Bagian 1
Suasana kantor Digantara Corp pagi itu berbeda dari biasanya. Riuh rendah para karyawan terdengar lebih cepat, seperti ada bisikan baru yang menyebar dari meja ke meja. Sebagian mata memandang ke arah ruang utama dengan rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan.
Arsen berjalan masuk dengan langkah tenang, jas hitam membalut tubuh tegapnya, tatapan tajam menyapu ruangan. Di belakangnya, Seno mengikuti sambil membawa berkas-berkas penting. Namun bukan kehadiran mereka yang menjadi bahan bisik-bisik, melainkan sosok wanita yang muncul beberapa menit kemudian.
Alena.
Pagi itu ia datang mengenakan kemeja putih sederhana dengan rok pensil hitam yang jatuh tepat di lutut. Rambutnya diikat rapi, wajahnya nyaris tanpa riasan, tapi tetap memancarkan aura yang sulit diabaikan.
“Dia siapa?” bisik seorang staf wanita pada temannya.
“Katanya sekretaris baru Pak Arsen.”
“Tapi kenapa rasanya… terlalu dekat?”
Bisikan itu semakin ramai. Alena berjalan menuju ruang kerja Arsen, langkahnya mantap, namun dalam dadanya jantung berdegup lebih cepat dari biasanya.
---
Semalam, Arsen membuat keputusan yang mengejutkan.
“Mulai besok, kau akan bekerja di kantorku. Aku butuh seseorang yang benar-benar bisa kupercaya,” katanya serius.
Alena tertegun. “Tapi… apa kata orang nanti? Mereka pasti mengira aku hanya bisa dekat denganmu karena… hubungan pribadi.”
Arsen mendekat, menatap matanya dalam-dalam. “Biarkan mereka bicara. Aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanya satu—kau di sisiku, bukan hanya sebagai kekasih, tapi juga sebagai seseorang yang bisa kuandalkan.”
Kata-kata itu membuat Alena tak kuasa menolak. Namun ia sadar, keputusan itu akan menimbulkan badai baru.
---
Hari pertama Alena resmi menjadi sekretaris pribadi Arsen tidak berjalan mudah. Baru beberapa jam duduk di meja kerjanya, ia sudah dihujani tatapan sinis dari beberapa karyawan wanita yang merasa posisinya terlalu istimewa.
Seno, yang sejak awal menyaksikan situasi, mendekat dengan tawa kecil. “Kau sadar tidak, semua mata sedang menilai setiap gerakanmu?”
Alena menghela napas. “Aku tahu, Sen. Aku hanya tidak ingin membuat Arsen terlihat… lemah di depan mereka.”
“Justru dengan kehadiranmu, dia akan terlihat lebih kuat,” balas Seno sambil menepuk pundaknya. “Tapi hati-hati, Nadine pasti tidak akan tinggal diam begitu tahu kau sekarang berada di sisi Arsen setiap hari.”
---
Benar saja. Siang itu, Nadine muncul di kantor tanpa pemberitahuan. Gaun merah elegannya langsung menarik perhatian semua orang. Ia berjalan anggun menuju ruang kerja Arsen, lalu berhenti sejenak ketika melihat Alena sedang mengatur agenda rapat.
“Oh…” Nadine tersenyum tipis. “Jadi benar gosipnya. Kau sekarang sekretaris pribadi Arsen?”
Alena berdiri, berusaha tetap tenang. “Ya. Ada yang bisa saya bantu, Nona Nadine?”
Nada formal itu membuat senyum Nadine melebar, namun matanya menyimpan kilatan tajam. “Menarik. Dari kekasih, sekarang sekretaris. Jangan sampai kau lupa peranmu, Alena. Dunia bisnis tidak sama dengan dunia asmara. Kau bisa jadi manis di hati Arsen, tapi apakah kau bisa pahami strategi perusahaannya?”
Alena menahan diri agar tidak terpancing. Untungnya, pintu ruangan terbuka dan Arsen keluar.
“Nadine,” suaranya dingin, “aku tidak ingat membuat janji denganmu hari ini.”
Nadine tertawa kecil. “Aku hanya mampir, Arsen. Ternyata kejutan yang kutemui lebih menarik daripada rencana awal.”
Tatapan Arsen beralih ke Alena, penuh arti. “Alena bukan sekadar sekretarisku. Dia seseorang yang kupercaya.”
Kata-kata itu membuat Nadine terdiam sejenak, namun dalam hatinya api cemburu membara. Ia melangkah pergi dengan senyum penuh arti, seolah menyimpan strategi baru.
---
Malamnya, Alena duduk di meja kerjanya yang kini penuh dengan jadwal rapat, dokumen, dan panggilan telepon dari berbagai mitra bisnis. Ia merasa kelelahan, tapi ada kepuasan tersendiri dalam hatinya.
Saat jam kerja hampir usai, Arsen mendekat, menaruh secangkir kopi di mejanya. “Terima kasih, sudah bertahan di hari pertamamu. Bagaimana rasanya?”
Alena tersenyum samar. “Seperti masuk ke medan perang. Tapi… aku ingin melanjutkannya.”
Arsen duduk di tepi meja, menatapnya lembut. “Sekretaris atau kekasih… aku tidak peduli gelarnya. Yang penting, kau ada di sini.”
Alena menunduk, pipinya memerah. Ia tahu, badai besar akan datang setelah ini. Tapi di balik badai, ada rasa yang kian mengikat dirinya pada Arsen.
---
Bagian 2
Pagi kedua Alena di kantor terasa jauh lebih berat daripada hari pertama. Jika sebelumnya hanya tatapan penasaran yang mengiringi langkahnya, kini bisik-bisik semakin jelas terdengar, bahkan ketika ia baru saja melewati lobi.
“Dia sekretaris khusus Pak Arsen? Tidak salah dengar?”
“Katanya sih… bukan lewat seleksi resmi.”
“Ah, sudah biasa. Perempuan cantik selalu dapat jalan pintas.”
Alena menggenggam erat map yang dibawanya, menahan diri untuk tidak menoleh. Ia tahu semua itu hanyalah suara iri, tapi hatinya tetap terasa perih.
Sesampainya di meja kerjanya, ia langsung disambut Seno yang sudah duduk menunggu. “Hei, kau telat tiga menit dari jam biasanya.”
Alena melotot lelah. “Seno, bisa tidak kau berhenti jadi pengawas waktuku?”
Seno terkekeh. “Kalau bukan aku, siapa lagi? Kau tahu kan, setiap langkahmu diperhatikan. Jadi lebih baik kau terlihat sempurna.”
Alena hanya menghela napas, lalu membuka laptop. Agenda rapat pagi itu sudah menumpuk. Namun baru beberapa menit bekerja, Rafael tiba-tiba muncul.
“Paman?” Arsen keluar dari ruangannya, terkejut melihat Rafael datang tanpa pemberitahuan.
Rafael menatap sekilas ke arah Alena, lalu tersenyum kecil. “Jadi ini yang kau pilih menjadi sekretarismu?”
Alena berdiri, memberi hormat. “Selamat pagi, Tuan Rafael.”
Rafael menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Keberanianmu luar biasa, Alena. Kau tahu risiko menjadi sekretaris Arsen? Semua mata tidak hanya memandang, tapi juga menilai. Kau siap?”
Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak hening. Alena menarik napas panjang. “Saya siap, Paman. Bukan hanya karena saya ingin berada di sisinya, tapi juga karena saya ingin membuktikan kalau saya mampu.”
Arsen menoleh ke pamannya, seakan ingin memastikan jawaban itu cukup. Rafael hanya mengangguk tipis, lalu masuk ke ruang rapat dengan langkah tenang.
---
Hari itu, rapat berlangsung panas. Beberapa investor asing hadir langsung untuk membicarakan kerja sama besar. Alena duduk di kursi samping, mencatat setiap detail pembicaraan dengan tekun.
Salah satu investor, Mr. Collins, memandang ke arahnya. “Miss Alena, bolehkah saya tahu pendapat Anda soal strategi pemasaran yang disampaikan Pak Arsen?”
Seluruh ruangan sontak terdiam. Pertanyaan itu jelas menjebak. Biasanya seorang sekretaris hanya mencatat, bukan diminta pendapat strategis. Nadine, yang entah bagaimana bisa hadir dalam rapat itu, tersenyum sinis melihat wajah Alena sedikit panik.
Arsen menatapnya sejenak, memberikan isyarat halus. “Jawablah.”
Alena menelan ludah, lalu menatap para investor dengan berani. “Menurut saya, strategi pemasaran yang disampaikan Pak Arsen memang agresif, tapi tetap relevan dengan tren pasar. Kunci keberhasilannya adalah adaptasi cepat terhadap perubahan. Dan saya percaya, Digantara Corp memiliki kapasitas itu.”
Suasana ruangan kembali tenang. Mr. Collins tersenyum, lalu mengangguk. “Jawaban yang bagus, Miss.”
Nadine, yang duduk di seberang meja, menatap tajam dengan rasa tak percaya. Ia mendengus pelan, lalu berbisik pada asistennya, “Perempuan itu tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Dia akan menjadi duri.”
---
Selepas rapat, Arsen menghampiri Alena. “Kau melakukannya dengan baik.”
Alena menghela napas lega. “Aku hampir saja kehilangan kata-kata.”
“Tapi kau tidak kalah. Itu yang penting,” ucap Arsen sambil menepuk tangannya lembut.
Seno, yang ikut menyaksikan, mendengus. “Astaga, kalian ini… Jangan terlalu sering memperlihatkan sisi mesra di kantor. Ingat, gosip sudah menunggu di luar sana.”
Arsen hanya melirik Seno dengan tatapan tajam, membuatnya cepat-cepat mengangkat tangan. “Baik, baik, aku diam.”
---
Sore harinya, Alena berjalan keluar dari kantor dengan langkah letih. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Nadine menunggunya di depan pintu lobi.
“Kita perlu bicara,” kata Nadine dingin.
Alena menatapnya waspada. “Tentang apa?”
“Bukan di sini. Ikut aku.”
Mereka berjalan menuju café kecil tak jauh dari kantor. Begitu duduk, Nadine langsung menatapnya tajam. “Dengar baik-baik, Alena. Kau mungkin berhasil mengesankan Arsen di rapat tadi. Tapi kau lupa satu hal—aku sudah ada di lingkarannya jauh sebelum kau datang.”
Alena tetap tenang. “Dan sekarang aku yang berada di sisinya.”
Wajah Nadine mengeras. “Jangan sombong. Kau mungkin bisa menjadi sekretarisnya, tapi hatinya? Kau pikir semudah itu merebutnya dari semua kenangan yang sudah kami punya?”
Kalimat itu membuat d**a Alena sesak. Namun ia tidak ingin menunjukkan kelemahan di depan rivalnya. “Arsen bukan masa lalu, Nadine. Dia adalah masa kini, dan aku akan berjuang agar dia juga menjadi masa depanku.”
Nadine terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Baiklah. Kalau begitu, bersiaplah. Ini baru permulaan.”
---
Malamnya, Alena kembali ke apartemennya dengan pikiran kalut. Ia memandang bayangan dirinya di cermin, bertanya dalam hati: Apakah aku benar-benar siap menghadapi semua ini?
Namun di saat yang sama, bayangan wajah Arsen muncul dalam pikirannya. Senyum tipisnya, tatapan matanya yang dalam, serta genggaman tangannya yang selalu memberi kekuatan.
Alena tersenyum samar pada dirinya sendiri. “Ya. Aku siap.”
---
Bagian 3
Hari ketiga Alena sebagai sekretaris pribadi Arsen menjadi awal dari ujian baru. Sejak pagi, ia harus menghadapi tumpukan dokumen kontrak, jadwal rapat beruntun, dan panggilan telepon yang tak ada habisnya.
Di balik layar, Seno terus memantau. Ia beberapa kali memberi isyarat, memperingatkan, atau sekadar melempar gurauan agar Alena tidak terlalu tegang.
“Kalau kau terus menunduk seperti itu, nanti kepalamu bisa menempel di keyboard,” ucap Seno sambil menyodorkan secangkir kopi.
Alena mendengus pelan. “Aku bahkan tidak sempat memikirkan kopi sekarang.”
“Justru itu. Kau butuh tenaga.”
Arsen, yang keluar dari ruangannya, memperhatikan keduanya. Ada ketenangan aneh di wajahnya melihat Alena sibuk bekerja. Namun ketika tatapannya bersirobok dengan Seno, keduanya saling mengirim pesan diam: Lindungi dia.
---
Siang itu, sebuah rapat dadakan kembali digelar. Kali ini bukan dengan investor, melainkan tim internal keuangan. Ada laporan ketidaksesuaian anggaran proyek.
Arsen masuk dengan langkah tenang, sementara Alena duduk di kursi samping, siap mencatat. Namun saat presentasi berlangsung, salah seorang manajer keuangan mendadak menuding.
“Maaf, Tuan Arsen. Data yang kami terima justru tidak sesuai dengan laporan yang dipegang sekretaris Anda.”
Seluruh ruangan langsung menoleh pada Alena. Ia menunduk, membuka file di laptop, lalu membandingkan dengan dokumen cetak yang ia bawa. Benar saja, ada perbedaan angka.
“Ini… tidak mungkin. Aku sudah memeriksa dua kali semalam,” bisik Alena panik.
Nadine, yang entah bagaimana kembali hadir dalam rapat, langsung memanfaatkan situasi. “Sepertinya sekretaris baru Anda masih belum memahami standar pekerjaan di sini. Bagaimana bisa kontrak sebesar ini salah data?”
Arsen menatap Nadine dengan tatapan tajam, lalu kembali menoleh pada Alena. “Tenang. Periksa pelan-pelan.”
Alena menarik napas dalam, mencoba fokus. Jarinya bergerak cepat membuka arsip digital. Dalam hitungan menit, ia menemukan file asli yang terenkripsi. “Ini dia. Angka yang saya masukkan benar. Ada pihak lain yang mengubah dokumen cetak.”
Ruangan kembali gaduh. Arsen menatap manajer keuangan itu tajam. “Siapa yang terakhir mengakses dokumen ini?”
Tidak ada yang berani menjawab. Hanya Seno yang berdiri, menyodorkan bukti akses digital. “Jejak audit menunjukkan ada login dari akun staf yang sudah non-aktif.”
Rafael, yang tiba-tiba ikut masuk, mendengarkan dengan seksama. “Artinya ada penyusup dalam sistemmu, Arsen. Kau harus hati-hati.”
Alena menutup laptopnya perlahan, wajahnya masih pucat. Ia merasa hampir saja dijadikan kambing hitam. Namun dalam hati, ia juga menyadari satu hal: Ada orang yang benar-benar tidak ingin aku berada di sini.
---
Selepas rapat, Arsen memanggil Alena ke ruangannya.
“Kau sudah bekerja dengan baik. Jangan merasa bersalah.”
“Tapi aku hampir membuatmu terlihat buruk di depan tim,” ucap Alena lirih.
“Tidak. Justru kau yang menyelamatkan situasi. Ingat, Alena, menjadi sekretarisku bukan hanya soal mengetik atau mencatat. Kau harus siap menghadapi serangan yang datang dari mana saja.”
Alena menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa kau tetap memilihku, Arsen? Dengan semua risiko ini, kau bisa saja menunjuk orang lain.”
Arsen terdiam sejenak, lalu mendekat. “Karena aku percaya padamu. Dan mungkin… karena aku butuhmu lebih dari sekadar sekretaris.”
Kalimat itu membuat jantung Alena berdegup kencang. Ruangan mendadak terasa terlalu sempit. Namun sebelum ia bisa merespons, pintu terbuka.
Nadine berdiri di sana, wajahnya penuh amarah yang disamarkan dengan senyum tipis. “Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat.”
---
Malam harinya, ketika kantor sudah sepi, Alena masih menunggu lift. Ia merasa tubuhnya lelah, tapi pikirannya jauh lebih berat.
Tiba-tiba, Nadine muncul lagi. Ia berjalan mendekat dengan langkah penuh keangkuhan. “Kau beruntung bisa selamat dari rapat tadi. Tapi jangan senang dulu. Dunia ini bukan hanya tentang kau dan Arsen. Ada banyak kepentingan yang tidak akan membiarkanmu berdiri di sisinya.”
Alena mengangkat dagu, mencoba tegar. “Kalau begitu, biarkan mereka mencoba. Aku tidak akan mundur.”
Nadine tersenyum miring. “Kau akan melihat sendiri betapa mahalnya harga yang harus kau bayar.”
Ucapan itu meninggalkan luka yang samar namun menusuk. Alena tahu ancaman itu bukan sekadar kata-kata kosong.
---
Di apartemen, Alena merenung lama di tepi jendela. Lampu kota berkelip di kejauhan, namun yang terpantul di matanya hanyalah bayangan antara pilihan: tetap menjadi sekretaris Arsen dengan segala resikonya, atau mundur sebelum segalanya menjadi lebih berbahaya.
Ia menggenggam dadanya sendiri, lalu berbisik pelan, “Sekretaris atau kekasih… mungkin pada akhirnya aku harus menjadi keduanya.”
---
Bagian 4
Hari berikutnya, suasana kantor Digantara Corp semakin tegang. Setelah insiden rapat kemarin, semua mata kini tertuju pada Alena. Beberapa pegawai membisikkan gosip saat ia lewat, sebagian lagi menatap dengan sinis, seakan menunggu kesalahannya berikutnya.
Alena menggenggam map erat-erat, berusaha menahan getaran di tangannya. Ia sadar, posisi ini membuatnya jadi sorotan bukan hanya karena statusnya sebagai sekretaris pribadi Arsen, tapi juga karena kedekatannya yang mulai tercium oleh orang-orang.
Seno menghampiri dengan senyum menenangkan. “Abaikan saja tatapan mereka. Fokus saja pada apa yang harus kau kerjakan.”
“Aku mencoba,” jawab Alena pelan. “Tapi sulit rasanya, Sen. Seakan semua orang ingin aku jatuh.”
“Itulah kenapa aku di sini. Kau tidak sendiri.”
Ucapan itu memberi sedikit kekuatan.
---
Siang menjelang sore, Arsen memanggil Alena ke ruang rapat pribadi. Di meja sudah tertata rapi dokumen, laptop, dan proyektor.
“Kau akan menemaniku dalam pertemuan dengan dewan direksi sore ini,” ucap Arsen tegas.
Alena terperangah. “Aku? Bukankah biasanya Seno yang mendampingimu?”
“Benar. Tapi kali ini aku ingin kau yang ada di sisiku. Anggap saja latihan untukmu.”
Seno yang ikut hadir tersenyum kecil. “Kau akan baik-baik saja. Anggap mereka hanya orang biasa, meski dalam kenyataan… mereka jauh dari kata biasa.”
---
Pertemuan dewan dimulai. Ruangan luas berisi kursi kulit hitam itu dipenuhi wajah-wajah senior yang berwibawa. Rafael duduk di ujung meja, menyimak dengan tenang.
Arsen mempresentasikan rencana ekspansi perusahaan, sementara Alena mencatat dan menampilkan data di layar sesuai isyaratnya. Awalnya berjalan lancar, hingga salah seorang direktur senior menatap Alena tajam.
“Sekretaris baru ini… sepertinya bukan orang dengan latar belakang bisnis, bukan? Mengapa kau menempatkannya di posisi strategis seperti ini, Arsen?”
Alena terdiam, jantungnya berdegup kencang. Sebelum ia sempat membuka mulut, Arsen menatap dingin ke arah direktur itu.
“Karena aku tidak hanya menilai seseorang dari ijazah atau pengalaman. Aku menilai dari kemampuan beradaptasi, integritas, dan… kepercayaan. Hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang atau jabatan.”
Ruang rapat seketika hening. Alena menunduk, matanya memanas. Ia tidak tahu harus merasa malu atau terharu dengan pembelaan itu.
Rafael hanya mengamati, lalu tersenyum samar. “Anak itu mulai mengerti apa artinya memimpin.”
---
Sepulang rapat, Alena duduk sendirian di ruang kerjanya. Kata-kata Arsen terus terngiang. Integritas, kepercayaan… Hatinya bergetar, tapi juga diliputi kebingungan.
Ia meraba dadanya sendiri, lalu bergumam, “Apa semua ini karena aku sekretarisnya, atau karena aku… lebih dari itu baginya?”
Saat ia tenggelam dalam pikiran, pintu diketuk. Nadine muncul dengan tatapan tajam. “Aku melihat bagaimana ia membelamu di depan dewan. Kau benar-benar menggunakan posisi ini untuk masuk ke hatinya, ya?”
“Nadine, aku tidak—”
“Cukup! Jangan pura-pura polos. Kau pikir dunia ini akan menerimamu begitu saja? Kau bukan tandinganku.”
Suasana menegang. Namun sebelum konflik memanas, Dinda tiba-tiba datang. Ia membawa beberapa dokumen untuk Alena. Saat melihat Nadine, ia langsung menyipitkan mata.
“Nadine, jangan ganggu adikku lagi. Kalau kau ingin bertarung, bertarunglah denganku, bukan dengannya.”
Nadine mendengus sinis, lalu melangkah keluar. Tapi sebelum pergi, ia sempat berbisik lirih di telinga Alena, “Sekretaris atau kekasih… pada akhirnya kau akan dipaksa memilih. Dan salah satu peran itu akan menghancurkanmu.”
---
Malam itu, di balkon apartemen, Alena menatap langit yang dipenuhi bintang. Angin malam menyapu wajahnya, seolah membisikkan rahasia takdir.
Arsen tiba-tiba muncul, berdiri di sampingnya sambil menyodorkan secangkir teh hangat.
“Kau terlihat lelah,” ucapnya pelan.
“Aku hanya… bingung.”
“Bingung tentang apa?”
“Bingung tentang siapa diriku di sisimu. Sekretarismu? Atau sesuatu yang lain?”
Arsen menatapnya lama, seakan mencari jawaban yang tepat. Lalu ia mendekat, cukup dekat hingga Alena bisa mendengar detak jantungnya.
“Mungkin kau keduanya. Dan mungkin, justru itulah yang membuatku takut kehilanganmu.”
Hati Alena bergetar hebat. Tapi sebelum ia bisa membalas kata-kata itu, suara ponsel Arsen berdering keras. Ia menjawab, wajahnya mendadak serius.
“Besok pagi… serangan besar di pasar saham? Siapa yang berani?”
Alena terdiam, menyadari satu hal: perannya sebagai sekretaris tidak hanya menyangkut urusan kantor, tapi juga medan perang yang jauh lebih berbahaya.
---
Bagian 5
Suasana kantor Digantara Corp malam itu terasa berbeda. Hening, namun penuh aura yang menekan. Lampu-lampu neon yang redup di lantai dua puluh lima memberi kesan misterius, seakan tembok-tembok kaca menjadi saksi bisu atas segala yang terjadi antara Arsen Digantara dan Alena Prameswari.
Alena duduk di kursinya, tubuhnya sedikit tertunduk, dengan jemari yang masih menari di atas papan ketik. Laporan keuangan belum rampung, dan rumor tentang rencana akuisisi yang bocor ke media semakin menambah beban pikiran. Dia tahu, posisinya sebagai sekretaris Arsen menuntut kesetiaan penuh—tapi hatinya mulai tidak bisa lagi memisahkan diri antara peran profesional dan perasaan pribadi.
Ketika pintu ruangan terbuka perlahan, langkah kaki berat terdengar mendekat. Arsen masuk, jasnya sudah dilepas, dasinya longgar menggantung di leher. Wajahnya tegas, namun ada lelah yang kentara. Tanpa berkata apa-apa, dia berdiri di belakang kursi Alena, menatap layar laptop yang penuh dengan angka-angka dan grafik.
“Masih bekerja?” suaranya serak, tapi lembut.
Alena menoleh pelan, menahan degup jantungnya. “Aku harus menyelesaikan laporan ini malam ini. Besok rapat dengan dewan direksi.”
Arsen mendekat, tangannya bertumpu di sandaran kursi. Ia membungkuk sedikit, napasnya terasa di tengkuk Alena, membuat gadis itu menegang. “Kau terlalu memaksakan diri,” bisiknya.
Alena menggigit bibir. “Kalau aku tidak melakukannya, siapa lagi? Aku sekretarismu, Arsen. Itu tugasku.”
Arsen terdiam sejenak, lalu menarik kursi di sebelahnya dan duduk. Ia memandangi Alena, seakan berusaha membaca isi hatinya. “Kau memang sekretarisku. Tapi aku tidak ingin kau berpikir hanya itu arti keberadaanmu di sisiku.”
Kata-kata itu menusuk langsung ke d**a Alena. Ia ingin menjawab, tapi lidahnya kelu. Bagian dalam dirinya ingin percaya, ingin mengakui bahwa hubungannya dengan Arsen sudah jauh melampaui batas profesional. Namun sisi lain masih terikat pada ketakutan—ketakutan akan cemooh, skandal, dan terutama pada Nadine Sasmita, rival cinta yang selalu siap menyerang.
“Arsen…” suara Alena hampir bergetar, “jangan katakan hal yang membuatku sulit menjaga jarak.”
Arsen menatapnya dalam, mata hitamnya penuh ketegasan sekaligus kerentanan yang jarang terlihat. “Aku tidak pernah ingin ada jarak di antara kita, Alena. Kau tahu itu. Dari awal aku memilihmu bukan hanya karena kemampuanmu, tapi karena aku… butuh kau di sisiku. Lebih dari seorang sekretaris.”
Alena menarik napas panjang, menatap meja untuk menghindari tatapan itu. “Tapi dunia tidak akan memandang kita seperti itu. Mereka akan bilang aku hanya perempuan yang memanfaatkan posisiku. Kau tahu sendiri, Nadine sudah menyebarkan gosip itu di belakangku.”
Nama Nadine membuat rahang Arsen mengeras. Ia mengepalkan tangan di atas meja. “Nadine tidak lebih dari bayangan masa lalu yang berusaha bertahan hidup dengan iri dan dendam. Dia tidak bisa menyentuhmu, selama aku berdiri di sini.”
Hening menggantung. Alena mendongak, menatap wajah pria itu—CEO muda yang dikenal dingin, kejam di ruang rapat, namun kini menunjukkan sisi yang hanya ia yang bisa lihat.
Perasaan hangat menyelinap di dadanya, membuat Alena hampir menyerah pada kata-kata Arsen. Namun sebelum ia bisa membalas, suara pintu terbuka lagi memecah momen itu.
Seno Wijaya muncul, wajahnya serius, membawa beberapa berkas di tangannya. “Arsen,” ucapnya tegas, “aku perlu bicara.”
Arsen menoleh, ekspresi dinginnya kembali. “Sekarang?”
“Ya. Ini penting. Tentang kebocoran data dan kemungkinan ada orang dalam yang berkhianat.”
Alena menegang. Kata ‘berkhianat’ bergema dalam pikirannya. Ia tahu betul, dunia bisnis Arsen penuh dengan intrik, dan setiap langkah bisa berarti pengkhianatan baru.
Arsen berdiri, lalu menatap Alena sejenak. “Tunggu aku di sini. Jangan pergi kemana-mana.”
Alena mengangguk pelan, meski hatinya penuh resah.
Arsen dan Seno masuk ke ruang rapat kecil di samping. Suara mereka samar terdengar, meski Alena berusaha tidak mendengarkan. Namun beberapa kata berhasil menyusup—“rafael… pengkhianatan… saham… ancaman.”
Nama Rafael, paman Arsen, membuat Alena semakin bingung. Bukankah Rafael selalu mendukung Arsen? Apa mungkin ada permainan lain di balik layar?
Saat pikirannya penuh pertanyaan, telepon di mejanya bergetar. Pesan singkat muncul dari nomor tak dikenal:
“Hati-hati. Tidak semua yang ada di sisimu adalah sekutu.”
Alena terdiam, tubuhnya membeku. Siapa yang mengirim pesan itu? Apa ini ancaman? Atau peringatan?
Detik itu juga, ia sadar bahwa menjadi sekretaris Arsen Digantara bukan hanya tentang menjadwalkan rapat dan mengetik laporan. Itu berarti ikut terseret ke dalam pusaran bisnis yang dipenuhi rahasia, pengkhianatan, dan cinta yang membara.
Dan malam itu, di tengah ruangan kantor yang sepi, ia harus memilih: tetap berpegang pada perannya sebagai sekretaris… atau mengakui bahwa hatinya sudah lama menjadi milik sang CEO.
---