Paman Lukas datang pukul satu pagi. Pria lima puluhan, mantan pegawai bank BCA yang sekarang pensiun dini karena masalah jantung. Mengenakan jaket gelap walaupun cuaca tidak dingin—Aria tahu Paman Lukas selalu pakai jaket saat keluar malam, kebiasaan dari masa kerja shift di kantor Cabang Sudirman.
Wajahnya keras saat dia melihat reruntuhan warung Glodok—dia mengantar Aria kembali ke sana sebentar untuk lihat sendiri. Tidak komentar. Cuma berjalan keliling reruntuhan, mengamati gembok yang sudah dilepas polisi sebagai barang bukti, lalu memberi salam pada Bripka Sukardi yang masih jaga.
Mereka pulang ke rumah kontrakan Aria di Mangga Besar pukul dua pagi. Aria tidak bisa tidur—dia tahu dia tidak akan bisa tidur sampai pagi paling cepat. Lukas menyeduh kopi pukul dua belas, memakai mesin kopi tua di dapur Aria yang Pak Hartono pernah hadiahkan saat Aria pindah dari rumah orangtua tahun lalu.
"Aria. Saya... saya harus jujur dengan kau. Sekarang. Sebelum kau pergi besok pagi."
"Tentang apa, Paman?"
"Tentang ayah kau. Tentang Naga Hitam. Tentang hutang tiga puluh miliar yang Anda tidak akan percaya kalau saya jelaskan."
Aria duduk di sofa. Memegang cangkir kopi yang tidak dia minum—uap masih naik. Tangannya hangat.
"Cerita, Paman."
Lukas menarik napas berat. Duduk di seberang Aria, di kursi rotan yang Pak Hartono dulu bawa dari rumah lama mereka di Klender.
"Aria. Lima tahun lalu, restoran ayah kau hampir bangkrut. Ibu kau—Bu Sri—baru meninggal. Kau masih SMA kelas dua. Ayah kau tidak punya modal untuk meneruskan, biaya pemakaman besar, dan ada sisa biaya rumah sakit yang dia rahasiakan. Bank tidak mau pinjam—Pak Hartono tidak punya jaminan, restoran sudah dijaminkan untuk pinjaman kecil sebelumnya."
"Saya tahu cerita itu, Paman. Ayah cari investor. Investor pribadi yang membantu Ayah buka cabang kecil di Senopati untuk menambah cash flow. Lalu cabang itu ditutup setahun kemudian karena tidak laku."
Lukas menggeleng pelan. Wajahnya gelap.
"Aria. Tidak ada investor. Itu kebohongan ayah kau yang dia bawa lima tahun."
Aria menatap pamannya. Tangan yang memegang kopi mendadak gemetar.
"Paman?"
"Aria. Ayah kau pinjam uang. Tiga puluh miliar—dimulai sebagai sepuluh miliar lima tahun lalu. Bukan untuk cabang Senopati. Untuk... untuk biaya kemoterapi ibu kau di tahun-tahun terakhirnya. Kemoterapi yang ayah kau tidak pernah cerita ke kau—dia bilang ibu kau cuma sakit lambung kronis dan butuh banyak istirahat."
Aria membatu. Kopi di tangannya hampir tumpah.
"Paman. Ibu... ibu kemoterapi? Sungguh?"
"Iya, sayang. Tiga tahun terakhir hidupnya. Kanker pankreas stadium tiga, ditemukan terlambat. Ayah kau bawa Bu Sri ke RS Dharmais setiap dua minggu untuk sesi kemo. Anda di sekolah, tidak tahu. Ayah kau tidak mau kau khawatir saat ujian SMP dan SMA. Beliau pikir setelah ibu kau sembuh, dia akan cerita semuanya ke kau."
"Tapi ibu tidak sembuh."
"Tidak, Aria. Ibu pergi tiga tahun setelah diagnosis. Ayah kau tidak pernah cerita ke kau—saya pikir karena dia tidak mau kau merasa bersalah karena tidak ada di hari-hari terakhir ibu kau."
Aria menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mulai turun—untuk pertama kalinya malam ini, air mata sungguhan, bukan dari shock tapi dari rasa kehilangan yang sekarang dua kali dalam.
"Paman..."
"Aria. Ayah kau pinjam ke tempat yang dia pikir cuma rentenir kecil di Glodok—Pak Yono, yang sekarang Anda mungkin tidak ingat tapi dulu sering datang ke restoran. Bunga lima persen per bulan, dia bilang. Standar untuk pinjaman tanpa jaminan."
"Tapi rentenir itu bagian dari Naga Hitam."
"Iya. Pak Yono cuma front. Setelah ibu kau meninggal—saat ayah kau seharusnya mulai bayar—mereka mulai naikkan bunga. Lima persen jadi sepuluh persen. Sepuluh jadi lima belas. Tiap tahun naik. Mereka ekstrak setiap rupiah profit warung Pak Har sebagai bunga, tapi pokok hutang tidak pernah turun. Sampai sekarang, total sudah tiga puluh miliar."
Aria menutup matanya. Kopi yang dia pegang sudah dingin.
"Paman. Ayah... ayah dipanggil hari ini? Maksud saya, sebelum kebakaran?"
"Saya tidak tahu pasti, Aria. Tapi saya curiga iya. Ayah kau menelepon saya tiga hari lalu—Senin, sekitar jam delapan malam—panik. Bilang dia ada masalah serius dengan 'orang yang dia hutang'. Saya berikan dia tabungan saya—lima puluh juta dari uang pensiun, semua yang saya punya. Dia bilang itu tidak cukup, dia butuh tujuh ratus juta dalam tiga hari sebagai 'pembayaran tanda baik'."
"Paman. Apakah Naga Hitam... apakah mereka biasa membakar untuk peringatan?"
Lukas menatap Aria dengan mata yang sangat khawatir—mata yang Aria tidak pernah lihat di Paman Lukas, paman yang biasanya tenang di setiap krisis keluarga.
"Aria. Saya jujur sama kau. Naga Hitam bukan rentenir biasa. Mereka membunuh orang yang tidak bayar. Saya pernah baca di Pos Kota dua tahun lalu, ada kasus pemilik kios di Tanah Abang yang hutang ke mereka—rumah dibakar dengan keluarganya di dalam. Tidak peduli siapa keluarganya."
"Paman. Pria di telepon bilang... bilang saya datang besok ke alamat yang dia kirim. Pukul sembilan pagi. Sendirian. Tidak boleh polisi."
Lukas mencengkram tangan Aria di seberang meja kopi.
"Aria. Jangan datang. Kita lapor polisi. Kita pindah. Kita lari ke Bekasi malam ini."
"Paman. Kalau saya tidak datang, ayah mati."
"Aria. Kalau kau datang, kau mungkin mati."
Aria menatap pamannya. Pria yang selama ini selalu jadi figur paman ideal—datang ke wisuda SMA, kasih hadiah ulang tahun setiap tahun, telepon setiap Lebaran. Pria yang sekarang menatapnya dengan ketakutan yang Aria belum pernah lihat di mukanya.
"Paman. Kalau saya datang, mungkin ayah selamat. Itu cuma kemungkinan, saya tahu. Tapi kalau saya tidak datang, ayah pasti mati. Itu pasti."
Lukas memejamkan mata. Menarik napas dalam tiga kali. Lalu membuka.
"Aria. Saya ikut kau besok."
"Paman, tidak. Mereka bilang sendirian. Kalau Paman ikut, mereka akan bunuh Paman juga. Dan Bu Yati akan kehilangan suami—saya tidak akan bisa hidup dengan beban itu."
Aria berdiri. Menatap jendela kontrakan yang menghadap gang kecil Mangga Besar.
Pukul tiga pagi. Hujan mulai turun lebih deras. Tetangga sudah lama tidur.
"Paman. Tolong jaga rumah kontrakan ini. Kalau saya tidak pulang besok malam... Paman tahu apa yang harus dilakukan—lapor polisi, telepon dosen pembimbing saya untuk skripsi, kasih kabar ke Bu Yati supaya dia tidak khawatir."
"Aria—"
"Paman. Tolong."
Lukas mengangguk pelan. Air mata di pipinya yang Aria pertama kali lihat dalam dua puluh empat tahun.