“ Dia sebagai apa di sini ? “ Tanya Mama Neil lagi
“ Sekertaris Pribadi “ jawab Neil sambil mengunyah
“ Bukannya kamu sudah ada Lei “ sahut Papanya
“ Iya, kan sudah ada Lei. Buat apa kamu cari lagi “ kata mama Neil
“ Aku butuh yang sekretaris perempuan agar bisa membantu Lei dalam urusan lain yang mungkin Lei tidak tahu. Karena bisanya Perempuan lebil detail. “ kata Neil
“ iya sih, tapi mama masih penasaran. Kenapa kamu memilih Dia sebagai kekasih mu ? “ Tanya mama Neil
“ Uhhuk . . . ! “ seketika Neil tersedak mendengar pertanyaan mamanya
“ Eh . . minum dulu “ kata Mama Neil sambil memberikan segelas air putih
“ Memangnya kenapa dengan Sabrina ? “ Tanya Neil menatap mamanya
“ Ya kurang pantas saja dengan Mu, lihat saja penampilannya biasa. Apa kamu tidak malu kalau jalan dengannya, kamu ini CEO lho, Neil. Masakiya kamu jalan dengan wanita itu. Bajunya saja mungkin harga murang, sepatunya dan lihat . . “
“ cukup Ma !. Dia bukan bahan bully ya. Kalau mama bawa makan siang ke sini hanya untuk menjelekkan karaywan sekaligus kekasih Ku. Mending tadi mama tidak usah kesini. “ kata Neil Marang dan langsung melettekan piringnya dan bangkit berdiri berpindah duduk
“ Bukan Begitu, neil. Maksud mama hanya . . “
“ Hanya apa !. mama masih menginginkan Aku nikah dengan Angel yang buruk itu ?. dengar ya ma, Sabrina ini wanita baik – baik, Dia dari keluarga baik – baik. mungkin secara harat memang tiodak setara dengan kita seperti keinginan mam. Tapi Dia punya etika baik di mata ku, bahkan jauh lebih baik daripada Angel. “
“ Ma, sudahlah. Neil sudah dewasa Dia tahu mana yang baik untuknya. “ sahut papanya
“ Tapi Pa, apa kata karaywan di sini nantinya. Kalau Neil menikah dengan karyawannya, apa pandangan kolega kita Pa ? “
“ memangnya ada yang salah dengan pilihan Ku ?, Mama lihat saja dari beberapa kolega Mama, apa pasangan meraka berasalah dari keluarga kaya semua atau dari keluarga yang setara ?. Aku yakin pasti ada salah satu di antara mereka memliki pasangan yang sama – sama kaya. Ayolah Ma, jangan terlalu memikirkan kehormatan Kita terus, Neil Capek ! “ kata Neil
“ Tapi Neil, itu memang kenyataannya. Kita tidak bisa berpasangan dengan sembarang orang ? “
“ Lalu Angel, kemarin. Apa itu namanya ? setara dengan Aku ? “ kata – kata Neil mampu membuat Mamanya Diam tak berbicara lagi
“ Sudahlah Ma, kenapa jadi rebut masalah seperti ini di kantor. Nanti malah membuat kacau pikiran Neil. Sebaiknya kita pulang saja kalau Mama masih membicarakan ini. “ Protes Papa Neil
“ Ok Mama Diam “ kata Mama Neil
“ Permisi, Maaf Menganggu” Kata Sabrina setelah mengetuk pintu
“ Ya masuk ! “ Jawab Papanya Neil
“ Ada Berkas perlu Tanda tangan Pak Neil “ Kata Sabrina sambil memberikan file kepada Neil
“ Oke, duduk “ kata Neil santai, sedangkan Sabrina terkejut dengan Perintah Neil. Karena Sabrina Pikir, Ia hanya menaruh berkas itu dan nanti akan di ambil setelah Neil selesai menandatangani. Sabrina perlahan melettakan pantantnya dengan sedikit ragu dan hati yang berdebar, karena di ana ada kedua orang tua Neil. Neil focus dengan berkasnya, sebenarnya Neil sudah membbacanya beberapa hari lalu dan meminta revisi setelah itu Dia akan tanda tangan. Neil sengaja membacanya lama agar kedua orang tua Neil segera pulang khussnyaa mamanya Neil. Tangan Sabrina Tak berhenti meremas – remas jari jemarinya sendiri karena canggung.
“ Hati – hati bisa lecet tangan mu “ celetuk mama Neil yang mengamati sikap Sabrina. Secara bersamaan membuat Neil langsung melirik tajam ke Sabrina, dan papa Neil juga menatap ke isterinya.
“ Neil, Mama dan Papa Pulang dulu ya. Papa baru ingat , kalau ada acara di rumah teman papa. Yuk Ma pulang ? ajak papa Neil sambil menggandeng paksa mama Neil
“ ihhh Papa Apaan si ! “ bisik Mama Neil
“ Iya pa hati – hati “ kata Neil dengan lega, karena rencanya berhasil
“ kenapa Kamu segugup ? “ Tanya neil pada Sabrina
“ E . – enggak Pak. Saya hanya focus pada berkas yang Pak Neil tanda tangani, karena Client menunggu email dari kita “ kata Sabrina beralibi
“ Ini tidak terlalu buru – buru, mereka juga sudah bilang ke Saya kalau berkas akan mereka ambil setelah saya selesai pelajari dan tanda tangan. “ kata Neil membuat Sabrina smeakin mati kutu karena alibinya ternyata tak berlaku. Neil tidak bisa di bohongi, Dia hapal semua dengan kontrak setiap client.
“ Maaf Pak, kalau begitu Saya Ijin kembali ke meja kerja saya ? saya akan ambil berkasnya setelah bapak tanda tangani. “
“ Aku sudah bilang untuk menunggu, kenapa masih bertanya lagi. “
Setelah menunggu cukup lama, Sabrina kembali ke meja kerjanya dan mulai mengirim email softcopy berkas yang sudah di tanda tangani Neil. Namun tak di sadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul setengah empat lebih.
“ Sab, masih banyak kerjaan mu ? “ Tanya Siska
“ Iya Mbak, masih ada beberapa yang belum selesai. Tapi mungkin jam lima saya sudah pulang kok. “ jawab Sabrina dengan senyum
“ baiklah, Aku pulang duluan ya. Kalau kamu takut sendirian di sini, minta temani office girl. Kalau sebentar tidak apa “
“ Iya Mbak, Makasih mbak “
Jarum jam berputar terlalu cepat hingga menunjukkan sudah pukul setngah enam. Sabrina segera membereskan mejanya dan bersiap untuk pulang.
“ Kamu mau kemana ? “ sahut Neil yang keluar dari ruangannya menggagetkan Sabrina
“ Mau pulang pak “ jawab Sabrina
“ Tunggu sebentar lagi, ikut Aku “ kata Neil sambil masuk ke ruangannya
“ Aish apalagi si ini, sudah kangen kasur padahal “ gumam Sabrina pelan sambil mengikuti Neil
“ Tolong bantu koreksi ini, mata ku sudah lelah “ kata Neil
Sabrina Duduk di depan laptop Neil, dan mulai mambaca setiap kalimat dalam proposal client dan membetulkan kata yang salah. Sementara Neil, duduk di sofa merebahkan tubuhnya di sana, terlihat sangat lelah. Seskali Sabrina mencuri pandang pada Neil yang tertidur di sofa.
“ Kasihan juga lihatnya, ternyata berat juga jadi bos “ gumama Sabrina
Setelah sekitar dua puluh menit Sabrina mengerjakan tugasnya, Ia pun memberanikan diri membangunkan Neil. Agar Ia cepat segera sampai ke rumah.
“ Erhem . . . Pak Neil, Bangun Pak “ Kata Sabrina pelan sambil menarik nafas dalam dengan sedikit membungkung di seblag Neil. Namun Neil tak juga bangun. Sabrina pun akhirnya jongkok di samping sofa tempat Neil Tidur. Sabrina memandang setiap inchi garis wajah Neil saat terlelap tidur.
“ Indah . . . . tapi menyakitkan “ kata Sabriana pelan. Sabrina mencoba membangunkan kembali namun taka da peregrakan dari Neil. Terpaksa Sabrina menunggu hingga Neil terbangun, Sabrina duduk di sofa yang tak jauh dadri Neil sambil berselancar di dunia media social dengan handphonennya hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul Sembilan malam dan mata Sabrina juga ikut terlelap jarena bosan menunggu.
“ Ermmmmmm . . . . “ suara berart bangun tidur Neil, Ia mulai membukamatanya dan merenggangkan tubuhnya lalu duduk.
“ Hem, kenapa Dia tidur di sini ? “ kata Neil saat melihat Sabrina tertidur di sofa
“ Astaga jam berapa ini ?, jam Sembilan malam lebih. “ kata Neil sambil melihat jam tangannya. Neil langsung bangkit berdiri menghampiri Sabrina dan membangunkannya. Namun Ia merasa terpesona dengan wajah polos Sabrina ketika tidur, Neil pun sedikit jongkok dan dan menatap wajah cantik Sabrina.
“ Cantik, kamu terlalu polos ? “ Gumam Neil dengan wajahnya yang tak sadar sudah sangat dekat dengan wajah Sabrina hingga hembusan nafas Neil terasa di wajah Sabrina
“ Ough . . . Pak Neil ? “ Sabrina terbangun dengan terkejut begitu juga Neil hamper terjatuh kebelakang
“ Pak Neil . . . Ma – maaf. E . . . “ melihat wajah Sabrina panic membuat Neil sedikit marah karena Ia hamper terjatuh
“ Bisa biasa saja tidak, kamu hamper membuat ku terjatuh “ kata Neil
“ Maaf Pak, tadi saya kaget ka . . “
“ Kamu pikir Aku mau berbuat macam – macam !, gila saja. “ Kata Neil marah namun hatinya tersipu malu. Sabrina hanya terdiam masih mencoba sadar dengan apa yang terjadi beberapa menit lalu.
“ Ayo pulang “
“ Hem ?, tapi itu . . . ? kata Sabrina gugup sambil menunjuk laptop Neil
“ Kamu tidak mau pulang ?, mau Ku makan di sini ? “ kata Neil
“ E . . . tidak pak, baik “ kata Sabrina langsung bangkit berdiri dan merapikan rambutnya
“ Kamu lapar ? “
“ Tidak pak “ Jawab Sabrina cepat dan singkat
“ Kenapa kamu tidak membangunkan Ku ? “
“ Sudah Pak, tapi Pak Neil tidak bangun “
“ Ya Aku sangat lelah rasanya hari ini. Ah . . . tidak itu biasa “ kata Neil yang langsung meralat perkatannya sendiri tidak ingin terlihat lemah di depan Karyawannya
“ Biasanya kalau begitu memang harus di istirahatkan sebentar Pak, karena tubuh kita perlu spasi “ kata Sabrina
“ Kamu pikir proposal pakai spasi. Kalau Kamu lelah untuk menjadi sekretaris Ku, Kamu boleh kembali ke devisi lainnya “ kata Neil membuat Sabrina tekejut dan menoleh ke arah Neil
“ Jangan menatap Ku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta “ kata Neil datar menatap ke depan