Bagian 1
Malam pesta telah usai, meninggalkan sisa-sisa cahaya lampu kristal yang kini padam dan lantai dansa yang kosong. Namun, ketegangan yang terjadi di dalam ballroom tidak ikut padam bersama musik. Justru, benih-benih konflik semakin berakar, mengikat semua orang dalam lingkaran intrik yang lebih dalam.
Arsen duduk di ruang kerjanya yang sepi, tatapannya tajam menembus layar laptop yang dipenuhi laporan keuangan. Seno berdiri di sisinya, menyerahkan rekaman dari pertemuan rahasia Davin dengan investor asing.
“Semua ada di sini, Bos,” ucap Seno serius. “Jika ini diserahkan ke pihak berwenang atau media, nama Davin akan hancur dalam semalam. Tapi…”
“Tapi apa?” Arsen mengangkat kepalanya, menatap sahabat sekaligus tangan kanannya itu.
Seno menarik napas. “Kalau kita gunakan bukti ini sekarang, dia akan tahu kita sudah memata-matainya. Itu bisa memicu langkah yang lebih berbahaya. Kita belum tahu seberapa besar kekuatan yang ada di belakangnya.”
Arsen terdiam sejenak. Pikirannya berputar cepat. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan hati-hati. Sekali saja ia salah, bukan hanya dirinya yang hancur, tapi juga orang-orang yang ingin ia lindungi—terutama Alena.
“Untuk saat ini, kita tahan dulu,” ucap Arsen akhirnya. “Aku ingin tahu sejauh mana dia berani melangkah.”
---
Sementara itu, Alena duduk di balkon kamarnya. Angin malam menerpa wajahnya, membawa rasa dingin yang tak bisa mengalahkan kegelisahan dalam hatinya. Ingatannya kembali pada ucapan Davin di pesta tadi: Apakah Arsen bisa melindungi orang yang paling dekat dengannya?
Hatinya bimbang. Ia percaya pada Arsen, tapi di sisi lain, bayangan pengkhianatan selalu menghantuinya. Ia terlalu sering melihat bagaimana orang terdekat bisa berubah menjadi duri yang menusuk diam-diam.
Dinda masuk pelan, membawa dua cangkir teh hangat. “Aku tahu kau belum bisa tidur.”
Alena menoleh, tersenyum tipis. “Kak, apa menurutmu aku terlalu naif karena percaya pada Arsen?”
Dinda duduk di sampingnya, menatap langit malam. “Kepercayaan itu memang selalu terasa seperti perjudian. Kau bisa menang besar, atau hancur sepenuhnya. Tapi, aku melihat sesuatu pada Arsen… sesuatu yang membuatku yakin dia bukan pria biasa. Dia rela menanggung apa saja, demi orang yang ia cintai.”
Alena terdiam. Kata-kata kakaknya seperti menyalakan bara kecil di hatinya. Tapi rasa takut masih ada, menunggu saat yang tepat untuk meledak.
---
Di tempat lain, Nadine berbicara lewat telepon dengan seseorang yang suaranya samar. Senyumnya penuh kemenangan.
“Arsen mulai goyah. Alena adalah kuncinya. Jika dia terus berada di samping Arsen, cepat atau lambat, akan ada celah yang bisa kita gunakan. Dan saat itu terjadi, bukan hanya Alena yang akan jatuh, tapi juga kerajaan bisnis Digantara.”
Nadine menutup telepon dengan tawa kecil, matanya berbinar penuh dendam.
---
Keesokan harinya, Rafael menemui Arsen di ruang kerjanya. Pria paruh baya itu membawa setumpuk dokumen.
“Kau harus berhati-hati, Arsen. Aku tahu kau ingin melindungi Alena dengan segala cara, tapi musuhmu tidak akan segan-segan menyerang titik terlemahmu. Dan percayalah, yang paling rapuh bukan bisnis ini… tapi hati perempuan yang kau cintai.”
Arsen menatap pamannya lekat-lekat. “Justru karena itu, aku harus memastikan dia tidak pernah merasa sendirian. Jika aku harus melawan dunia, biarlah. Asal Alena tetap berdiri di sisiku.”
Rafael menghela napas panjang. Ia tahu tekad keponakannya begitu keras. Tapi ia juga tahu, semakin keras hati seseorang, semakin besar pula luka yang bisa menghancurkannya saat pengkhianatan benar-benar datang.
---
Di balik ketegangan itu semua, langkah-langkah Davin semakin cepat. Ia menyusun strategi untuk menjatuhkan Arsen, sambil menunggu waktu yang tepat untuk menusukkan belati kepercayaan yang telah ia rusak. Malam pesta hanyalah awal—permainan sesungguhnya baru saja dimulai.
---
Bagian 2
Pagi itu, suasana kantor Digantara Corp terasa berbeda. Biasanya penuh semangat dan hiruk pikuk pekerjaan, kini ada ketegangan yang samar menyelimuti setiap sudut. Para karyawan saling berbisik, membicarakan rumor yang beredar sejak malam pesta.
Arsen berjalan melewati lorong panjang menuju ruang rapat utama. Aura dinginnya membuat semua orang terdiam. Di belakangnya, Seno membawa berkas-berkas penting. Ia bisa merasakan bahwa hari ini akan menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan perusahaan.
Begitu pintu ruang rapat terbuka, semua mata tertuju pada Arsen. Para dewan direksi sudah duduk rapi, dan di ujung meja, Nadine sudah hadir lebih dulu, tersenyum penuh percaya diri.
“Selamat pagi, Tuan Digantara,” sapanya dengan nada manis tapi menusuk.
Arsen hanya menanggapinya dengan anggukan dingin, lalu duduk di kursi pimpinan. “Kita mulai rapat sekarang.”
---
Rapat berlangsung sengit. Arsen memaparkan strategi ekspansi terbaru Digantara Corp, dengan detail yang teliti. Namun, Nadine berulang kali memotong pembicaraan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam seolah ingin menjatuhkan reputasi Arsen di depan dewan.
“Bukankah terlalu berisiko untuk memperluas pasar ke luar negeri sekarang? Mengingat isu finansial yang belum jelas,” ucap Nadine sambil menatap dewan direksi.
Arsen tetap tenang. “Risiko selalu ada dalam bisnis. Tapi risikonya bisa diminimalkan dengan strategi yang tepat. Dan aku sudah menyiapkan langkah cadangan.”
Namun, meski jawabannya logis, Arsen tahu permainan Nadine bukan soal bisnis. Nadine ingin menggoyahkan kepercayaan para petinggi perusahaan terhadap dirinya. Dan sayangnya, beberapa dari mereka mulai terlihat ragu.
---
Di sisi lain, Alena duduk di ruangannya sendiri, mencoba fokus pada pekerjaannya. Namun hatinya gelisah. Ia tahu Arsen sedang menghadapi tekanan besar. Ia ingin berada di sisinya, tapi ia juga sadar, kehadirannya justru bisa menjadi titik lemah.
Dinda masuk, membawa beberapa dokumen. “Kau tidak bisa terus-terusan khawatir, Alena. Arsen tahu bagaimana menghadapi semua ini.”
“Aku tahu, Kak,” jawab Alena lirih. “Tapi aku merasa… ada sesuatu yang lebih besar sedang disiapkan oleh mereka. Seperti badai yang mendekat.”
Dinda menatap adiknya dengan prihatin. “Kalau begitu, satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah tetap berdiri di sisinya. Jangan biarkan keraguanmu membuatnya jatuh.”
---
Sementara itu, di ruang rapat, pertarungan kata-kata semakin panas. Nadine tersenyum licik saat menyodorkan dokumen yang tiba-tiba membuat suasana menjadi kacau.
“Kalau begitu, bagaimana Anda menjelaskan laporan keuangan ini? Ada transaksi mencurigakan yang tidak tercatat dalam laporan resmi.”
Para dewan langsung bersuara, beberapa bahkan menunjukkan ekspresi terkejut. Arsen menatap dokumen itu dengan mata tajam. Ia tahu ini ulah Davin—skenario yang sudah disusun rapi untuk merusak reputasinya.
Seno berbisik pelan di telinganya, “Kita bisa bantah sekarang, tapi akan terlihat defensif. Atau kita diam dan biarkan mereka berpikir.”
Arsen mengangkat tangannya, menenangkan ruangan. “Aku tidak perlu menjelaskan hal yang belum jelas kebenarannya. Tapi aku janji, dalam waktu dekat, semua ini akan terbukti sebagai rekayasa.”
Nadine hanya tersenyum puas. Ia tahu benih keraguan sudah tertanam di pikiran dewan direksi. Itu lebih berbahaya daripada serangan langsung.
---
Setelah rapat usai, Arsen berdiri di balkon lantai atas gedung, menatap jauh ke horizon. Angin kencang menerpa wajahnya, seolah mengingatkannya bahwa badai benar-benar mendekat.
Seno berdiri di sampingnya. “Apa langkah kita berikutnya?”
Arsen mengepalkan tangannya. “Aku harus melindungi dua hal: perusahaanku, dan Alena. Jika harus melawan pengkhianatan dari dalam sekalipun, aku tidak akan mundur.”
---
Di sisi lain kota, Davin menatap layar laptopnya yang menampilkan rekaman rapat Digantara Corp. Senyumnya melebar.
“Bagus. Perlahan, tapi pasti, Arsen akan kehilangan kepercayaan dari dalam. Dan saat dia sibuk mempertahankan tahtanya, aku akan merebut sesuatu yang lebih berharga darinya—Alena.”
Suasana sunyi, hanya suara tawa dingin Davin yang terdengar, bergema di ruangannya yang remang.
---
Bagian 3
Malam itu, suasana kota terasa lebih dingin dari biasanya. Arsen berdiri di ruang kerjanya yang luas, menatap jendela kaca besar dengan lampu-lampu kota berkelip di kejauhan. Bayangannya sendiri memantul samar, seolah mengingatkannya pada sosok yang sedang terjebak di persimpangan: seorang pemimpin yang kuat di luar, tapi dihantam badai di dalam.
Seno datang membawa setumpuk berkas investigasi. “Ini laporan terbaru yang kita dapatkan dari tim keamanan internal. Beberapa transaksi memang sengaja dipalsukan. Kita punya bukti, tapi belum cukup kuat untuk disampaikan ke dewan.”
Arsen menoleh. Tatapannya tajam, tapi suaranya tetap tenang. “Kita harus menemukan siapa yang menanamkan dokumen itu. Aku tidak peduli berapa lama, asal jelas siapa pengkhianatnya.”
Seno mengangguk. “Aku akan kerahkan orang-orang kepercayaanku. Tapi kau tahu, Arsen, permainan ini bukan sekadar soal bisnis. Nadine, Davin… mereka menyerang lewat jalur terlemah—hati manusia. Kau harus hati-hati dengan Alena.”
Nama itu membuat d**a Arsen bergetar. Ia diam sejenak, menimbang kata-kata sahabatnya. “Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhnya,” jawabnya mantap.
---
Sementara itu, Alena sedang duduk di kamar apartemennya. Lampu temaram menyinari wajahnya yang tampak lelah. Ia memegang ponselnya, menatap pesan singkat dari nomor tak dikenal:
"Alena, apa kau benar-benar percaya pada Arsen? Atau kau hanya salah satu permainan yang dia jalankan?"
Pesan itu membuat tangannya bergetar. Ia tahu seseorang sedang berusaha mengguncang kepercayaannya. Tapi siapa? Nadine? Atau orang lain?
Saat itulah Dinda masuk, membawa dua cangkir teh hangat. “Kau kelihatan gelisah lagi. Apa ada masalah?”
Alena buru-buru menyembunyikan ponselnya. “Tidak, Kak. Aku hanya… lelah.”
Dinda menatapnya lekat. Ia tahu adiknya menyembunyikan sesuatu. “Kalau kau tidak percaya pada Arsen, lebih baik katakan terus terang. Jangan biarkan dirimu digantung dalam keraguan.”
Alena terdiam. Dalam hatinya, ia percaya pada Arsen. Tapi pesan itu menusuk, menumbuhkan bayangan kecil di pikirannya.
---
Di tempat lain, Rafael Digantara sedang berbicara dengan seseorang di sebuah ruangan pribadi. Wajahnya serius, dan suaranya rendah namun tegas.
“Kau yakin laporan itu benar-benar palsu?” tanyanya.
Pria di depannya mengangguk. “Ya, Tuan Rafael. Semua ini direkayasa. Tapi tampaknya ada orang dalam yang terlibat. Sulit untuk mengungkap tanpa menimbulkan kecurigaan.”
Rafael menghela napas berat. “Arsen harus tahu ini. Aku tidak bisa membiarkan keponakanku dihancurkan oleh permainan kotor mereka.”
Namun, di dalam dirinya, Rafael juga sadar: semakin besar ia melindungi Arsen, semakin besar pula risiko rahasia keluarganya terbongkar. Rahasia yang bisa mengubah segalanya.
---
Di sisi lain, Nadine berdiri di balkon hotel mewah, menyesap segelas anggur merah. Davin duduk di kursi belakangnya, santai seperti predator yang menunggu saat tepat untuk menyerang.
“Kau sudah lihat rapat tadi? Ekspresi Arsen sangat berharga,” ujar Nadine dengan senyum puas.
Davin tertawa ringan. “Itu baru permulaan. Kau goyahkan kepercayaannya di dalam perusahaan, dan aku akan goyahkan kepercayaan Alena terhadapnya. Begitu keduanya runtuh, Arsen tidak akan punya apa-apa lagi.”
Nadine menoleh, menatap Davin. “Dan setelah itu?”
“Setelah itu,” Davin menyeringai, “aku akan mengambil tempatnya—baik di tahta bisnis, maupun di hati Alena.”
Mata Nadine sedikit menyipit. Ada rasa tidak suka menyelusup dalam dirinya. Ia benci mengakui, tapi ada perasaan yang lebih dari sekadar ambisi ketika ia memikirkan Arsen. Dan kenyataan bahwa Davin juga mengincar Alena membuat hatinya terasa panas.
---
Malam semakin larut. Arsen akhirnya memutuskan pulang. Saat masuk ke apartemennya, ia mendapati Alena tertidur di sofa, dengan ponsel masih dalam genggaman. Ia berjalan pelan, menutupi tubuh Alena dengan selimut. Namun, tanpa sengaja, matanya menangkap layar ponsel yang masih menyala—pesan misterius itu.
Darah Arsen berdesir. Ia menatap wajah Alena yang tertidur dengan lelah, lalu mengepalkan tangan. “Mereka berani menyentuhmu… maka aku akan pastikan dunia ini tidak lagi memberi mereka ruang untuk bernapas.”
---
Bagian 4
Pagi berikutnya, suasana kantor pusat Digantara Group terasa lebih berat dari biasanya. Para karyawan menunduk ketika Arsen melintas, seolah bisa merasakan hawa dingin yang dipancarkan tatapannya. Senyum ramah yang biasa terlihat dari staf resepsionis pun menghilang, digantikan oleh kegugupan.
Arsen masuk ke ruang rapat utama. Semua direktur sudah duduk menunggu, termasuk Rafael yang menatapnya penuh kewaspadaan. Nadine juga ada di sana, duduk dengan anggun sambil melempar senyum samar, seakan tahu persis badai yang ada di kepala Arsen.
“Agenda hari ini,” ujar salah satu direktur, “membahas konsistensi laporan keuangan kuartal kedua. Ada beberapa perbedaan yang cukup signifikan.”
Arsen duduk di kursi utama, menatap mereka satu per satu. “Perbedaan? Atau rekayasa?” suaranya tenang, tapi tegas.
Beberapa direktur saling bertukar pandang. Nadine mengangkat alis, pura-pura kaget. “Arsen, apa maksudmu? Jangan-jangan kau menuduh dewanmu sendiri?”
Tatapan Arsen menusuk tajam. “Aku menuduh siapa pun yang sudah berani mengkhianati perusahaan ini. Termasuk siapapun yang duduk di ruangan ini.”
Ruang rapat mendadak sunyi. Rafael menyandarkan punggungnya, mencoba menenangkan situasi. “Arsen, kau harus hati-hati dalam bicara. Kita butuh bukti.”
Arsen mengangguk pelan. “Bukti akan segera datang. Dan saat itu tiba, aku pastikan tidak ada ampun bagi pengkhianat.”
---
Sementara itu, di luar gedung, Alena baru saja tiba. Ia berniat membawa makan siang untuk Arsen, berharap bisa mengurangi beban pikiran pria itu. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok familiar menunggunya di lobi: Davin.
“Alena.” Suara Davin rendah, tapi sarat makna.
Alena menegang. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Davin tersenyum, seakan kehadirannya hal yang wajar. “Aku hanya ingin bicara. Kau berhak tahu sesuatu tentang Arsen. Sesuatu yang mungkin belum pernah dia ceritakan padamu.”
Alena mengernyit, hatinya bergejolak antara ingin tahu dan ingin pergi. “Aku tidak tertarik dengan permainanmu.”
“Tapi ini bukan permainan.” Davin mendekat, menatapnya dalam. “Arsen… tidak sejujur yang kau kira. Dia menyembunyikan sesuatu darimu, sesuatu yang bisa menghancurkanmu jika kau terus di sisinya.”
Alena menelan ludah. “Kalau begitu, buktikan. Jangan hanya bicara.”
Davin mengeluarkan amplop cokelat dari jasnya. “Aku akan tunjukkan… tapi dengan satu syarat. Bertemu denganku malam ini, tanpa Arsen.”
Alena terdiam. Di satu sisi, ia ingin percaya pada Arsen. Tapi di sisi lain, kata-kata Davin menusuk, mengingatkannya pada pesan misterius malam lalu.
---
Di ruangannya, Arsen menerima laporan terbaru dari Seno. “Aku menemukan jejak aliran dana. Ada orang dalam yang mengalihkan sejumlah besar uang ke perusahaan cangkang. Dan lebih buruk lagi—nama Alena ikut tercatat di salah satu transaksi.”
Arsen berdiri, rahangnya mengeras. “Apa maksudmu? Alena tidak mungkin terlibat.”
Seno menghela napas. “Aku tahu. Tapi fakta di atas kertas bisa dimanipulasi. Seseorang sengaja menyeret namanya ke dalam ini. Dan jika dewan melihatnya duluan, mereka akan langsung curiga padanya.”
Arsen meremas kertas laporan itu hingga berkerut. “Jadi mereka ingin menjatuhkanku lewat Alena.”
Seno menatapnya serius. “Arsen, kau harus memilih. Menyelamatkan nama perusahaan… atau menyelamatkan Alena.”
Arsen menoleh, tatapannya membara. “Aku akan menyelamatkan keduanya. Aku tidak akan membiarkan mereka memilihkan takdirku.”
---
Sore hari, Rafael menemui Arsen secara pribadi. “Arsen, dengarkan aku. Kau harus lebih waspada. Nadine dan Davin bukan sekadar pesaing bisnis. Mereka punya dendam pribadi. Aku tahu karena masa lalu keluarga kita yang… rumit.”
Arsen menatap pamannya. “Apa maksudmu?”
Rafael terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Ada rahasia lama yang belum sempat kukatakan. Tapi waktu belum tepat. Yang perlu kau tahu, kau sedang menghadapi lawan yang bukan hanya mengincar harta dan perusahaan. Mereka mengincar jiwamu… dan orang yang kau cintai.”
Arsen mengepalkan tangan. “Maka aku akan melawan dengan segalanya yang kupunya.”
---
Di luar, Nadine memperhatikan semua ini dari balik kaca. Ia menatap Arsen dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada kebencian, tapi juga kerinduan yang samar.
“Arsen…” bisiknya pada diri sendiri. “Andai saja kau tahu, aku bukan hanya rivalmu. Aku juga seseorang yang… terlalu lama menaruh hatiku padamu.”
Namun, di balik tatapan penuh emosi itu, ia tetap memilih menjadi bagian dari permainan. Karena baginya, mencintai Arsen sama artinya dengan menghancurkan dirinya sendiri.
---
Bagian 5
Malam itu, langit Jakarta gelap tanpa bintang. Hujan tipis turun, menambah suasana kota yang dingin. Alena berdiri di tepi jendela apartemennya, memegang amplop cokelat pemberian Davin. Ia belum membukanya. Tangannya gemetar, pikirannya berperang.
“Aku percaya Arsen,” bisiknya, mencoba meyakinkan diri. “Tapi… bagaimana kalau isinya benar?”
Suara ponselnya memecah kesunyian. Pesan masuk dari nomor tak dikenal: Jika ingin tahu kebenaran, temui aku malam ini di hotel Imperial, lantai atas. Jangan ajak Arsen.
Alena menggigit bibirnya. Pesan itu jelas dari Davin. Ia ragu, tapi dorongan untuk mencari kebenaran membuatnya semakin gelisah.
---
Di saat yang sama, Arsen masih di kantornya. Seno datang dengan wajah tegang. “Arsen, aku menemukan sesuatu. Ada pertemuan rahasia malam ini antara Davin dan salah satu direktur kita. Lokasinya… hotel Imperial.”
Arsen menoleh cepat. “Hotel Imperial?”
Seno mengangguk. “Ya. Sepertinya mereka merencanakan langkah besar. Jika kau tidak turun tangan malam ini, mungkin besok segalanya akan runtuh.”
Arsen berdiri, meraih jas hitamnya. “Aku akan pergi. Siapkan mobil.”
Seno menahan bahunya. “Arsen, hati-hati. Ini bisa jadi jebakan.”
Arsen menatap sahabatnya dalam. “Aku tahu. Tapi jika aku tidak melangkah sekarang, mereka yang akan menang.”
---
Sementara itu, di hotel Imperial, Alena sudah duduk di lobi. Davin muncul dengan senyum misterius. Ia tampak percaya diri, seolah menguasai keadaan.
“Aku tahu kau akan datang,” ujarnya tenang.
“Aku datang bukan untuk bermain-main,” balas Alena dingin. “Apa isi amplop ini?”
Davin tersenyum tipis. “Buka saja, dan kau akan tahu siapa sebenarnya Arsen Digantara.”
Alena menghela napas, lalu perlahan membuka amplop itu. Di dalamnya ada beberapa dokumen foto copy, menampilkan tanda tangan digital Arsen pada kontrak bisnis ilegal yang melibatkan penyuapan pejabat luar negeri.
Matanya melebar. “Ini… tidak mungkin. Arsen tidak akan—”
“Tidak akan?” Davin memotong dengan nada menekan. “Kau terlalu percaya padanya, Alena. Aku hanya menunjukkan fakta. Kau bisa menolak, tapi dunia bisnis tidak akan.”
Alena menatap dokumen itu dengan perasaan campur aduk. Ia ingin percaya ini hanya manipulasi, tapi kebenaran terasa semakin kabur.
---
Di waktu hampir bersamaan, Arsen tiba di hotel. Ia bersama Seno menyusuri lorong, berusaha mencari ruang pertemuan rahasia itu. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok Alena bersama Davin di lobi.
Darahnya mendidih. “Apa yang dia lakukan di sini?” gumamnya.
Seno mencoba menenangkan. “Arsen, jangan gegabah. Mungkin Alena dijebak.”
Arsen mengepalkan tinju. “Atau mungkin dia benar-benar ragu padaku…”
---
Davin menyadari kehadiran Arsen dari kejauhan. Ia tersenyum sinis, lalu menatap Alena. “Lihat, dia datang sendiri. Tepat seperti yang kuharapkan.”
Alena menoleh, kaget melihat Arsen. Hatinya langsung bergetar, rasa bersalah menyeruak. “Arsen… aku—”
“Alena.” Suara Arsen berat, dingin, penuh kekecewaan. “Mengapa kau di sini? Bersamanya?”
Alena ingin menjelaskan, tapi Davin berdiri dan melangkah maju. “Arsen, akhirnya kita bertemu. Kau pasti sudah tahu, permainan ini baru saja dimulai.”
Arsen menatapnya penuh amarah. “Kalau kau menyentuh Alena, aku pastikan hidupmu berakhir malam ini.”
Davin justru tertawa kecil. “Kau terlalu protektif, Arsen. Kau lupa, bukan aku yang membuat Alena ragu padamu. Kau sendiri yang melakukannya… dengan semua kebohongan yang kau simpan.”
Alena menutup mata, air matanya jatuh. Ia merasa terjebak di tengah pertarungan dua pria yang sama-sama berbahaya.
---
Seno maju, mencoba menghentikan ketegangan. “Cukup. Jika ini tentang bisnis, kita bisa selesaikan dengan cara yang lebih terhormat.”
Namun Davin menggeleng. “Ini bukan sekadar bisnis, Seno. Ini tentang dendam, cinta, dan pengkhianatan. Dan malam ini, semuanya akan mulai terbuka.”
Arsen menatap Davin tanpa berkedip. “Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang akan bertahan sampai akhir.”
Suasana menegang, seolah seluruh ruangan dipenuhi api yang siap meledak kapan saja.
Alena berdiri di antara mereka, hatinya berteriak. Ia tahu, apapun yang terjadi malam itu… takdir mereka bertiga akan berubah selamanya.
---