Lima hari berlalu seperti mimpi yang Aria tidak bisa bangun darinya.
Kontrak tiba di rumah Aria pada pagi setelah pertemuan di gedung Wijaya. Notaris yang membawa—pria tua sekitar enam puluhan, mengenakan jas abu-abu, dengan name tag "H. Sutrisno, S.H., Notaris"—pria yang Aria tidak kenal tapi yang jelas bekerja untuk Naga Hitam selama bertahun-tahun. Tas kulit cokelatnya berisi tujuh dokumen yang dia letakkan di meja makan kontrakan Aria.
Kontrak tujuh halaman, dengan font dua belas dan margin yang ketat. Aria membaca setiap halaman tiga kali—sekali cepat untuk gambaran umum, sekali pelan untuk pasal demi pasal, sekali lagi untuk catat klausul yang aneh. Paman Lukas duduk di sebelahnya, juga membaca, dengan kacamata baca yang dia bawa khusus.
Syarat utama (Pasal 2-6):
- Pernikahan resmi setahun, tanggal mulai sebelas hari dari sekarang
- Aria tinggal di penthouse Kael di Apartment Senopati Suite
- Aria tampil sebagai istri Kael di acara publik tertentu (maksimum lima acara per tahun)
- Aria tidak boleh keluar Indonesia tanpa izin Pak Wijaya senior
- Tidak boleh berhubungan dengan media (interview, sosmed publik tentang pernikahan, atau apapun)
- Tidak boleh kontak romantis dengan pria lain selama kontrak
Setelah satu tahun lewat (Pasal 7-10):
- Aria boleh mengajukan cerai dengan damai, tanpa drama, tanpa pertanyaan publik
- Hutang tiga puluh miliar lunas total ke nama Pak Hartono
- Restoran Pak Hartono dibangun ulang dengan modal investasi dari Wijaya Group hingga lima miliar
- Pak Hartono dapat tunjangan hidup lima ratus juta untuk lima tahun pertama setelah keluar dari rumah aman
- Aria dapat tunjangan satu miliar rupiah untuk hidup ke depan
Aria menatap kontrak. Lalu menatap Pak Sutrisno yang menunggu dengan sabar, tangan terlipat di pangkuan.
"Pak. Tunjangan satu miliar untuk saya?"
"Iya, Mbak. Pak Wijaya senior menambahkan itu kemarin malam pukul setengah sebelas, atas permintaan Mas Kael yang dikirim lewat email."
Aria menatap kertas itu lama. Paman Lukas mengernyit.
"Mas Kael yang tambahkan tunjangan untuk saya?"
"Iya, Mbak. Dengan catatan email beliau: 'Tidak adil kalau Aria pergi tanpa apa-apa setelah pernikahan.'"
Aria menatap Paman Lukas. Paman Lukas menatap balik. Tidak komentar—dia juga tidak tahu cara membaca gestur ini.
Kenapa Kael yang minta tunjangan untuk Aria? Kael yang dingin di ruang kerja, yang bilang dia tidak akan menyentuh, yang kelihatan tidak peduli dengan pernikahan ini?
"Pak. Saya... saya tanda tangan."
Aria tanda tangan di dua tempat—Pasal 1 dan Pasal 12. Pak Sutrisno menyimpan kontrak asli, memberi salinan untuk Aria dalam map plastik bening. Pak Sutrisno juga memberi sebuah amplop coklat kecil.
"Mbak. Ini KTP suami Anda untuk dipasang di KTP Anda nanti—Pak Kael Wijaya, Pengusaha. Pernikahan resmi akan terdaftar di KUA Kebayoran Baru hari Sabtu mendatang."
Aria menerima amplop. Melihat KTP Kael—foto Kael dengan ekspresi yang sama dengan yang dia lihat di ruang kerja, alamat resmi di apartment Senopati Suite tower B kamar 3502.
Pukul satu siang hari yang sama, mobil hitam datang ke kontrakan Aria. Bentley Continental, Paman Lukas perhatikan dengan mata yang sedikit kagum walaupun dia mantan pegawai bank yang lihat banyak konglomerat. Sopir berdiri di samping mobil, membuka pintu untuk Aria—pria tua dengan rambut sebagian putih dan mata yang Aria belum sempat baca.
Paman Lukas menemani Aria ke gedung Wijaya Group.
Di lantai 38, di ruang yang sama dengan kemarin, Aria bertemu ayahnya untuk pertama kali sejak malam kebakaran.
Pak Hartono—pria lima puluh dua, kurus, dengan luka di pelipis kanan yang sudah mulai sembuh, lebam ungu di mata kiri yang masih segar—duduk di sofa kulit di sudut ruang. Mengenakan kaos polo abu-abu yang bukan miliknya dan celana panjang yang juga pinjaman. Tapi hidup, bernapas, sadar.
"Ayah."
"Aria!"
Mereka berpelukan. Aria menangis—pelukan pertama sejak hampir dua minggu, sejak malam Aria terakhir mampir ke restoran untuk makan siang.
"Ayah. Ayah baik-baik saja?"
"Aria. Saya... saya baik-baik. Tapi sayang. Anda tidak boleh—"
"Ayah. Saya sudah tanda tangan kontrak."
Pak Hartono menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar.
"Aria. Saya minta maaf. Saya minta maaf dengan seluruh hidup saya."
"Ayah. Tidak apa-apa. Saya tahu sekarang. Tentang ibu. Tentang kemoterapi. Paman Lukas cerita."
Pak Hartono menangis—suara yang Aria belum pernah dengar dari ayahnya, bahkan saat ibu meninggal. Aria memeluknya lebih lama, mengusap punggung pria yang membesarkannya sendirian sepuluh tahun terakhir.
"Ayah. Anda sayang ibu. Anda menjual masa depan kita untuk ibu. Itu bukan kesalahan—itu cinta yang dalam."
Pak Wijaya senior masuk ke ruangan dari pintu samping. Senyum yang dingin walaupun bibir tersenyum.
"Aria. Pak Hartono. Saya senang reuni keluarga ini terjadi di gedung saya. Pak Hartono, mobil sudah siap untuk membawa Anda ke rumah aman saya di Bandung. Anda akan tinggal di sana selama satu tahun ini, dengan keamanan yang saya sediakan—dua pengawal di rumah, tabib pribadi untuk luka Anda, makanan tiga kali sehari."
"Pak. Saya—"
"Pak Hartono. Tidak ada negosiasi. Aria tinggal dengan Kael di Jakarta untuk pernikahan publik. Anda di Bandung untuk keamanan Anda dan untuk memastikan Aria tetap di kontrak. Setelah satu tahun selesai dan Aria cerai dari Kael, Anda bertemu lagi."
Aria memegang tangan ayahnya erat.
"Ayah. Saya akan baik. Pergilah. Bandung lebih sehat dari penjara Naga Hitam yang Ayah pasti tidak mau saya tahu."
Pak Hartono mencium kening Aria. "Aria. Saya cinta kau. Maafkan ayah."
"Saya juga, Ayah. Pergi dengan tenang."
Pak Hartono dibawa pengawal lewat lift VIP. Aria berdiri di ruangan, tangan masih hangat dari pelukan ayahnya. Paman Lukas di pintu, juga matanya basah.
Pak Wijaya menatap Aria. "Aria. Pernikahan minggu depan, hari Sabtu pukul empat sore. Di rooftop gedung ini, untuk privasi maksimum. Cuma keluarga inti—saya, Kael, Anda, dua saksi dari notaris. Lukas boleh datang sebagai saksi kau."
"Iya, Pak. Terima kasih."
"Aria. Sebelum hari Sabtu, Kael akan mengantar kau berbelanja di Pacific Place hari Rabu. Pakaian baru. Anda akan butuh banyak untuk acara publik—kebaya, gaun, sepatu, tas. Bujet tidak terbatas. Apapun yang kelihatan layak untuk istri Kael Wijaya."
Aria mengangguk pelan. Tidak kelihatan tertarik pada pakaian mahal—dia bukan tipe yang terhibur dengan diskon Pacific Place.
Pak Wijaya keluar. Lukas mendekati Aria di ruangan yang sekarang sepi.
"Aria. Anda yakin? Sungguh-sungguh yakin?"
"Paman. Saya tidak punya pilihan."
Lukas memeluk Aria di sofa yang masih hangat dari ayahnya.
"Aria. Saya akan datang Sabtu. Saya tidak akan tinggalkan kau. Apapun yang terjadi setahun ini, Paman ada untuk kau."