Malam ini langit terlihat gelap tanpa cahaya bulan, hanya sesekali diterangi cahaya lampu jalan yang redup dan tak bisa memberikan penerangannya. Di balik rimbunnya pohon beringin tua, sosok Eko Evan berdiri diam seperti patung. Matanya memindai setiap sudut kediaman mewah milik Mahendra Siregar, pengusaha properti yang namanya tercatat sebagai salah satu orang terkaya di negeri ini dan masuk dalam jajaran konglomerat yang gurita bisnisnya dimana-mana.
Tinggi tembok rumahnya mencapai tiga meter lebih, dilengkapi kawat berduri dan kamera pengawas yang berputar perlahan setiap sepuluh detik. Namun bagi Evan, itu hanyalah rintangan sepele, dia bukan saja bisa masuk dengan mulus, tapi juga tak bisa terlihat di CCTV itu.
Evan menyeringai mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaket hitamnya dan mengutak-atik sebentar sebelum akhirnya CCTV itu berhenti bergerak berputar ke arahnya lagi, pria itu tersenyum puas lalu segera bergerak cepat menjalankan aksinya.
Dengan gerakan ringan dan cepat, dia melompat dan memanjat tembok seolah tak ada beban hanya dengan bantuan tali tambang dan pengait baja di ujungnya. Sesampainya di halaman, dia bersembunyi di balik semak-semak besar, menghindari patroli satpam dan petugas keamanan yang berjalan bolak-balik. Dalam hitungan menit saja, dia sudah mengetahui pola pergerakan mereka dan celah untuk masuk ke dalam bangunan luas rumah mansion ini
Jendela kamar kerja di lantai dua sedikit terbuka. Evan mendekat, memeriksa kunci pengaman dengan peralatan kecilnya, lalu membukanya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dia melangkah masuk, menutup kembali jendela, dan segera bersembunyi di balik tirai tebal, suasana di sini masih cukup terang dengan nyala lampu meja.
Di tengah ruangan yang disinari lampu kuning itu, duduklah Mahendra Siregar di belakang meja kerja besar. Pria tua itu tampak lelah, tapi masih sibuk menandatangani berkas-berkas meski sudah larut malam gelas kopi di dekatnya sudah kosong, dia harus segera menghubungi pelayan di sini untuk membuatkan lagi minuman itu. Dia tidak sadar ada orang asing yang sudah berdiri beberapa meter, di belakangnya.
Evan mengangkat pistol ber peredam suara yang sudah dia siapkan. Jarinya menempel pelan pada pelatuk, pandangannya tajam dan fokus, tidak ada perasaan ragu, tidak ada belas kasihan. Baginya ini hanya tugas seperti biasanya.
Clek.
Satu tembakan melesat, nyaris tanpa suara. Peluru itu tepat menembus bagian kepala dari Mahendra. Tubuh pria itu tersentak sebentar, lalu terjatuh terkulai di atas meja, napasnya berhenti seketika, dia meninggal hanya dalam hitungan tak sampai lima menit.
Evan melangkah maju sebentar, memeriksa mayat si korban untuk memastikan tugasnya selesai sesuai pesanan. Dia baru akan berbalik dan pergi, ketika suara langkah kaki kecil terdengar, dari arah pintu.
Pintu terbuka perlahan. Seorang gadis remaja berusia sekitar Tiga belas tahun berdiri di sana, membawa segelas air putih hangat yang dia pikir bisa di minum olah ayah tirinya. Matanya yang terpejam setengah karena baru terbangun seketika terbelalak lebar. Tatapannya beralih dari sosok Evan, ke tubuh ayahnya yang tergeletak tak bergerak, lalu kembali pada lelaki asing yang memegang pistol itu.
Gadis remaja itu tertegun, ingin berteriak namun tenggorakan nya kering, tubuhnya kaku seperti patung, dan baru akan membuka mulutnya untuk berteriak.
Evan segera bergerak cepat. Dia tidak ragu mengayunkan sisi telapak tangannya dengan tenaga terukur tepat di tengkuk gadis itu. Tubuh gadis berumur 13 tahun itu lemas seketika, dalam hitungan detik lalu terjatuh pelan ke lantai, tanpa mengalami luka parah.
Evan sedikit menunduk melihatnya. Jari tangannya menyentuh leher gadis itu sebentar, denyut nadinya masih terasa kuat, jantungnya masih berdetak normal, dia hanya pingsan saja.
Sesaat terlintas pikiran, jika gadis remaja itu terbangun nanti, dia bisa mengidentifikasi wajahnya. Aturan dalam pekerjaannya selalu jelas, tidak boleh ada saksi yang hidup dan memergoki aksinya.
Namun kali ini, tangan Evan justru tidak sanggup bergerak lebih jauh. Dia pernah membunuh orang yang melawan, orang yang berbahaya, atau yang memiliki catatan kejahatan. Tapi dia tidak pernah bisa mengangkat senjata atau menghabisi para wanita yang tidak berdaya, dan tidak berbuat salah apa pun.
“Maaf, aish kamu merepotkan saja kenapa malah kesini?” gumamnya pelan, suara yang hampir tak terdengar. “Bukan kemauan ku melibatkan kamu.”
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Evan segera melangkah mundur, dia harus kembali melalui jalan yang sama dia masuk, dan keluar dari tempat ini, sebelum para penjaga dan satpam menemukan dia.
Evan bergegas keluar dari jendela tadi, turun ke bawah dengan cepat, lalu menyimpan tali tambang tipisnya kedalam saku jaket. Dengan cepat dia menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan rumah itu beserta gadis yang masih terbaring tak sadarkan diri, gadis yang satu-satunya menjadi saksi hidup, atas perbuatan kejamnya malam ini.
Baru saja kaki Evan menginjak tanah halaman, suara teriakan dan langkah kaki tergesa mulai terdengar dari dalam rumah.
“Tuan! Tuan Hendra!!” teriakan keras terdengar dari dalam mansion, rupanya sudah ada yang menemukan mayat pria tua itu.
“Ada apa?! Suara apa tadi?” Salah satu penjaga yang sedang berpatroli mendengar bunyi samar dari arah jendela lantai dua. Meskipun peluru ditembakkan dengan peredam, namun gesekan peluru dan hentakan tubuh ke meja tetap menimbulkan suara yang cukup terdengar jika telinga sedang waspada. Dua orang satpam segera berlari menuju tangga, untuk memeriksa kamar kerja majikannya.
Jantung Evan berdegup lebih cepat, bukan karena takut mati, tapi karena dia tidak ingin tertangkap dan membuang waktu untuk menyelesaikan tugas lain. Dia langsung melesat kembali ke tempat persembunyian semula di balik semak-semak besar lalu mengulurkan tali tambang Sling nya ke atas tembok, napasnya diatur perlahan, agar tidak terdeteksi.
Tak lama kemudian, teriakan kaget dan panik memecah keheningan malam itu.
“TUAN HENDRA!!!”
“Ya Tuhan… Tuan di tembak orang!”
“Cepat hubungi polisi dan dokter! Cek seluruh penjuru rumah, pasti ada penyusup!”
Suara teriakan itu membuat suasana di dalam rumah seketika berubah menjadi kacau balau. Lampu-lampu di seluruh penjuru rumah dan halaman segera dinyalakan terang-benderang, menerangi setiap sudut yang sebelumnya gelap.
Beberapa penjaga mulai memeriksa jendela-jendela, pintu, dan tembok pembatas dengan membawa senter serta senjata mereka, ada yang juga membawa pistol.
Saat cahaya lampu mulai menyapu area tempat dia bersembunyi, Evan tahu dia tidak bisa berlama-lama lagi. Dalam hitungan detik yang sangat cepat, dia melompat di tembok tinggi tadi tempat dia masuk hingga menghilang di balik tembok itu.
Senter-senter dari penjaga mulai bergerak ke arah itu, namun tak menemukan apapun, hanya tanaman yang bergerak, karena angin kencang malam.
“Di sana! Ada sesuatu bergerak!” teriak salah satu penjaga.
“Tangkap dia! Jangan sampai lolos!”
Tembakan peringatan melesat ke udara, namun tidak mengenai sasaran. Evan tidak membuang waktu dia sudah lolos di balik tembok tinggi itu. Dia tinggal menarik kembali pengait bajanya lalu menyimpannya lagi. Dalam satu tarikan nafas dia berlari cepat dengan lincah, menjauh dari rumah mansion itu, persis seperti kucing liar yang terlatih.