Bagian 1 – Benih Perpecahan
Pagi itu, kabut tipis menyelimuti markas. Udara dingin menusuk, namun lebih dingin lagi suasana hati mereka yang tinggal di dalamnya. Sejak kebenaran mengenai Dinda terkuak, semua orang berjalan di atas pecahan kaca, seolah satu langkah saja bisa memicu ledakan baru.
Arsen duduk di ruang strategi, menatap layar monitor yang menampilkan data terakhir. Musuh bergerak cepat. Setiap langkah mereka seakan disusun untuk merusak hubungan internal. Serangan tidak hanya datang dari luar, tapi juga lewat bisikan-bisikan, fitnah, dan manipulasi.
Seno datang dengan wajah penuh kegelisahan.
“Arsen, aku baru dengar kabar… beberapa orang di tim mulai meragukanmu. Mereka bilang kau terlalu melindungi Alena, terlalu membiarkan emosi menguasai keputusan.”
Arsen mendengus. “I