Pagi yang dingin menyambut kami di tepi sungai. Kabut tipis menggantung di atas permukaan air yang tenang, menciptakan suasana sunyi dan misterius. Rona sudah bangun sejak subuh, matanya awas mengamati sekeliling. Aku baru saja membuka mata, merasakan sisa-sisa kantuk masih memberatkanku.
“Dia belum datang,” bisik Rona, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan setapak yang menuju ke arah hutan.
Aku menguap dan meregangkan tubuh yang terasa kaku. “Mungkin dia akan datang sebentar lagi, Rona. Kita baru saja sampai.”
Kami duduk di atas batu besar di tepi sungai, menunggu dalam diam. Suara gemericik air menjadi satu-satunya teman kami di pagi yang sepi ini.
“Kau yakin dia bisa dipercaya, Rona?” tanyaku akhirnya, memecah keheningan. Keraguan masih menyelimuti hatiku.
Rona menoleh padaku, tatapannya serius. “Aku tidak tahu pasti, Rani. Tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda darinya. Ada kesedihan yang sama di matanya. Dan dia terlihat tulus ingin membantu.”
“Tapi bagaimana jika dia hanya berpura-pura? Bagaimana jika dia bagian dari mereka?” ujarku, membayangkan kemungkinan terburuk.
Rona menghela napas pelan. “Kita harus mengambil risiko, Rani. Kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak bisa bertahan hidup di hutan ini sendirian. Kita butuh bantuan, dan dia satu-satunya harapan kita saat ini.”
Kami kembali terdiam, menunggu dalam ketegangan. Matahari perlahan mulai naik, menghalau kabut pagi dan menerangi hutan dengan cahayanya yang hangat.
“Lihat!” bisikku tiba-tiba, menunjuk ke arah jalan setapak. Sesosok pria dengan pakaian sederhana dan wajah yang tampak lelah terlihat berjalan ke arah kami.
Rona berdiri tegak, matanya mengamati pria itu dengan saksama. “Itu dia.”
Pria itu mendekat dan tersenyum tipis kepada kami. “Kalian sudah menunggu lama?”
“Tidak juga,” jawab Rona singkat, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
“Namaku Darma,” kata pria itu, mengulurkan tangannya kepada Rona.
Rona menjabat tangannya dengan ragu. “Aku Rona, dan ini kembaranku, Rani.”
Darma mengangguk. “Aku turut berduka cita atas apa yang terjadi pada kalian. Aku mendengar cerita kalian dari penduduk desa.”
“Terima kasih,” jawabku lirih.
“Kalian siap untuk pergi?” tanya Darma, matanya menatap kami dengan penuh pengertian.
Rona mengangguk mantap. “Kami siap belajar. Kami siap melakukan apa saja.”
“Baiklah,” kata Darma. “Perjalanan kita akan panjang dan berat. Tapi jika kalian berdua memiliki tekad yang kuat, kita pasti bisa melewatinya.”
Kami mengikuti Darma masuk lebih dalam ke dalam hutan. Langkahnya ringan dan pasti, seolah hutan adalah rumah keduanya. Ia sesekali berhenti untuk menunjukkan jejak binatang atau tanaman yang bisa dimakan.
“Ini jejak rusa,” kata Darma sambil berjongkok di tanah. “Kita bisa mencoba menjebaknya nanti.”
“Bagaimana caranya menjebak rusa?” tanya Rona penuh minat.
Darma tersenyum. “Aku akan mengajari kalian. Tapi pertama-tama, kita harus mencari tempat yang aman untuk berlindung.”
Setelah berjalan beberapa jam, kami tiba di sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.
“Ini akan menjadi tempat tinggal kita untuk sementara waktu,” kata Darma. “Cukup aman dan terlindung dari hujan.”
Kami membersihkan gua itu bersama-sama dan membuat tempat tidur sederhana dari dedaunan kering. Darma kemudian mengajari kami cara membuat api dengan batu dan kayu.
“Api sangat penting untuk menghangatkan tubuh, memasak makanan, dan mengusir binatang buas,” jelas Darma.
Hari-hari berikutnya kami lalui dengan belajar berbagai macam keterampilan bertahan hidup dari Darma. Ia mengajari kami cara mencari air bersih, mengidentifikasi tanaman yang bisa dimakan dan yang beracun, membuat perangkap sederhana untuk berburu, dan yang paling penting, dasar-dasar ilmu bela diri.
“Kalian berdua memiliki potensi yang besar,” kata Darma suatu sore saat kami sedang berlatih gerakan silat. “Gerakan kalian cepat dan sinkron. Sebagai kembar, kalian memiliki keuntungan yang tidak dimiliki orang lain.”
“Keuntungan apa itu?” tanya Rona penasaran.
“Kalian bisa merasakan apa yang dirasakan satu sama lain,” jawab Darma. “Kalian bisa bergerak dan menyerang secara bersamaan tanpa perlu berbicara. Itu bisa menjadi senjata yang sangat mematikan.”
Kami terus berlatih dengan tekun, mengingat setiap gerakan yang diajarkan Darma. Di mata kembar Rona, aku melihat bara dendam yang semakin membara seiring dengan bertambahnya ilmu yang kami kuasai.
“Kapan kita bisa membalas dendam, Darma?” tanya Rona suatu malam di depan api unggun.
Darma menghela napas panjang. “Itu bukan keputusan yang bisa diambil dengan tergesa-gesa, Rona. Kalian harus benar-benar siap secara fisik dan mental. Kalian harus tahu siapa musuh kalian dan bagaimana cara mengalahkan mereka.”
“Kami sudah kehilangan segalanya, Darma. Apa lagi yang harus kami tunggu?” ujar Rona dengan nada penuh amarah.
“Aku mengerti rasa sakit kalian,” kata Darma lembut. “Tapi balas dendam tanpa perhitungan hanya akan membawa kehancuran. Kita harus menyusun rencana yang matang. Kita harus mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini.”
“Bagaimana caranya?” tanyaku lirih.
“Hutan ini memiliki telinganya sendiri,” jawab Darma misterius. “Bisikannya akan membawa kita pada kebenaran.”
Malam itu, di bawah bintang-bintang yang bertaburan di langit hutan Aceh, kami bertiga duduk bersama, menyimpan bara dendam dalam hati masing-masing. Jejak kaki kami di tanah yang hangus telah membawa kami pada jalan yang baru, jalan yang penuh dengan bahaya dan harapan. Dan di ujung jalan itu, kami yakin, keadilan akan menanti.
“Kita harus pergi ke sana,” ujar Darma suatu pagi, menunjuk ke arah utara hutan yang terlihat lebih lebat dan gelap.
“Ke mana?” tanya Rona curiga.
“Ke tempat di mana kebenaran mungkin bersembunyi,” jawab Darma dengan tatapan mata yang penuh arti. “Aku mendengar beberapa bisikan dari para pemburu tentang sekelompok orang bersenjata yang sering terlihat di daerah itu.”
“Apakah mereka… apakah mereka orang-orang yang membunuh orang tua kita?” tanyaku dengan suara bergetar.
Darma menggeleng pelan. “Aku tidak tahu pasti. Tapi kita harus mencari tahu. Kita harus mengikuti jejak mereka.”
Kami bersiap untuk pergi, membawa bekal seadanya dan senjata tajam yang telah kami pelajari cara menggunakannya dari Darma. Perjalanan menuju utara hutan terasa lebih berat dan berbahaya. Kami harus melewati tebing curam dan sungai deras.
“Kita harus berhati-hati,” kata Darma mengingatkan kami setiap saat. “Satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.”
Setelah beberapa hari berjalan, kami akhirnya tiba di sebuah lembah tersembunyi. Dari kejauhan, kami melihat beberapa bangunan kayu sederhana dan beberapa orang bersenjata yang sedang berjaga-jaga.
“Ini dia tempat mereka,” bisik Darma. “Kita harus mengamati mereka dari jauh. Kita harus mencari tahu siapa mereka dan apa yang mereka lakukan.”
Kami bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan dan mengamati kamp itu dengan saksama. Jantungku berdebar kencang, rasa takut dan amarah bercampur menjadi satu.
“Itu… itu kalung Ibu!” bisik Rona tiba-tiba, menunjuk ke leher salah satu pria bersenjata yang sedang berjalan di tengah kamp. Kalung emas dengan ukiran naga yang selalu dipakai Ibu terlihat berkilauan di bawah sinar matahari.
Napas kami bertiga tercekat. Kebenaran yang selama ini kami cari akhirnya terungkap di depan mata kami. Mereka adalah orang-orang yang telah menghancurkan hidup kami. Dan di mata kembar Rona, bara dendam membara lebih terang dari sebelumnya. “Kita akan mengambilnya kembali,” bisik Rona dengan suara dingin yang penuh tekad. “Kita akan membuat mereka membayar.”