Mobil Bentley hitam mengantar Aria dan Kael dari gedung Wijaya Group ke Senopati lewat Sudirman. Sopir—pria tua yang Aria tidak kenal namanya, kembali dari mengantar Lukas pulang—tidak bicara di sepanjang perjalanan tiga puluh menit.
Aria duduk di belakang. Kael di sebelah, dengan jarak yang cukup sopan—tidak menempel, tapi tidak terlalu jauh. Tidak menyentuh.
Aria menatap pemandangan Jakarta malam dari jendela mobil yang tinted gelap. Lampu jalan, lampu kendaraan, billboard digital—semua kelihatan biasa, walaupun hidup Aria baru saja berubah total.
"Mas Kael. Sopir... beliau aman dari saya?"
Kael menatap Aria. "Aman?"
"Maksud saya, saya boleh tahu nama orang ini? Saya cuma istri kontrak—mungkin ada protokol siapa yang boleh tahu nama siapa."
Kael diam beberapa detik. Lalu: "Aria. Sopir nama Pak Saman. Beliau bekerja untuk saya tujuh tahun, sejak saya umur dua puluh lima dan ayah saya kasih saya satu kendaraan pribadi pertama. Beliau loyal pada saya, bukan pada ayah saya. Itu beda yang penting di organisasi seperti kami."
"Mas?"
"Saya tidak akan jelaskan lebih lanjut malam ini. Tapi Anda boleh percaya Pak Saman. Dia akan jadi sopir Anda juga selama setahun ini—mengantar ke kampus, ke mall, ke mana pun Anda mau. Dia tidak akan lapor ke ayah saya tentang gerak Anda."
Aria mengangguk pelan. Mencatat di kepalanya: Pak Saman aman.
Mereka sampai di apartment Senopati Suite, tower B. Lantai 35—penthouse, dengan akses lift khusus yang butuh kartu khusus. Pak Saman parkir mobil di basement; Kael dan Aria naik lewat lift VIP.
Aria masuk ke penthouse Kael untuk pertama kalinya.
Ruangan besar. Dua ratus meter persegi—lebih besar dari kontrakan Aria delapan kali lipat. Tiga kamar tidur di lantai atas, satu kamar tamu di lantai bawah. Living room dengan jendela kaca dari lantai sampai langit-langit, pemandangan Jakarta yang spektakuler.
Tapi semuanya... putih. Hitam. Abu-abu. Tidak ada warna lain. Tidak ada lukisan—dinding kosong. Tidak ada foto—di mana pun, di nakas atau lemari atau meja. Tidak ada tanaman. Tidak ada barang yang menunjukkan kepribadian penghuni.
Seperti... galeri seni yang baru selesai dibangun, sebelum karya dipasang.
"Mas Kael. Ini... apartemen Anda?"
"Iya."
"Anda... tinggal di sini sendirian?"
"Iya."
"Sudah berapa lama?"
"Tujuh tahun. Sejak saya umur dua puluh lima, sama seperti dapat Pak Saman."
Aria menatap living room yang kosong—sofa kulit hitam minimalis, meja kopi marmer, satu lampu lantai. Itu semua. Tidak ada TV—mungkin Kael tidak menonton TV.
"Mas. Ini... terlalu sepi. Tidak ada warna."
Kael menatap Aria. "Aria. Anda boleh ubah apa pun. Itu rumah kau juga sekarang. Selama setahun."
"Mas. Saya tidak akan ubah—"
"Aria. Saya tidak peduli. Saya hampir tidak di rumah—biasanya cuma tidur tujuh jam, sarapan singkat. Anda yang akan tinggal di sini lebih sering. Beli tanaman, lukisan, apa pun yang Anda mau. Saya akan kasih kartu kredit untuk pengeluaran."
Kael mengantar Aria ke lantai atas, ke kamar tidur utama.
Kamar utama—besar, mungkin tujuh puluh meter persegi sendiri. Ranjang king size, kamar mandi marmer dengan bathtub, walk-in closet yang isinya sekarang sebagian dipakai dengan pakaian baru Aria dari Pacific Place yang sudah dipindahkan staf.
"Aria. Ini kamar Anda."
"Mas. Itu... itu kamar Anda?"
"Iya."
"Mas Kael—"
"Aria. Saya pindah ke kamar tamu di lantai bawah. Saya tidur di sana selama setahun ini. Sudah saya pindahkan pakaian saya tadi pagi sebelum upacara, ke lemari kamar tamu."
"Mas. Kamar Anda... gedung ini gak ada kamar lain yang sama besar?"
"Aria. Kamar utama ini paling nyaman, paling besar, paling banyak cahaya alami. Anda yang pakai. Saya tidak peduli."
Aria menundukkan kepala. "Iya, Mas."
Kael mengantar Aria masuk ke kamar utama. Mengangkat dua koper besar—pakaian baru dari butik—ke walk-in closet, walaupun staf sudah memindahkan pakaian ke gantungan.
"Aria. Saya tinggalkan Anda. Mandi, istirahat. Besok hari Minggu, Pak Saman akan datang pukul sembilan kalau Anda mau jalan—mall, kampus untuk ambil dokumen, ke mana pun. Senin Anda lanjut kuliah seperti biasa."
"Mas. Saya... saya boleh lanjut kuliah?"
"Tentu. Tidak ada di kontrak yang melarang—bahkan saya minta itu jadi syarat tertulis. Skripsi Anda hampir selesai, kan? Anda harus selesai."
Aria menatap Kael. "Mas. Terima kasih."
Kael menatap Aria. Lebih lama dari yang dia biasa. Tidak menjawab.
Lalu pergi—keluar dari kamar utama, menutup pintu pelan di belakangnya.
Aria duduk di tepi ranjang. Menatap dirinya di cermin di seberang ranjang—cermin besar yang mungkin lebih mahal dari semua cermin di kontrakan Mangga Besar.
Aria Pradana. Mahasiswi Komunikasi UI. Anak pemilik warung. Istri pria mafia.
Aria mandi—bathtub besar, air hangat. Lama. Air yang membuat tubuhnya yang tegang seharian relaks sedikit.
Pukul sebelas malam, Aria keluar dari kamar mandi mengenakan piyama yang dia bawa dari kontrakan—piyama biru tua kotak-kotak, hadiah ulang tahun dari Paman Lukas tiga tahun lalu. Bukan piyama mewah dari Pacific Place yang dia tolak beli karena terasa terlalu berlebihan.
Dia berbaring di ranjang king size yang besar. Kepala di bantal yang harum lavender.
Tidak bisa tidur. Pikir terlalu banyak.
Pukul satu pagi, Aria turun ke dapur untuk minum air. Lampu dapur otomatis menyala saat dia masuk—motion sensor.
Di living room—yang gelap, hanya ada lampu meja kecil di sudut—Kael ada di sofa. Tidak tidur. Membaca buku.
Kael menatap Aria saat dia muncul.
"Aria."
"Mas. Maaf—saya cuma ambil air."
"Tidak apa-apa. Itu rumah Anda juga sekarang."
Aria mengambil air dari kulkas—kulkas yang isinya hampir kosong, cuma air mineral, beberapa buah, dan dua botol anggur yang Aria yakin Kael tidak minum. Glass dari rak. Berdiri di dapur sambil minum.
"Mas Kael. Anda... tidak tidur di kamar tamu?"
"Saya tidak bisa tidur cepat. Saya selalu butuh dua jam baca dulu."
"Apa yang Anda baca malam ini?"
"Sejarah perang Vietnam. Buku Stanley Karnow."
Aria mengernyit. Bukan buku yang dia bayangkan untuk anak konglomerat mafia. "Mas. Itu... berat untuk dibaca pukul satu pagi."
Kael menutup buku—Aria perhatikan, dia lipat sudut halaman untuk tanda. "Aria. Saya baca buku berat untuk membuat saya... lelah berpikir tentang hal lain. Otak yang lelah baca lebih cepat tertidur dari otak yang menganggur."
Aria menatap Kael. "Mas. Hal lain apa?"
Kael diam. Lama—mungkin lima detik.
"Aria. Pulang ke kamar Anda. Tidur. Pak Saman datang jam sembilan besok kalau Anda butuh."
Aria mengangguk pelan. Kembali ke kamar utama. Tutup pintu.
Tapi malam itu, Aria—untuk pertama kalinya sejak ayahnya hilang—menutup mata dan tidur tanpa mimpi buruk.
Karena untuk alasan yang dia tidak mengerti, dia merasa... aman. Dengan pria yang seharusnya dia takutkan.