Hari Sabtu datang lebih cepat dari yang Aria mau—walaupun dia menghitung mundur sejak hari kontrak ditandatangani.
Kael mengantar Aria ke butik mewah di Pacific Place dua hari sebelumnya, hari Kamis sore. Dia datang sendiri menjemput Aria dengan Bentley—Pak Saman di setir, Kael di kursi penumpang—tanpa banyak bicara di sepanjang perjalanan dari Mangga Besar ke SCBD. Aria duduk di belakang dengan Kael, dengan jarak satu kursi penumpang yang kosong di antara mereka.
Di butik—butik kelas atas yang Aria belum pernah masuk seumur hidup, dengan satpam di pintu yang tahu Kael langsung—Aria mencoba sepuluh gaun pengantin yang sales perempuan keluarkan. Kael menatap setiap gaun dengan ekspresi netral, hanya menggangguk atau menggeleng pelan—gestur yang sales tahu artinya sebelum Aria.
Akhirnya Aria pilih gaun yang paling sederhana—putih, tanpa banyak hiasan, lengan panjang sampai pergelangan, panjang lutut. Bukan gaun pengantin mewah dengan ekor lima meter. Cuma dress putih yang elegant tapi sederhana. Kael cuma mengangguk. "Bagus."
Di butik, saat Aria sedang ganti di kamar coba, dia mendengar pembicaraan Kael dengan sales perempuan dari balik tirai—suara mereka cukup pelan tapi Aria mendengar.
"Pak Kael. Mbak Aria cantik sekali di gaun ini. Pasangan Bapak?"
"Iya."
"Bapak senang dengan pilihan beliau?"
Hening tiga detik—Aria menghitung di kepalanya.
"Iya."
Aria—di dalam ruang ganti, dengan dress putih yang masih separuh dia kenakan—menatap dirinya di cermin tiga lipat. Apakah Kael... beneran senang? Atau dia cuma menjawab dengan kata standar yang sales harapkan?
Aria tidak tahu apa yang dia harus rasakan. Mungkin lebih bingung dari yang dia mau akui ke dirinya sendiri.
Hari Sabtu, pukul empat sore, Aria di rooftop gedung Wijaya Group. Pemandangan Jakarta di sore yang langitnya oranye dengan polusi—siluet gedung-gedung Sudirman, Bundaran HI, Patung Selamat Datang yang kelihatan seperti titik kecil di kejauhan.
Pengaturan minimal—Pak Wijaya senior tidak membayar untuk dekorasi mewah, ini cuma untuk dokumen. Bunga-bunga sederhana di sepanjang aisle pendek lima meter—tulip putih dari Belanda, mungkin yang paling mahal di acara ini. Empat kursi di kedua sisi—total delapan kursi. Diisi oleh: Lukas, dua pengawal Kael (Aria belum tahu nama mereka), dua pengawal Pak Wijaya, dan tiga orang yang Aria tidak kenal—mungkin saksi dari notaris atau pegawai senior Wijaya Group yang harus hadir untuk legitimasi.
Kael sudah berdiri di altar saat Aria datang. Mengenakan setelan hitam yang lebih formal dari yang biasa dia pakai—tiga lapis dengan dasi hitam sutra, sepatu kulit yang baru dipoles. Mata gelap. Tidak tersenyum. Wajahnya seperti yang Aria lihat di ruang kerja pertama kali—dingin, kontrol penuh.
Aria berjalan ke arah Kael lewat aisle yang pendek. Lukas mengantarnya, dengan tangan di siku Aria—pertama kalinya pengantin tradisi diiringi paman bukan ayah, ironi keluarga yang Aria tidak punya waktu memikirkan.
Saat Aria sampai di altar, Kael akhirnya menatap dia. Pertama kalinya hari itu.
Mata Kael—yang biasanya kosong—sebentar punya sesuatu. Tatapan yang Aria tidak bisa baca. Bukan kekaguman, bukan juga ketidakpedulian. Sesuatu di antara, atau di luar dari spektrum yang Aria kenal.
"Aria."
"Mas Kael."
Pak Sutrisno notaris yang sama dengan kontrak—pria tua yang Aria sekarang sudah tahu wajahnya dengan baik—memimpin upacara. Singkat, tanpa bumbu. Pengucapan janji yang formal, dengan kalimat yang dibaca dari kertas, tanpa tambahan personal.
"Apakah kau, Aria Pradana, menerima Kael Wijaya sebagai suami yang sah, dalam segala kondisi, sampai maut memisahkan?"
"Iya, saya menerima."
"Apakah kau, Kael Wijaya, menerima Aria Pradana sebagai istri yang sah, dalam segala kondisi, sampai maut memisahkan?"
Kael berhenti satu detik. Aria menyadari—dengan jelas, dengan napasnya yang dia tahan—bahwa Kael ragu sebentar.
Lalu: "Iya, saya menerima."
Mereka tukar cincin—cincin platinum sederhana yang Kael pilih sendiri (Aria tidak diminta pilih), dengan ukiran kecil "K&A" di bagian dalam yang Aria baru tahu nanti malam. Aria—yang tidak sadar dia menahan napas selama tiga puluh detik—menarik napas saat cincin masuk ke jarinya. Cincin itu terasa berat lebih dari fisik—berat tahun yang akan datang.
"Kalian sekarang suami istri secara hukum negara dan agama. Boleh berciuman."
Aria membeku.
Kael menatapnya. Lalu—pelan, dengan gerakan yang terukur—menundukkan kepala. Mencium kening Aria. Bukan bibir. Cuma ciuman ringan di kening, dua detik.
Aria menatap Kael saat dia mengangkat kepala.
Kael menggenggam tangan Aria sebentar, lalu lepas. Gestur yang tamu lihat sebagai sopan, tapi yang Aria rasa sebagai... hangat? Mungkin imajinasi. Mungkin tidak.
Pak Wijaya senior—yang menonton dari kursi di baris depan—bertepuk tangan tiga kali. Sopan, tidak antusias.
"Sempurna. Resepsi singkat di restoran lantai 35."
Resepsi singkat itu... aneh. Dua belas orang di restoran private mewah di lantai 35 yang biasanya dipakai untuk klien VIP Wijaya Group. Tidak ada musik live. Tidak ada dansa. Cuma makan—steak Wagyu yang Aria belum pernah coba, anggur dari kebun pribadi Pak Wijaya di Bali yang Aria tidak minum—dan basa-basi formal di meja-meja kecil.
Pukul tujuh malam, Pak Wijaya berdiri sebelum dessert disajikan.
"Kael. Aria. Saya pulang—saya ada rapat pagi besok. Kalian... silakan."
Pak Wijaya keluar dengan dua pengawal. Pengawal-pengawal lain pergi juga, satu per satu, dengan pamit sopan ke Kael.
Tinggal Aria, Kael, dan Lukas di restoran yang sekarang setengah kosong.
Lukas mendekati Aria. Mata yang masih basah dari upacara.
"Aria. Saya pulang sekarang. Anda... Anda baik?"
"Iya, Paman. Saya baik. Saya akan kabari setiap minggu."
Lukas menatap Kael, yang sekarang berdiri di belakang Aria.
"Mas Kael."
"Pak Lukas."
"Saya... saya percaya pada Mas. Untuk menjaga Aria. Dia keponakan saya satu-satunya."
Kael menatap Lukas. Mata gelap yang—untuk sekali ini—Aria pikir kelihatan jujur.
"Iya, Pak. Saya akan menjaga. Saya janji."
Lukas mencium kening Aria. Pergi lewat lift VIP yang Pak Saman sudah tunggu untuk antar pulang.
Tinggal Aria dan Kael di restoran yang sepi.
Kael berdiri. Mengulurkan tangan ke Aria.
"Aria. Mari pulang."
Aria mengambil tangan Kael—tangan yang hangat, lebih hangat dari yang Aria duga.