Tanpa menoleh sedikit pun, Evan bergegas berlari cepat menuju tempat parkir gelap yang sudah disiapkan sebelumnya.
Di sana terparkir sebuah motor superbike berwarna hitam mengkilap, motor miliknya seharga ratusan juta yang memiliki kecepatan tinggi dan suara mesin yang ber peredam. Evan langsung naik ke atas jok, setelah memakai helm, dia memutar kunci kontak, dan dalam sekejap suara mesin yang halus, namun bertenaga mulai menderu pelan.
Sebelum penjaga di dalam sempat membuka pintu gerbang untuk mengejarnya, Evan sudah memutar gas penuh. Motor itu melesat seperti panah yang lepas dari busur, membelah kegelapan malam yang pekat dan menghilang di tikungan jalan raya dengan kecepatan tinggi. Angin malam menerpa wajahnya, membelai tubuh kekarnya, namun tatapannya tetap lurus ke depan, dengan sorot mata dingin, tenang, dan tanpa rasa bersalah sedikit pun, atas apa yang baru saja dia lakukan.
Di belakangnya, di lokasi tadi suasana di kediaman Mahendra Siregar semakin ricuh. Polisi dan tim penyelidik mulai berdatangan dalam beberapa menit, lampu sirene berkelap-kelip menerangi malam, dan gadis muda yang baru saja sadar, perlahan duduk dengan pandangan mata masih berkunang-kunang.
Gadis itu terpekik ketakutan, begitu melihat lagi tubuh ayahnya di atas kursi kebesarannya sudah terbujur kaku
"Papi!!" Pekik gadis muda itu, dia mencoba mengingat kejadian tadi dengan air mata berlinangan, terutama mengingat wajah lelaki yang baru saja menghabisi nyawa ayahnya, namun tidak ada satupun garis wajah si pembunuh yang bisa dia ingat, wajah pembunuh itu tertutup oleh masker hitam juga, topi hitam dan jaket kulit hitam yang besar seperti jubah, hanya saja postur tubuhnya jauh lebih tinggi dari dia, sekitar 180 sentimeter lebih, namun yang paling gadis itu ingat adalah aromanya, wangi maskulin Sandalwood, dengan campuran Musk dan aroma laut, hanya itu petunjuknya, seakan-akan ayahnya seperti sengaja pergi selamanya, sembari membawa semua rahasia gelap itu bersamanya.
****
Dua jam kemudian, Evan sudah tiba di sebuah rumah tua di pinggiran ibukota. Tempat itu terkesan gelap, hanya diterangi cahaya lampu yang redup di ruang teras, Evan bergegas masuk setelah menekan kombinasi angka pada pintu masuk, dia berjalan santai hingga ke ruangan tengah yang sama gelapnya dengan kondisi di teras rumah ini, di ruang tengah sudah menunggu Kakek Rangga, duduk di kursi kayu sambil memutar-mutar cerutu di tangannya, sebuah laptop masih terbuka di depannya, dia menyambut kedatangan Evan dengan tatapan tajam dan dingin.
“Sudah selesai tugasmu?” tanya Kakek Rangga tanpa menoleh sedikit pun, suaranya berat dan penuh tekanan.
sebuah pistol ber peredam Evan letakkan di meja, isi peluru sudah berkurang satu, seperti biasa cara Evan bekerja, jumlah peluru yang berkurang di pistol itu, sesuai jumlah nyawa yang dia eksekusi.
Evan melepas jaket hitamnya dan meletakkannya di atas meja, lalu duduk santai berhadapan dengan pria tua itu. “Sudah. Mahendra Siregar sudah tidak bernapas lagi. Semua berjalan lancar, meskipun ada sedikit gangguan tak terduga.”
Mendengar kata “gangguan”, raut wajah Kakek Rangga langsung berubah menjadi mengerikan. Matanya menyipit tajam, pisau di tangannya berhenti bergerak, dia meremas tangannya.
“Gangguan apa maksudmu Van? Jangan bilang kamu ceroboh sampai meninggalkan jejak, Evan!” bentaknya dengan nada mengancam. “Kamu tahu aturan kerjanya—tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Satu kesalahan saja, nyawa Kamu yang menjadi gantinya!”
“Bukan kesalahan, itu juga tidak terduga” jawab Evan tenang. “Putrinya tiba-tiba masuk ke ruangan dan melihat semuanya, dia melihat aku sebelum sempat pergi. Tapi aku hanya membuatnya pingsan, tidak membunuhnya. target ku cuma Mahendra, aku tak mau menambah korban”
Kakek Rangga langsung berdiri, berjalan perlahan mendekati Evan dengan tatapan penuh amarah. Dia mencengkeram kerah jaket Evan dengan kuat, napasnya terasa panas dan menusuk.
“Bodoh! Dasar anak tidak berguna! Sudah berapa kali aku ajarkan, jangan pernah meninggalkan saksi hidup, sekecil apa pun itu!” geramnya, suaranya rendah tapi menggelegar seperti guntur. “Perasaan lembut mu itu yang akan membawamu ke liang kubur nanti. Jika gadis itu bisa mengingat wajahmu, kamu tahu apa akibatnya nanti? Kita semua bisa diburu polisi sampai ke ujung dunia!”
Dia melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu mendorong bahu tegap Evan hingga dia terhuyung mundur. Meskipun postur tubuhnya jauh lebih tinggi dari kakek Rangga, namun Evan tak berani melawan pria berumur 65 tahun itu.
“Untung saja klien tidak meminta saksi ikut dibersihkan, kalau tidak… kamu sudah mati di tanganku sekarang,” desisnya penuh kebencian.
Kakek Rangga kembali duduk, lalu mengeluarkan sebuah kantong hitam dari laci bawah meja dan melemparkannya ke hadapan Evan. Suara bunyi buk, terdengar jelas.
“Ini sisa bayaranmu. Seratus juta rupiah persis sesuai kesepakatan. Tidak kurang, tidak lebih,” katanya dingin. “Tugas ini selesai. Selama tiga hari ke depan kamu harus tetap bersembunyi di apartemen mu, dan tidak menampakkan diri ke mana pun untuk menghindari pemeriksaan polisi.”
Evan meraba tas itu, merasakan beratnya tumpukan uang tunai yang cukup terasa. “Setelah tiga hari lalu bagaimana?”
“Setelah itu, terserah kamu mau ke mana. Aku izinkan kamu pergi liburan seminggu ke manapun, jika itu yang kamu inginkan,” jawab Kakek Rangga sambil menyeringai sinis.
“Tapi ingat, liburan itu bukan hadiah, hanya jeda sebentar saja. Setelah seminggu lewat, kamu harus kembali ke sini dan siap menerima tugas berikutnya yang mungkin jauh lebih berat dan berbahaya. Jangan pikir kamu bisa lari dari bayanganku selamanya. Sekali Kamu masuk, tidak ada jalan keluar untuk pergi dari aku, kecuali kamu mati.”
Dia menatap Evan dengan pandangan yang menusuk tulang, seolah ingin mengingatkan siapa yang memegang kendali penuh atas hidupnya, Evan bukan individu bebas yang bisa mengambil keputusan sendiri atas hidupnya.