Seorang wanita dengan segala bawaannya memasuki pesawat dengan tujuan Los Angeles. Wanita itu lain tak lain bukan tak bukan adalah Camila Huston.
Camila berencana untuk pergi dari rumahnya dan belajar hidup mandiri di negri orang. Ia tak ingin menyusahkan kedua orang tua angkatnya karna sedari kecil Camila merasa sangat menyusahkan mereka. Mengapa ia mengambilnya di panti asuhan? Padahal ia tak apa menjadi yatim piatu dari pada ia menyusahkan orang lain. Tetapi Camila sangat bahagia dan bangga memiliki mereka, Camila sangat menyayangi mereka.
Langkah Camila terhenti di lorong yang pesawat, ia merasa ada yang tidak beres di pesawat ini. Ia bisa melihat tidak ada perempuan di sana hanya dirinya saja dan pramugari yang berjenis kelamin kan perempuan. Kursi pesawat itu menduduki banyaknya laki laki dengan pakaian jas hitam, celana hitam dan yang paling mencolok adalah laki laki yang akan duduk di sebelahnya dengan kacamata hitam.
Sebenarnya ada apa di pesawat ini? Mengapa terlihat tidak beres. Rasanya Camila ragu ragu untuk duduk di samping lelaki itu. Ini pertanda buruk, ia tak seharusnya disini.
"Maaf nona ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pramugari yang membuyar lamunan Camila. Seperti di minta untuk segera duduk namun dengan cara yang halus dan sopan.
"Tidak ada, terimakasih," jawab Camila lalu melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi bagiannya.
Ngapain coba pake kacamata hitam kan di dalem pesawat, dasar aneh. Batin Camila.
Setelah beberapa menit Camila duduk di kursi itu, tiba saatnya pesawat segera di berangkatkan. Ia dapat melihat beberapa pramugari yang mengarahkannya cara memakai alat pengaman serta peraturan peraturan apa saja yang harus di patuhi ketika di dalam pesawat.
Kursi Camila berada di bagian tengah, dengan satu dengan satu baris kursi berada di kedua samping nya.
Camila kembali memikirkan bahkan rasanya ia tak harusnya disini karena ia merasa salah jika ia memasuki pesawat ini. Seperti sedang memasuki pemakaman yang Camila lihat adalah mereka yang berpakaian serba hitam sedangkan ia memakai gaun di atas lutut berwarna kuning menyala dengan belahan d**a di atasnya jadi tampak terlihat d**a Camila dengan jelas.
Camila pun berusaha menenangkan pikirannya, ia mengambil majalah yang terselip di belakang kursi di depannya itu. Melihat majalah wanita mengenai fashion terkini, melihat lihat di setiap halaman. Walaupun ada beberapa iklan mengenai pakaian ataupun make up tetapi Camila sangat suka melihat lihat fashion kekinian.
Tiba tiba sebuah tangan memegang wajah Camila yang sontak Camila kaget, tangan pria di sebelahnya itu, "Siapa namamu, Cantik?" Tanya pria itu dengan senyum miringnya itu.
Suara pria itu tampak seram pasalnya suara pria itu berat dan seperti mengintimidasi, Camila yang takut pun menjawabnya dengan ragu - ragu, "Ca- Camila Huston," jawab Camila dengan terbata bata.
Lagi lagi secara tiba tiba tangan pria itu sudah menggenggam tangan Camila, mencium punggung tangan Camila dengan sunggingan senyumnya, "Leonard Colin, ingat namaku cantik," ucap pria itu lagi yang memperkenalkan dirinya.
Emang dia siapa, nyuruh harus ingat namanya. Batin Camila.
Pria itu yang bernama Leonard tiba tiba menjatuhkan sebuah Cincin dengan berlian berwarna merah di tengahnya, cincin wanita. Sepertinya pria ini sudah memiliki wanita hingga memiliki cincin di kantungnya, mungkin ia hendak melamar sang gadis.
Cincin itu jatuh dekat dengan Camila namun sedikit jauh dari Camila dan susah untuk sang pria itu mengambilnya sendiri,"Cantik, Tolong ambil cincin ku," pinta pria itu dengan kata tolong. Setidaknya pria ini masih bisa berkata tolong.
Camila merangkak mengambil cincin yang menggelinding hingga lorong toilet lalu mengambilnya degan hati hati jika rusak Camila tidak ingin sebagai pengganti nya.
Baru Camila memutarkan kepalanya dengan keadaan merangkak beberapa pistol saling mengarah terlihat oleh semua pria di pesawat ini, artinya hanya Camila saja yang tidak.
Camila sangat takut dan takut, pistol dari pria itu mengeluarkan peluru yang terhunus pada d**a pria lainnya, sepertinya disini ada konflik dan Camila harus menghindari nya jika tidak ingin ikut mati sepertinya.
Tembak menembak terjadi, pria itu lebih unggul dari musuhnya. Camila takut ikut menjadi korban dan mati begitu saja di pesawat.
Camila merangkak masuk menuju toilet yang ada di dekatnya, sepertinya jika ia sembunyi di toilet ini ia akan aman. Setidaknya sebentar saja karna sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara yang ia tuju. Camila dapat tau dari jam yang ia pakai, jam ini menunjukkan pukul mendekati pesawat tiba.
Camila menutup toilet dan menguncinya rapat rapat, suara berbagai tembakan berbunyi di luar sana, tawa pria itu terdengar hingga di dalam toilet. Camila takut, sangat takut.
Tokk! Tokk! Tokkk!
Suara gedoran pintu terdengar nyaring di dalam sana, pintu toilet besi itu terketuk dari kecil hingga besar, gedoran tangan hingga tendangan kaki. Namun, Camila tidak berani membukanya ia masih ingin hidup.
"Buka atau aku hancurkan pintu ini," teriak pria di luar sana. Camila tidak ingin mati dulu, Tuhan.
Tubuhnya sudah bergetar, keringat dan air mata bercampur aduk di wajah Camila. Ia takut sekali, bagaimana ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Kenapa ia harus menaiki pesawat ini, mengapa Tuhan selalu tidak berpihak padanya.
"Tuan, aku takut mati tuan, jangan bunuh aku," teriak Camila ketakutan di dalam toilet.
"Buka dulu cantik, aku akan menolong mu," balas pria itu, Camila ingat Leonard Colin. Yaps! Pria yang dengan kejam membunuh dengan mudahnya tanpa rasa bersalah. Camila bisa ingat bagaimana tadi Leonard membunuh musuh musuhnya, tawa kejamnya, sudah seperti trauma Camila tersendiri.
Jedarrrrr!!!!
Entah itu suara apa, tetapi yang Camila tau itu bukan suara pistol melainkan seperti bom di depan pintu Camila, mengeluarkan asap hingga asapnya masuk ke dalam toilet, tempat persembunyian Camila. Tak lama suara itu berbunyi pintu itu terbuka dengan mudahnya. Bagaimana bisa? Bom pembuka pintu? Semakin lama semakin tak masuk akal dan sadis.
"Cantik, mengapa kau takut, Hah!" Pria itu kembali memegang wajah Camila lalu turun ke tubuh Camila. Memegang lembut paha Camila yang terbuka lebar karena Camila memang memakai gaun di atas lutut jadi siapa pun akan leluasa memegang paha Camila.
"To-To-Long Ja-jangan bunuh a-ku," pinta Camila yang benar benar sedang ketakutan, belum lagi pistol pria itu yang mengarah dan menempel di bagian tubuh Camila.
Pistol itu di jalankan di setiap inchi tubuh Camila sehingga sesekali Camila mendesah karna pistol itu berhasil melewati area sensitif Camila.
"Kau mau hidup?" Tanya pria itu dengan sunggingan senyum lagi dan lagi.
Camila melihat ke arah luar dengan pintu terbuka, pramugari itu semua terbunuh terkapar di bawah sana, artinya hanya Camila yang hidup disini dan mungkin sang pilot.