“Kau masih terjaga, Rona?” bisikku pelan, menggosok mataku yang terasa berpasir. Dinginnya malam hutan merasuk tulang, meskipun kami sudah berbalut dedaunan kering seadanya.
Rona, yang duduk bersila di dekat perapian kecil yang hampir padam, menoleh. Cahaya rembulan yang menari di antara celah dedaunan memantulkan sorot mata kembar kami yang sama-sama menyimpan kesedihan mendalam. “Bagaimana aku bisa terlelap, Rani? Setiap kali aku mencoba, bayangan api itu kembali membakar mataku. Aku mendengar jelas teriakan Ayah, memanggil nama kita.”
Aku menghela napas panjang, merasakan kembali nyeri di d**a yang seolah tak pernah hilang sejak malam mengerikan itu. “Aku juga, Rona. Rasanya seperti mimpi buruk yang terus berulang, setiap malam.”
Keheningan kembali merayap di antara kami, hanya dipecah oleh suara desahan angin yang menyapu dedaunan dan sesekali lolongan hewan malam yang jauh.
“Mereka harus membayar, Rani,” ujar Rona tiba-tiba, suaranya lirih namun setiap katanya terasa seperti bara api yang membakar. “Mereka mengambil Ayah dan Ibu dari kita. Mereka menghancurkan rumah kita. Mereka merenggut seluruh hidup kita.”
“Tapi kita tidak berdaya, Rona. Kita hanyalah dua gadis kecil. Bagaimana mungkin kita bisa melawan orang-orang jahat seperti mereka?” ujarku, suara ketakutan bergetar dalam dadaku.
Rona mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Kita akan menemukan cara, Rani. Kita harus. Ayah selalu mengajarkan kita untuk tidak pernah menyerah. Dia bilang, seberapapun kecilnya kita, kita memiliki kekuatan di dalam diri kita. Kita hanya perlu menggali dan menggunakannya.”
“Apakah kau tahu bagaimana cara menggali kekuatan itu, Rona?” tanyaku penuh harap, menatap wajah kembaranku yang selalu lebih berani dariku.
Rona menggeleng pelan, pandangannya menerawang ke dalam kegelapan hutan yang menyimpan misteri. “Belum. Tapi aku yakin kita akan menemukannya. Kita tidak sendirian di dunia ini, Rani. Pasti ada orang lain yang juga merasakan luka yang sama. Orang-orang yang juga menjadi korban kekejaman mereka.”
“Kau benar-benar percaya itu, Rona?” tanyaku, secercah harapan mulai merayap di antara puing-puing keputusasaan dalam hatiku.
“Aku harus percaya, Rani. Kalau tidak, bagaimana mungkin kita bisa terus bertahan? Kita harus memiliki tujuan, alasan untuk bangun setiap pagi. Dan tujuan kita sekarang adalah membalas dendam,” jawab Rona dengan nada suara yang dipenuhi tekad yang membara.
“Ibu selalu bilang, dendam hanya akan menghancurkan hati kita, Rona,” ujarku, mengingat nasihat lembut Ibu yang selalu penuh kasih sayang.
Rona terdiam sejenak, rahangnya mengeras, tatapannya kosong namun penuh amarah yang tertahan. “Mungkin Ibu benar. Tapi aku tidak tahu cara lain untuk mengatasi rasa sakit ini, Rani. Rasa sakit kehilangan mereka… rasa marah yang membakar karena ketidakadilan yang telah menimpa kita.”
Aku tidak bisa menyangkalnya. Rasa sakit dan amarah itu juga menggerogoti jiwaku, membuat tidurku tak nyenyak dan hariku terasa kelabu.
“Kita harus berlatih, Rani,” ujar Rona tiba-tiba, bangkit berdiri di bawah cahaya rembulan yang menembus celah pepohonan. “Kita harus belajar bagaimana melindungi diri kita sendiri. Ayah selalu mengajari kita gerakan-gerakan silat. Kita harus mengingat setiap detailnya.”
“Tapi itu hanya gerakan dasar, Rona. Itu tidak akan cukup untuk melawan orang-orang bersenjata dan kejam seperti mereka,” ujarku ragu, membayangkan betapa brutalnya para perampok itu.
“Kita akan membuatnya cukup, Rani. Kita akan belajar cara menggunakan apa pun yang ada di sekitar kita sebagai senjata. Ranting, batu, bahkan tangan kosong kita bisa mematikan jika kita tahu bagaimana caranya,” jawab Rona dengan mata yang berkilat-kilat penuh keyakinan. “Mentor itu… dia bilang kita memiliki potensi yang luar biasa sebagai kembar. Kita hanya perlu mengasah dan mengendalikannya.”
“Mentor? Siapa yang kau maksud dengan mentor, Rona?” tanyaku, mengerutkan kening. Siapa orang asing yang tiba-tiba muncul dalam hidup kami yang penuh duka ini?
“Pria yang menolong kita di desa kemarin. Dia bilang dia pernah mengalami tragedi yang sama. Dia kehilangan keluarganya juga. Dia bilang dia bersedia membantu kita,” jawab Rona, nada suaranya sedikit melembut saat menyebut nama pria misterius itu.
“Dia… dia akan membantu kita membalas dendam?” ujarku, harapan yang membuncah membuat jantungku berdebar kencang.
Rona mengangguk pelan, namun ada keraguan tersirat di matanya. “Dia bilang dia akan mengajari kita cara bertahan hidup di hutan, cara melacak jejak, cara bersembunyi tanpa terdeteksi. Dan dia juga akan melatih kita bertarung. Dia bilang kita harus menjadi kuat, tidak hanya secara fisik tetapi juga mental. Dia bilang… dia akan membantu kita menjadi apa yang harus kita lakukan.”
“Kapan kita akan bertemu dengannya lagi, Rona?” tanyaku tak sabar, ingin segera memulai babak baru dalam hidup kami, meskipun penuh dengan bahaya.
“Besok pagi, saat matahari terbit. Dia bilang dia akan menunggu kita di dekat pohon beringin tua di tepi sungai tempat kita bertemu kemarin,” jawab Rona. “Sekarang kita harus mencoba untuk beristirahat, Rani. Kita membutuhkan seluruh tenaga kita untuk hari esok. Perjalanan kita baru saja dimulai, dan aku yakin akan ada banyak rintangan di depan.”
Aku mencoba memejamkan mata, membayangkan sosok pria asing yang akan menjadi guru dan mungkin juga sekutu kami. Namun, bayangan kobaran api dan teriakan kesakitan Ayah terus menghantuiku, membuat tidur terasa begitu jauh.
“Rona?” panggilku pelan setelah beberapa saat berbaring dalam kegelapan yang pekat.
“Ya, Rani?” jawab Rona tanpa membuka matanya, aku tahu dia juga belum terlelap.
“Kita… kita bisa melakukannya, kan? Kita bisa membalas dendam atas kematian Ayah dan Ibu?” tanyaku, mencari kepastian dan kekuatan dari kembaranku.
Rona terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang, suara lelahnya terdengar jelas di keheningan malam. “Aku tidak tahu pasti, Rani. Tapi kita harus mencoba. Kita harus berjuang sekuat tenaga. Demi Ayah dan Ibu. Kita tidak boleh mengecewakan mereka yang telah mengorbankan segalanya untuk kita.”
Aku mengangguk pelan, air mata kembali mengalir tanpa bisa kutahan. Aku tahu jalan di depan kami akan terjal dan penuh dengan bahaya yang tak terduga. Namun, melihat bara dendam yang menyala begitu kuat di mata kembar Rona, aku tahu bahwa kami tidak akan menyerah begitu saja. Kami akan bertahan hidup. Kami akan belajar setiap ilmu yang diajarkan. Dan suatu hari nanti… kami akan menuntut keadilan atas semua yang telah hilang dari hidup kami.
“Rona,” panggilku lagi, kali ini dengan suara yang lebih mantap, meskipun masih sedikit bergetar oleh ketakutan dan tekad.
Rona membuka matanya dan menatapku dengan tatapan mata kembar yang sama-sama menyimpan bara dendam yang membara. “Ada apa, Rani?”
“Kita… kita akan melakukannya bersama-sama, kan? Kita adalah kembar. Kita akan selalu bersama, apapun yang terjadi. Kita akan menghadapi semua ini bersama-sama. Dan kita akan membalas dendam bersama-sama,” ujarku, mengulurkan tangan dan menggenggam erat tangannya, menyalurkan seluruh ketakutan dan tekadku padanya.
Rona membalas genggamanku dengan erat, sebuah janji tanpa kata terjalin di antara kami. “Selamanya, Rani. Kita adalah kembar. Kita akan selalu bersama, melewati setiap suka dan duka. Kita akan menghadapi semua ini bersama-sama. Dan kita akan membuat mereka yang telah menghancurkan hidup kita menyesali perbuatan keji mereka.”
Malam itu, di bawah tatapan rembulan yang pucat, di tengah hutan belantara yang sunyi dan penuh misteri, ikatan kami sebagai kembar terasa semakin kuat dan tak terpisahkan. Bara dendam yang sama telah menyala di dalam hati kami, dan bersama-sama, kami akan menempuh jalan yang penuh dengan bahaya dan pembalasan. Kami adalah mata kembar yang menyimpan bara dendam, dan suatu hari nanti, bara itu akan membakar habis semua jejak kejahatan yang telah merenggut kebahagiaan kami. Kami akan menjadi api yang takkan pernah padam, menari di atas abu masa lalu kami.