Bagian 1 – Senyum yang Menyembunyikan Luka
Markas itu tampak lebih sepi dari biasanya. Sejak perpecahan dengan Nadine, suasana berubah. Tak ada lagi canda ringan para anggota, tak ada kehangatan api unggun yang biasanya memecah malam. Yang tersisa hanyalah kewaspadaan, seakan setiap sudut menyimpan mata yang mengintai.
Arsen berdiri di depan peta besar yang menempel di dinding ruang komando. Tangan kirinya menggenggam spidol, tapi sejak tadi tidak ada garis baru yang ia goreskan. Matanya kosong, pikirannya melayang jauh.
Seno masuk, membawa dua cangkir kopi hitam. “Kau butuh ini,” katanya, meletakkan salah satunya di meja.
Arsen tersenyum tipis. “Terima kasih. Tapi rasanya kopi tidak cukup untuk membuat kepalaku ringan.”
“Kalau begitu,” Seno duduk, menatap sahabatnya, “katakan padaku