
Namun di luar gedung, seseorang sedang menyebarkan video kedekatannya dengan Alena. Video itu dipotong sedemikian rupa hingga terlihat seolah hubungan mereka penuh dengan rahasia kotor.
Media sosial pun mulai heboh. Judul-judul berita sensasional bermunculan:
“CEO Digantara Corp Tersandung Skandal Asmara.”
“Siapa Wanita di Balik Arsen Digantara?”
“Cinta atau Strategi: Benarkah Alena Prameswari Hanya Pion?”
---
Keesokan paginya, Alena terkejut ketika melihat dirinya menjadi topik utama di berbagai portal berita. Ia gemetar, wajahnya pucat.
“Arsen…” bisiknya lirih, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dinda yang melihat berita itu langsung mendesah kesal. “Ini jelas kerjaan orang dalam. Ada yang sengaja menjatuhkanmu dan Arsen.”
Saat itu, pintu apartemen diketuk keras. Ketika dibuka, ternyata Arsen berdiri di sana dengan wajah muram.
“Lena, ikut aku sekarang,” ucapnya singkat.
Alena menatapnya bingung. “Arsen, aku—”
“Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ikut aku.”
Dengan langkah tegas, Arsen menggenggam tangan Alena, membawanya pergi.
Mereka melaju dengan mobil hitam menuju sebuah rumah besar di luar kota. Tempat itu sunyi, tersembunyi, jauh dari hiruk pikuk kota.
“Di sini kau aman,” kata Arsen ketika mereka masuk. “Tidak ada yang bisa mencapaimu.”
Alena menatapnya, air matanya jatuh. “Arsen… semua ini terlalu berat untukku.”
Arsen meraih wajahnya, menatap dalam ke mata Alena. “Aku tahu. Tapi dengarkan aku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita. Apa pun yang terjadi, kau tetap milikku.”
Kata-kata itu membuat hati Alena bergetar. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu pertarungan ini baru saja dimulai.
Dan di luar sana, Nadine tersenyum puas, menyadari bahwa jaringannya semakin erat mengurung mereka.
---
Bagian 4
Rumah besar yang disiapkan Arsen untuk Alena berada di pinggir hutan kecil. Bangunannya megah, namun kesunyian di sekelilingnya justru menimbulkan rasa asing. Malam itu, suara jangkrik dan desir angin menjadi latar, seolah menyembunyikan ketegangan yang mengintai.
Alena berdiri di balkon lantai dua, menatap bulan separuh yang redup. Pikirannya kalut. Ia mencintai Arsen, tapi pusaran konflik ini semakin menyesakkan. Seolah cinta mereka bukanlah anugerah, melainkan medan perang.
“Lena,” suara Arsen terdengar dari belakang. Ia baru saja selesai menelpon Seno. “Kau masih terjaga?”
Alena menoleh, tersenyum tipis. “Bagaimana aku bisa tidur, Arsen? Setiap hari ada ancaman baru. Aku merasa hidupku berubah menjadi drama tanpa akhir.”
Arsen menghampirinya, memeluk bahu Alena. “Aku berjanji, semua ini akan segera berakhir. Percayalah padaku.”
Namun janji itu tak mampu menghapus ketakutan di hati Alena.
---
Keesokan paginya, Seno tiba membawa kabar buruk. “Arsen, keadaan semakin kacau. Media menggiring opini kalau Alena adalah wanita simpananmu yang digunakan untuk menutup masalah keuangan perusahaan.”
Arsen mengepalkan tangannya di meja. “Sampah! Itu semua fitnah.”
Seno mengangguk. “Aku tahu. Tapi investor mulai goyah. Jika kau tidak segera memberi klarifikasi, Digantara Corp bisa jatuh dalam waktu dekat.”
Alena yang mendengar itu semakin pucat. “Aku… aku jadi beban untukmu, Arsen.”
Arsen menoleh tajam padanya. “Jangan pernah berkata begitu. Kau bukan beban, Lena. Kau alasanku untuk bertahan.”
Namun Seno tahu, masalah ini tak bisa hanya diselesaikan dengan janji dan cinta. Musuh mereka sudah terlalu lihai.
---
Sementara itu, Nadine duduk di sebuah restoran mewah, ditemani Bastian. Di depannya, layar ponsel menampilkan berita terbaru tentang skandal Arsen.
“Lihat? Publik sudah mulai meragukan dia,” kata Nadine sambil tersenyum licik. “Langkah kita berhasil.”
Bastian menyesap minumannya. “Ya, tapi jangan terlalu cepat puas. Arsen bukan orang yang mudah tumbang. Dia akan melawan.”
“Itu justru yang kuinginkan,” jawab Nadine. “Semakin dia berusaha mempertahankan Alena, semakin hancur citranya. Aku akan buat dia memilih: kekuasaan atau cintanya.”
---
Hari berikutnya, Rafael menemui Arsen di rumah persembunyian.
“Arsen, aku sudah hidup lebih lama darimu. Aku tahu saat-saat seperti ini bisa membutakanmu,” ujar Rafael sambil menyalakan cerutunya. “Musuhmu tidak hanya ingin menghancurkan bisnismu. Mereka ingin merobek hatimu.”
Arsen menatap pamannya dengan mata berapi. “Aku tidak peduli berapa banyak yang harus kukorbankan. Selama Alena tetap di sisiku, aku akan melawan.”
Rafael menghela napas panjang. “Itulah yang kutakutkan. Kau rela hancur demi cinta. Tapi ingat, kalau kau tumbang, bukan hanya kau yang binasa. Alena juga akan terseret.”
Alena yang mendengarkan dari balik pintu menggigit bibirnya. Kata-kata Rafael menusuk hatinya. Ia mulai bertanya-tanya: apakah cintanya untuk Arsen justru membawa kehancuran?
---
Malam itu, di ruang kerja, Arsen dan Seno membedah dokumen-dokumen transaksi mencurigakan.
“Bastian mencuci uang lewat proyek fiktif,” jelas Seno. “Dan aku yakin Rina adalah kunci untuk membuka semuanya.”
Arsen menatap layar komputer dengan penuh konsentrasi. “Kalau kita bisa buktikan keterlibatannya, reputasi Bastian akan runtuh. Dan Nadine akan kehilangan pijakan.”
Namun tiba-tiba, telepon Seno berdering. Ia mengangkatnya, lalu wajahnya langsung berubah.
“Arsen… kau harus dengar ini.”
Suara dari seberang terdengar jelas: “Kami sudah menangkap Alena. Kalau kau ingin dia tetap hidup, datang sendiri tanpa pengawalan. Lokasi akan kami kirimkan.”
Arsen langsung berdiri, wajahnya pucat. “Apa?!”
Seno mencoba menahan. “Arsen, ini jelas jebakan. Jangan gegabah!”
Namun Arsen tidak peduli. Hatinya seakan terbakar. Ia tahu inilah saat yang menentukan.
---
Di sebuah gudang tua di pinggiran kota, Alena duduk terikat di kursi, wajahnya pucat ketakutan. Nadine berjalan mendekat, menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
“Kau tahu, Alena? Seharusnya sejak awal kau tidak pernah masuk ke dalam hidup Arsen,” ucap Nadine dingin. “Semua ini adalah dunia milikku. Dan aku tidak akan biarkan kau merebutnya.”
Alena menatap balik dengan mata berair. “Cinta bukan sesuatu yang bisa kau paksakan, Nadine. Kalau Arsen mencintaimu, dia tidak akan pernah memilihku.”
Tamparan keras mendarat di pipi Alena. Nadine gemetar karena amarah. “Diam! Kau tidak tahu apa pun tentang cinta.”
Di sudut ruangan, Bastian hanya tertawa kecil, menikmati pemandangan itu. “Sepertinya pertunjukan akan segera dimulai.”
---
Malam semakin larut. Arsen melaju dengan mobil hitamnya, sendirian. Matanya penuh bara dendam, tapi juga dipenuhi ketakutan kehilangan Alena.
Di belakangnya, Seno sebenarnya sudah menyiapkan rencana cadangan. Ia tidak akan membiarkan sahabatnya masuk ke perangkap sendirian.
Pertarungan hati dan dendam sudah mencapai puncaknya. Dan malam itu, segala sesuatu bisa hancur dalam sekejap.
---
Bagian 5
Gudang tua di pinggiran kota itu remang, bau karat dan debu bercampur dengan aroma bensin yang menyesakkan d**a. Lampu gantung berayun pelan, menebarkan cahaya temaram yang seakan mengintip tragedi yang akan segera terjadi.
Alena duduk terikat di kursi kayu, pergelangan tangannya perih karena tali kasar yang mengekang. Nadine berdiri di depannya, gaun hitamnya berkilau samar diterpa cahaya lampu. Tatapannya penuh api, bukan sekadar cemburu, tapi dendam yang telah lama mengakar.
“Aku sudah menunggu saat ini,” bisik Nadine, suaranya bergetar di antara amarah dan kepuasan. “Arsen akan datang. Dan dia akan melihat sendiri bagaimana aku menghancurkanmu.”
Alena mencoba menegakkan kepalanya, meski tubuhnya lemah. “Kalau kau pikir menghancurkanku akan membuat Arsen memilihmu, kau salah besar. Cinta tidak tumbuh dari ancaman, Nadine.”
Sekali lagi tamparan mendarat di wajah Alena, membuat bibirnya berdarah. Namun Alena tetap menatap Nadine dengan sorot yang teguh. Justru tatapan itu yang semakin membakar amarah rivalnya.
---
Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil terdengar di luar. Pintu besi berderit keras saat didorong terbuka. Arsen melangkah masuk, tubuh tegak, mata menyala penuh murka.
“Lepaskan dia, Nadine!” serunya lantang, suaranya menggema di ruangan kosong.
Nadine tersenyum miring. “Akhirnya kau datang. Aku tahu kau akan memilihnya daripada segalanya.”
Arsen maju, tapi Bastian menghadangnya. “Tidak semudah itu, Arsen. Kau tahu aturan permainan ini. Satu langkah salah, nyawa Alena jadi taruhannya.”
Arsen mengepalkan tangan. “Kau pengecut, Bastian. Beraninya kau menyentuh seorang wanita untuk melukai aku.”
Bastian hanya tertawa dingin. “Inilah permainan yang kau mulai. Dan sekarang, mari kita lihat siapa yang akan bertahan sampai akhir.”
---
Seno, yang ternyata mengikuti dari kejauhan, menyelinap masuk lewat pintu belakang. Senjata kecil sudah siap di tangannya, meski wajahnya tegang. Ia tahu sekali langkahnya bisa menentukan segalanya.
Rafael pun muncul beberapa saat kemudian, dengan napas terengah. Ia menatap keponakannya dari kejauhan, lalu berbisik pada dirinya sendiri, “Anak itu nekat. Tapi darah Digantara memang tak pernah menyerah begitu saja.”
---
Ketegangan memuncak ketika Nadine menodongkan pistol ke arah Alena. Tangannya gemetar, bukan hanya karena kebencian, tapi juga karena konflik batin yang tak mampu ia redam.
“Kalau aku tak bisa memilikinya, maka kau juga tidak akan memilikinya, Alena!” teriak Nadine dengan suara parau.
“Jangan lakukan itu, Nadine!” Arsen berteriak, langkahnya maju meski ditahan Bastian. “Kalau kau menarik pelatuk itu, kau bukan hanya menghancurkan hidup Alena, tapi juga dirimu sendiri.”
Air mata menetes di pipi Nadine. Untuk pertama kalinya, kebencian itu tampak rapuh. Namun jari-jarinya tetap menekan pelatuk, meski ragu.
Dalam sepersekian detik yang menegangkan, suara letusan pistol meledak memecah keheningan.
---
Namun bukan Alena yang terjatuh. Pistol Nadine terlempar ketika Seno berhasil menembak tangan Nadine dari samping. Wanita itu menjerit, tubuhnya terhuyung, sementara Arsen langsung berlari ke arah Alena, melepaskan ikatan di tangannya.
“Lena! Kau baik-baik saja?” tanya Arsen dengan napas terburu.
Alena hanya mengangguk lemah, air matanya mengalir deras. Ia tak peduli pada rasa sakit di tubuhnya, yang ia pedulikan hanyalah kehadiran Arsen di sisinya.
Bastian mencoba melarikan diri, namun Rafael menghadangnya di pintu. “Kau pikir bisa kabur setelah semua ini?” ucap Rafael dingin, lalu menjatuhkan pria itu dengan satu hantaman keras.
---
Nadine jatuh terduduk, menatap Alena dan Arsen yang berpelukan. Matanya dipenuhi kebencian, tapi di balik itu ada luka yang dalam. “Kenapa… kenapa bukan aku yang dia cintai?” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Arsen menatapnya sejenak, lalu berkata dengan nada dingin. “Karena cinta tidak bisa dipaksakan, Nadine. Kau sudah terlalu jauh.”
Nadine menunduk, air matanya akhirnya pecah. Di saat itu, dendam yang selama ini menguasainya runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
---
Ketika polisi datang menjemput Nadine dan Bastian, malam terasa begitu panjang. Namun bagi Arsen dan Alena, ada secercah kelegaan di tengah luka. Mereka tahu, ini bukan akhir dari segalanya, tapi setidaknya mereka selamat melewati badai besar malam itu.
Seno menepuk bahu Arsen. “Kau beruntung aku tidak membiarkanmu gegabah sendirian.”
Arsen menoleh, tersenyum samar. “Aku berhutang nyawa padamu, Seno.”
Alena menggenggam tangan Arsen erat. “Yang penting kita masih bersama.”
Di balik tatapan penuh cinta itu, masih ada bayang-bayang ancaman. Namun malam ini, mereka memilih untuk saling menggenggam, seakan tak ada yang bisa memisahkan lagi.
---