Semakin kamu menghindari ku semakin aku mencintai mu
~ Leonard Colin
•~•~•~•~•~•~•
Sedangkan di tempat yang berbeda Leonard sedang mencarinya kemana mana karna batang hidungnya sudah tidak tampak. Baru di tinggal sebentar perempuan itu sudah menghilang, "Dimana wanitaku!?" Tanya Leonard dengan amarahnya setelah melihat toilet yang tak ada siapa pun.
"Keluar Tuan, menghirup udara segar katanya," jawab salah satu anak buah Leonard yang bertanggung jawab atas semuanya.
Leonard melayangkan tinjunya pada wajah anak buahnya yang menjawabnya itu, "BODOH! Kenapa tidak kalian halangi, dia kabur BODOH!" Leonard berteriak marah pada seluruh anak buahnya. Anak buahnya tertunduk, merasa salah. Tuannya ini sepertinya berubah hanya karna satu wanita bisa membuat nya seperti ini.
Pistol yang tadinya berdiam diri di pinggang nya itu kini ia pegangnya, Leonard mengeluarkan isi pistol itu. Setiap peluru ia tembak asal entah ke atas kebawah maupun ke samping dengan amarahnya, "Cari Wanita itu! Jika kalian tidak mendapatkan wanita itu siap siap dengan nyawa kalian!" Perintah Leonard penuh ancaman pada anak buahnya.
Anak buah Leonard berlari keluar bergegas mencari wanita yang di maksud tuannya itu jika tidak bisa bisa nyawa mereka semua terancam hari ini.
"Semakin kamu menghindari ku semakin aku mencintai mu," gumam Leonard dengan senyum miringnya.
"Lihat saja sebentar lagi kau akan menjadi milik ku," gumam Leonard lagi lalu tak henti hentinya mengeluarkan peluru di pistolnya itu ke berbagai arah.
🧳✨🧳✨🧳
Sudah hampir Lima jam Camila sampai di rumah kecil yang ia tinggali, karna hanya rumah ini yang harga sewanya menyesuaikan dengan kantong Camila.
Camila disini sendiri tanpa orang tua yang menemani jadi mau tidak mau Camila harus belajar menghemat dari sekarang. Entah kebutuhan nya bahkan keinginannya ia harus benar benar bisa membedakan nya.
Gelas hijau yang berisi air putih hangat tengah menemani Camila di sunyi nya malam. Entah, apa yang akan Camila lakukan esok hari masih menjadi bayang bayang Camila bahkan wacana pun belum tersusun.
Dalam lubuk hati Camila yang sesungguhnya ia takut sangat takut jika ia melakukan aktivitas di luar esok hari, ia akan tertangkap oleh sekumpulan pria pria itu yang di pimpin Leonard karna hanya Camila lah yang belum mati ketika itu dan pasti mereka akan mencari Camila.
"Mom, Dad, Camila takut disini sendirian, Camila takut meninggalkan kalian mendahului kalian," gumam Camila di tengah hening nya malam.
Air mata kemudian jatuh tak tertahankan, setetes demi setetes air mata berhasil meluncur pada wajah cantik Camila. Kini wajahnya tak lagi bercahaya penuh ceria tetapi berubah menjadi banjir tangisan.
Suara dering telpon nyaring menggema di setiap inci ruangan. Layar handphone nya bersinar menampilkan telpon dari ibu nya itu. Buru buru Camila menghapus air matanya, menetralkan nafasnya agar dirinya tak terdengar sedang kesulitan disini. Ia tak ingin menghawatirkan orang tuanya itu. Walaupun ia bukanlah anak kandung mereka.
Camila menggeser tombol hijau pada handphone nya, menjawab telpong yang sudah lama berdering itu.
"Halo Nak, bagaimana disana? Apakah kamu sudah sampai dengan baik? Apakah ada masalah? Sudah makan kan? Jangan sampai telat makan, walaupun mom tidak ada di sana kamu jangan sampai telat makan, jangan bergaul yang tidak tidak, jaga diri mu," ibu nya itu sudah berkicau ria mengkhawatirkan nya sedangkan dirinya belum mengucapkan sepatah kata pun.
"Satu satu, Mom. Ilaa bingungg," keluh Camila, menyebut dirinya dengan panggilan keluarganya yaitu ila.
"Jaga diri baik baik ya, Nak. Jangan aneh aneh disanaa," ucap Ibu Camila mengabaikan keluhannya. Melanjutkan apa inti yang sebenarnya ingin dia sampaikan.
"Iya Mommy yang paling cantikkkk," balas Camila dengan penuh manja.
"Daddy mana mom?" Tanya Camila yang rindu suara ayahnya itu.
Namun, ibunya tak menggubris nya ia malah ingin menutup telpon itu, "Yasudah Mommy tutup telponnya, sepertinya masakan ibu sudah matang," pamit ibu Camila lalu dengan sesegera menutup telponnya.
Camila tak ingin pikir panjang karna ibunya itu tak membalas pertanyaan nya pun ia segera bersiap untuk tidur karna hari sudah menjelang malam.
🧳✨🧳✨🧳
Seorang laki laki sibuk dengan sebatang rokok yang ia hisap kasar tak henti hentinya kakinya berjalan hilir mudik di depan para anak buahnya itu pasalnya ia kesal karna anak buahnya itu tidak bisa menjaga seorang gadis yang Secara khusus itu adalah wanita pertamanya yang berhasil membuat Leonard sangat ingin memilikinya.
"Aku tak mau tau, wanita itu harus ada disini hingga besok," ancam Leonard kepada bawahannya.
Semua bawahan Leonard yang sedang berkumpul membuat barisan itu tertunduk, satu wanita saja sudah membuat nyawanya terancam. Tuan nya ini sepertinya benar benar menyukainya sampai sampai nyawa mereka ini menjadi taruhannya.
Salah seorang anak buah Leonard maju secara refleks Leonard terhenti dari kegiatannya, "ada apa?" Tanya Leonard tegas.
Seseorang itu kemudian melangkah maju untuk berbisik, "Sepertinya Nona ke arah utara, Tuan. Aku menemukan kertas alamat ini jatuh di bawah kursi nona," jawab anak buah Leonard yang tadi maju.
"Selidiki alamat itu besok pagi jika benar wanita itu ada di sana tangkap dia ketika malam hari," perintah Leonard dengan senyum miringnya.
Rokok yang tadi ia pegang itu, ia jatuhkan lalu ia injaknya dengan kaki dengan senyum lebar menemukan lokasi wanita itu.
"Siap Tuan," anak buah Leonard menurut lalu semua yang berbaris beranjak pergi. Sepertinya kata kata dari salah satu anak buahnya itu menyelamatkan seluruh nyawa anak buah Leonard yang sedari tadi di marahi.
"Camila Huston," guman Leonard yang masih berada di tengah lapangan di temani Alex, orang kepercayaan Leonard, orang kepercayaan keluarga Colin.
"Apakah Tuan menyukai nya?" Tanya Alex yang bingung dengan sikap tuannya yang berubah karna seorang wanita saja karna yang Alex tau tuannya itu tidak pernah menganggap wanita ada untuk di miliki atau bahkan menjadi kekasih ataupun istri. Tetapi wanita yang di maksud adalah hanya menginginkan uang dan bisa di buang kapan saja. Wanita yang mudah di buang dan di pungut kembali.
"Aku menyukai nya dan akan memilikinya, Harus!" Terdengar memaksa tetapi apa boleh buat sepertinya Leonard benar benar sudah jatuh hati. Padahal sepertinya baru saja bertemu di pesawat ketika di bandara maupun di pesawat dan bisa di bilang pertemuan yang tragis.
"Tapi tuan itu bisa menjadi senjata kelemahan tuan pada musuh," Alex sepertinya benar benar tidak setuju jika tuannya itu menyukai wanita karna akan menjadi titik lemah.
"Kau punya telinga!? Aku bilang aku menyukainya dan akan memilikinya," Leonard lagi lagi tak ingin di bantah jika keinginannya itu bagaimana caranya ia harus mendapatkan keinginannya walaupun dengan cara kotor sekalipun.
"Baik tuan," balas Alex pasrah dengan kekeras kepalaan tuannya itu.
🧳✨🧳✨🧳