Aria Pradana mengayuh pedal gas Honda Beat-nya lebih cepat dari yang dia berani—lebih cepat dari yang lalu lintas malam Jakarta seharusnya izinkan, lebih cepat dari yang Pak Polisi di pos Mangga Besar akan toleransi kalau dia melihat.
Pukul sebelas malam. Dia baru selesai meeting kelompok di kampus Universitas Indonesia Salemba untuk tugas akhir skripsi—tentang strategi komunikasi krisis brand—dan ayahnya tidak menjawab telepon sejak jam tujuh.
Bukan kebiasaan ayah Aria—Pak Hartono Pradana, lima puluh dua tahun, pemilik "Warung Pak Har" di pojok Pancoran Glodok—untuk tidak menjawab telepon. Restoran kecil mereka di Glodok buka sampai jam sepuluh setiap malam, dengan menu rendang dan ikan bakar yang langganan tahu pasti. Setelah tutup, ayah biasanya pulang ke rumah kontrakan kecil mereka di Mangga Besar dan menelepon Aria untuk cerita hari ini—berapa porsi terjual, siapa pelanggan baru, apakah ibu kos sudah bayar listrik.
Tapi malam ini diam. Empat panggilan tidak diangkat. Dua WhatsApp dengan satu centang abu-abu—ayah tidak buka HP-nya.
Aria belok ke Jalan Pancoran Glodok dari arah Hayam Wuruk. Lalu berhenti.
Mendadak. Motor hampir terbalik karena rem yang dia tarik terlalu keras.
Di depan dia, di sudut jalan, di tempat seharusnya restoran ayahnya berdiri—warung kayu dengan papan nama "Warung Pak Har" yang ayahnya sendiri lukis dengan cat merah—cuma asap.
Dan abu. Tumpukan abu yang masih panas, dengan beberapa kayu yang masih merah membara di sela-sela.
"Pak..."
Aria menjatuhkan motor. Lupa standar. Lupa kunci. Berlari ke arah api yang sudah hampir padam tapi masih merah di beberapa titik.
Mobil pemadam dua unit, parkir miring di trotoar dengan selang yang masih disusun. Polisi tiga orang. Tetangga Glodok—Pak Liem dari warung kopi sebelah, Mbak Sari dari toko obat di seberang, dan beberapa lain yang Aria kenal dari kecil—berkumpul di seberang jalan, memandang dengan tangan menutup mulut.
Aria mendekati polisi yang paling dekat dengan reruntuhan. Wajahnya yang basah dari hujan ringan tertutup dengan ekspresi yang Aria belum bisa proses.
"Pak. Ayah saya. Pak Hartono. Saya... saya anaknya."
Polisi itu—pria empat puluhan dengan name tag "Bripka Sukardi", wajah lelah dari pekerjaan malam—menatap Aria dengan mata yang Aria tidak suka. Mata yang Aria kenali sebagai mata pembawa kabar buruk.
"Mbak. Restoran terbakar pukul sembilan tiga puluh malam. Saksi bilang api dimulai dari dapur—tapi dapur sudah tutup pukul sembilan. Tidak masuk akal."
"Ayah saya... beliau di mana, Pak?"
"Mbak. Itu yang aneh. Beliau di dalam saat kebakaran mulai—tetangga lihat dari jendela. Tapi saat petugas pemadam datang sepuluh menit kemudian dan memecahkan pintu, beliau tidak ada. Pintu—Mbak, ini yang penting—dikunci dari luar. Dengan gembok besar yang bukan punya restoran."
Aria berhenti bernapas.
"Pak. Pintu dikunci... dari luar?"
"Iya, Mbak. Itu berarti ada orang yang menguncinya, lalu membakar. Dan ayah Mbak... beliau pasti dibawa keluar dulu, sebelum api menutup pintu. Atau lewat pintu belakang yang juga tidak ada jenazah."
Aria mencengkram dinding terdekat untuk tidak jatuh. Telapak tangannya menempel di tembok yang masih hangat dari api.
"Pak. Siapa yang—"
"Mbak. Saya tidak tahu. Tapi saya saran Mbak hati-hati malam ini. Ada orang yang... mau ayah Mbak. Atau mau Mbak juga, mungkin. Anda pulang ke siapa malam ini?"
"Saya... saya tinggal sendiri di kontrakan. Mama saya sudah meninggal."
Bripka Sukardi mengernyit. "Mbak. Telepon saudara terdekat. Jangan tidur sendiri di rumah Anda malam ini."
Aria mengangguk. Tangan dia mengeluarkan HP dari saku jaket. Sebelum dia bisa menelepon Paman Lukas, HP-nya bergetar.
Nomor yang tidak dia kenal. Aria mengangkat dengan tangan gemetar—reflek lebih dari pikiran.
"Halo?"
Suara pria. Tenang. Dingin. Suara yang Aria langsung tahu bukan suara orang baik—bukan dari nada kasar, justru dari nada terlalu kontrol, seperti orang yang biasa berbicara saat orang lain takut.
"Aria Pradana?"
"Iya."
"Aria. Restoran ayah kau dibakar atas perintah saya. Itu peringatan."
Aria menelan ludah. Berdiri di hujan ringan, di hadapan reruntuhan warung ayahnya, dengan polisi yang masih bicara di kejauhan.
"Siapa Anda?"
"Naga Hitam. Ayah kau hutang tiga puluh miliar rupiah. Bunga sudah berjalan enam bulan. Kalau kau ingin ayah kau hidup, datang ke alamat yang akan saya kirim besok pagi pukul sembilan ke nomor ini. Datang sendirian. Jangan bawa polisi. Jangan bawa siapa-siapa."
"Pak—"
"Aria. Kalau kau bawa polisi, kepala ayah kau saya kirim ke kontrakan kau di Mangga Besar dengan ojek online. Mengerti?"
Pria itu menutup telepon sebelum Aria bisa menjawab.
Aria berdiri dalam hujan ringan. Asap masih naik dari reruntuhan. Tetangga masih bergumam di seberang jalan.
Tiga puluh miliar rupiah.
Naga Hitam.
Aria pernah dengar nama itu—di berita Metro TV tahun lalu tentang penggerebekan pabrik narkoba di Tanjung Priok yang diduga milik mereka, di rumor di Glodok yang Pak Liem suka cerita pas santai. Sindikat paling ditakuti di Jakarta. Mereka mengontrol perdagangan ilegal, klub malam high-end, beberapa rumah judi tertutup di Pluit. Polisi berkali-kali coba bongkar—dan berkali-kali gagal.
Ayahnya—pemilik warung tradisional yang masakan rendangnya yang paling enak di Glodok—berhutang tiga puluh miliar pada Naga Hitam.
Aria menarik napas. Lalu mengangkat HP-nya. Menelepon Paman Lukas, adik ayahnya yang tinggal di Bekasi—satu-satunya keluarga yang dia punya selain ayahnya.
"Paman."
"Aria? Ini malam, sayang."
"Paman. Restoran terbakar. Ayah hilang. Saya butuh paman datang ke kontrakan saya sekarang."