Pukul delapan empat puluh pagi, Aria berdiri di depan gedung yang alamatnya muncul di SMS pukul setengah delapan tadi.
Bukan markas yang dia bayangkan. Bukan warung kumuh di belakang Glodok. Bukan apartemen kotor di Penjaringan. Bukan gangster bertato di pintu yang melarang masuk tanpa kata sandi.
Gedung pencakar langit empat puluh lantai di SCBD, Sudirman Central Business District. Bertuliskan "Wijaya Group" di logo besar di puncak gedung—logo yang Aria pernah lihat ratusan kali di iklan TV Metro pas pagi-pagi, tagline "Membangun Indonesia." Salah satu konglomerat terbesar di Indonesia di permukaan—properti, perbankan, infrastruktur, mining.
Naga Hitam, ternyata, beroperasi dari sini. Dari belakang fasad korporat yang menyumbang ke Universitas Indonesia, yang mensponsori liga sepak bola, yang ada di dewan kamar dagang.
Aria mengenakan pakaian terbaiknya—kebaya hitam yang dia pakai untuk acara wisuda kakak sepupunya enam bulan lalu, satu-satunya pakaian formal yang dia punya selain seragam kampus. Sepatu pantofel hitam dari masa SMA yang masih cukup di kakinya, walaupun ujung sepatunya sudah agak terkelupas. Tas kanvas hitam dengan dompet, KTP, satu botol air mineral, dan sebuah gunting kecil yang Paman Lukas paksa dia bawa "untuk darurat."
Dia masuk ke lobi. Marmer hitam di lantai, dinding kayu jati dengan ukiran tradisional yang kelihatan mahal. Resepsionis dengan dua orang penerima tamu, semuanya perempuan cantik berseragam kantor.
"Saya Aria Pradana. Saya... saya ada janji."
Resepsionis itu—perempuan cantik, mungkin tiga puluhan, name tag "Bu Lia"—menatap Aria. Tanpa ekspresi yang Aria bisa baca. Sudah dapat instruksi sebelum Aria datang.
"Mbak Aria. Lantai 38. Pak Wijaya menunggu. Lift di sebelah kanan, kartu akses sudah disiapkan."
Aria menerima kartu akses—kartu putih kecil dengan logo Wijaya Group. Naik lift dengan tangan yang gemetar.
Lantai 38. Pintu lift terbuka ke koridor yang lebih sepi dari lobi—karpet abu-abu, pencahayaan redup, lukisan abstrak besar di dinding yang sebelah kiri.
Dua pria berjas hitam menunggu di depan lift. Mereka mengiringi Aria—tanpa kata, tanpa basa-basi—ke pintu di ujung koridor.
Pintu kayu jati. Berukir naga di kedua daunnya, dengan emas di mata naga. Detil yang Aria pikir mahal—ukiran tangan, bukan cetakan.
Salah satu pria mengetuk tiga kali. Pintu terbuka dari dalam.
Ruang kerja besar. Dua puluh meter persegi minimal. Jendela kaca dari lantai sampai langit-langit di tiga sisi. Pemandangan Jakarta di pagi hari—gedung-gedung Sudirman, Bundaran HI di kejauhan, lalu lintas yang sudah padat.
Di balik meja kayu jati raksasa di sudut yang menghadap jendela, duduk seorang pria.
Bukan pria yang Aria bayangkan. Bukan pria tua dengan jenggot dan rokok cerutu. Pria muda. Tiga puluh, mungkin tiga puluh dua. Rambut hitam disisir rapi tapi tidak dengan gel yang berlebihan. Pakaian setelan hitam mahal—Aria tidak tahu merek, tapi cuttingnya kelihatan custom-tailor. Wajah yang...
Wajah yang dingin. Tidak ada ekspresi yang Aria bisa proses. Mata gelap—coklat tua, mungkin hitam—yang menatap Aria seperti dia akan menilai ternak di pasar Beringharjo.
Aria menelan ludah. Tetap berdiri di pintu—dia belum dipanggil masuk.
"Pak. Saya Aria Pradana."
Pria itu mengangkat satu jari ke kursi tamu di seberang meja besarnya.
"Duduk."
Suaranya rendah. Tenang. Tidak diangkat. Aria duduk dengan tangan yang dia paksa diam di pangkuannya.
"Pak. Ayah saya—"
"Hidup. Untuk sekarang."
Aria menelan ludah lagi. Kerongkongannya kering.
"Saya... saya boleh bertemu dia?"
"Tidak."
"Pak. Anda... Pak Wijaya?"
Pintu terbuka di belakang Aria.
Pria lain masuk dengan langkah yang lebih lambat. Lebih tua. Enam puluhan, mungkin lebih tua. Rambut perak yang tetap tebal. Tapi tubuh masih atletis—pria yang jelas masih olahraga. Mata yang sama dengan pria di seberang Aria—gelap, dingin—tapi dengan lebih banyak ketegangan, atau lebih banyak kekuasaan, Aria tidak yakin.
"Anak. Itu saya."
Aria berbalik. Berdiri. Postur yang dia harap kelihatan sopan tapi tidak takut.
"Pak."
"Duduk. Aria Pradana, kan? Putri Pak Hartono."
"Iya, Pak."
Pria tua itu—Pak Wijaya senior, seperti yang Aria sekarang konfirmasi dari foto yang dia lihat di Forbes Indonesia bulan lalu, edisi tentang konglomerat tersembunyi—duduk di kursi besar di kepala meja. Pria muda di seberang Aria tetap di tempatnya, tidak bicara, cuma mengamati.
"Aria. Anda kenal anak saya, Kael?"
Aria mencatat nama itu. Kael Wijaya. Aria tidak ingat melihatnya di Forbes—mungkin Kael sengaja jaga profil rendah.
Pria muda—Kael—tidak menatap Aria. Tidak juga menatap ayahnya. Memandang dokumen di meja, tapi Aria yakin dia tidak baca.
Aria menggeleng. "Saya tidak kenal sebelumnya, Pak."
"Aria. Anda akan kenal sekarang. Lebih dari yang Anda harapkan."
Pak Wijaya senior menatap Aria dengan senyum yang tidak sampai ke matanya—senyum yang Aria tahu dari pelajaran komunikasi non-verbal sebagai senyum sosial, bukan senyum hangat.
"Aria. Saya akan jujur. Ayah kau berhutang tiga puluh miliar rupiah ke saya. Bunga sudah jatuh tempo enam bulan lalu, total. Setiap bulan pembayaran tertunda, hutang naik dua koma lima miliar—itu tertulis di kontrak yang ayah kau tanda tangan lima tahun lalu, walaupun saya yakin dia tidak baca seluruhnya."
"Pak. Saya tahu sekarang. Paman saya cerita malam tadi."
"Aria. Saya tidak peduli ayah kau hidup atau mati secara pribadi. Tapi saya peduli hutang itu bayar. Dan ayah kau tidak punya cara bayar—dia sudah tidak ada aset, restoran terbakar, tabungan habis."
"Pak. Saya akan kerja. Saya akan—"
"Aria. Anda mahasiswa tingkat akhir di UI. Kerja paruh waktu di kafe sebagai barista. Berapa pun gaji kau di lima atau sepuluh tahun ke depan, kau tidak akan bisa bayar tiga puluh miliar dalam seumur hidup. Itu matematika sederhana."
Aria mencengkram tangan kursinya. Tangan yang tadi gemetar sekarang ketakutan dingin, tapi kepalanya mulai jernih—dia mahasiswa Komunikasi, dia tahu cara berpikir di krisis, cara baca lawan bicara, cara cari celah.
"Pak. Apa yang Anda mau? Anda tidak mengundang saya cuma untuk jelaskan saya tidak bisa bayar."
Pak Wijaya tersenyum. Lebih lebar dari tadi—senyum kepuasan, kelihatannya Aria menjawab dengan cara yang dia harapkan.
"Aria. Saya punya tawaran."