Bagian 1 – Pelukan di Tengah Luka
Hujan turun deras malam itu, seolah langit ingin menenggelamkan segala kepedihan yang belum sempat terucapkan. Di dalam rumah tua tempat mereka bersembunyi, suara gemericik air dan gelegar petir menjadi musik pengiring yang tak diundang.
Alena Prameswari berdiri di dekat jendela, tangannya meraba dinginnya kaca. Matanya menatap lurus ke luar, namun pikirannya tidak benar-benar di sana. Ia masih mengingat dengan jelas wajah Arsen ketika mereka terakhir kali berdebat—penuh amarah, penuh ketakutan, sekaligus penuh kerinduan yang tak terucapkan.
Langkah berat terdengar dari arah pintu. Alena menoleh, dan di sana, berdiri sosok yang hatinya ia kenal meski tubuhnya nampak letih dan penuh luka: Arsen Digantara.
Pakaian Arsen basah kuyup, wajahnya pucat karena