“ Maaf, kenapa Bapak Tiba – tiba bicara seperti itu ? apa pekerjaan Saya tidak bagus. Pak Neil bisa langsung sampaikan ke Saya “
“ Tidak, Kerja Mu Bagus. Aku hanya tidak ingin memaksa Kamu “ Sikap yang sedikit lembut membuat Sabrrina heran
“ Mimpi apa tadi Pak Neil, sampai Dia jadi baik begini ? “ kata Sabrina dalam hati sambil melihat luar dari kaca mobil hingga sampai di depan rumahnya.
“ Terima kasih Pak, Tidak turun dulu pak ? “
“ Boleh ? “ kata Neil meminta persetujuan.
“ Boleh “ jawab Sabrina dengan senyum manis
“ Buk, ada Pak Neil “ sapa Sabrina pak Ibunya saat membuka pintu. Namun tudak ada sahutan suara
“ Sebentar ya pak, silahkan duduk dulu “ Sabrina pun masuk ke dapur mencari ibunya namun tak menemukannya. Saat membuka pintu kamar, Sabrina sangat terkejut ibunya tergeletak di lantai
“ Ibu !, Ibu kenapa ! “ Teriakan Sabrina membuat Neil bangkit berdiri dan menghampri Sabrina
“ Ada apa ? “ dengan sigap Neil segera menggendong Ibu Sabrina dan membanya ke dalam mobil
“ Kita bawa ke rumah sakit “ di dalam perjalanan, Sabrina hanya menangis dan mengusap kepala serta wajah ibunya
“ hiks . ,. . hiks . . Bu, jangan tinggalkan Sabrina, Sabrina takut sendirian. “
“ Hanya pingsan saja, tidak akan terjadi apa – apa “ sahut Neil mencoba menenangkan Sabrina sambil mengemudi
“ Apa masih jauh rumah sakitnya pak ? “ Tanya Sabrina dengan suara sengau karena menangis
“ Sepertinya sebentar lagi “ dan benar saja mereka sudah sampai di rumah sakit
“ Sabrina keluar dari mobil dan meminta tolong perawat rumah sakit. Namun Neil sudah menggendong Ibunya ke dalam rumah sakit dan membaringkan di tempat tidur yang baru saja di dorong perawat.
“ Bapak Ibu bisa tunggu di luar, kami Akan menganinya “ kata perawat pada Sabrina dan Neill
Melihat Sabrina terus menangis, Neil meraih bahu Sabrina. Seketika itu Sabrina langsung memeluk Neil dan menangis di pelukan Neil.
“ its ok, semua akan baik – baik saja. Ada Aku di sini “ kata Neil sambil mengusap punggung Sabrina dan membawanya duduk
“ Aku tidak mau kehilangan Ibu sekarang hiks hiks. . . “
“ Ssstttttt . . . everything is gone be ok “
“ Keluarga pasien ? “ Tanya seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang UGD
“ Saya Ananknya, Sus. Gimana Ibu Saya ? “
“ Ibu Mbak hanya pingsan, nanti dokter akan menejelaskan. Silahkan kalau mau di jenguk. Tapi Ibunya masih tidur jangan diajak bicara dulu ya “ kata perawat Sabrina dan Neil pun masuk ke dalam
“ Ibu, ini Sabrina. Terima kasih ya buk, Ibu masih ada untuk Ku. Sabrina akan selalu ada di sini, Aku janji gak akan meninggalkan ibu sendirin “ kata Sabrina sambil mencium kening dan memegang telapak tangan ibunya. Sementara Neil hanya bisa melihat pemandangan haru itu di samping dokter
“ Sebenarnya sakit apa, sampai pingsan, Dok ? “ Tanya Neil
“ Yang pasti sakit karena usia dan jantungnya lemah. Mari saya jelaskan “ kata Dokter mengajak Neil duduk
“ Ibu anda tidak boleh di tinggal sendiri, kalaupun di tinggal sendiri harus ada yang menjaganya atau lebih sering di control, kalaupun memang tidak bisa menunggunya setiap hari. Karena sakit jantung lemah itu tidak bisa di tentukan sakitnya, selain itu Karena usianya. Biasanya kalau sudah ketemu cucu, lupa dengan kelelahnya. Sampaikan saja pada isteri anda untuk lebih inten dan selalu membuat ibunya bahagia. “ kata Dokter. Neil hanya mendengar dan merasa ada kata yang menyentuh hatinya saat bilang bahwa Sabrina adalah isterinya. Setelah kejadian di rumah sakit itu Neil tidak memperbolehkan Sabrina pulang lebih dari jam kerja.
“ Lei, aku mau kamu segra ambil alih perusahan – perusahaan ini dan Aku mau lepas saham dari keluarga Angel. Aku yakin Sabrina bisa membantu kita, dan pastinya tidak membuat Sabrina kerja ekstra di luar jam kerja. “ kata Neil sambil meminul secangkir kopi. Lei mengambil Gadget yang diberikan Neil, dan memandangi dengan senyum, karena tampil wallpaper cute.
“ Maksud ku, sebelum Aku ngopi lagi . “ Kata Neil lagi karena melihat Lei belum beranjak pergi
“ Oh iya, benar maaf. Saya langsung kerjakan “ kata Lei segera pergi.
Tak lama setelah Lei pergi, muncul Sabrina di tempat yang sama di mana Neil ngopi.
“ Sabrina ? “ sapa seorang Pria dari belakang Sabrina
“ Maaf, Siapa ya ? “
“ Kamu lupa, kita pernah bertemu karena sebuah aplikasi kencan. “ kata Pria itu dengan senyum nakal
“ oh tapi maaf saya lupa. Kalau pun iya, terima kasih sudah berkenan bertemu waktu itu. Ehm . . maaf saya harus pergi “ kata Sabrina. Langkah pertama Sabrina terhenti Karen Pria Itu menahan lengan Sabrina, membuat Sabrina menoleh dan segera melepaskan tangan Pria itu.
“ Hei, apa yang anda lakukan ! “ Marah Sabrina
“ Ayolah, jangan munafik. Aku mau kita lanjutkan hubungan ini “ kata Pria itu dengan mata nakal dan senyum penuh kelicikan
“ Anda tidak berhak memaksa Saya. Dan saat itu sudah Saya jelaskan, kalau bukan Saya yang memakai Aplikasi itu. Tetapi teman Saya, jadi jangan pernah berharap tentang pertemuan itu. Maaf, sebaiknya Anda minggir, sebelum Saya bertindak tidak sopan dengan Anda ! “ kata Sabrina dengan kesal
“ Tambah suka, ganas “ kata Pria itu dengan ekspresi gatal dan menjijikkan sambil mencoba menyentuk Sabrina, Namun Sabrina cepat menghindar dengan sedikit terikan
“ Hey, hentikan ! “ kata Neil menghampiri Pria Itu dan berdiri di depan Sabrina untuk emlindunginya
“ Pak Neil, ada di sini ? “ kata Sabrina pelan
“ Iya, kebetulan Saya sedang menikmati kopi. Tapi tidak jadi nikmat karena terganggu melihat orang kurang ajar ini “ kata Neil dengan tatapan tajam pada Pria itu
“ Jangan ikut campur, ini urasan Ku dengan calon isteri ku. Benar begitu cantik “ kata Pria itu sambil menaikkan alis dan senyum nakal
“ heh, jangan kurang ajar kamu. Pergi dari sini atau mau ku habisi sekarang ! “ kata Neil sambil mencengkram rahang pria itu
“ Ba . baik. Aku belum selsai dengan mu cantik “ kata Pria itu ketakutan dan segera pergi
“ Kamu tidak apa – apa ? “ Tanya Neil pada Sabrina. Sabrina sempat terdiam beberapa detik karena melihat Neil yang terlihat tampan
“ Sabrina ? “
“ Em . . Sa . saya tidak apa – apa. terima kasih Pak Neil “ Jawab Sabrina lembut
“ Siapa Pria itu, kenapa Dia mengikuti Mu sampai kesini ? “
“ Ceritanya panjang, pastinya Saya tidak kenal. Dan ini hanya kesalahpahaman saja “ Kata Sabrina
“ Ok, Kmau Janji akan ceritakan ini. Sekarang Kamu mau ke mana ? “
“ Saya mau beli toast dan kopi. Tapi sepertinya sudah tidak ingin. “ kata Sabrina
“ Aku antar kamu “ kata Neil
“ Terima kasih Pak, Saya bisa sendiri “
“ Oh Kamu mau pergi dengan pria itu ? “ kata Neil kesal
“ Maksud Bapak ?. Saya sudah bilang tidka kenal Pria itu. “
“ Kalau begitu Aku yang akan mengantar mu pulang “ Kata Neil dengan sedikit memaksa.
“ Hem “ jawab Sabrina kesal. Dua puluh menit untuk sampai di rumah Sabrina
“ Sab, gimana perburuan pujaan hati mu hari ini ? “ Tanya Karli tanpa melihat ada Neil di belakang Sabrina
“ Karli, Aku bukan hunter seperti Mu “
“ Masa ? Oh, tenang Aku punya cara baru “ kata Karli dengan semangat
“ Karli Pelase ? “ kata Sabrina dengan mengedipkan mata namun Karli tidak mengerti artinya
“ Hai ? “ sapa Neil
“ Oh Hai, silahkan masuk. “ kata Karli gugup
“ Maaf, Aku tidak tahu Dia ikut. Kenapa tidak kasih kode “ “ bisik Karli pada Sabrina
“ Sudah Ku kasih tapi kamu masih nerocos terus “ jawab Sabrina pelan
“ Bu, ada Ca . . .e Bos nya Sabrina “ kata Karli
“ Iya sebantar, Wah Pak Neil datang ke sini lagi. Saya sangat senang. Terima kasih artas bantuannya waktu di rumah sakit ya, Pak Neil “ kata Ibu Sabrina dengan senyum lebarnya
“ Sama – Sama Bu, Gimana keadaan Ibu, Apa sudah baikkan ? “
“ Sudah sedikit membaik, sekarang tambah jauh lebih baik lagi “ kata Ibu Sabrina bersemangat
“ Ibu ? “ Sabrina menyenggol lengan ibunya
“ Ah iya, saya buatkan minum ya. “
“ Biar Aku saja, Bu “ kata Karli
“ Terima kasih, Nak “
“ Pak Neil, sebelumnya saya minta maaf. Tapi apa ibu boleh minta bantuan pada Pak Neil ? “
“ Dengan senang hati, apa itu ? “
“ Em . . sebelum Ibu Tiada, Saya ingin ada yang jaga Sabrina. Maksud Ibu, Suami untuk Sabrina. Apa Pak Neil, Mau menjaga Sabrina untuk Ibu ? “
“ Ibu, Ibu ini bicara apa. ? “ Sahut Sabrina lembut saat Sabrina mendengar permintaan Ibunya
“ Saya bisa, tapi apa Sabrina mau ? “ Tanya Neil dengan wajah datar, jawaban Neil membuat seisi rumah Sabrina terkejut
“ Ha, serius ini “ sahut Karli sambil membawa nampan
“ E . . ini salah paham saja. Mungkin Pak Neil belum mengerti maksud Ibu. Sebaiknya di abaikan saja. Karli mana minumnya ? “ Kata Sabrina dengan gugup
“ Aku mengerti, mungkin Kmau yang tidak mengerti “ kata Neil
“ Sabrina, jawab pertanyaan Ibu. Kamu mau kan Pak Neil mejaga Mu ? “
“ Ibu, ada Karli dan Ibu yang bisa menjaga Ku, dan Aku juga bisa jaga diri “ kata Sabrina sambil memegang tangan ibunya
“ Jawab saja, Nak. “