“ Kamu beneran kekasih Neil ? “ Tanya Wanita itu yang tak lain adalah Angelica Mantan calon tunangan Neil
“ Mbak . . . ? “ kata Ku
“ Angelica ! “ JAwabnya
“ E . . iya mbak Angel kok ada di sini ? “ Tanya Ku dengan panic
“ Pertanyaan macam apa ini, tentu saja Aku di sini karena Tante Isyana memberitahu ku “ kata Angel
“ O . . . Kalau begitu selamat menikmati acaranya ya mbak. ehm . . tidak ingin menemui Neil ?. Neil ada di sana bersama Pak Neil, Saya antar ? “ Kata Ku mengalihkan rasa panic ku
“ Tidak perlu, Aku bisa kesana sendiri. Ingat kita belum slelesai ! “ ancam Angel pada Ku, seketika itu rasanya Aku memiliki kesulitan baru dalam hidup ku. Angeli meninggalkan ku dan berjalan menghampiri Neil yang sedang ngobrol dengan beberapa para pembimbing yayasan.
“ Halo Neil ? “ sapa Angel pada Neil. Dengan tatapan tajam penuh kebencian Neil menatap Angel, lalu memberikan kode pada Lei untuk melakukan sesuatu.
“ Eh Mbak Angel ya, kenalkan saya Lei. Bisa kita bicara di sana sebentar, ada yang mau Saya tanyakan. Ini penting menyangkut perasaan “ ajak Lei. Aku tahu Lei sebenarnya tidak memiliki topik yang akan di bahas dengan Angel. Setelah Lei berhasil mengajak Angel menjauh dari Neil, diam – diam Neil menghampiri Ku dan mengajak pulang lebih dulu. Segera gelas dan makanan yang Ku ambil ku lettakan kembali.
“ Pulang sekarang, biar Lei menangani Angel. “ kata Neil. dan berjalan lebih dulu, Ku ikuti langkah Neil yang berjalan cepat.
“ kenapa Kita pulang dulu Pak ? Pak Neil gimana ? dan bagaiamna dengan Mbak Angel ? “ Tanya ku untuk menghilangkan rasa gugup
“ jangan banyak Tanya, Lei tahu apa yang harus di lakukan. Kalau kamu tidak ingin pulang, Kamu bisa turun dan kembali ke dalam ! “ Kata Neil dengan ketus dan datar
“ Terima kasih Pak, saya pulang saja. Pak Neil ingin mengantar saya ? “ hanya tatapan datar ke depan yang ku terima, tanpa ada jawaban Dia mulai melajukan mobil. Dengan situasi berdua di dalam mobil, Aku hanya bisa diam dan memandang indahnya lampu malam hari dari kaca mobil. Tak sepatah kata keluar dari mulut Ku dan Neil setelah pertanyaan terakhir Ku. Tepat di depan rumah ku Ia menghentikan mobil, dan menoleh kebelakang mengambil sebuah bingkisan, lalu memberikannya pada ku.
“ Berikan pada Ibu mu “ kata Neil
“ Terima kasih Pak, Tapi Maaf ini untuk apa ya Pak, Ibu tidak berulang tahun ? “ Tanya ku polos
“ memangnya harus berulang tahun dulu baru bisa kasih ini ?. turun dan berikan, Aku sudah lelah ingin segera pulang. “ Katanya dengan dingin. Dengan pelan ku menarik handle pintu mobil dan sgera turun, tidak lupa AKu mengucapkan rasa terima kasih ku, setelah itu Pak Neil melajukan mobilnya dengan cepat.
“ Helo Aku pulang ! “
“ Yeahhh akhirnya, eh bawa apa itu ?, wah ada doorprizenya ya ? “ Kata Karli menyambutnya dnegan semangat
“ Tidak ada doorprize, kamu pikir lomba. Ini untuk Ibu “ kata Ku dan memberikan bingkisan itu ke Ibu
“ Untuk ku ?, ibu tidak ulang tahun Nak “ kata Ibu ku dengan jujur
“ Aku tadi juga bilang begitu ke Pak Neil, tapi Jawabannya sama dengan Ibu. “ Kata Sabrina sedikit kesal
“ Kamu pulang dengan Pak Neil lagi ? “ Sahut Karli
“ hem . . dan ini bingkisan dari Pak Neil untuk Ibu. Entah dalam rangka apa, Aku tidak tahu “ kata Ku
“ Sampai terima kasih ke Pak Neil ya, Nak. Sekarang kita buka sama – sama bingkisannya. “ kata Ibu Ku bahagia
“ Weh ini mahal semua Bu, besok kita mask ini ya ? “ Kata Karli dengan semangat
“ Iya Boleh, masak sekarang juga boleh kalau mau “ kata Ibu Ku dengan senyum bahagianya
“ Tidak . . . tidak. Sepertinya Akuingin makan mie goreng Pak To. Sepertinya enak, Aku masih lapar. Tadi belum sempat makan, hanya mencicipimakanan. Eh malah di ajak pulang karena aada . . . “ Kata Ku terhenti dan keempat pasang mata langsung melihat Ku penuh penasaran
“ Ada Apa Nak ? “ Tanya Ibu Ku
“ Iya ada apa Sab “
“ I – tu ada tamu special datang, iya tamu special. Jadi seketika itu langsung di alihkan untuk mendengarkan nya “
“ Kalau ada tamu special kenapa Pak Neil mengajak Mu pulang. Aneh ?. jangan bohong Sab “ Sahut Karli yang memaksa Ku berbicara sejujurnya. Namun Aku takut mengatakan malam itu, di mana Pak Neil mengenalkan Ku pada kedua orang tuanya di depan calon tunanngannya, tapi hanya pura – pura. Jujur sampai detik ini Aku tak berani cerita pada Ibu dan sahabat Ku. Aku takut mereka salah paham.
“ Pak Neil kecapekan, makanya pulang lebih dulu. Tapi di sana ada Pak Lei yang mewakili. “ kata ku dengan penuh yakin untuk membuat percaya
“ Okey . . masuk akal si “ Kata Karli dengan mengangguk - anggukan kepala pelan namun sorot matanya tetap meminta Ku pertanggungjawaban
“ Aku lapar, kita beli makan yuk “ ajak Ku pada Karli
Seperti biasa andalan Aku dan Karli kalau lapar malam – malam selalu datang ke mie tek Pak to dekat perempatan rumah Ku. Tidak terlalu banyak pembeli yang makan di sana, karena mereka memilih untuk membungkusnya. Begitu juga dengan Ku, setlah emndapat makannyakami segra pulang dan menikmati bersama. Keesokan harinya kami kembali beraktivias seperti biasanya bedanya Aku sekarang berangkat jauh lebih pagi dari sebelumnya karena harus ke Aparteman Pak Neil.
Pagi ini Aku di kejutkan dengan sikap Pak Neil yang Aneh menurut Ku, Aku di panggil ke atas dan masuk di ruang wardrobe. Ia meminta Ku memilihkan dasi yang cocok dengan kemejanya.
“ Wih banyak sekali dasinya, yang mana nih Akujadi bingung “ kata Ku dalam hati
“ E . . mungkin yang ini pak “ Kata Ku sambil memberikan dasinya
“ terlalu soft, todak cocok dnegan kemeja Ku. “ katanya, Aku kembali mencarinya
“ Yang ini ? “
“ Terlalu terang “
“ yang ini ?
“ kuno “
“ Astaga semua tidak cocok, lalu yang mana?. Kenapa tidak pilih snediri saja kalau pilihan Ku selalu salah “ Gumam Ku
“ Sepertinya yang ini pas dengan kemeja bapak, lebih elegan. Tidak terlalu terang, tidak terlalu sof dan tidak juga kuno. Iya kan Pak ?. ehm . . sudah jam delapan pak, setengah semiblan bapak harus meeting dengan PT Nice World yang kemarin kita Cancle. “ Kata Ku dengan cepat untuk menghindari penolakan pemilihan dasi lagi
“ Oke, kita berangkat sekarang “ katanya dan berjalan lebih dulu
“ Ah akhirnya, huftt “ gumam Ku sambil menarik nafas lega setelah drama pilih dasi selesai
Neil ini keras dan sedikit jaim tapi aslinya memiliki sifat manja dalam dirinya, namun tak terlihat karena sikap keras kepala dan jaim nya menutupnya. Sejujurnya enak bekerja sama dengannya, tidak enaknya hanya mengikuti keras kepalanya dan memaksa melakukan hal yang tak Aku suka.
Meeting berlangsung lancer, Aku juga sudah mencatatnya dengan detail. Hari ini begitu normal di kantor, namun ada hal yang tak terduga membuat jantung para karyawan berdetak kencang, terkhusus Aku, Mbak Siska dan Pak Lei.
“ Selamat Siang Nyonya & Tuan. Mas Neil ada di dalam Ruangan. Mari saya antar “ Kata Neil dengan ramah dan sangat berhati – hati dalam besikap
“ Halo anak Mama, pasti belum makan siang ya. Ini mama bawakan makan siang. Kita makan siang sama – sama ya “ kata Mama Neil dengan bahagia di ikuti papa Neil dengan wajah yang kurang bersahabat
“ Ada Apa ini Mama tumben, tumbennya datang ke kantor makan siang bersama. “ kata Neil dengan wajah sedikit curiga
“ ayolah Nak, jangan menuduh mamah begitu. Mama hanya ingin makan bersama, selama ini kita kan jarang makan bertiga. Kamu sibuk dan jarang pulang, sementara papa Mu juga sibuk di ruang kerjanya. Hamper tiap pagi Mama sendiri di meja makan. “ kata mama Neil
“ Hari ini menang tender baru ? “ Tanya papa Neil
“ Papa ?, please jangan merusak mood kita deh. Kita mau makan siang Lho. Kita bicarakan nanti saja soal tender itu. Yuk makan yuk, mama very hungry. “ kata mama Neil sambil meraih tangan Neil yang masih setia duduk di kursinya
“ Memangnya Mama bawa apa ? “ Tanya Neil datar dan berpura – pura senang.
“ Makanan kesukaan kamu dong, Sefood. Ada nasi goreng seefood, ada udang goreng mentega, ada cumi goreng tepung dan ini ada kepiting saos yang sudah tidak ada cangkangnya. Tinggal makan, hem … nyami kan ? kata Mama Neil dengan wajah happy
“ Papa tidak bisa makan itu, kolestrol tinggi “ sahut Papa Neil
“ a . a tenang Pa, Mama sudah bawakan penangkalnya. Jadi papa tidak ada alas an untuk tidak makan. Okey “ kata mama Neil dengan centil, diam – diam Neil tertawa dalam hati melihat sikap manja papanya tapi tetap masih jaim. Mama Neil mengambilkan piring dan makanan untuk Neil dan suaminya.
“ Oh ya Neil, ngomong – ngomong Aku kayak lihat kekasih mu di depan tadi. Apa betul Dia kerja di sini ? “ Tanya mama Neil sambil memberikan sepiring makanan
“ hem “ jawab Neil singkat