Bagian 1
Langit dini hari masih diselimuti mendung ketika Arsen Digantara berdiri di balkon kantornya. Malam penuh ketegangan di hotel Imperial masih menyisakan bara di dadanya. Ia tidak bisa melupakan tatapan Alena yang ragu, tatapan yang menusuk lebih dalam daripada seribu pedang musuh.
Seno datang membawa berkas, wajahnya serius. “Arsen, aku sudah memeriksa dokumen yang ditunjukkan Davin pada Alena. Ada yang janggal. Tandatanganmu memang ada, tapi detail digitalnya… sepertinya hasil manipulasi.”
Arsen mengepalkan tangan. “Aku tahu Davin licik, tapi aku tidak menyangka dia akan sejauh ini.”
Seno mengangguk. “Dan bukan hanya itu. Aku menemukan sesuatu yang lebih besar. Davin tidak hanya ingin menjatuhkanmu secara bisnis. Dia punya dendam pribadi. Aku kira ini berkaitan dengan masa lalu keluarga Digantara.”
Arsen menoleh tajam. “Masa lalu keluarga?”
“Ya. Aku menemukan catatan lama tentang proyek di luar negeri yang melibatkan ayahmu, mendiang Adrian Digantara. Rupanya Davin punya hubungan dengan salah satu keluarga korban yang dulu dirugikan dalam proyek itu.”
Arsen terdiam. Kata-kata Seno seperti membuka kotak pandora yang selama ini ia tutup rapat. Luka lama yang berusaha ia kubur, kini kembali menyeruak ke permukaan.
Di sisi lain, Alena duduk termenung di ruang kerja pribadinya. Amplop dari Davin sudah ia simpan, tapi pikirannya masih dipenuhi rasa bersalah. Ia merasa seperti mengkhianati Arsen hanya dengan hadir di tempat itu.
Dinda, kakaknya, datang membawa secangkir teh. “Adikku… wajahmu pucat. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Alena menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. “Kak, aku takut. Aku takut kalau semua yang kupikirkan tentang Arsen… hanya kebohongan.”
Dinda mengelus rambut adiknya. “Kalau kau mencintainya, percaya adalah kuncinya. Jangan biarkan orang lain menghancurkan itu.”
Alena terdiam. Hatinya bimbang. Ia ingin percaya, tapi luka yang ditorehkan keraguan terlalu dalam.
---
Sementara itu, Rafael Digantara—paman Arsen—sedang berada di rumah tua keluarga. Di tangannya, sebuah kotak kayu usang berisi dokumen lama dan foto-foto. Tatapannya sendu.
“Adrian… adikku,” gumamnya lirih, menyebut nama ayah Arsen. “Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari kami semua? Kenapa luka masa lalu ini terus menghantui Arsen?”
Rafael menutup mata. Ia tahu waktunya semakin dekat. Rahasia lama yang ia simpan bertahun-tahun, kini tak bisa lagi ditahan.
---
Di tempat berbeda, Nadine Sasmita berdiri di depan cermin, mengenakan gaun merah darah. Senyum dingin terukir di wajahnya. Ia sudah mendengar kabar tentang kejadian di hotel Imperial.
“Arsen… kau semakin rapuh. Dan saat kau rapuh, saat itulah aku akan merebut semua yang harusnya menjadi milikku,” ujarnya sambil menatap bayangan dirinya sendiri.
Nadine tidak hanya ingin cinta Arsen. Ia ingin kehancuran Alena. Dan Davin, dengan segala dendamnya, menjadi sekutu sempurna dalam permainan berbahaya ini.
---
Malam menjelang. Arsen duduk sendiri di ruang kerjanya, memandangi foto ayahnya yang tergantung di dinding. “Ayah… apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu? Apa hubungannya dengan semua ini?”
Ia menutup mata, dan bayangan masa kecilnya muncul kembali. Malam penuh jeritan, pertengkaran antara ayahnya dan seseorang yang ia tidak kenal. Malam yang ia lupakan, tapi kini kembali menghantui.
Arsen membuka matanya, penuh tekad. “Jika masa lalu ini adalah kunci, maka aku harus menemukannya. Aku tidak akan membiarkan Davin menghancurkan hidupku dengan bayang-bayang yang tidak jelas.”
Namun ia tidak tahu, langkah menuju masa lalu justru akan membuka luka yang jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
---
Bagian 2
Arsen mengendarai mobilnya menuju rumah lama keluarga Digantara. Rumah besar bercat putih gading itu kini tampak sunyi, nyaris seperti bangunan mati yang hanya menyimpan debu masa lalu. Begitu pintu berderit dibuka, aroma kayu tua bercampur dengan memori masa kecil menyeruak.
Rafael sudah menunggunya di ruang tengah, duduk dengan tongkat kayu di samping kursi. Wajah tuanya terlihat lelah, seolah memikul beban yang terlalu berat.
“Aku tahu kau akan datang, Arsen,” ucap Rafael lirih. “Karena cepat atau lambat, kau memang harus tahu kebenaran ini.”
Arsen menatapnya dalam-dalam. “Paman, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Davin terus menyinggung masa lalu ayah?”
Rafael menarik napas panjang, lalu membuka kotak kayu di meja. Dari dalamnya ia mengeluarkan selembar dokumen tua dan foto hitam-putih seorang pria paruh baya. “Inilah awal semuanya. Proyek besar di luar negeri tiga puluh tahun lalu. Ayahmu terlibat, dan akibat proyek itu, satu keluarga kehilangan segalanya. Salah satu anak dari keluarga itu… adalah Davin.”
Arsen tercengang. “Jadi Davin punya dendam pribadi pada keluarga kita?”
Rafael mengangguk pelan. “Benar. Dan dendam itu diwariskan dari ayahnya. Davin tumbuh dengan kebencian pada nama Digantara. Semua langkahmu, semua keberhasilanmu, baginya hanya bayangan dari luka yang tak pernah sembuh.”
Arsen memejamkan mata. Hatinya bergejolak. Ia tahu bisnis sering kali melukai pihak lain, tapi ia tidak menyangka luka itu begitu dalam hingga menjadi dendam turun-temurun.
“Kalau begitu, kenapa Ayah tidak pernah menceritakan hal ini padaku?” tanyanya getir.
Rafael menunduk. “Karena Adrian ingin kau tumbuh tanpa bayangan masa lalu. Ia tahu dunia bisnis penuh noda. Ia ingin melindungimu dari beban yang bahkan ia sendiri tak sanggup tebus.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Hanya detak jam tua di dinding yang terdengar, seakan menghitung detik menuju kehancuran atau kebenaran.
---
Di tempat lain, Alena masih diliputi kebimbangan. Ia berusaha fokus pada pekerjaannya, tapi bayangan Arsen terus menghantui. Teleponnya berdering—nama yang muncul membuat jantungnya berdegup kencang: Davin.
Dengan ragu ia mengangkat. “Apa lagi yang kau inginkan, Davin?”
Suara Davin terdengar penuh sindiran. “Aku hanya ingin tahu… apakah kau masih percaya pada Arsen setelah semua bukti yang kuberikan?”
Alena menggertakkan gigi. “Aku tidak akan begitu saja termakan omonganmu.”
“Benarkah?” Davin terkekeh. “Kalau begitu, bagaimana jika kuberitahu bahwa masa lalu keluarganya jauh lebih kotor daripada yang kau bayangkan? Kau mencintai pria yang mungkin saja berdiri di atas kehancuran keluargaku.”
Kalimat itu membuat Alena terdiam. Hatinya bergetar, dilanda ketakutan yang semakin besar. Namun ia mencoba melawan. “Aku tidak akan percaya sebelum kudengar langsung dari Arsen.”
Davin tersenyum puas dari balik telepon. “Katakan itu sekarang. Tapi ingat, Alena… kepercayaan adalah hal paling rapuh di dunia. Sekali retak, tak akan pernah sama lagi.”
Telepon terputus, meninggalkan Alena dengan kebimbangan yang kian menyesakkan d**a.
---
Malam itu, Nadine menemui Davin di sebuah restoran mewah. Keduanya duduk berhadapan, penuh aura konspirasi.
“Kau benar-benar tahu cara memainkan hati seorang wanita,” kata Nadine sambil meneguk wine. “Alena pasti goyah. Dan saat dia jatuh, aku akan berada di sisi Arsen untuk ‘menyembuhkannya’.”
Davin menyeringai. “Kita berdua sama-sama punya kepentingan. Kau ingin Arsen, aku ingin kehancuran keluarga Digantara. Kalau kita bersatu, tidak ada yang bisa menghentikan kita.”
Nadine mengangkat gelasnya. “Untuk kehancuran yang indah.”
Mereka saling bersulang, seakan merayakan awal dari badai yang siap menghantam kehidupan Arsen dan Alena.
---
Sementara itu, di ruang kerjanya, Arsen duduk sendirian menatap dokumen tua yang diberikan Rafael. Foto keluarga Davin terpampang jelas, dengan tanda tangan proyek yang melibatkan ayahnya.
Seno masuk membawa map lain. “Aku menemukan data keuangan lama. Ada bukti bahwa ayahmu sebenarnya mencoba menolong keluarga Davin secara diam-diam. Tapi entah kenapa, bantuan itu tak pernah sampai. Seperti ada tangan lain yang memotong jalannya.”
Arsen tertegun. “Tangan lain?”
Seno mengangguk. “Ya. Ada nama seseorang… dan aku curiga, orang itu bukan asing bagi keluarga kita.”
Arsen merasakan bulu kuduknya meremang. Luka masa lalu ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar dendam keluarga. Ada pengkhianatan, ada rahasia, ada jejak kelam yang siap menyeret semua orang ke dalam jurang.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Arsen merasa masa lalunya bukan sekadar bayangan—tapi monster yang sedang bangkit untuk menuntut darah.
---
Bagian 3
Hujan turun deras malam itu, mengetuk kaca jendela rumah besar keluarga Digantara. Arsen duduk termenung di ruang kerjanya, masih menatap lembaran dokumen yang memperlihatkan keterlibatan ayahnya dalam proyek kelam itu. Jemarinya mengepal, seakan ingin merobek kertas itu dan menghapus semua bukti yang menodai nama baik ayahnya.
Namun suara pintu yang terbuka membuatnya terlonjak. Rafael masuk dengan langkah tertatih, diikuti Seno yang tampak gelisah.
“Arsen, ada sesuatu yang harus kau lihat,” ujar Seno, menyodorkan map baru.
Arsen meraihnya dan membuka isi map. Foto-foto lama, laporan keuangan, serta catatan tangan. Matanya menyipit ketika melihat satu nama yang berulang kali muncul di catatan: Surya Atmadja.
“Siapa ini?” tanya Arsen.
Rafael menarik napas berat. “Surya adalah rekan bisnismu dulu. Orang kepercayaan ayahmu. Tapi rupanya, ia jugalah yang menghentikan bantuan yang seharusnya sampai pada keluarga Davin. Dialah pengkhianat sesungguhnya.”
Arsen merasakan amarah membuncah. Jadi, luka yang diwarisi Davin selama ini lahir dari ulah orang lain, namun kebencian itu tetap ditujukan kepada keluarga Digantara.
“Kalau begitu, Surya masih hidup?” Arsen bertanya dengan suara menekan.
Rafael menunduk. “Ya. Dan kemungkinan, dialah orang yang kini berdiri di balik Davin. Memberinya sumber daya, memberi bahan bakar bagi dendamnya.”
---
Di sisi lain, Alena duduk di kamarnya, memandangi layar ponsel dengan hati gelisah. Pesan dari Davin terus menghantui pikirannya. Kata-kata tentang masa lalu Arsen, tentang luka keluarga, seakan menjadi duri yang menusuk hatinya.
Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. “Kenapa semuanya jadi serumit ini…?” bisiknya.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Dinda masuk sambil membawa secangkir teh hangat. “Aku tahu kau sedang kacau,” ujar kakaknya lembut. “Mau cerita sama aku?”
Alena terdiam sesaat, lalu matanya mulai berkaca-kaca. “Aku takut, Kak. Aku takut semua yang Davin katakan benar. Kalau ternyata Arsen benar-benar membawa dosa keluarganya, apa aku masih bisa mencintainya tanpa ragu?”
Dinda duduk di sampingnya, merangkul bahunya. “Alena, setiap orang punya masa lalu. Tapi yang harus kau lihat bukan siapa keluarganya dulu, melainkan siapa dia sekarang. Jangan biarkan luka orang lain mengatur hatimu.”
Kata-kata itu menenangkan, tapi bayangan Davin tetap menghantui pikirannya. Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus mendengar kebenaran dari mulut Arsen sendiri.
---
Nadine, di waktu yang sama, tengah menyusun rencana lain. Di kamarnya yang mewah, ia menatap papan penuh foto: Arsen, Alena, Davin, bahkan Rafael. Semua terhubung dengan benang merah, seolah ia sedang membangun peta konspirasi.
“Semua ini akan runtuh pada waktunya,” gumamnya sambil tersenyum tipis. “Dan saat itu tiba, hanya aku yang akan berada di sisi Arsen.”
Ia meraih ponsel, mengirim pesan singkat kepada Davin:
Jangan lupa, luka lama adalah senjata paling ampuh. Kita hanya perlu menusuk di saat yang tepat.
---
Keesokan harinya, Arsen memutuskan menemui Alena. Mereka bertemu di taman yang biasa menjadi tempat mereka menghabiskan waktu. Hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah yang menusuk hidung, seakan alam pun ikut menyimpan kesedihan.
Arsen menatap Alena dalam-dalam. “Aku tahu Davin sudah bicara sesuatu padamu.”
Alena terdiam, hatinya berdebar keras. Ia ingin bertanya, tapi bibirnya kelu. Hingga akhirnya, Arsen yang memulai.
“Benar, ayahku pernah terlibat dalam proyek yang membuat keluarga Davin hancur. Tapi apa kau tahu, ayahku juga mencoba menolong mereka? Sayangnya, pengkhianatan orang lain membuat semua itu sia-sia. Dan sejak saat itu, kebencian keluarga Davin diwariskan kepadaku.”
Air mata Alena menetes. Ia merasa beban yang dipikul Arsen begitu besar, namun di sisi lain, hatinya masih diliputi keraguan. “Kenapa kau baru menceritakan semua ini sekarang, Sen?”
Arsen menggenggam tangannya erat. “Karena aku takut kehilanganmu. Aku takut masa laluku membuatmu menjauh. Tapi sekarang aku sadar… aku tidak boleh lagi menyembunyikan kebenaran.”
Alena menatapnya lama, sebelum akhirnya bersandar di bahu Arsen. “Aku tidak peduli siapa ayahmu dulu, Sen. Aku hanya peduli siapa dirimu sekarang.”
Namun, dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan mereka dengan dingin. Davin, berdiri di balik pepohonan, menatap pemandangan itu dengan tatapan penuh dendam.
“Percayalah, Alena… kau akan menyesal karena memilih berada di sisinya,” bisiknya pelan.
---
Malam mulai turun kembali. Arsen menutup pertemuan dengan Rafael dan Seno di ruang kerjanya. Ia kini punya tujuan baru: mencari Surya Atmadja. Karena hanya dengan menemukan kebenaran dari mulutnya, ia bisa menghentikan dendam Davin sekaligus membersihkan nama keluarganya.
“Ini baru permulaan,” ujar Arsen tegas. “Aku tidak akan biarkan luka masa lalu terus menghancurkan hidupku. Aku akan melawan, bahkan jika harus mempertaruhkan segalanya.”
Rafael menatapnya dengan bangga, sementara Seno menggenggam bahunya erat. Malam itu, tekad Arsen semakin kokoh, meski ia tahu bayangan masa lalu akan terus mengejarnya.
---
Bagian 4
Hari-hari berikutnya terasa semakin berat bagi Arsen. Pagi itu, ia berdiri di depan makam sang ayah. Hujan tipis turun, membasahi tanah merah yang belum lama mengering. Di tangannya, ia menggenggam secarik kertas usang yang ditemukan Rafael di laci lama rumah keluarga Digantara.
Surat itu bertuliskan kalimat singkat dengan tinta hampir pudar:
"Jika suatu hari kau membaca ini, ketahuilah aku tidak pernah berniat meninggalkan janji. Seseorang telah mengkhianatiku. Lindungi keluarga ini, dan temukan kebenarannya."
Arsen mengepalkan tangan. Dadanya terasa sesak, seakan ayahnya masih berbicara dari dalam tanah. “Aku akan menepati janjimu, Ayah. Aku akan menemukan kebenaran itu.”
Di belakangnya, Seno berdiri dengan payung di tangan. “Arsen, kita punya petunjuk baru. Surya Atmadja sekarang tinggal di luar kota, menyamar dengan identitas baru. Tapi untuk menemuinya, kita harus hati-hati. Dia punya pengawal dan orang-orang bayangan.”
Arsen mengangguk. “Aku tidak peduli berapa banyak rintangan. Aku harus bertemu dia.”
---
Sementara itu, Alena duduk di kamar, merenung. Pikirannya masih bergulat dengan pengakuan Arsen. Namun yang membuat hatinya lebih gelisah adalah pertemuannya diam-diam dengan Davin beberapa hari lalu.
Davin begitu meyakinkan saat bercerita tentang penderitaannya. Tentang malam panjang ketika ibunya sakit tanpa pertolongan, tentang masa kecil yang direnggut, tentang api dendam yang terus menyala.
“Arsen mungkin terlihat baik di matamu,” kata Davin waktu itu. “Tapi darah yang mengalir di nadinya tetap darah pengkhianat. Kau pikir dia tidak akan melakukan hal yang sama padamu suatu saat nanti?”
Kata-kata itu seperti racun yang menetes pelan ke hatinya. Alena berusaha menolak, berusaha percaya pada Arsen, namun keraguan yang ditanam Davin tumbuh semakin kuat.
---
Di rumah besar Nadine, suasana berbeda sama sekali. Gadis itu menatap cermin sambil tersenyum tipis, merapikan gaun hitam elegan yang melekat di tubuhnya.
“Malam ini waktunya aku menunjukkan siapa sebenarnya yang pantas di sisi Arsen,” ujarnya kepada bayangan sendiri.
Ia sudah menyiapkan pesta kecil, mengundang beberapa tokoh penting, dengan alasan merayakan pencapaian bisnisnya. Namun sebenarnya, pesta itu hanyalah panggung. Panggung untuk mempermalukan Alena di depan publik.
“Ketika semua orang melihat kelemahan Alena, Arsen tak akan punya pilihan selain berbalik padaku,” gumamnya penuh percaya diri.
---
Sore itu, Arsen datang menjemput Alena untuk menghadiri pesta Nadine. Di dalam mobil, suasana hening. Alena duduk sambil menggenggam ujung gaunnya, sesekali melirik Arsen.
“Ada apa? Kau tampak gelisah,” tanya Arsen pelan.
Alena mencoba tersenyum, meski matanya masih menyimpan resah. “Aku hanya… takut kita masuk ke perangkap Nadine. Dia tidak pernah mengundang tanpa maksud tersembunyi.”
Arsen menoleh sebentar, lalu menggenggam tangannya. “Selama kau ada di sisiku, aku tidak takut apa pun.”
Ucapan itu membuat Alena sedikit tenang. Tapi jauh di lubuk hatinya, kata-kata Davin kembali terngiang. Darah pengkhianat.
---
Pesta itu berlangsung megah. Lampu kristal bergemerlap, musik lembut mengalun, tamu-tamu berdandan glamor. Nadine menyambut mereka dengan senyum manis, meski mata penuh sinis.
“Arsen, Alena, senang sekali kalian datang,” ujarnya pura-pura ramah.
Alena membalas dengan anggukan dingin. Arsen tetap menjaga sopan santun, meski dalam hatinya ia tahu pesta ini penuh jebakan.
Tak butuh waktu lama sebelum Nadine melancarkan aksinya. Di tengah acara, ia mengangkat gelas dan berkata, “Malam ini, aku ingin berbagi sesuatu yang selama ini kusimpan. Tentang kebenaran yang seharusnya kalian semua tahu.”
Ruangan hening. Semua mata tertuju padanya. Nadine menatap Alena dengan tatapan menusuk sebelum menayangkan sebuah video di layar besar.
Video itu berisi rekaman lama: potongan berita, laporan investigasi, hingga wajah ayah Arsen yang disebut sebagai dalang kegagalan proyek besar yang menghancurkan banyak keluarga—termasuk keluarga Davin.
Bisik-bisik mulai terdengar. Tatapan tamu undangan berubah curiga. Alena terpaku, wajahnya pucat. Sementara Arsen berdiri kaku, rahangnya mengeras.
Nadine tersenyum puas. “Inilah kebenaran yang tidak pernah kalian dengar. Bahwa keluarga Digantara punya sejarah kelam.”
---
Arsen maju, berdiri di depan semua orang. Suaranya tegas, meski hatinya berkecamuk. “Ya, ayahku memang terlibat. Tapi kalian tidak tahu bahwa ia juga korban pengkhianatan. Dan aku, Arsen Digantara, berdiri di sini bukan untuk melanjutkan dosa masa lalu. Aku berdiri untuk menebusnya.”
Suasana ruangan terdiam. Beberapa tamu terkesima, sebagian lain masih berbisik.
Alena memandang Arsen, hatinya kembali diguncang. Ia tahu kata-kata Arsen tulus, namun bayangan Davin terus membisikkan keraguan.
Nadine yang melihat itu tersenyum samar. “Kau boleh berkilah, Arsen. Tapi luka masa lalu tidak akan hilang hanya dengan kata-kata.”
Arsen menatapnya dingin. “Dan kau, Nadine, sudah terlalu jauh bermain dengan luka orang lain. Ingat baik-baik, permainanmu tidak akan memisahkan aku dan Alena.”
Namun, jauh di dalam hatinya, Arsen tahu bahwa permainan ini baru saja dimulai.
---
Bagian 5
Malam itu berakhir dengan kekacauan. Meski Arsen berhasil menahan dirinya di pesta Nadine, kabar tentang video itu cepat menyebar ke luar, menghantui nama keluarga Digantara. Esoknya, berbagai media mulai menulis ulang kisah lama, mengorek luka yang selama ini berusaha ditutup.
Di ruang kerjanya, Arsen berdiri menatap jendela. Matahari pagi terasa buram, seolah cahaya pun enggan menembus bayang-bayang masa lalu. Seno masuk membawa setumpuk koran dan laporan.
“Semua headline sama, menyinggung tentang proyek itu dan nama ayahmu,” ucap Seno lirih. “Tapi yang lebih parah, ada pihak yang sengaja membiayai berita ini supaya semakin meluas. Aku yakin ini ulah Nadine dan… mungkin Davin.”
Arsen memejamkan mata sejenak. “Mereka ingin aku jatuh, membuatku terlihat tak pantas berdiri di sisi siapa pun, terutama Alena.”
Seno mendekat, menaruh tangannya di bahu Arsen. “Kau tidak sendirian. Aku ada di sini. Pamanmu juga. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah menemukan bukti nyata siapa dalang sebenarnya dari pengkhianatan ayahmu.”
---
Di tempat lain, Alena termenung di balkon rumahnya. Angin pagi menyapu rambutnya, tapi tidak mampu menyingkirkan keruwetan pikirannya. Dinda, kakaknya, datang membawa secangkir teh hangat.
“Adikku, kau tidak bisa terus memendam seperti ini,” kata Dinda lembut. “Aku tahu kau mencintai Arsen. Tapi aku juga tahu, keraguan yang ditanamkan orang lain mulai meracuni hatimu.”
Alena menunduk, jari-jarinya menggenggam cangkir dengan erat. “Aku ingin percaya pada Arsen, Kak. Tapi… apa benar dia tidak akan mengulang kesalahan ayahnya? Bagaimana jika semua yang dikatakan Davin… ada benarnya?”
Dinda menarik napas panjang. “Alena, setiap orang punya masa lalu. Luka bisa diwariskan, tapi pilihan selalu ada di tangan kita. Kau sendiri yang harus menentukan, apakah akan melihat Arsen sebagai bayangan ayahnya, atau sebagai dirinya sendiri.”
Kata-kata itu menusuk hati Alena. Namun justru dari sanalah muncul secercah harapan.
---
Malam berikutnya, Rafael datang menemui Arsen di rumah keluarga. Paman itu membawa sebuah kotak kayu tua yang selama ini disimpan rapat-rapat.
“Ini milik ayahmu,” kata Rafael sambil menyerahkan kotak itu. “Aku tidak pernah berani membukanya. Tapi sekarang, mungkin sudah waktunya.”
Dengan tangan gemetar, Arsen membuka kotak itu. Di dalamnya ada beberapa dokumen, foto, dan sebuah buku catatan kulit. Di halaman pertama, tertulis tulisan tangan sang ayah:
"Jika aku tak kembali, biarkan catatan ini menjadi saksi bahwa aku bukan pengkhianat. Ada yang lebih besar di balik semua ini, dan namanya adalah…"
Tulisan itu terputus. Halaman berikutnya kosong, seolah catatan itu sengaja diambil atau dirusak.
Arsen menggertakkan gigi. “Seseorang tidak ingin kebenaran ini terungkap.”
Rafael menatap keponakannya dalam-dalam. “Hati-hati, Arsen. Kebenaran kadang lebih berbahaya daripada kebohongan. Jika kau mengejarnya, mungkin nyawamu taruhannya.”
---
Tak lama setelah itu, pesan singkat misterius masuk ke ponsel Arsen.
“Jika kau ingin tahu siapa yang sebenarnya mengkhianati ayahmu, temui aku di dermaga tua tengah malam. Datang sendiri. Jangan percaya siapa pun.”
Arsen menatap layar ponsel, matanya tajam. Ia tahu ini bisa jadi jebakan. Tapi ia juga tahu, inilah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.
---
Malam pun tiba. Dermaga tua sunyi, hanya suara ombak memecah keheningan. Arsen berdiri sendirian, matanya waspada. Dari kejauhan, bayangan seseorang mendekat.
Ternyata sosok itu adalah seorang pria tua, salah satu mantan rekan ayahnya. Wajahnya tirus, matanya penuh rasa takut.
“Aku tidak punya banyak waktu,” bisiknya. “Mereka mengawasi. Kau harus tahu… yang mengkhianati ayahmu bukan orang luar. Tapi seseorang yang sangat dekat. Seseorang yang kalian percaya.”
Arsen terkejut. “Siapa maksudmu?”
Namun sebelum pria itu sempat menjawab, suara tembakan menggema di udara. Tubuhnya roboh seketika, darah mengalir membasahi papan kayu dermaga. Arsen terlonjak, menunduk untuk menolong, tapi nyawa pria itu telah terenggut.
Di kejauhan, bayangan seseorang berlari meninggalkan dermaga. Arsen mengejarnya, tapi langkah itu terlalu cepat menghilang ke kegelapan.
Ia kembali berdiri di dermaga, napas terengah, dadanya bergemuruh. Kata terakhir pria itu terus menggema di kepalanya: “Seseorang yang kalian percaya…”
---
Di balik layar, Nadine menonton rekaman dari salah satu orang suruhannya. Ia tersenyum puas, namun dalam hatinya masih menyimpan kegelisahan.
“Permainan ini semakin menarik,” ucapnya lirih. “Tapi semakin dekat Arsen pada kebenaran, semakin besar kemungkinan rahasiaku terbongkar.”
---
Malam itu, Arsen pulang dengan hati berat. Alena menunggunya di teras rumah, wajahnya cemas.
“Arsen… ada apa? Wajahmu pucat sekali.”
Arsen menatapnya lama, seolah mencari kekuatan dari tatapan itu. “Aku kehilangan satu-satunya saksi yang bisa membuktikan ayahku tidak bersalah. Dan yang lebih parah… aku mulai meragukan siapa yang benar-benar bisa kupercaya.”
Alena menggenggam tangannya erat, menahan air mata. “Percayalah padaku, Arsen. Aku akan tetap di sisimu.”
Namun, di lubuk hatinya, keraguan yang ditanamkan Davin masih berbisik pelan.
---