Bagian 1
Senja di langit Jakarta tampak muram, seolah menyembunyikan badai yang akan segera meledak. Di sebuah hotel mewah di pusat kota, sebuah acara pertemuan bisnis besar tengah digelar. Bagi orang luar, pertemuan itu hanyalah sekadar jamuan formal, tapi bagi Arsen Digantara, ia tahu di balik meja makan dan senyum-senyum palsu itu tersimpan percikan api yang siap membakar.
Arsen melangkah masuk ke aula utama, tubuhnya tegap dalam setelan hitam yang rapi. Tatapannya tajam, penuh kewaspadaan. Di sampingnya, Seno Wijaya, sahabat sekaligus tangan kanannya, berjalan dengan sikap tenang namun sigap, selalu siap menghadapi apapun.
“Ini akan jadi malam panjang,” bisik Seno dengan nada rendah.
Arsen hanya mengangguk, matanya sudah menyapu ruangan, mencari sosok yang sudah berhari-hari mengganggu pikirannya—Alena Prameswari.
Dan benar saja, di ujung aula, ia berdiri. Alena tampak mempesona dengan gaun biru tua yang anggun, rambut hitam panjangnya tergerai, wajahnya menampilkan ketegasan sekaligus keanggunan. Namun kehadirannya tidak sendirian. Di sisinya, seorang wanita berwajah dingin dan penuh keangkuhan berdiri—Nadine Sasmita. Rival yang belakangan ini kerap menyinggung nama Arsen di depan Alena.
Arsen merasakan dadanya mengeras. Seolah dunia sengaja mempertemukan mereka semua di tempat yang sama.
“Dia ada di sana,” ujar Seno pelan.
“Aku melihatnya,” jawab Arsen, suaranya dalam.
Langkahnya mantap menuju meja utama. Beberapa tamu menoleh, berbisik-bisik saat melihatnya. Nama Arsen Digantara memang bukan nama sembarangan. Sebagai pewaris sah dari keluarga Digantara, ia dikenal cerdas, dingin, sekaligus ditakuti lawan bisnisnya.
Ketika jarak mereka semakin dekat, mata Arsen dan Alena bertemu. Hanya sekejap, namun cukup untuk membuat suasana bergetar. Ada api, ada luka, ada juga sesuatu yang belum sempat terucapkan.
Namun sebelum salah satu dari mereka sempat berbicara, sebuah suara dalam dan berwibawa terdengar.
“Arsen.”
Arsen menoleh, mendapati pamannya, Rafael Dirgantara, berdiri dengan aura mengintimidasi. Rafael mengenakan jas abu gelap, rambutnya yang memutih sebagian menambah kesan bijaksana namun keras. Mata tajamnya memandang Arsen dengan penuh perhitungan, seakan setiap gerakan keponakannya adalah pion dalam permainan besar yang ia atur.
“Kau akhirnya datang,” kata Rafael, nada suaranya seperti perintah yang dibungkus dalam keramahan.
Arsen menatap balik, rahangnya mengeras. “Tentu saja, Paman. Aku tak pernah absen dari permainan yang penting.”
Rafael tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya pada Alena. “Dan rupanya, keluarga Prameswari juga hadir lengkap.”
Saat itu juga, seorang wanita lain masuk—Dinda Prameswari, kakak Alena. Berbeda dengan sang adik, Dinda memancarkan aura yang lebih dingin dan ambisius. Ia berjalan mantap, matanya menyapu seluruh ruangan dengan percaya diri.
Suasana aula seketika menegang. Di satu sisi, keluarga Digantara dengan segala kuasa dan bayang-bayang dendam. Di sisi lain, keluarga Prameswari, yang menyimpan luka lama dan juga ambisi besar.
Arsen menarik napas panjang. Tatapannya kembali pada Alena, kali ini lebih dalam. “Kita akan berbicara nanti,” ucapnya lirih, hanya terdengar olehnya dan Alena.
Alena terdiam, bibirnya sedikit bergetar, namun sebelum ia sempat menjawab, Nadine mencondongkan tubuh, senyum sinis menghiasi wajahnya. “Apa gunanya bicara dengan seseorang yang hanya tahu memimpin dengan amarah?”
Arsen melirik Nadine dengan tatapan tajam yang membuat wanita itu sempat kehilangan senyumnya. Namun Alena cepat menengahi, mencoba menutupi ketegangan. “Nadine, cukup.”
Meski begitu, kata-kata Nadine sudah cukup untuk memercikkan api. Seno di sisi Arsen bersiap, menyadari situasi bisa memanas kapan saja.
Dan benar saja, Rafael menepuk meja pelan, seolah ingin mengingatkan semua orang. “Malam ini adalah tentang kesepakatan. Tapi jangan lupa, setiap kesepakatan hanya berarti jika kita punya kekuatan untuk mempertahankannya.”
Ucapan itu terdengar seperti ancaman terselubung. Arsen merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia tahu, malam ini bukan hanya sekadar jamuan. Malam ini adalah awal dari pertempuran baru—pertempuran di mana cinta, dendam, dan pengkhianatan akan saling bertubrukan.
---
Bagian 2
Aroma wine dan hidangan mahal memenuhi udara, namun bagi Arsen, semuanya hanya kabut tipis yang menutupi niat tersembunyi para tamu. Musik orkestra mengalun lembut, tapi di balik alunannya, ketegangan mengalir deras.
Arsen duduk di kursi utama yang disediakan, Seno tepat di sisinya. Alena dan Dinda berada di seberang meja, sementara Nadine mengambil posisi di samping Alena, seolah ingin menunjukkan bahwa dialah yang pantas mendampingi sang pewaris Prameswari. Rafael berdiri di tengah, bagaikan sutradara yang mengatur panggung ini.
“Baiklah,” Rafael membuka percakapan, suaranya berat namun terukur. “Malam ini kita berkumpul bukan tanpa alasan. Ada kepentingan yang lebih besar daripada sekadar ego keluarga.”
Dinda menyandarkan tubuhnya, wajahnya datar namun matanya berkilat penuh ambisi. “Kalau begitu, tolong langsung ke inti, Pak Rafael. Kami bukan tipe orang yang suka basa-basi.”
Seno sempat melirik Arsen, dan Arsen hanya tersenyum tipis. Keangkuhan Dinda bukanlah hal baru baginya.
Namun sebelum Rafael sempat melanjutkan, Nadine menyela, nadanya penuh sindiran. “Aku hanya penasaran, apa benar Digantara masih punya kekuatan sebesar dulu? Bukankah sekarang sudah banyak yang goyah?”
Ruangan mendadak hening. Beberapa tamu yang ikut mendengarkan mulai saling berbisik. Tatapan Rafael menusuk ke arah Nadine, lalu perlahan bergeser pada Arsen. Seolah ia ingin tahu bagaimana keponakannya akan menanggapi provokasi itu.
Arsen tidak langsung menjawab. Ia mengangkat gelas wine di depannya, memutarnya perlahan, lalu menatap lurus ke arah Nadine. Senyum tipis muncul di wajahnya, namun matanya dingin bagai es.
“Pertanyaan bagus,” ujarnya tenang. “Kekuatan tidak selalu diukur dari apa yang terlihat. Kadang, kekuatan justru ada pada kemampuan untuk membuat lawan tidak menyadari kapan mereka akan jatuh.”
Nadine terdiam, senyumnya sempat pudar. Alena, yang sejak tadi mencoba menahan diri, akhirnya angkat bicara. “Cukup. Kita semua di sini bukan untuk saling menjatuhkan.”
Arsen menoleh padanya, menatap dalam. Ada sekilas kelembutan dalam sorot matanya, tapi dengan cepat ia sembunyikan di balik sikap dinginnya.
Rafael tertawa kecil, memecah ketegangan. “Anak-anak muda, darah kalian masih terlalu panas. Jangan lupa, bisnis adalah permainan panjang. Hanya mereka yang bisa menahan diri yang akan bertahan.”
Namun Dinda tidak puas. Ia mencondongkan tubuh ke depan. “Kalau begitu, mari kita bicara tentang masa depan. Tentang bagaimana dua keluarga besar ini akan menempuh jalan masing-masing. Atau mungkin…” ia berhenti sejenak, menatap Arsen dengan tajam, “…jalan yang sama.”
Kata-kata itu membuat beberapa orang di meja menoleh kaget. Jalan yang sama? Apakah Dinda sedang membicarakan sebuah aliansi?
Arsen mengangkat alisnya sedikit, pura-pura tak terpengaruh. “Aliansi, kau maksud?”
“Lebih dari sekadar aliansi,” jawab Dinda datar. “Sebuah kesepakatan jangka panjang. Untuk memastikan bahwa baik Digantara maupun Prameswari tetap berdiri di puncak. Dan itu… hanya bisa terjadi jika ada pengikat yang cukup kuat.”
Tatapan Dinda bergeser cepat pada Alena, lalu kembali pada Arsen. Semua orang segera menangkap maksudnya.
Alena menegang, kedua tangannya mengepal di bawah meja. “Kakak, jangan bicarakan hal seperti itu di sini,” bisiknya tegas, namun Dinda hanya menoleh sekilas tanpa peduli.
Nadine justru tersenyum puas, seolah ia menemukan celah untuk kembali menusuk. “Ah, jadi begini. Rupanya keluarga Prameswari sudah menyiapkan rencana, ya? Menyatukan dua keluarga lewat… pernikahan?”
Beberapa tamu mulai berbisik lebih keras. Situasi yang tadinya hanya menegang kini berubah jadi gemuruh.
Arsen meneguk sedikit wine, matanya tajam menatap Dinda. Ia tahu, wanita itu bukan orang sembarangan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bukan sekadar omongan kosong.
Rafael tampak tersenyum samar, menikmati bagaimana api semakin membesar. “Ide yang menarik,” ucapnya santai. “Tapi ide besar selalu punya konsekuensi besar.”
Arsen akhirnya meletakkan gelasnya, tubuhnya condong ke depan. “Jika itu yang kau maksud, Kak Dinda, maka izinkan aku mengingatkan satu hal—aku tidak pernah menjadi pion dalam permainan siapapun.”
Suara Arsen terdengar rendah namun penuh kekuatan, cukup untuk membuat suasana meja kembali membeku.
Alena menatapnya, campuran lega sekaligus khawatir. Nadine terlihat kecewa, sementara Dinda hanya tersenyum dingin, seolah sudah memperkirakan jawaban itu.
Dan di antara semua itu, Rafael tetap diam, wajahnya sulit ditebak. Hanya satu hal yang pasti—malam ini, sebuah babak baru telah dibuka.
---
Bagian 3
Malam semakin larut, namun pertemuan itu belum berakhir. Suasana meja makan sudah berubah, tak lagi sekadar jamuan formal, melainkan medan pertempuran halus yang dibungkus senyum dan kata-kata penuh racun.
Arsen tetap duduk tegak, tatapannya sesekali menyapu seluruh ruangan, seakan membaca setiap pergerakan. Ia tahu, di balik gelas kristal dan piring porselen itu, setiap orang membawa niat tersembunyi. Rafael dengan ketenangan yang dibuat-buat, Nadine dengan permainan emosinya, Dinda dengan rencana besar yang diselubungi ambisi, Alena dengan kebimbangan hatinya, dan Seno dengan kewaspadaan penuh.
Percakapan kembali mengalir, kali ini tentang ekspansi bisnis. Rafael memandu topik dengan lihai, menyelipkan pujian, namun di baliknya, Arsen bisa merasakan ia sedang menguji.
“Jika Digantara benar-benar ingin kembali ke puncak,” ujar Rafael, “maka kalian butuh strategi baru. Dunia sudah berbeda, Arsen. Persaingan tidak hanya soal modal, tapi juga bagaimana menciptakan jaringan.”
Seno yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. “Dan jaringan paling kuat adalah yang dibangun dengan kepercayaan, bukan dengan ancaman.”
Nadine tersenyum sinis. “Kepercayaan? Itu terdengar manis, tapi kenyataan jauh lebih keras. Lihat saja berapa banyak yang sudah dikhianati oleh orang terdekatnya.” Ucapannya seolah diarahkan pada Arsen, mencoba menggali luka lama.
Arsen menoleh, menatap Nadine dengan tatapan setajam pisau. “Aku belajar dari itu. Dikhianati bukan berarti kalah. Itu hanya cara semesta menunjukkan siapa sebenarnya musuh yang bersembunyi.”
Ucapan itu membuat Nadine terdiam sejenak, namun ia tersenyum tipis, menutupinya dengan tawa kecil yang terdengar palsu.
Alena, yang sedari tadi berusaha menjaga ketenangan, akhirnya ikut bersuara. “Kalau memang semua ini tentang masa depan dua keluarga, mengapa kita tidak berbicara lebih jujur? Apa yang sebenarnya kalian inginkan?”
Pertanyaan itu menohok. Dinda menatap adiknya, lalu beralih pada Rafael. “Apa yang kami inginkan sederhana. Sebuah kepastian. Bahwa Digantara tidak akan menjadi ancaman bagi Prameswari. Dan sebaliknya.”
“Dengan kata lain,” Rafael menimpali, “kalian ingin kesepakatan tak tertulis. Bukan kontrak, bukan perjanjian hukum. Sesuatu yang lebih sulit diingkari.”
Arsen menghela napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya, lalu menatap lurus ke arah pamannya. “Dan siapa yang menjamin kesepakatan seperti itu bisa dipercaya? Aku sudah cukup belajar bahwa janji tanpa hitam di atas putih hanyalah debu yang akan hilang ditiup angin.”
Namun Rafael hanya tersenyum samar. “Terkadang, Arsen, justru janji yang tak tertulis itu lebih kuat. Karena yang mengikatnya bukan tinta, melainkan harga diri.”
Hening kembali menyelimuti ruangan. Setiap orang merenungkan makna kata-kata itu. Alena tampak resah, seolah hatinya menolak ikut terjerat dalam permainan kekuasaan ini. Seno menatap Arsen, menunggu tanda, sementara Nadine terlihat puas—ia tahu semakin lama diskusi ini berlanjut, semakin besar peluangnya menyingkirkan Alena.
Tiba-tiba, Arsen berdiri. Semua mata langsung tertuju padanya. “Aku paham maksud kalian. Tapi dengarkan baik-baik—aku tidak butuh kesepakatan samar. Jika Digantara dan Prameswari ingin berjalan berdampingan, maka jalan itu harus jelas. Jika tidak, jangan pernah mencoba mengikatku dengan benang halus yang mudah putus.”
Suaranya berat, berwibawa, penuh dengan kekuatan yang menekan siapa pun yang mendengarnya.
Alena menatap Arsen dengan sorot yang sulit dibaca: antara kagum, takut, dan bingung. Dinda tetap tersenyum tipis, seolah kata-kata itu hanyalah bagian dari permainan panjang. Rafael mengangguk pelan, seakan ia sudah memperkirakan reaksi itu. Nadine, di sisi lain, tampak kecewa, namun segera menutupi dengan senyum sinisnya.
Ketika Arsen berbalik hendak meninggalkan meja, Seno ikut berdiri. Alena hampir mengikuti, tapi Dinda menahan tangannya. “Kau duduk saja, Alena. Jangan ikut terbawa arusnya,” ucap Dinda dingin.
Alena menunduk, tak menjawab, namun matanya mengikuti langkah Arsen yang menjauh. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar—sebuah keyakinan bahwa malam ini hanyalah awal dari badai yang lebih besar.
---
Bagian 4
Udara malam di halaman rumah besar itu jauh lebih dingin dibandingkan ruang makan yang penuh dengan ketegangan. Arsen berjalan cepat melewati teras, diikuti Seno yang tetap setia berada setengah langkah di belakangnya. Lampu taman yang remang hanya menyoroti wajah mereka sebagian, membuat bayangan panjang jatuh di tanah berkerikil.
“Arsen,” Seno akhirnya bersuara, suaranya rendah. “Kau tadi terlalu keras pada Rafael. Aku bisa lihat—dia tidak mundur, malah semakin tertarik menekanmu.”
Arsen berhenti, menoleh, matanya tajam. “Aku tahu. Tapi aku tidak pernah berniat membuatnya mundur. Aku ingin dia tahu aku bukan anak kecil yang bisa dipermainkan.”
Seno mengangguk, memahami maksud sahabat sekaligus tuannya itu. Mereka sudah terlalu sering menghadapi situasi di mana kelembutan dibalas dengan pengkhianatan.
Namun sebelum percakapan itu berlanjut, langkah kecil terdengar dari arah dalam rumah. Alena muncul, wajahnya tampak ragu, namun tekad di matanya jelas. Ia mendekat, dan Arsen langsung merasakan udara di sekitarnya berubah.
“Arsen,” panggil Alena pelan. “Tunggu sebentar.”
Arsen menatapnya dengan sorot yang sulit ditebak. “Kenapa kau keluar? Kau tahu mereka tidak akan suka.”
Alena menarik napas, mencoba mengendalikan perasaan yang bergolak. “Aku tidak peduli. Aku hanya ingin tahu… apa sebenarnya tujuanmu? Kau bicara seolah ingin melindungi Digantara, tapi aku juga tahu ada api dendam di matamu.”
Pertanyaan itu menusuk dalam. Seno melirik Arsen, menunggu bagaimana ia menjawab.
Arsen mendekat, berdiri hanya sejengkal dari Alena. “Tujuanku sederhana, Alena. Mengambil kembali apa yang sudah dirampas. Mengembalikan kehormatan keluargaku. Dan untuk itu… aku tidak peduli siapa yang harus disingkirkan.”
Alena terdiam. Kata-kata itu begitu dingin, namun di baliknya ada luka yang dalam. Ia melihat sekilas kerentanan dalam diri Arsen, sesuatu yang mungkin tak dilihat orang lain.
“Tapi,” Alena berbisik lirih, “bagaimana dengan kita? Dengan—” ia berhenti, sadar bahwa ucapannya bisa terdengar terlalu jauh.
Arsen menatapnya lama, seakan mencoba membaca isi hatinya. “Itu tergantung padamu. Apakah kau akan berdiri di sisiku, atau memilih menjauh ketika badai datang?”
Keheningan di antara mereka terasa berat. Mata Alena bergetar, penuh konflik batin. Ia ingin menjawab, namun langkah cepat dari arah dalam rumah memutuskan momen itu.
Nadine muncul, langkahnya anggun, namun sorot matanya penuh bara. “Alena, apa yang kau lakukan di sini?” suaranya terdengar dingin, hampir seperti tuduhan.
Alena berbalik, wajahnya menegang. “Aku hanya ingin bicara.”
Nadine menatapnya dengan sinis, lalu beralih pada Arsen. “Kau benar-benar pandai, Arsen. Bahkan tanpa usaha besar, kau sudah membuat Alena ragu pada keluarganya sendiri.”
Arsen mengangkat alis, tidak menanggapi provokasi itu. “Aku tidak perlu membuat siapa pun ragu, Nadine. Mereka akan ragu dengan sendirinya ketika kebenaran terbuka.”
Kalimat itu membuat wajah Nadine berubah. Ia melangkah lebih dekat, menatap Arsen dengan tatapan penuh tantangan. “Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang lebih kuat menahan badai. Aku, atau kau.”
Seno segera maju setengah langkah, siap menahan bila situasi memanas, namun Arsen mengangkat tangannya, menahan. “Jangan, Seno. Biarkan dia bicara.”
Alena merasa dadanya sesak melihat dua orang yang berbeda tujuan, tapi sama-sama kuat, saling berhadapan. Ia tahu, cepat atau lambat, pertempuran ini akan meledak. Dan ketika itu terjadi, ia tak yakin bisa tetap berdiri di tengah.
Rafael muncul di ambang pintu, suaranya berat namun tenang. “Cukup. Jangan teruskan. Malam ini sudah cukup panas tanpa harus ditambah dengan api emosi kalian.”
Nadine segera mundur, menunduk seakan patuh, tapi tatapannya tetap menusuk ke arah Arsen. Alena menggenggam tangannya sendiri erat-erat, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.
Arsen hanya tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Rafael. “Api yang kalian lihat malam ini hanyalah percikan kecil. Jangan salahkan aku jika suatu hari nanti kobarannya membakar lebih luas.”
Rafael menatapnya lama, lalu mengangguk seolah menerima tantangan itu.
Malam pun berakhir dengan hawa yang lebih dingin, bukan karena cuaca, melainkan karena permusuhan yang semakin jelas tak bisa dihindari.
---
Bagian 5
Malam kian larut, namun ketegangan di kediaman keluarga Digantara belum juga reda. Lampu-lampu taman masih menyala, memantulkan cahaya kekuningan yang menimpa dedaunan basah karena embun. Di ruang tamu besar, kursi-kursi kulit berjejer rapi, dan aroma kopi hitam bercampur dengan asap rokok Rafael.
Arsen duduk tegak, wajahnya tenang, meski setiap urat di tangannya menunjukkan ia menahan amarah yang menggelegak. Di hadapannya, Rafael duduk santai seolah sedang menonton permainan yang menghibur. Seno berdiri di belakang, setia seperti bayangan yang selalu siap menghunus pedang kapan pun diperintahkan.
Alena masuk bersama Dinda, keduanya sama-sama membawa ekspresi berbeda. Alena tampak gusar, matanya masih memikirkan percakapan singkatnya dengan Arsen di halaman tadi. Sementara Dinda berdiri tegak, wajahnya tegas, tatapannya penuh kewaspadaan, seolah ia bisa melihat jurang dalam yang terbentang antara mereka semua.
Nadine tidak jauh dari situ, berdiri di sisi Rafael. Senyum tipis di bibirnya tampak seperti pisau yang siap melukai.
“Baiklah,” Rafael membuka percakapan, suaranya berat namun tenang. “Kita semua sudah bermain dengan kata-kata cukup lama malam ini. Saatnya kita bicara tentang inti permasalahan. Arsen, apa sebenarnya yang kau inginkan?”
Arsen menatap lurus, tatapannya menusuk. “Aku hanya ingin satu hal. Apa yang seharusnya menjadi milik keluargaku, kembali ke tangan yang benar.”
Rafael terkekeh pelan, meletakkan rokoknya di asbak. “Kau masih memandang semua ini hitam dan putih, keponakanku. Dunia tak sesederhana itu. Jika kau benar-benar ingin duduk di kursi yang kau sebut milik keluargamu, kau harus siap mengorbankan lebih banyak dari sekadar amarah.”
Kalimat itu membuat ruangan seketika hening. Dinda melirik ke arah Alena, yang tampak menunduk, berusaha menyembunyikan getaran di wajahnya. Ia tahu, jalan yang ditempuh Arsen bukan hanya penuh darah, tapi juga akan menyeret orang-orang yang dicintainya.
Nadine melangkah maju, menatap Arsen dengan tatapan penuh provokasi. “Dan apa yang kau lakukan jika ternyata orang yang kau cintai harus menjadi bagian dari pengorbanan itu, Arsen? Apakah kau akan tetap melangkah?”
Arsen terdiam sejenak. Matanya sekilas menoleh pada Alena, cukup untuk membuat gadis itu merasa seluruh isi hatinya terbaca.
“Aku tidak akan mundur,” jawab Arsen dingin. “Jika harus mengorbankan sesuatu, maka biarlah itu menjadi tanggunganku. Tapi satu hal yang pasti: aku tidak akan membiarkan cinta dijadikan senjata untuk menghancurkanku.”
Alena mengangkat wajahnya, terperangah. Kata-kata itu menusuk ke dalam jiwanya, sekaligus membuatnya semakin bingung. Ia melihat sisi keras sekaligus sisi rapuh Arsen dalam waktu bersamaan.
Rafael menepuk tangannya perlahan, seolah mengakhiri sebuah pertunjukan. “Baiklah. Malam ini cukup sampai di sini. Aku sudah tahu apa yang kau simpan di dalam hatimu, Arsen. Dan aku akan menunggu hari di mana kau benar-benar membuktikan dirimu.”
Arsen berdiri, jas hitamnya bergetar oleh gerakan tegas itu. “Kau tidak perlu menunggu lama, Paman. Hari itu akan datang lebih cepat daripada yang kau kira.”
Ia berbalik, melangkah keluar diikuti Seno. Namun sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, ia sempat berhenti sejenak di depan Alena. Tatapannya tajam, tapi ada percikan halus yang sulit dijelaskan.
“Jangan takut pada api, Alena,” ucapnya pelan. “Karena terkadang, api juga bisa melindungi.”
Alena terdiam, matanya mengikuti langkah Arsen hingga hilang di balik pintu besar. Sementara di belakang, Nadine menggertakkan gigi, hatinya terbakar oleh rasa cemburu dan amarah yang semakin menumpuk.
Dinda menoleh pada adiknya, suaranya pelan tapi penuh peringatan. “Kau harus hati-hati, Alena. Api yang kau dekati itu bisa saja membakar habis hatimu sendiri.”
Alena tidak menjawab. Hanya genggaman tangannya yang semakin kuat di sisi tubuhnya, berusaha menahan gejolak yang tak mampu ia kendalikan.
Malam itu berakhir dengan janji yang tak terucap, dengan amarah yang makin membara, dan dengan cinta yang perlahan berubah menjadi medan perang.
---