"Kau mau hidup?" Tanya pria itu dengan sunggingan senyum lagi dan lagi.
Camila melihat ke arah luar dengan pintu terbuka, pramugari itu semua terbunuh terkapar di bawah sana, artinya hanya Camila yang hidup disini dan mungkin sang pilot.
Camila mengangguk cepat, "Aku ingin hidup, Tuan," jawab Camila yang menyebut Leonard dengan panggilan tuan, ia tak ingin terlihat akrab dengan memanggil nya Leonard jika seperti itu mungkin saja nyawanya dalam ancaman.
"Kalau masih ingin hidup, jadilah kekasih ku," Leonard yang sepertinya sedang memberikan tawaran.
Camila menggelengkan kepalanya cepat, jika ia menjadi kekasih pria yang ia baru kenal ini kemungkinan nyawanya sangat sangat dalam bahaya. Memang tidak mati sekarang tapi bisa mati kemudian hari. Walaupun Camila tau bisa menjadi jarak waktu untuk ia kabur tetapi sekali lagi Camila menolak keras pasalnya anak buah dari pria itu banyak jadi pastinya akan sulit untuk kabur di kemudian hari.
Leonard yang mendapatkan tolakan dari Camila dengan tiba tiba wajahnya berubah. Ia melangkah mendekati Camila, mendekat hingga keadaan mereka seperti sedang memeluk dengan tangan yang kiri yang menggenggam rambut Camila dan satunya lagi menodong pistol ke arah perut.
"Kau pilih mati atau jadi kekasih ku," ancam Leonard pada Camila yang sudah menangis menahan sakit karna rambutnya yang di tarik belum lagi ia menahan takut karna pistol yang ada di perutnya itu.
"Kau lihat pistol ini, pelurunya akan langsung meluncur di perut mu MENGERTI!?" lanjut Leonard dengan amarahnya. Tangan Leonard yang tadinya memegang rambut Camila kini bergerak berganti memegang rahang Camila dengan kasar menatap dengan tatapan tajam. Wajah ketakutan yang bercampur aduk antara air mata dan keringat bersatu di sana tapi tidak menutupi kecantikan Camila yang tiada tara.
"Aku akan jadi kekasih mu," ucap Camila dengan suara yang tidak begitu jelas namun terdengar intinya pasalnya rahangnya itu sedang di genggam kasar oleh Leonard sehingga suara Camila terdengar tidak jelas dan tertahan.
Leonard melepaskan semuanya cengkraman rahang bahkan pistol yang tadi ia tuju pada perut Camila ia masukan kembali pada pinggangnya, "Bagus," balas Leonard lalu tersenyum penuh kemenangan.
Camila dapat merasakan pesawat yang ia tumpangi itu mendarat dengan mulus, sekarang telah terhenti dan tidak satu pun pramugari di sana yang hidup. Sedangkan Leonardo berjalan keluar seperti memeriksa sang pilot mungkin ini menjadi kesempatan Camila untuk kabur keluar jika pintu pesawat itu memang terbuka.
Camila melirik kan matanya ke kanan ke kiri memeriksa apakah Leonard ada atau tidak, nyatanya ternyata ia berada di ruang pilot. Walaupun di kursi penumpang banyak anak buah Leonard yang berjaga. Namun, sepertinya mereka tidaka membunuh nya pasalnya ia hanya melirik dan terdiam.
"Jangan bunuh nona itu perintah tuan," ucap satu orang anak buah Leonard yang memberikan aba aba pada anak buah yang lainnya. Sepertinya ia adalah kepala dari yang lainnya. Walaupun Leonard sang pemimpin sesungguhnya tetapi satu ucapan dari orang itu seketika membuat semuanya ikut menurut.
Camila bergerak perlahan mengambil koper dan tasnya, mereka semua terdiam tanpa mengeluh apa pun kegiatan Camila yang ia lakukan, Camila membungkuk badannya seraya mengucapkan terimakasih pada anak buah Leonard karna tidak membunuhnya sama sekali. Ya walau Camila tau itu adalah perintah Leonard tetapi tetap saja nyawanya setidaknya selamat.
Camila berbalik sambil membawa bawaannya tetapi baru sampai pintu belum hendak keluar salah satu anak buah Leonard bertanya padanya seketika membuat Camila terdiam pasi karna takut, "Nona, akan kemana? Tidak ikut Tuan?" Tanya anak buah Leonard.
"Aku hanya keluar menghirup udara segar, nanti aku akan kembali," jawab Camila dengan raut yang ia buat sebaik mungkin agar anak buah Leonard percaya.
Camila yang melangkahkan kakinya selangkah lagi menuruni tangga pesawat, "Kalau begitu koper mu letakan disini saja, Nona," ucap anak buah Leonard lagi. Sepertinya mereka curiga. Alasan apa yang akan Camila keluarkan. Entah Camila kehabisan alasan apa lagi yang ia keluarkan.
"Aku sudah mendapatkan izin pada tuan mu, Leonard," balas Camila dengan tatapan percaya diri. Semoga dengan begini anak buah Leonard tidak akan curiga.
Camila kembali melangkahkan kakinya turun ia berlari dengan segala bawaannya pada bandara di luar sana. Jujur saja Camila sangat panik dan ingin cepat cepat menghilang dari bandara ini juka tidak Leonard akan menangkapnya. Laki laki yang baru ia kenal itu pasti akan menangkapnya.
"Tuan bisa kah kau pergi ke Jalan bugenvil nomer 10?" Tanya Camila pada supir taksi di sana. Segala bawaannya koper dan bahkan tas sudah tertata rapi di sebelah nya karna ia terburu buru bahkan tas dan koper pun ikut di kursi penumpang.
"Bisa nona, apakah barang bawaan anda perlu saya simpan di bagasi," jawab supir itu sekaligus meminta izin meletakan barang bawaannya.
"Tidak perlu, tuan. Saya sedang terburu buru ayo segera jalankan mobilnya, " perintah Camila sambil sesekali matanya melihat ke arah pintu bandara, berjaga jaga agar Leonard dan anak buah nya tidak benar benar mengejarnya.
Camila berharap ia akan selamat sekali lagi, setidaknya hidupnya tidak akan di hantui oleh kematian, nyawanya akan terus terancam jika ia benar benar menurut mengikuti apa mau Leonard. Bisa bisa baru sehari menurut nyawanya sudah entah kemana.
"Nona ada apa sepertinya sedang di kejar sesuatu?" Tanya supir taksi yang penasaran karna sedari tadi wajah Camila tampak ketakutan dan berkeringat padahal suhunya sedang dingin.
"Ahhh tidak ada apa apa, Tuan, Hanya saja pemilik rumah sudah menunggu saya sedari tadi," Dusta Camila karna semua orang disini entah baik atau buruk semua sama rata, hanya penasaran dan tak mampu untuk membantu jadi percuma.
Supir taksi itu menambahkan kecepatan nya setelah mendengar jawaban Camila, "Baiklah."
"Tuan, apakah kau mengenal Leonard?" Tanya Camila yang mencoba membuka topik sekaligus penasaran.
"Leonard? Leonard yang mana, Nona, nama Leonard disini banyak," jawab supir taksi yang nampak bingung dengan pertanyaan penumpangnya itu.
Memang benar dengan jawaban supir taksi itu, Camila lah yang bodoh menanyakan satu orang tampa tau dia siapa. Bodoh! Sangat bodoh! Sepertinya Camila harus buru buru melupakan nya jika tidak hidupnya tidak akan tenang seumur hidup.
"Ahh tidak jadi, saya juga lupa yang mana," Camila berbicara tidak jelas kali ini yang hanya di balas gelengan kepala sang supir taksi. Mungkin supir taksi itu baru saja membawa wanita labil seperti dirinya.
🧳✨🧳✨🧳
Sedangkan di tempat yang berbeda Leonard sedang mencarinya kemana mana karna batang hidungnya sudah tidak tampak. Baru di tinggal sebentar perempuan itu sudah menghilang, "Dimana wanitaku!?" Tanya Leonard dengan amarahnya setelah melihat toilet yang tak ada siapa pun.