Bagian 1 – Bara yang Menyala dalam Diri
Suara tembakan bergema di kejauhan, membelah malam yang lengang. Arsen berdiri di tepi gedung tua yang hampir runtuh, napasnya terengah, mata menatap gelap seakan mencari jawaban. Seno di sampingnya, wajahnya basah oleh keringat meski udara dingin menusuk.
“Kau masih bisa mundur sekarang, Sen,” ucap Seno dengan suara rendah, namun penuh ketulusan.
Arsen menggeleng pelan, rahangnya mengeras. “Tidak, Seno. Mereka sudah melukai orang-orang yang kucintai. Mereka sudah menginjak harga diriku. Mundur bukan lagi pilihan. Aku akan membalas.”
Tatapan Arsen berkilat, seolah api yang sudah lama terpendam kini pecah tak terkendali.
---
Di tempat lain, Alena duduk di kamar, memeluk lututnya. Dinda masuk perlahan, membawa segelas teh hangat. Wajah Alena puca