Langit malam di atas kota Jakarta terlihat gelap tanpa bintang satupun, hanya diterangi cahaya lampu jalan yang berbaris teratur sepanjang jalan raya.
Di dalam ruangan yang remang-remang, hanya disinari cahaya lampu meja berwarna kuning redup, duduklah dua orang pria. Salah satunya sudah berusia lanjut dengan wajah penuh kerutan dan tatapan tajam yang menyimpan ribuan rahasia, sedangkan pria di hadapannya terlihat masih muda, berumur sekitar 29 tahun, bertubuh tinggi kekar, dengan pandangan dingin seperti tak pernah menampakkan emosi apa pun.
Dia adalah Eko Evan. Sejak menginjak umur tujuh tahun, Evan telah dibesarkan dan ditempa oleh ayah angkatnya, Kakek Rangga. Bukan didikan normal pada umumnya, melainkan doktrinasi keras dari dunia bawah tanah mengenai cara bertahan hidup, penguasaan senjata, teknik pengintaian, hingga taktik menjadi seorang pembunuh bayaran yang andal. Bagi Evan, rasa takut, belas kasihan, atau afeksi kemanusiaan lainnya adalah bentuk kelemahan yang haram untuk dipelihara. Yang dia pahami dalam hidupnya hanyalah misi, loyalitas mutlak, kekejaman, dan pundi-pundi rupiah
"Bagaimana liburan kamu?" tanya kakek Rangga sedikit basa-basi, tumben sekali dia peduli, mungkin dia sedikit takut Evan akan meninggalkannya.
"Lumayan kek, bisa sedikit melepas penat." jawab Evan sekenanya
“Ini tugas baru untukmu,” suara Kakek Rangga memecah keheningan, lalu dia mendorong amplop berisi tumpukan uang ke atas meja. “Bayarannya jauh lebih tinggi dari tugas-tugas sebelumnya, 500 juta dan itu 200 juta uang mukanya. Uang itu cukup untuk menutupi segala risiko yang mungkin terjadi.”
"Apa tugas kali ini?" Evan mengambil kantong tebal itu, membukanya, dan melihat isinya tanpa mengubah ekspresi sedikit pun.
"Mudah dan simpel, bukan mengeksekusi"
"Ah begitu, lalu kapan aku bisa melakukannya?" tanya Evan yang sudah tahu apa saja tugasnya, kakek Rangga menyeringai sambil menghisap cerutunya.
"Tiga hari lagi, harus bersih tanpa gangguan, dan jangan sampai kamu tertangkap, bawa sandera ke tempat aman."
"Beres soal itu"
Tugasnya Evan kali ini bukan membunuh, lebih sederhana, dia harus menculik seorang gadis bernama Maya, putri seorang menteri pertahanan yang cukup berpengaruh di negeri ini. Dia harus membawa gadis itu pergi sejauh mungkin dari keluarganya, tepat pada hari sebelum acara pertunangan gadis itu. Tidak boleh ada jejak, tidak boleh ada saksi, dan yang paling penting, Maya harus tetap hidup dan selamat sampai di tempat yang ditentukan.
"Alasannya apa?” tanya Evan datar, menyuarakan sedikit keheranan atas anomali tugas kali ini. “Kenapa Target hanya perlu diculik? bukan di bunuh?”
“Klien tidak memberikan rincian lebih lanjut,” potong Kakek Rangga dingin. “Kita tidak dibayar untuk memahami motif dan tujuan mereka. Tugas kita hanya mengeksekusi perintah dan mengantongi bayaran. Itu saja.” Evan mengangguk. Sudah menjadi aturan dasar dalam pekerjaannya, jangan bertanya terlalu banyak, cukup jalankan perintah lalu di bayar dengan pundi rupiah yang sangat banyak.
*
*
Di sisi lain di pusat ibukota, suasana justru sangat ramai dan penuh kegembiraan. Rumah keluarga Menteri telah dihias dengan indah untuk menyambut hari pertunangan putri satu-satunya, Maya, berdiri di depan cermin, mengenakan gaun berwarna pink soft yang elegan. Paras cantiknya menyiratkan sedikit rona gugup, namun seulas senyum tipis tetap terukir manis di belah bibirnya.
Maya Minati Darmawan adalah seorang dokter yang baru saja menyelesaikan masa pendidikan dokternya dua tahun lalu dan bekerja di salah satu rumah sakit besar di kota. Dia dikenal sebagai gadis yang lembut, cerdas, dan memiliki hati yang polos. Pertunangannya dengan Adimas Bastian, seorang pengusaha muda yang sukses dan terhormat, dianggap sebagai pasangan yang sangat serasi oleh banyak orang.
“Tenang saja, Nak,” kata ibunya sambil merapikan rambut Maya yang sudah di dandani oleh MUA ternama. “Hari ini adalah hari bahagiamu. Semoga hidupmu ke depan selalu dipenuhi kebahagiaan bersama Adimas.”
"Iya bunda terima kasih restunya"
Maya mengangguk dan menarik napas panjang. Meskipun dia tidak mengenal Adimas terlalu lama dan ada campur tangan perjodohan dari ayahnya, namun dia percaya pada keputusan orang tuanya. Setidaknya begitulah yang dia pikirkan saat itu. Dia tidak menyadari bahwa di balik kebahagiaan yang terlihat sempurna ini, sudah ada rencana gelap yang sedang berjalan, menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan semuanya.
Saat malam semakin larut dan para tamu mulai berdatangan, Evan sudah berada di tempat yang telah dia rencanakan. Dia mengamati setiap gerakan apapun dari kejauhan, mengingat setiap detail yang tertulis dalam berkas tugasnya.
Semua berjalan sesuai perhitungan. Saat suasana di dalam mansion besar itu menjadi paling sibuk dan perhatian semua orang teralihkan, dia bergerak cepat dan terampil.
Lampu‑lampu taman pesta berpendar lembut di sepanjang jalan setapak menuju halaman belakang rumah mewah itu. Di sudut gelap, di balik rimbunan pohon Cemara, Evan berdiri diam seperti bayangan. Jaket kulit hitamnya menyatu dengan gelapnya malam, matanya mengawasi gerak‑gerik penjaga kebun yang baru saja dia dekati sambil menyelipkan segepok uang tebal ke saku seragam lelaki paruh baya itu.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya gugup.
“Mudah saja,” ucap Evan pelan, suaranya datar tanpa nada menawar. “Datang ke depan tuan rumah si nona muda, bilang pada Dokter Maya ada Nenek Resti yang mencarinya di gerbang belakang. Katakan nenek itu bersikeras ingin berterima kasih, karena dulu pernah diobati dokter itu cuma‑cuma saat sakit keras.”
Tukang kebun menelan ludah, melirik kiri‑kanan takut‑takut, namun uang di tangannya terasa terlalu berat untuk ditolak. “Ba… baik Tuan, saya mengerti, tapi jika non Maya tidak mau saya tidak bisa memaksa,”
Tak lama kemudian langkah berat penjaga itu terdengar mendekati teras tempat Maya berdiri di antara para tamunya.
Gaun sutra soft pink yang dikenakannya tampak berkilau indah di bawah bias lampu gantung, berpadu apik dengan tiara kecil yang menghias rambut panjangnya. Wajah cantiknya masih tampak benderang, meski sesekali matanya melirik cemas ke arah jam tangan, menanti kehadiran Adimas Bastian untuk memulai prosesi pertunangan.
Non Maya…” sapa si tukang kebun dengan gestur ragu. “Di area gerbang belakang, ada Nenek Resti yang mencari Non. Beliau bersikeras ingin menyampaikan rasa terima kasih secara langsung karena dulu Non pernah merawatnya tanpa memungut biaya saat beliau demam tinggi yang nyaris merenggut nyawa. Beliau juga membawa sedikit tanda mata buat non.”
"Ya ampun, benarkah, Kek?" Maya menatapnya tak percaya, sementara si tukang kebun hanya bisa mengangguk gugup.
Seketika senyum manis Maya merekah lebar, mengikis habis rasa lelah dan ketegangan yang sempat mendera pikirannya. Dia ingat betul dengan sosok Nenek Resti, wanita tua yang hidup sebatang kara di sebuah petak kontrakan sempit di pinggiran ibu kota karena tidak memiliki biaya untuk berobat. Maya ingat betul bagaimana ia menerobos derasnya hujan dari kliniknya demi menyelamatkan nyawa nenek tua itu hingga pulih total.
“Oh Tuhan, Nenek Resti sampai menyempatkan diri datang di hari acaraku,” ucap Maya dengan nada suara yang sarat akan keceriaan. “Terima kasih banyak sudah memberi tahu, Kek. Aku akan menemui beliau sebentar saja.”
Maya bergegas pamit secara halus kepada kerabat dan kolega di dekatnya dengan alasan hendak ke dalam sebentar.
Langkah kakinya mengayun santai menyusuri lorong vegetasi bunga menuju halaman belakang mansion. Di luar, rintik gerimis mulai turun membasahi permukaan aspal, mengatrol udara menjadi semakin dingin. Namun, hati Maya terasa begitu hangat membayangkan wajah Nenek Resti dia rindukan—tanpa pernah dia duga bahwa ketulusan hatinya malam itu justru menjadi pintu gerbang menuju petaka.
Saat Maya baru saja sampai di dekat pintu belakang halaman ini, malah tak ada nenek Resti. Hanya gelap yang pekat dan bau tanah basah yang menusuk hidung karena angin agak kencang dan sepertinya gerimis mulai turun.
"Lho dimana nenek ya?" bingung Maya melihat ke sekelilingnya.
Belum sempat Maya berbalik, sepasang lengan kekar melingkar erat di tubuhnya, dalam hitungan detik secepat kilat menahan kedua lengannya ke belakang. Mulut Maya langsung disumpal kain tebal agar tak bisa berteriak, napasnya tertahan kencang karena dia terkejut sekali.
“Jangan berteriak,” bisikan rendah serak terdengar persis di telinganya. Dingin, tanpa ampun. Maya memberontak keras, kakinya menendang udara, matanya melotot penuh ngeri melirik lelaki berjaket kulit hitam itu dengan masker dan topi hitam, itu Evan sang penculik.
Hanya dalam hitungan menit, dia berhasil membekap Maya yang tengah menuju taman belakang untuk menemui nenek Resti. Sebelum gadis itu sempat berteriak lebih keras, kain yang tadi sudah dibasahi zat penenang Evan bungkam pada hidung dan mulutnya. Maya meronta sebentar, lalu kesadarannya perlahan menghilang saat hujan turun makin deras.
Evan bergegas mengangkat tubuh gadis itu yang sudah pingsan dan membawanya masuk ke dalam mobil Avanza Hitam yang sudah disiapkan. Mobil Evan melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan lokasi mansion mewah itu, menuju tempat persembunyian yang jauh dari jangkauan siapa pun.