Asap hitam pekat menusuk paru-paru kami, membuat kami terbatuk-batuk tanpa henti. Ibu terus menarik tangan kami, menyeret kami menjauhi kobaran api yang melahap rumah kami dengan rakus. Panasnya membakar kulit, dan percikan api beterbangan seperti kunang-kunang neraka.
“Ke mana kita, Ibu?” tanyaku tersengal-sengal, mataku perih oleh asap.
“Kita harus keluar dari sini, Nak. Kita harus selamat,” jawab Ibu dengan suara serak, air matanya bercampur dengan jelaga di wajahnya.
Rona terdiam, langkahnya berat namun mengikuti tarikan tangan Ibu. Matanya terus menatap ke arah rumah yang kini tinggal puing-puing berasap. Di sana, di tengah kobaran api, Ayah terakhir kali terlihat.
“Ayah…” bisik Rona lirih, suaranya hampir tak terdengar di tengah derak api.
Ibu berhenti sejenak, memeluk kami berdua erat. “Ayah sudah pergi, Nak. Kita tidak bisa kembali ke sana. Kita harus pergi.”
“Pergi ke mana, Ibu? Kita tidak punya siapa-siapa lagi,” ujarku, air mata kembali membanjiri mataku.
“Kita punya satu sama lain, Rani. Kita punya Rona,” jawab Ibu, mengeratkan pelukannya. “Kita akan mencari tempat yang aman. Kita akan bertahan.”
Kami terus berjalan menjauhi rumah yang dulunya penuh tawa dan kehangatan, kini hanya menyisakan kepedihan dan kehilangan. Malam yang tadinya tenang kini terasa kelam dan mengancam.
“Lihat!” Rona tiba-tiba menunjuk ke arah jalan setapak di samping rumah kami. Beberapa orang bersenjata yang tadi menyerbu rumah kami terlihat berjalan menjauh, membawa obor yang cahayanya menari-nari di kegelapan.
“Mereka… mereka pergi,” bisikku, rasa takut masih mencengkeram hatiku.
“Ya. Tapi mereka tidak akan pergi jauh,” sahut Rona dengan nada dingin. “Mereka mengambil Ayah. Mereka membakar rumah kita. Mereka akan membayar.”
“Rona, jangan bicara seperti itu,” tegur Ibu lembut. “Kita harus selamat dulu. Kita harus mencari perlindungan.”
“Perlindungan dari siapa, Ibu? Dari orang-orang seperti mereka? Mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan,” balas Rona dengan tatapan mata yang membara.
“Apa yang mereka inginkan, Rona? Kalung itu? Mereka sudah mengambilnya,” tanyaku bingung.
Rona terdiam sejenak, rahangnya mengeras. “Ada yang lebih dari sekadar kalung, Rani. Aku merasakannya.”
Kami terus berjalan dalam kegelapan malam, mengikuti jalan setapak yang semakin jauh dari rumah kami yang terbakar. Ibu sesekali berhenti untuk memastikan kami tidak tertinggal.
“Kita harus mencari bantuan di desa sebelah,” ujar Ibu setelah beberapa saat berjalan. “Mungkin ada seseorang yang bisa menolong kita.”
“Bagaimana jika mereka juga jahat, Ibu? Bagaimana jika mereka juga seperti orang-orang itu?” tanyaku khawatir.
“Kita tidak punya pilihan lain, Rani. Kita harus mencoba,” jawab Ibu dengan nada pasrah.
Setelah berjalan cukup jauh, kami akhirnya tiba di pinggir desa. Lampu-lampu rumah penduduk terlihat remang-remang di kejauhan.
“Kita harus berhati-hati,” bisik Ibu. “Jangan bicara dengan sembarang orang.”
Kami berjalan perlahan memasuki desa yang sunyi. Hanya suara jangkrik yang memecah keheningan malam.
“Lihat, Ibu! Di sana ada gubuk kecil,” tunjuk Rona ke arah sebuah bangunan sederhana di pinggir ladang. “Mungkin tidak ada orang di sana.”
Kami mendekati gubuk itu dengan hati-hati. Pintunya terlihat terbuka sedikit.
“Halo?” Ibu memanggil pelan. “Apakah ada orang di dalam?”
Tidak ada jawaban. Ibu mendorong pintu perlahan dan kami masuk ke dalam gubuk yang gelap dan kosong.
“Sepertinya tidak ada siapa-siapa,” ujarku lirih.
“Setidaknya kita bisa beristirahat di sini sebentar,” sahut Ibu sambil duduk di atas lantai tanah yang dingin.
Rona masih berdiri di dekat pintu, matanya mengawasi kegelapan di luar. “Kita tidak bisa berlama-lama di sini, Ibu. Mereka pasti akan mencari kita.”
“Kita akan pergi besok pagi-pagi sekali, Nak. Sekarang kita istirahat dulu,” kata Ibu mencoba menenangkan Rona.
Aku duduk di samping Ibu, merasakan kelelahan yang luar biasa. Malam ini telah merenggut segalanya dari kami.
“Ibu…” panggilku pelan.
“Ya, Sayang?” jawab Ibu sambil mengelus rambutku.
“Apakah Ayah benar-benar… tidak akan kembali?” tanyaku dengan suara tercekat.
Ibu terdiam sejenak, lalu menarikku ke dalam pelukannya. “Ayah sudah pergi ke tempat yang lebih baik, Rani. Kita harus kuat seperti Ayah.”
Air mata kembali membanjiri mataku. Aku memeluk Ibu erat, mencoba mencari kekuatan dalam pelukannya.
Rona masih berdiri di dekat pintu, tatapannya kosong namun penuh bara. “Mereka tidak akan lolos, Ibu. Aku bersumpah. Mereka akan membayar atas apa yang telah mereka lakukan.”
“Rona, jangan menyimpan dendam di hatimu, Nak. Itu hanya akan menyakitimu,” nasihat Ibu dengan suara lirih.
“Dendam adalah satu-satunya yang kumiliki sekarang, Ibu. Dendam dan Rani,” jawab Rona dengan nada dingin.
Malam itu, di gubuk yang gelap dan sunyi, kami bertiga meringkuk bersama, mencoba mencari kehangatan di tengah kehilangan yang begitu besar. Namun, di mata kembar Rona, bara dendam telah menyala, siap membakar siapa saja yang bertanggung jawab atas malam berdarah di bawah cahaya bulan Aceh. Aku merasakannya juga, meskipun ketakutan masih mencengkeram hatiku, namun melihat keteguhan Rona, aku tahu bahwa kami akan menghadapi ini bersama-sama, kembar yang lahir di tahun yang sama, kini terikat oleh sumpah pembalasan yang sama-sama membara.
“Kita harus pergi,” ujar Rona tiba-tiba, memecah keheningan pagi yang dingin. Cahaya matahari mulai menyusup melalui celah dinding gubuk.
“Ke mana, Rona? Kita baru saja beristirahat,” jawab Ibu dengan suara lemah.
“Kita tidak aman di sini, Ibu. Mereka pasti akan mencari kita ke desa-desa terdekat,” balas Rona sambil berdiri. “Kita harus pergi ke hutan. Kita akan bersembunyi di sana.”
“Hutan? Itu berbahaya, Rona,” ujarku khawatir.
“Lebih berbahaya tinggal di sini dan menunggu mereka datang lagi,” sahut Rona dengan tatapan mata yang tajam. “Kita harus belajar bertahan hidup di hutan. Kita harus menjadi kuat.”
Ibu terdiam sejenak, menatap wajah Rona yang penuh tekad. Ia tahu bahwa Rona tidak akan menyerah.
“Baiklah,” kata Ibu akhirnya. “Kita akan pergi ke hutan. Tapi kita harus berhati-hati.”
Kami bertiga keluar dari gubuk dan berjalan menuju hutan yang terlihat lebat di kejauhan. Rona berjalan di depan, langkahnya mantap dan penuh keyakinan. Aku dan Ibu mengikuti di belakangnya, mencoba menahan rasa takut yang masih menghantui kami.
“Kita akan mencari tempat yang aman di dalam hutan,” ujar Rona sambil terus berjalan. “Kita akan belajar berburu dan mencari makanan. Kita akan bertahan hidup.”
“Bagaimana caranya, Rona? Kita tidak tahu apa-apa tentang hutan,” tanyaku cemas.
Rona berhenti sejenak dan menatapku dengan mata kembar yang menyimpan bara. “Kita akan belajar bersama, Rani. Kita akan belajar dari hutan. Kita akan menjadi kuat. Dan suatu hari nanti… kita akan kembali. Kita akan menuntut balas.”
Aku menatap mata Rona, melihat tekad yang membakar di sana. Aku tahu bahwa malam itu telah mengubah kami selamanya. Kami bukan lagi anak-anak yang bermain di bawah cahaya bulan Aceh. Kami adalah kembar yang kehilangan segalanya, dan di dalam hati kami, bara dendam telah menyala, menuntun langkah kami menuju masa depan yang penuh dengan bahaya dan pembalasan.