Bagian 1
Malam merayap perlahan, membawa keheningan yang justru terasa menyesakkan. Di apartemen tinggi yang berlapis kaca, Arsen berdiri di hadapan jendela besar, menatap ke bawah, ke arah lampu-lampu kota yang gemerlap. Setiap cahaya terasa seperti mata yang mengawasi, menelanjangi rahasia yang begitu rapat ia simpan.
Berkas yang diberikan Selena semalam masih tergeletak di meja kerja. Ia belum membukanya lagi, meski bayangan tentang isi dokumen itu terus menghantui pikirannya. Setiap detik ia menunda, rasanya seperti menunda takdir yang sudah pasti akan menghantam.
Liora masuk perlahan, membawa secangkir kopi hangat. “Kau belum tidur lagi?” tanyanya lembut.
Arsen menoleh, sekilas senyum tersungging di wajahnya, meski mata tetap menyiratkan letih yang berat. “Tidur hanya membuang waktu ketika kepala dipenuhi begitu banyak hal.”
Liora mendekat, meletakkan kopi itu di meja, lalu menatap berkas tebal di sana. “Itu… bukan berkas biasa, bukan?”
Arsen terdiam. Ada keraguan besar dalam dirinya untuk mengatakan yang sebenarnya. Ia tahu Liora cerdas, ia tahu Liora bisa membaca isyarat kecil yang bahkan orang lain tak akan sadari. Tapi justru itu yang membuatnya ragu. Jika Liora tahu terlalu banyak, ia bisa ikut terseret dalam pusaran bahaya ini.
“Liora,” ujarnya akhirnya, suara rendah penuh tekanan, “ada hal-hal yang bahkan aku tak ingin kau dengar. Demi keselamatanmu.”
Wanita itu tersenyum getir. “Tapi aku sudah lama berada di sisimu, Arsen. Aku tahu apa pun yang kau sembunyikan, pada akhirnya akan tetap melukaiku, entah aku tahu atau tidak.”
Kata-kata itu menusuk dalam. Arsen hanya bisa menarik napas panjang, lalu memalingkan wajahnya kembali ke jendela. Ia tidak ingin Liora melihat betapa rapuhnya ia saat itu.
---
Pagi berikutnya, kantor pusat Dirgantara Corp dipenuhi aura tegang. Arsen berjalan masuk dengan tatapan dingin, langkah tegasnya membuat setiap pegawai menunduk. Begitu sampai di ruang kerjanya, ia membuka berkas itu untuk pertama kalinya dengan penuh kewaspadaan.
Matanya menyapu lembar demi lembar dokumen yang penuh angka, catatan transfer, hingga nama-nama asing yang tampaknya terhubung dengan jaringan bayangan Surya Mahardika. Semakin ia membaca, semakin jelas bahwa Surya tidak hanya sekadar seorang pebisnis kotor. Ia adalah dalang besar yang bermain di balik layar, mengendalikan politik, kriminal, bahkan aparat hukum.
Namun ada satu hal yang membuat jantung Arsen berhenti sejenak. Di antara daftar nama itu, ia menemukan sesuatu yang tak terduga—nama keluarganya sendiri.
Davinora A. Haryanto.
Nama adiknya.
Tangan Arsen gemetar. Ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin Davinora, adik yang selama ini ia lindungi mati-matian, terlibat dalam jaringan Surya?
Atau… apakah nama itu hanya kebetulan? Atau dipalsukan?
Pikiran Arsen berputar kacau. Ia berdiri dari kursinya, berjalan bolak-balik seperti singa yang terkurung dalam kandang. Semua kemarahan, dendam, dan keraguannya bercampur jadi satu.
---
Sore itu, Selena muncul tanpa pemberitahuan. Ia duduk di kursi ruang kerja Arsen dengan anggun, seperti rumah sendiri.
“Aku tahu kau sudah membacanya,” ucapnya sambil menatap berkas di meja.
Arsen langsung menghampiri, wajahnya dingin. “Kau tahu apa tentang ini?”
Selena tersenyum samar. “Lebih banyak daripada yang kau kira. Rahasia paling besar dari Surya bukanlah kekayaannya, bukan pula kekejamannya. Rahasia itu ada pada orang-orang yang ia ikat dengan rantai tak terlihat.”
Arsen menatap tajam. “Adikku?!”
Selena terdiam sejenak, lalu menunduk sedikit. “Ya. Davinora bukan sekadar nama dalam daftar itu. Ia memang terhubung, entah sebagai korban atau sebagai pion. Aku belum bisa memastikan. Tapi satu hal yang jelas—Surya memegang kendali yang bahkan kau sendiri tidak akan sanggup putuskan dengan mudah.”
Arsen mengepalkan tinjunya. Suara napasnya berat, seperti menahan amarah yang bisa meledak kapan saja. “Kalau dia hanya pion, aku akan menyelamatkannya. Tapi kalau dia ikut berkhianat… aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya.”
Selena menatapnya dalam-dalam, lalu tersenyum getir. “Itulah harga dari dendam, Arsen. Kadang api yang kau nyalakan sendiri bisa membakar rumahmu.”
---
Malam itu, Arsen duduk sendirian di balkon apartemennya. Angin malam menusuk, tapi hatinya jauh lebih dingin. Ia menatap foto lama yang ia simpan di ponselnya—foto dirinya bersama Davinora ketika masih kecil, tersenyum tanpa beban dunia.
“Jika semua ini benar,” bisiknya lirih, “aku bersumpah akan menemukan kebenarannya. Entah dengan darah, atau dengan pengorbanan.”
---
Bagian 2
Hari-hari berikutnya menjadi semakin menyesakkan bagi Arsen. Ia tidak bisa tidur nyenyak, tidak bisa makan dengan tenang, bahkan setiap rapat besar di kantornya terasa hanya formalitas yang lewat begitu saja. Di dalam kepalanya hanya ada satu hal: nama adiknya di dalam daftar kelam Surya Mahardika.
Arsen tahu ia tidak bisa bertindak gegabah. Satu langkah salah saja bisa membuat semua orang tahu bahwa ia sudah mencium jejak Surya. Apalagi, jika benar Davinora terlibat, maka langkah yang salah bisa berarti menyeretnya lebih jauh ke jurang yang ia sendiri tak bisa tarik kembali.
Siang itu, ia memutuskan untuk mendatangi Davinora. Sudah lama ia tidak mengunjunginya secara langsung, hanya berkomunikasi lewat telepon atau asisten pribadinya. Davinora adalah adik yang sangat ia sayangi, satu-satunya keluarga yang masih tersisa setelah kehancuran masa lalu.
Rumah Davinora berada di kawasan elit yang tenang, dengan halaman luas penuh bunga yang selalu ia rawat sendiri. Begitu Arsen memasuki gerbang, bayangan masa kecil langsung menyeruak: sosok Davinora kecil yang selalu berlari menyambutnya setiap kali ia pulang. Tapi kini yang menyambutnya hanyalah pintu rumah yang tertutup rapat, dan wajah datar seorang pelayan yang membungkuk.
“Selamat siang, Tuan Arsen. Nona Davinora sedang berada di ruang kerja.”
Arsen melangkah masuk, menapaki lantai marmer yang berkilau. Suasana rumah itu berbeda dari biasanya. Dingin, hening, seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
Ketika pintu ruang kerja dibuka, Davinora menoleh dengan senyum hangat. “Kakak!” serunya, berdiri dan memeluknya erat.
Arsen membalas pelukan itu dengan perasaan campur aduk. Ia ingin percaya bahwa adiknya masih murni, masih suci, masih tak terjamah oleh permainan kotor dunia. Tapi bayangan dokumen itu terus menghantui benaknya.
“Aku merindukanmu,” ujar Davinora dengan suara tulus. “Kau terlalu sibuk akhir-akhir ini. Apa kau makan dengan baik? Apa kau tidur cukup?”
Arsen mengangguk singkat. “Aku baik-baik saja. Justru aku yang ingin menanyakan hal itu padamu.”
Davinora mengerutkan dahi. “Maksudmu?”
Arsen duduk di hadapan meja kerja Davinora, menatapnya lurus. “Aku ingin tahu, dengan siapa saja kau berhubungan akhir-akhir ini? Baik dalam urusan bisnis, pergaulan, atau bahkan sekadar kenalan.”
Wajah Davinora sedikit berubah. Ada bayangan gugup yang cepat ia sembunyikan dengan senyuman manis. “Kakak ini aneh. Tentu saja aku punya banyak kenalan. Apa itu penting?”
“Penting,” jawab Arsen cepat, dengan nada lebih keras dari yang ia maksud. “Sangat penting.”
Suasana ruangan mendadak tegang. Davinora terdiam, lalu menunduk. Tangannya bermain dengan pulpen di meja. “Apakah ini tentang… sesuatu yang tidak ingin kau katakan padaku?”
Arsen menahan napas. Ia hampir saja melontarkan tuduhan, tapi sesuatu dalam dirinya menahan. Jika ia langsung menuduh, Davinora bisa menutup diri. Ia harus mencari cara lain.
“Aku hanya ingin kau berhati-hati,” katanya akhirnya. “Ada banyak orang yang bisa memanipulasi tanpa kau sadari. Jangan mudah percaya.”
Davinora menatapnya, kali ini dengan mata berkaca-kaca. “Kau selalu melindungiku, Kak. Tapi terkadang aku merasa seperti kau tidak percaya aku bisa menjaga diriku sendiri.”
Arsen terdiam. Kata-kata itu menampar hatinya. Ia memang selalu memperlakukan Davinora seperti anak kecil, seperti sesuatu yang rapuh. Tapi sekarang, justru hal itulah yang membuatnya sulit melihat dengan jernih apakah Davinora benar-benar bersih atau tidak.
---
Malam itu, Arsen kembali ke apartemen dengan kepala penuh beban. Liora sudah menunggunya di ruang tamu, wajahnya khawatir.
“Kau menemui Davinora?” tanyanya lembut.
Arsen mengangguk lelah. Ia melepaskan jasnya, lalu duduk di sofa. “Aku tidak mendapatkan apa-apa. Dia tetap Davinora yang sama, tapi ada sesuatu yang aneh… aku bisa merasakannya.”
Liora duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. “Mungkin kau terlalu curiga. Atau mungkin… kau takut kehilangan dia juga, seperti dulu kau kehilangan segalanya.”
Arsen memejamkan mata, genggaman Liora terasa hangat. “Aku tidak bisa lagi membedakan antara rasa sayang dan rasa curiga. Semua bercampur.”
Liora menunduk, lalu berbisik lirih, “Kalau rahasia itu benar-benar ada… apakah kau siap menerima bahwa Davinora mungkin tidak lagi berdiri di pihakmu?”
Pertanyaan itu menancap dalam. Arsen tidak menjawab. Karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu ia belum siap mendengar jawabannya sendiri.
---
Keesokan harinya, Selena menghubunginya lagi. Kali ini tidak dengan senyum licik atau sindiran manis. Suaranya di telepon terdengar serius.
“Arsen,” katanya tegas, “kau harus segera memutuskan. Ada pergerakan besar. Surya mulai mencurigai bahwa kau sudah menyentuh rahasianya. Jika kau terlambat sedikit saja, bukan hanya kau—tapi juga Liora dan Davinora akan terseret.”
Arsen berdiri di balkon kantornya, menatap langit biru yang terasa lebih berat dari baja. Suara Selena menggema di kepalanya, tapi hatinya masih berputar pada satu nama.
Davinora.
Ia menggenggam ponselnya erat, lalu berbisik pada dirinya sendiri, “Jika kau menyembunyikan sesuatu, aku akan menemukannya. Apa pun yang terjadi.”
---
Bagian 3
Hujan turun deras malam itu, membasahi jalan-jalan kota. Lampu-lampu jalanan berpendar samar, seperti kunang-kunang yang terjebak dalam kabut. Di balik kaca mobilnya, Arsen menatap jalanan dengan pandangan kosong, tetapi pikirannya bekerja lebih cepat dari derasnya air hujan.
Sejak pertemuannya dengan Davinora, ia tidak bisa tenang. Ada sesuatu yang salah dalam tatapan adiknya, sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Ia merasa Davinora menyembunyikan sesuatu, tapi entah apa.
Arsen tahu satu hal: ia tidak bisa lagi hanya menunggu. Ia harus bergerak.
---
Beberapa hari kemudian, ia mulai menjalankan rencana kecilnya. Tidak langsung menanyai Davinora, melainkan mengikuti jejaknya secara diam-diam. Dengan kekuasaan yang ia miliki, Arsen bisa saja mengutus orang lain untuk memata-matai, tetapi kali ini ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Malam itu, ketika Davinora memberi tahu bahwa ia akan menghadiri jamuan makan malam bersama rekan bisnis barunya, Arsen pura-pura tidak memperhatikan. Namun, saat Davinora berangkat dengan mobilnya, Arsen sudah lebih dulu menunggu di sebuah mobil hitam di kejauhan.
Ia mengikuti dari jauh, menahan napas setiap kali lampu merah memaksa mereka berhenti. Mobil Davinora melaju ke arah pusat kota, lalu berhenti di sebuah restoran mewah yang jarang sekali dikunjunginya.
Arsen mengenakan topi hitam dan masker tipis, lalu turun dari mobil. Ia masuk melalui pintu belakang restoran, menyuap seorang karyawan agar bisa masuk ke area staf. Dari balik tirai kecil, ia bisa melihat Davinora berjalan masuk dengan anggun, gaun hitam sederhana menambah pesonanya. Ia tersenyum ramah kepada seorang pria yang sudah menunggunya di meja.
Arsen membeku.
Pria itu bukan sembarang orang. Ia mengenalnya—salah satu tangan kanan Surya Mahardika, bernama Raka Wijaya.
Kenapa Davinora bisa bersama dia?
Arsen menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas, tetapi gestur tubuh keduanya cukup membuat darahnya mendidih. Davinora tampak berbicara serius, sesekali menunduk, lalu mencatat sesuatu di buku kecil. Raka menatapnya dengan tatapan penuh kepuasan, seakan pembicaraan itu berjalan sesuai harapan.
Arsen hampir saja menerobos masuk, tetapi ia menahan diri. Ia tahu itu bukan waktu yang tepat. Jika ia membuat keributan sekarang, Davinora bisa membencinya karena tidak percaya. Dan lebih buruk lagi, Surya bisa langsung menyadari bahwa Arsen sudah mencium jejaknya.
---
Setelah makan malam selesai, Arsen mengikuti Davinora sampai ke rumahnya. Baru setelah itu ia kembali ke apartemennya sendiri, di mana Liora sudah menunggunya.
Wajah Liora pucat ketika melihat ekspresi Arsen. “Ada apa? Apa yang kau temukan?”
Arsen menjatuhkan dirinya ke sofa, menatap langit-langit dengan mata kosong. “Dia… bertemu dengan Raka Wijaya.”
Liora terperanjat. “Raka? Orang kepercayaan Surya itu?”
Arsen mengangguk lambat. “Aku melihatnya sendiri. Mereka berbicara cukup lama. Aku tidak tahu isi percakapan itu, tapi aku bisa merasakan… Davinora bukan sekadar korban. Dia menyembunyikan sesuatu.”
Liora duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. “Lalu apa langkahmu?”
Arsen menutup matanya. “Aku belum tahu. Hatiku ingin langsung menanyainya, tapi logikaku tahu itu akan membuatnya menutup diri. Aku harus mencari bukti lain, sesuatu yang tidak bisa ia bantah.”
---
Hari-hari berikutnya, Arsen semakin dalam masuk ke dalam permainan ini. Ia mulai menyelidiki transaksi keuangan, proyek-proyek yang Davinora jalankan, hingga daftar kontak di sekitar lingkarannya.
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak ia menemukan kejanggalan. Ada aliran dana yang masuk ke rekening perusahaan Davinora, jumlahnya besar, dan berasal dari beberapa perusahaan cangkang yang terkait dengan Surya Mahardika.
Arsen menatap dokumen di layar komputernya dengan tangan bergetar. “Tidak mungkin… dia terlibat sejauh ini.”
Tetapi fakta tidak bisa dibohongi. Semua jejak mengarah ke sana.
---
Malam itu, Selena menghubunginya lagi. Kali ini mereka bertemu langsung, di sebuah gudang kosong yang sudah lama tidak terpakai.
“Kau sudah melihatnya sendiri, bukan?” ujar Selena dingin, sambil menyalakan rokoknya. “Davinora tidak sebersih yang kau kira. Dia sudah masuk terlalu jauh.”
Arsen menatapnya tajam. “Apa yang kau tahu?”
Selena tersenyum tipis. “Lebih banyak daripada yang bisa kau bayangkan. Tapi aku ingin mendengar dari mulutmu dulu. Sejauh apa kau rela menerima kenyataan tentang adikmu?”
Arsen menggertakkan gigi. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya. Sekalipun dia terjebak, aku akan menariknya keluar.”
Selena mendengus. “Itu masalahmu, Arsen. Kau selalu berpikir bisa menyelamatkan semua orang. Tapi kali ini, yang perlu kau tanyakan pada dirimu sendiri adalah: apakah Davinora ingin diselamatkan?”
Kata-kata itu membuat Arsen terdiam. Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari pukulan apa pun.
---
Sepulang dari gudang, Arsen duduk sendirian di ruang kerjanya. Lampu redup, segelas bourbon setengah penuh di tangannya. Ia menatap foto lama—dirinya bersama Davinora saat masih kecil. Senyum adiknya di foto itu begitu murni, begitu jauh dari kenyataan yang kini menjeratnya.
Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
“Davinora… apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?” bisiknya parau.
Dan malam itu, Arsen bersumpah pada dirinya sendiri: ia akan menemukan seluruh kebenaran, sekalipun itu berarti menghancurkan hati dan kepercayaannya sendiri.
---
Bagian 4
Arsen tidak tidur semalaman. Semua data yang ia kumpulkan berulang kali ia periksa, mencoba mencari celah yang bisa menjelaskan keterlibatan Davinora. Namun semakin ia mencari, semakin dalam jurang kecurigaan itu menelan dirinya.
Pagi buta, ia memutuskan untuk mendatangi salah satu nama yang muncul dalam daftar perusahaan cangkang: PT Laksana Bumi Energi, sebuah perusahaan tambang yang di atas kertas terlihat sah, namun punya rekam jejak transaksi mencurigakan. Perusahaan itu dikenal sebagai salah satu cangkang Surya Mahardika.
Dengan kedok sebagai investor, Arsen masuk ke dalam lingkaran kecil perusahaan itu. Ia bertemu dengan direktur mudanya, seorang pria bernama Kevin, yang tidak tahu siapa Arsen sebenarnya.
“Pak Arsen,” kata Kevin, menyalami tangannya dengan penuh hormat, “kami senang Anda tertarik berinvestasi. Perusahaan kami baru saja mendapat suntikan modal dari salah satu mitra terpercaya. Saya yakin kerja sama ini akan menguntungkan Anda.”
Arsen mencondongkan tubuhnya sedikit. “Mitra terpercaya? Siapa?”
Kevin tersenyum samar. “Seorang pengusaha muda yang sangat menjanjikan. Bernama… Davinora Mahesa.”
Arsen terdiam. Hatinya berdesir keras, tetapi wajahnya tetap dingin. Ia pura-pura terkejut, lalu mengangguk pelan. “Oh, jadi Davinora… yang menjadi mitra?”
Kevin mengangguk mantap. “Ya. Dia memang cerdas. Tahu bagaimana mengelola dana dengan bijak. Bahkan, hubungan beliau dengan jaringan bisnis besar membuat kami semakin kuat.”
Arsen menahan napas. Kata-kata Kevin menusuk telinganya. Hubungan Davinora dengan Surya bukan hanya dugaan—itu kenyataan.
---
Sepulang dari pertemuan itu, Arsen menghubungi Liora. Mereka bertemu di sebuah kafe kecil yang sepi. Liora bisa langsung membaca kegelisahan di wajah Arsen.
“Jadi benar?” tanya Liora, suaranya nyaris berbisik.
Arsen mengangguk. “Davinora bukan hanya bertemu dengan tangan kanan Surya. Dia sudah resmi menjadi bagian dari jaringan bisnis mereka.”
Liora menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Astaga… jadi dia… memilih sisi itu?”
Arsen menatap secangkir kopinya yang tak tersentuh. “Aku tidak tahu. Bagian dari diriku masih ingin percaya bahwa dia punya alasan. Davinora tidak mungkin melakukan ini tanpa terpaksa.”
“Dan kalau dia tidak terpaksa?” desak Liora.
Arsen terdiam lama. Pertanyaan itu kembali menghantam hatinya. Ia tidak bisa menjawab.
---
Malamnya, Arsen kembali menyelidiki. Ia meretas beberapa dokumen internal perusahaan Davinora, mencari tahu ke mana aliran dana itu bergerak. Apa yang ia temukan semakin mengejutkannya: sebagian dana digunakan untuk membeli senjata ilegal.
Arsen menggebrak meja. “Senjata… Davinora, apa yang kau lakukan?”
Ia memeriksa lebih dalam. Ternyata senjata-senjata itu tidak pernah sampai ke gudang Surya. Justru dialihkan ke kelompok-kelompok kecil yang selama ini menjadi musuh Surya di pasar gelap.
Arsen menarik napas panjang. Otaknya berpacu. Jadi… Davinora sebenarnya… melawan dari dalam?
Jika benar, maka semua kecurigaan selama ini salah. Davinora bukan pengkhianat. Ia sedang menyusun rencana besar, menyamar sebagai sekutu Surya untuk menghancurkannya dari dalam.
Tetapi mengapa Davinora tidak memberitahunya? Mengapa ia harus menanggung semua ini sendirian?
---
Arsen akhirnya memutuskan untuk menguji kebenaran dugaannya. Ia mendekati Selena, yang kembali menghubunginya beberapa hari kemudian.
“Kau terlihat berbeda,” kata Selena sambil menyeruput kopi di sebuah bar gelap. “Apa yang kau temukan?”
Arsen menatapnya tajam. “Aku tahu Davinora terlibat. Tapi aku juga tahu dia tidak sejalan dengan Surya. Dia sedang melakukan sesuatu di balik layar.”
Selena tersenyum tipis, seperti seseorang yang sudah menunggu jawaban itu sejak lama. “Akhirnya kau sadar.”
Arsen mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?”
“Davinora bukan sekadar korban, Arsen. Dia pion yang sedang bermain gila. Dia rela kotor demi menjatuhkan Surya. Tapi untuk melakukan itu, dia harus siap kehilangan segalanya—termasuk kau.”
Kata-kata itu menusuk. Arsen tahu Selena tidak berbohong.
“Kalau begitu kenapa dia tidak memberitahuku?” suara Arsen serak.
Selena mendekat, menatap langsung ke matanya. “Karena kau terlalu melindunginya. Kau tidak akan pernah mengizinkan dia masuk ke dunia ini jika tahu dari awal. Dan Davinora tahu itu. Jadi dia memilih diam.”
---
Malam itu, Arsen kembali ke apartemennya dengan langkah berat. Semua perasaan bercampur jadi satu: amarah, kekecewaan, kekaguman, sekaligus ketakutan.
Ia berdiri lama di balkon, menatap lampu-lampu kota. Angin malam menusuk kulitnya, namun yang menusuk hatinya lebih dalam adalah kenyataan bahwa adiknya kini bermain dalam api.
“Davinora… jika kau ingin perang, aku akan ikut berperang bersamamu. Tapi jangan pernah berpikir aku akan diam melihatmu terbakar sendirian.”
---
Bagian 5
Hujan turun deras malam itu. Arsen memarkir mobilnya di depan sebuah gudang tua di pinggiran kota—lokasi yang ditunjukkan dalam salah satu file transaksi rahasia. Ia datang sendirian, tanpa memberitahu siapa pun. Nalurinya berkata bahwa malam ini akan ada jawaban.
Langkah kakinya berderap berat di lantai beton basah. Di dalam gudang, cahaya lampu redup menerangi beberapa peti kayu besar. Suara orang-orang berbicara lirih terdengar dari sudut ruangan. Arsen bersembunyi di balik pilar besar, memperhatikan dengan cermat.
Lalu ia melihatnya. Davinora.
Berdiri tegak, mengenakan jas hitam, wajahnya dingin dan berwibawa. Bukan lagi gadis rapuh yang selalu ia lindungi, melainkan sosok pemimpin yang memberi instruksi dengan suara tegas.
“Pastikan senjata ini tidak jatuh ke tangan Surya. Kirimkan sesuai jalur ke kelompok perlawanan. Jangan ada kesalahan,” katanya.
Anak buahnya mengangguk, segera menjalankan perintah.
Arsen hampir tidak bisa bernapas. Jadi benar. Semua dugaannya terjawab malam ini: Davinora menyusup, berpura-pura menjadi sekutu Surya, hanya untuk menyalurkan sumber daya kepada musuh bebuyutannya. Ia mengorbankan nama baiknya, bahkan risiko nyawanya sendiri, demi menghancurkan Surya dari dalam.
Namun rasa lega itu hanya bertahan sesaat. Karena tiba-tiba, pintu gudang dibanting terbuka. Beberapa pria bersenjata masuk dengan langkah kasar. Di depan mereka, berdiri seseorang yang tidak asing—Surya Mahardika.
“Jadi ini permainanmu, Davinora?” suara Surya bergema lantang, penuh kemarahan. “Kau pikir aku tidak tahu? Sejak awal aku sudah mencium pengkhianatanmu.”
Darah Arsen berdesir. Ia hendak maju, tapi menahan diri.
Davinora tetap berdiri tegak, meski wajahnya menegang. “Jika kau sudah tahu, kenapa baru muncul sekarang, Surya?”
Surya tertawa dingin. “Karena aku ingin melihat seberapa jauh kau berani melangkah. Dan sekarang, permainanmu selesai.”
Pria-pria Surya mengangkat senjata, mengarahkannya pada Davinora dan anak buahnya.
Arsen merasakan jantungnya meledak. Ia tidak bisa lagi hanya menonton. Dari balik bayangan, ia keluar perlahan, pistolnya sudah terangkat.
“Tidak. Permainan ini baru dimulai.”
Suara itu membuat semua orang menoleh. Davinora terpaku melihat kakaknya berdiri di sana, wajahnya keras, mata dipenuhi amarah bercampur luka.
“Arsen…” bisiknya, hampir tidak percaya.
Surya terkejut sesaat, lalu menyeringai. “Ah, jadi sang kakak ikut turun tangan. Menarik. Sekarang aku tahu, darah kalian berdua sama berbahayanya.”
Pertempuran pecah seketika. Suara tembakan menghantam dinding, percikan api beterbangan dari peluru yang membentur logam. Arsen berlari ke arah Davinora, melindunginya sambil melepaskan tembakan balasan.
“Kenapa kau tidak pernah bilang padaku, Davinora?!” teriak Arsen di tengah kekacauan.
Davinora menunduk, matanya berkaca-kaca. “Karena aku tahu kau tidak akan mengizinkan aku melakukannya! Aku tidak bisa terus bersembunyi di balik punggungmu, Kak. Aku harus melawan dengan caraku sendiri!”
Arsen menahan amarah bercampur sedih. “Kau bodoh! Kau bisa terbunuh!”
Ledakan terjadi di sisi gudang, membuat lantai bergetar. Asap tebal memenuhi ruangan. Surya dan anak buahnya mundur, namun tatapan penuh dendamnya masih terarah pada keduanya.
“Kalian akan menyesal sudah melawan aku. Ini belum berakhir.” Surya meninggalkan gudang, sementara anak buahnya menutup jalan keluar dengan tembakan sporadis.
Arsen dan Davinora akhirnya berhasil keluar melalui pintu samping, napas mereka memburu, tubuh dipenuhi debu dan luka.
Di luar gudang, hujan masih deras. Arsen memandang adiknya dengan wajah penuh emosi.
“Davinora… aku tidak peduli seberapa jauh kau sudah melangkah. Aku tidak akan membiarkanmu melawan dia sendirian lagi. Jika kau memilih jalan ini, maka aku akan berjalan bersamamu.”
Davinora terisak, tapi juga tersenyum getir. “Aku tahu aku tidak bisa menyembunyikan semuanya selamanya… Kak, terima kasih.”
Arsen memeluknya erat di tengah hujan, seolah ingin melindungi semua luka yang sudah ia tanggung sendirian. Namun dalam pelukan itu, ia juga tahu: pertarungan mereka baru saja dimulai.
---