Bagian 1 – Luka yang Membawa Dilema
Udara pagi di vila tua itu begitu dingin. Kabut masih menyelimuti pegunungan, namun ketenangan alam sama sekali tidak bisa menenangkan hati mereka. Malam penuh darah yang baru berlalu meninggalkan luka yang terlalu dalam, bukan hanya di tubuh, tapi juga di jiwa.
Arsen terbaring di ranjang besar dengan tubuh penuh perban. Bahunya yang tertembak malam itu masih mengucurkan rasa perih, meski obat penenang sudah bekerja. Nafasnya berat, setiap tarikan terasa seperti pertarungan baru. Namun matanya, meski sayu, tidak pernah berhenti mencari satu wajah—Alena.
Gadis itu duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Arsen seolah jika ia melepaskannya, pria itu akan hilang ditelan gelap. Rambutnya berantakan, matanya sembab, namun sorotnya begitu dalam.
“Kenapa k