Tiga hari berlalu dengan cepat. Evan menghabiskan waktunya di apartemen tersembunyi miliknya dan tak pernah terlihat di tengah keramaian, ini adalah waktu paling kritis karena pasti kasus itu masih di beritakan di mana-mana
Dia juga tidak meninggalkan jejak sedikit pun. Lewat satu Minggu kemudian sesuai janji dari Kakek Rangga, hari ini Evan berhak pergi, untuk menikmati jeda selama satu minggu di Bali, tempat yang selama ini selalu dia impikan untuk menenangkan diri.
Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, suasana sangat sibuk. Orang-orang berjalan terburu-buru, namun tunuh tinggi Evan melangkah tenang dengan langkah panjang. Dia hanya membawa satu koper besar berwarna hitam dan tas ransel kecil di punggungnya. Pakaiannya sederhana, kemeja hitam dengan bagian lengan di gulung hingga siku, dan celana panjang jeans, namun penampilannya yang keren, tubuh tingginya, dan wajahnya yang tampan dengan sorot mata tajam, tak bisa disembunyikan, membuat banyak orang menoleh sekilas saat Evan lewat. Tapi semua ketenangan itu lenyap saat Evan sampai di area penyerahan bagasi pesawat.
Tepat saat Evan hendak meletakkan kopernya di atas sabuk pengantar, seseorang dari arah samping bergerak cepat, dan ujung koper mereka beradu keras.
Dug!
Evan menoleh dengan wajah seketika berubah masam dan kaget. Dia paling benci kekacauan, apalagi harus berdekatan dengan orang asing, terutama kaum perempuan.
"Hati-hati sedikit!" bentaknya dingin, suaranya datar namun penuh penolakan. Tanpa menunggu reaksi orang itu, Evan segera menarik kasar kopernya sendiri, mendorongnya lebih dulu ke atas sabuk konveyor dengan gerakan kasar, lalu berbalik badan dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Maya yang baru saja hendak menyeimbangkan kopernya yang tadi hampir jatuh tertegun sejenak karena kaget. Dia menatap punggung tegap pria yang berjalan menjauh itu, dengan perasaan kesal yang memuncak.
"Dasar orang aneh!" gerutunya pelan namun terdengar jelas di telinganya sendiri. "Ganteng sih ganteng, tapi sikapnya dingin sekali. Bicara saja ketus, persis seperti orang yang tidak punya hati, dasar mahluk berdarah dingin!" Dia menggelengkan kepala sambil menghela napas panjang, lalu menaruh kopernya dengan hati-hati agar tak rusak.
Maya sama sekali tidak tahu, bahwa pria yang baru saja dia sebut "Mahluk berdarah dingin" itu benar-benar julukan yang pantas. Dia tidak menyadari bahwa di balik wajah tampan yang tertutup masker dan topi itu ada sosok yang menakjubkan, tersembunyi dengan identitas kelam sebagai pembunuh bayaran, yang tangannya pernah menumpahkan banyak darah. Pria yang sama yang baru saja dia temui, adalah orang yang hidupnya penuh bahaya dan rahasia gelap yang tak boleh diketahui dunia.
Evan terus berjalan menjauh, menuju ruang tunggu keberangkatan. Dia sama sekali tidak peduli dengan omelan perempuan cantik itu tadi. Baginya, perempuan cantik hanyalah gangguan dan mahluk merepotkan, dia tidak ingin ada siapa pun yang mendekat atau mengetahui sedikit pun tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Saat pramugari mengantar mereka ke area kelas bisnis, langkah Evan terhenti kaku. Di kursi tepat di sebelah jendela yang di sebelah tempat duduknya, sudah duduk gadis yang tadi dia temui di Conveyor bagasi, si Maya.
Evan mendengus kasar. Ini adalah nasib sial atau apa? Dia rela membayar mahal demi ketenangan dan bisa bersantai selama penerbangan, tapi ini malah harus duduk berdekatan dengan perempuan yang baru saja dia bentak tadi. Baginya, duduk di sebelah siapa saja lebih baik daripada duduk di sebelah perempuan itu, bahkan duduk di sebelah nenek tua sekalipun, pasti jauh lebih tenang.
Dia berjalan melewati kursi itu tanpa menoleh, lalu berhenti di baris depan tempat duduk seorang pria paruh baya.
"Permisi," sapanya singkat namun sopan dengan sedikit membungkuk. "Bolehkah kita bertukar tempat? Saya ingin duduk di sebelah nenek itu, dia kenalan orang tua saya, dan sepertinya nenek itu sendirian" Evan berbohong sambil menunjuk samar ke arah belakang dimana ada nenek tua yang duduk sendiri sambil menikmati pemandangan di jendela pesawat.
Pria itu menyetujui dengan senang hati. Tanpa membuang waktu, Evan segera duduk di kursi baru itu. Di sebelahnya duduk seorang nenek yang tampak ramah namun pendiam, mengenakan pakaian perjalanan yang rapi lengkap dengan jaket rajut halus dan hijab kalem. Itu Nenek Elena, wanita berusia hampir tujuh puluh tahun yang tampak sehat, dan sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh sendirian.
Evan masih memakai masker medis yang menutupi separuh wajahnya, dan hanya melepas topi nya, dia memakai kacamata bening untuk menyamarkan wajahnya.
Dengan hanya menyisakan mata yang tajam terlihat jelas dari balik kacamata bening itu. Sejak tadi Nenek Elena tak henti-hentinya melirik wajah pria muda itu, matanya berkaca-kaca seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Maaf ya nak, Nenek sering melirik... Kamu tidak keberatan kan?" tanyanya lembut dengan senyum.
Evan sedikit terkejut melihat tatapan hangat itu, hal yang jarang dia temui. Dia menurunkan sedikit maskernya hingga terlihat senyum tipis yang jarang dia tampilkan.
"Tidak apa-apa Nek. Silakan saja, nenek sendirian ya?" jawabnya ramah, berbeda jauh dengan sikap ketusnya pada Maya tadi. "Iya nak, nenek memang mau terbang ke Bali sendirian"
"Kenapa nggak di dampingi cucu atau pegawai nenek? ah maaf jika saya lancang"
"Sebenarnya ada Pegawai nenek, tapi dia sudah duluan terbang kemarin ke Bali, soal cucu, dia tinggal di Paris sejak lama, jadi jarang pulang ke Indonesia" wajah nenek Elena terlihat sedih saat bercerita, Evan jadi iba dan mengusap lengan keriput wanita itu lembut.
"Maaf ya nek"
"Nggak apa-apa nak, Nenek ke Bali mau mengunjungi makam suamiku, anakku dan menantuku, jadi nenek sudah biasa melakukan perjalanan jauh seperti ini," jawab Nenek Elena sambil tersenyum haru. Dia menatap lekat-lekat wajah Evan, tangannya gemetar perlahan terulur menyentuh lengan pria itu.
"Kamu? ya ampun nak~... Matamu, rahangmu... Persis sekali seperti wajah anak laki-laki Nenek. Seolah-olah dia hidup kembali di depan mata Nenek."
Evan membeku. Detak jantungnya berhenti sejenak. Dia menatap wajah keriput itu dengan pandangan tak percaya.
"Nenek, benarkah itu?" bisiknya pelan.
Wanita di sebelahnya itu sebenarnya adalah nenek kandung Evan sendiri—orang tua dari ayah kandungnya Erdian Rahadian, dulu karena insiden memilukan Evan harus terpisah dari keluarganya, saat dia masih sangat kecil.
Nenek Elena terperangah mendengar suara pria itu, sangat mirip juga dengan suara almarhum anaknya.
"Kamu~ benar-benar mirip seperti wajah almarhum anakku Erdian, mirip sekali nak?" Tiba-tiba nenek tua itu mengusap matanya yang basah seakan dia teringat pada putra tunggalnya yang sudah lama wafat.
"Mungkin karena kebetulan saja nek?"
"Iya Nak mungkin, Erdian juga sudah lama meninggal, nenek cuma rindu saja pada anak ku" Evan mengangguk pelan, sedikit tak percaya namun matanya mulai memanas.
Dia iba seperti ingin menghibur nenek Elena. "Siapa nama kamu nak?"
"Nama saya Evan......"
"Nama yang bagus...." Nenek Elena tersenyum ikut mengusap lengan kekar pria tampan itu.
"Panggil aku nenek Elena saja" Revan manggut-manggut paham.
"Sebenarnya aku punya cucu kembar, laki-laki dan perempuan, yang perempuan namanya Revana....lalu yang laki-laki namanya Revando, sayangnya Revando hilang ketika masih satu tahun, ada yang bilang dia sudah meninggal" Nenek Elena tiba-tiba bercerita banyak tentang keluarganya sembari menahan air mata, sementara Evan hanya menjadi pendengar yang baik.
"Saat ini Reva tinggal di Paris dan jarang pulang, sejak Daddy dan mommy nya wafat dia jarang pulang lagi ke Jakarta" Evan manggut-manggut mendengarkan dengan tekun seperti tertarik dengan cerita itu.
"Jadi nenek sering Sendirian?" Nenek Elena tersenyum sendu. "Beginilah nak, makin tua aku seperti makin sering kesepian" Kekehnya miris.
"Jangan sedih nek, anggap aja aku seperti cucu nenek juga" Entah kenapa tiba-tiba Evan tak sadar menawarkan persaudaraan, dia yang tipikal tak pernah peduli dengan siapapun, tiba-tiba merasa seperti menemukan bagian dari keluarganya.
"Terimakasih nak Evan, kamu anak yang baik"
Dunia mungkin terasa begitu sempit. Evan yang di bawa lari sejauh mungkin dari keluarganya sejak kecil, dan kakek Rangga yang tak pernah memberitahu asal usulnya, tiba-tiba justru di ketinggian sepuluh ribu meter di atas awan, tanpa di sengaja Evan malah kembali bertemu dengan darah dagingnya sendiri, nenek kandungnya, salah satu keluarganya yang selama ini tak pernah dia tahu seumur hidupnya.