Bagian 1 – Bisikan yang Terungkap
Malam itu angin bertiup lembut, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore. Rumah persembunyian mereka diterangi cahaya lampu minyak, memberi suasana hangat namun penuh kegelisahan.
Arsen duduk bersandar di kursi kayu, matanya menatap kosong ke arah jendela yang terbuka setengah. Alena duduk di seberangnya, menggenggam cangkir teh yang sudah hampir dingin.
Keheningan di antara mereka begitu pekat, seakan setiap kata yang tak terucap menggantung di udara.
“Aku tidak bisa terus seperti ini, Sen,” suara Alena akhirnya pecah. Ia menatap lurus ke mata Arsen, tak ada lagi keraguan yang ditutupi. “Aku mencintaimu… tapi aku juga takut.”
Arsen menarik napas panjang, menunduk sejenak sebelum menjawab. “Aku tahu. Aku merasakannya setiap kali kau menjauh tapi t