Pak Wijaya senior menatap Aria. Pelan, dengan cara yang Aria rasa diatur—seperti dia melatih ini di kepalanya selama berhari-hari.
"Aria. Saya punya satu putra. Kael."
Pak Wijaya menunjuk pria muda di seberang Aria. Kael tidak bereaksi—matanya tetap di dokumen yang dia tidak baca, tangannya di sandaran kursi, postur tubuh yang terlatih tetap tenang.
"Kael berumur tiga puluh dua. Belum menikah. Tidak punya pacar resmi. Saya butuh dia menikah—untuk politik internal organisasi yang Anda tidak akan saya jelaskan, dan untuk legitimasi suksesi. Ada rival yang menunggu kelemahan saya. Anak saya yang masih lajang di umur tiga puluh dua adalah kelemahan."
Aria menatap dari Pak Wijaya ke Kael. Kael tetap diam—tidak menatap balik, tidak protes, tidak mendukung. Aria mulai mempertanyakan apakah Kael punya suara dalam hidupnya sendiri.
"Pak. Apa hubungannya dengan saya? Saya bukan—"
"Aria. Saya tawarkan: kau menikahi Kael. Pernikahan kontrak setahun. Setelah satu tahun lewat, kau boleh cerai dengan damai dan tunjangan. Hutang ayah kau lunas total. Restoran ayah kau dibangun ulang di lokasi yang sama atau lokasi lain pilihan kau. Ayah kau hidup, bebas, di mana pun dia mau tinggal, dengan modal usaha satu miliar dari saya."
Aria membatu. Telinganya mendengar kalimat tapi otaknya butuh tiga detik untuk proses.
"Pak. Anda... bercanda?"
"Saya tidak bercanda, Aria. Saya tidak punya waktu untuk bercanda dengan urusan keluarga."
"Pak. Anda tidak kenal saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma anak pemilik warung kecil dari Glodok. Saya bukan dari keluarga konglomerat. Kenapa harus saya?"
"Aria. Saya kenal kau. Saya kenal ayah kau. Saya tahu kau pintar—IPK 3.85 di Universitas Indonesia, jurusan Komunikasi, tahun terakhir. Saya tahu kau mandiri—kerja part-time di Anomali Coffee Senopati sambil kuliah, gaji cukup untuk bayar kontrakan dan jajan. Saya tahu kau bertanggung jawab—kau urus restoran ayah kau di weekend tanpa dibayar."
Aria menelan ludah. Pak Wijaya tahu detail tentang dia yang seharusnya tidak diketahui orang luar—itu membuat Aria takut lebih dari ancaman langsung.
"Pak. Tapi—"
"Aria. Yang lebih penting: kau dari keluarga biasa. Tidak ada politik di belakang kau. Tidak ada paman jenderal, tidak ada saudara di pemerintah, tidak ada koneksi konglomerat. Kalau Kael menikah dengan anak konglomerat lain—Salim, Sinar Mas, Lippo—akan ada drama suksesi, tarik-menarik kekuasaan, mungkin perang dingin antar keluarga. Kalau Kael menikah dengan kau, tidak ada drama. Kau aman secara politik karena kau tidak punya kekuatan."
"Pak. Saya... saya tidak bisa. Pernikahan bukan—"
"Aria. Saya tahu kau bisa. Kau gadis pintar. Anda akan menghitung—kalau kau menolak sekarang, ayah kau mati malam ini, kontrakan kau di Mangga Besar dibakar dengan kau di dalam, dan paman kau di Bekasi juga akan kebakaran. Kalau kau setuju, kau menikahi pria yang... cukup tampan, cukup kaya, dan setahun setelah itu, kau bebas dengan tunjangan untuk hidup tenang."
Aria menatap Kael. Untuk pertama kalinya, Kael melihat ke arahnya.
Mata gelap. Tidak emosional di permukaan. Tapi ada... sesuatu. Sesuatu yang Aria tidak bisa namai—rasa lelah mungkin, atau penyesalan, atau hanya mata yang sudah terlalu lama menyembunyikan emosi.
"Pak. Apakah Kael... setuju dengan ini?"
Pak Wijaya tertawa kecil. Tertawa yang dingin.
"Aria. Anak saya tidak punya pilihan, sama seperti kau. Dia butuh menikah untuk organisasi. Dia setuju bulan lalu."
Kael akhirnya bicara. Suara rendah, lebih lembut dari yang Aria duga dari penampilannya. Tapi tetap dingin.
"Aria. Saya... setuju. Tapi saya akan mengatakan ini sekali, sekarang, di depan ayah saya: saya tidak akan menyentuh kau. Pernikahan ini cuma kontrak resmi. Kita akan tinggal serumah, tampil sebagai pasangan di acara publik yang ayah saya minta kita hadiri, tapi di luar itu—tidak ada apa-apa. Kau punya kamar sendiri. Saya punya kamar sendiri. Itu semua."
Aria menatap Kael. Suaranya... berbeda dari ayahnya. Ada beban, ada sesuatu yang dia sembunyikan. Tapi masih dingin.
"Iya, Pak— Mas Kael."
"Aria. Anda butuh waktu memikirkan?"
Aria menutup matanya selama tiga detik.
Ayahnya sekarat di tempat yang dia tidak tahu. Hutang tiga puluh miliar yang Paman Lukas bilang tidak mungkin dibayar. Hidupnya yang dia kira normal sampai semalam—skripsi yang hampir selesai, kerja barista, pulang ke kontrakan kecil—terbakar bersama restoran ayahnya.
Aria membuka mata.
"Pak. Saya setuju. Tapi saya minta tiga syarat tambahan."
Pak Wijaya mengangkat alis. "Tiga syarat. Cerita."
"Pak. Pertama, saya boleh meneruskan kuliah saya selama setahun ini. Saya tidak akan berhenti untuk pernikahan. Kedua, saya boleh kontak ayah saya dan Paman Lukas selama setahun—telepon teratur, mungkin lewat Mas Kael atau pengawal Anda, tapi kontak ada. Ketiga, kalau saya hamil—yang saya akan pastikan tidak terjadi karena Mas Kael bilang dia tidak akan menyentuh saya—itu jadi pelanggaran kontrak Anda yang membatalkan hutang, bukan saya."
Pak Wijaya menatap Aria. Lama.
Lalu tertawa. Tertawa nyata, untuk pertama kali pagi itu.
"Aria. Anda lebih cerdas dari yang saya kira. Saya setuju pertama dan kedua. Untuk ketiga—kontrak akan kami sesuaikan. Notaris akan datang besok pagi."
"Pak. Saya... saya boleh bertemu ayah saya sekarang? Sebelum saya tanda tangan?"
"Aria. Setelah kau tanda tangan kontrak besok. Tidak sebelum. Itu protokol non-negosiasi dari saya."
Aria mengangguk. "Iya, Pak. Saya akan tanda tangan."
Pak Wijaya berdiri. Berjalan ke arah Aria. Berhenti di sebelahnya. Tangannya—yang penuh dengan dua cincin emas, satu dengan batu rubi besar—menyentuh dagu Aria. Mengangkat wajah Aria untuk menatap dia.
"Aria. Anak saya bilang dia tidak akan menyentuh kau. Itu janji dia. Tapi kalau kau berkhianat—kalau kau mencoba lari dengan ayah kau setelah dia bebas, kalau kau bocor ke media, kalau kau coba apa pun yang melanggar kontrak—saya akan kirim Kael sendiri untuk membunuh kau dan ayah kau dengan tangan dia. Anak saya yang dia akan sayangi nanti. Mengerti?"
Aria menelan ludah. Tangan Pak Wijaya di dagunya seperti besi.
"Iya, Pak. Saya mengerti."
Pak Wijaya melepaskan dagu Aria. Berbalik. Keluar dari ruangan tanpa kata penutup.
Tinggal Aria dan Kael.
Kael menatap Aria. Lama. Lima detik, sepuluh.
"Aria."
"Mas Kael."
"Saya minta maaf."
Aria menatap pria di seberangnya. "Mas?"
"Saya minta maaf. Untuk semua ini. Saya tahu ini tidak adil sama sekali untuk Anda."
Aria tidak tahu harus jawab apa. Bukan respons yang dia harapkan dari putra raja kriminal.
Kael berdiri. "Aria. Pulang. Istirahat. Saya akan kirim mobil besok pagi pukul sembilan untuk kau ke notaris."
Kael keluar lewat pintu samping yang Aria tidak tahu ada. Aria duduk sendiri di ruang kerja yang besar, dengan Jakarta di bawahnya.
Setelah lima menit, pengawal masuk untuk mengantar dia ke lift.