Bagian 1 – Bayangan Kehilangan
Malam telah berlalu, tetapi bara yang membakar pelabuhan masih menorehkan luka di benak semua yang terlibat. Udara di sekitar masih dipenuhi bau kayu hangus, besi berkarat, dan sisa-sisa abu yang beterbangan.
Arsen duduk di tepian dermaga, menatap kosong ke arah laut hitam yang hanya diterangi cahaya bulan. Tubuhnya penuh luka, namun yang lebih menyakitkan adalah pikirannya. Api dendam yang semula membara kini telah mereda, tetapi meninggalkan kekosongan besar di dadanya.
Alena berjalan pelan mendekat, langkahnya ragu, seakan takut mengusik keheningan yang rapuh itu. Ia menatap punggung Arsen yang kokoh namun terlihat rapuh malam itu.
“Arsen…” panggilnya lirih, duduk di samping pria itu.
Arsen tidak menjawab. Tatapannya tetap pada ombak yang terus datang